← Nol Persen

Chapter Twenty Two

Belajar SQL

POV: Jaka

Senin, jam tujuh malam, lantai enam, dan aku sedang menghadapi anomali pedagogis yang belum pernah kutemui seumur hidup mengajar orang.

Muridku pintar. Ini fakta pertama, terverifikasi berulang: konsep JOIN — yang biasanya membuat orang menyerah di pertemuan pertama — dia tangkap dalam sebelas menit, lengkap dengan pertanyaan lanjutan soal LEFT versus INNER yang levelnya sudah menyentuh desain. Fakta kedua, dan di sinilah anomalinya: lima belas menit kemudian, murid yang sama menatap klausa WHERE — WHERE, filter paling dasar di alam semesta — dengan dahi berkerut dan berkata, “Coba jelasin sekali lagi deh, yang tadi. Pelan-pelan.”

Aku menjelaskan sekali lagi. Pelan-pelan. Dia mengangguk-angguk sambil menopang dagu, matanya mengikuti — dan di sinilah fakta ketiga yang membuat seluruh analisisku macet: matanya tidak mengikuti layar.

Aku tahu ke mana arah mata orang yang membaca layar; ada pantulannya, ada geraknya, kiri-kanan mengikuti baris. Mata muridku diam. Arahnya konsisten sekitar tiga puluh derajat dari layar, yaitu kurang lebih koordinat... tanganku di keyboard. Atau lengan bawahku. Sulit dipastikan tanpa menoleh langsung, dan menoleh langsung akan mengakhiri pengamatan.

Hipotesis yang tersedia: (a) dia lelah — jam tujuh malam, sehabis hari panjang, wajar; (b) gaya belajarnya auditori, layar tidak penting; (c) — hipotesis ketiga sudah menunggu di antrean sejak tadi, dikirim oleh unit yang tidak pernah lulus statistik, dan seperti biasa kuhapus sebelum sempat dibaca lengkap. Sistem memilih (a). Sistem selalu memilih (a). Sistem penakut.

“Oke,” kata muridku akhirnya, “WHERE aku paham. Sekarang yang tadi kamu bilang — katanya kamu bisa ‘baca’ log kayak baca cerita. Itu gimana? Praktekin dong. Pakai kasus beneran.”

Dan di sinilah malam itu berubah dari les jadi sesuatu yang lain.

Aku membuka arsip insiden — log mentah dari kejadian duplikat notifikasi bulan lalu, delapan ribu baris, hutan timestamp dan kode status yang bagi kebanyakan orang terlihat seperti hujan di film Matrix.

“Semua log itu cerita,” kataku, dan entah kenapa suaraku sendiri terdengar berbeda — mungkin karena ini pertama kalinya ada yang minta diceritakan. “Cuma ceritanya ditulis penulis yang nggak niat. Nggak ada judul, nggak ada tokoh utama, semua kejadian dicatat rata. Tugas kita nyari plotnya.”

Aku menggulung ke baris pertama yang penting. “Nih. Jam 11.32.04, kurir ID 8817 kirim update status. Normal. Tapi lihat—” scroll, “—jam 11.32.09, kurir yang sama, status yang sama, payload identik. Lima detik. Manusia nggak mencet tombol dua kali dalam lima detik dengan payload seratus persen identik; jempol manusia nggak sekonsisten itu. Jadi ini bukan manusia. Ini mesin yang ngulang. Pertanyaannya tinggal: kenapa mesin ngulang?”

“Kenapa?”

“Karena dia nggak dapet jawaban. Retry itu mesin yang ngambek.” Scroll lagi. “Dan lihat lokasinya — tower sinyal area Cakung, jam 11.30 ke atas, hari itu hujan deras. Kurir masuk area sinyal jelek, aplikasi kirim status, jawaban server nggak nyampe balik, aplikasi mikir gagal, kirim ulang. Padahal yang pertama udah masuk. Jadi tiga baris ini—” aku menandainya, “—sebenarnya satu kalimat: seorang kurir kehujanan di Cakung, aplikasinya panik, dan server kita terlalu polos buat sadar dia lagi diajak ngomong dua kali.

Sunyi sebentar. Aku menoleh — pelanggaran, dicatat, biarkan — dan mendapati muridku menatapku dengan ekspresi yang membuat sistemku kehilangan track dari delapan ribu baris sekaligus.

“Lanjut,” katanya. Pelan. “Ceritain sampai habis.”

Maka kuceritakan sampai habis. Empat puluh menit, delapan ribu baris disuling jadi tiga fakta dan satu pelajaran — dan sepanjang itu dia mencondongkan badan ke layar sampai jarak antara bahu kami tinggal sejengkal, dan aku membagi kapasitas sistemku dengan pembagian yang memalukan untuk diakui: tiga puluh persen untuk log, tujuh puluh persen untuk menjaga supaya tiga puluh persen itu tetap terdengar pintar.

Sejengkal itu dekat. Sejengkal itu cukup dekat untuk mencatat hal-hal yang tidak diminta siapa pun kucatat: bahwa rambutnya hari ini digerai dan jatuh ke depan setiap kali dia mencondong, diselipkan ke belakang telinga, jatuh lagi, diselipkan lagi — siklus dengan periode kurang lebih sembilan puluh detik yang kuamati dari sudut mata sambil pura-pura membaca log; bahwa dia mencatat di buku fisik, tulisannya miring ke kanan, dan di margin halamannya ada gambar kecil yang kalau tidak salah lihat adalah payung. Setiap data itu masuk tanpa antre, dan setiap kali satu masuk, aku mengembalikan mataku ke layar dengan disiplin penuh, karena disiplin adalah satu-satunya infrastruktur yang menahan seluruh operasi ini tetap berdiri. Dua tahun infrastruktur itu diuji dari jarak sembilan puluh sentimeter dan lulus. Malam ini dia diuji dari jarak sejengkal, dan hasil ujinya, mari kita catat dengan jujur: lulus bersyarat.

Jam sembilan lewat, perut kami berdua berbunyi hampir bersamaan — miliknya duluan, dan dia menatapku dengan wajah menantang siapa-pun-yang-bahas-akan-dihukum — jadi kami turun ke pantry dan menemukan stok logistik akhir bulan: dua mi cup terakhir. Rasa ayam bawang dua-duanya.

Kami makan di meja lantai enam, di antara dua laptop yang masih menyala, dan di tengah makan dia bertanya, dengan nada penasaran yang sungguhan:

“Kamu kenapa sih suka banget sama data? Dari dulu? Atau ada momennya?”

Aku mengunyah dulu, karena jawabannya ternyata butuh dipikir. “Ada momennya. SMP. Bapakku bengkel motor — bengkel kecil, di rumah. Pelanggan suka ngeyel: perasaan kemarin masih bagus, masa udah rusak lagi. Bapak nggak pernah debat. Dia cuma buka buku servis, tunjukin catatannya: tanggal segini ganti ini, kilometer segini keluhannya ini. Selesai. Nggak ada yang bisa ngeyel sama buku.” Aku menatap layar yang masih menampilkan log. “Aku waktu itu mikir: enak banget ya, punya sesuatu yang bikin kamu nggak perlu menang debat. Cukup benar aja.”

Dia berhenti makan. Menatapku dengan ekspresi yang lama, yang lembut, yang membuatku buru-buru menambahkan “makanya aku jadi gini” dan kembali ke mi dengan kecepatan yang mencurigakan.

“Cukup benar aja,” ulangnya pelan, seperti menyimpan kalimat itu ke tempat tertentu. “Bapakmu keren.”

“Bukunya yang keren. Bapak cuma rajin nyatet.”

“Itu,” katanya, “kalimat paling kamu yang pernah kudengar.”

Dan di suapan entah keberapa dia berkata, tanpa menoleh dari mi-nya, dengan nada yang terlalu ringan untuk isi kalimatnya:

“Mi cup tuh paling enak dimakannya pas capek ya. Sama... nggak sendirian.”

Sistemku berhenti mengunyah.

Data itu — anak tangga, garpu plastik, maskara — tersimpan di arsip yang kami berdua tahu ada dan sama-sama bersumpah tidak ada. Dia baru saja mengetuk pintu arsip itu, satu ketukan, pelan, lalu pura-pura tidak mengetuk: matanya tetap di mi, wajahnya tetap santai, tapi ujung telinganya — ha. Ha. Ternyata bukan cuma telingaku yang punya fitur itu.

“Iya,” kataku akhirnya, pada mi-ku sendiri. “Nggak sendirian itu... variabel yang signifikan.”

Variabel yang signifikan. Dua tahun menabung kata-kata dan itu hasil terbaikku. Tapi dia tersenyum — ke arah mi-nya, senyum yang berusaha kecil dan gagal — dan entah bagaimana kalimat terburuk dalam sejarah percakapan manusia itu diterima sebagai jawaban yang benar.

Jam sepuluh dia pulang. Di pintu lift dia berbalik: “Kamis lanjut modul dua ya. Sama—” jeda, senyum berbahaya, “—selamat malam, Mas Jek.”

“Selamat malam...” Sistem penuh. Semua unit siaga. Satu suku kata. Izinnya sudah ada. Keluarkan. “...Mbak.”

Pintu lift menutup pada ekspresi yang campurannya belum bisa kuurai: sepertiga gemas, sepertiga geli, dan sepertiga lagi sesuatu yang lembut yang membuat sistemku menyala sampai kosan.

Di mejaku, waktu beres-beres, aku menemukannya: sticky note kuning, ditempel di bingkai monitorku, tulisan miring ke kanan.

Guru terbaik. Kamis jangan telat. — V

Satu huruf. Dia menandatangani dengan satu huruf, persis seperti yang dulu kulakukan padanya, dan aku berdiri di lantai enam yang dingin memegang kertas kuning kecil itu selama waktu yang tidak akan kucatat di laporan mana pun.

Sistemku membuka file perhitungan lama, menatap angka di baris terakhir, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, menulis di sebelahnya sebuah anotasi kecil, dengan pensil, supaya bisa dihapus:

Ada anomali yang belum bisa dijelaskan model ini.