Chapter Fifteen
Yang Tertawa di Foto Itu
POV: Cleo
Senin pagi aku datang dengan rencana. Rencananya sederhana dan sudah kulatih di kereta: turun ke lantai enam tidak perlu — dia masih di lantai tujuh, sembilan puluh sentimeter, aku cuma perlu satu alasan kerja yang sah dan tiga puluh detik keberanian. Temuan Cikarang. Tiga temuan itu menyangkut struktur data serah-terima. Sah. Sempurna. Hari ini aku akan bicara padanya lebih dari sembilan detik, dan dari sana — entah. Setidaknya dari sana ada dari sana.
Jam 08.20, aku keluar dari lift, berjalan ke wilayah backend, dan rencanaku mati di tempat.
Mejanya kosong.
Bukan kosong belum-datang. Kosong yang lain: monitor kedua tidak ada, botol minum tidak ada, kabel-kabel yang biasa terikat rapi tidak ada. Yang tersisa cuma meja yang dilap bersih — lebih bersih dari meja mana pun di lantai ini, kosong dengan cara yang teliti, kosong yang dikerjakan dengan dua tangan yang sama rapinya menulis sticky note.
“Mas Jek pindah ke lantai enam, Mbak.” Gofar menjawab pertanyaan yang belum sempat kuucapkan, matanya tidak lepas dari monitornya, nadanya hati-hati seperti orang menyampaikan berita duka lewat telepon. “Ambil proyek data infra. Mulai kemarin diberesin, tadi pagi angkut barang. Katanya sekuartal.”
Sekuartal.
“Oh,” kata mulutku. “Bagus. Proyek itu memang dari kemarin nggak ada yang pegang.”
“Iya, Mbak,” kata Gofar, dan kami berdua pura-pura tidak mendengar betapa kosongnya kalimatku.
Aku duduk di mejaku — di meja yang kupilih tidak pernah, yang ditunjuk untukku oleh keputusan co-location, dan yang selama sebulan terakhir diam-diam jadi meja favoritku seumur karier karena alasan yang tidak pernah kutulis di mana pun — dan menghadap layar. Di sebelah kiriku, sembilan puluh sentimeter jauhnya, kekosongan itu duduk dengan sabar dan tidak ke mana-mana sepanjang hari.
Orang bilang kamu baru tahu bentuk sesuatu setelah dia hilang. Salah. Kamu tahu bentuknya persis sejak lama; yang baru kamu tahu setelah dia hilang adalah beratnya.
Rabu, aku menemukan cara-cara kecil dunia memberitahuku dia benar-benar pergi.
Data review mingguan, yang dua tahun selalu segar sebelum jam delapan, hari itu masuk jam sembilan lewat sepuluh. Tidak salah — Gofar mengerjakannya persis sesuai dokumentasi, sebelas halaman katanya, rapi katanya — cuma jamnya bergeser, formatnya benar tapi urutan kolomnya default, dan tidak ada lagi satu baris kecil di akhir lampiran yang biasanya berbunyi seperti “kolom F kubulatkan 1 desimal biar gampang dibaca di proyektor.” Kalimat-kalimat ekstra itu. Yang tidak diminta. Yang baru sekarang kutahu adalah cara seseorang berbicara padaku selama dua tahun tanpa pernah membuka mulut.
Rumahku masih terang. Tapi lampunya tidak lagi menyala duluan sebelum aku masuk. Sekarang aku yang menyalakannya sendiri, dan terangnya sama, dan bedanya sebesar itu.
Sementara itu, di permukaan, dunia kantor sibuk membangun versi ceritanya sendiri.
“Mbak Cleo!” Anak magang marketing menghadangku di pantry hari Rabu dengan mata berbinar. “Sama Pak Bram cieee. Fotonya bagus banget kayak power couple—”
“Itu kunjungan kerja,” kataku, dengan senyum kadar sedang dan suara yang kubuat sedatar laporan keuangan, “sama tim ops Sentosa, sembilan orang.”
“Iya sih, tapi kan vibes-nya—”
“Vibes,” ulangku, “tidak masuk SLA.”
Anak itu tertawa dan pergi dengan kesimpulan yang jelas tidak berubah, karena cerita yang enak selalu menang dari klarifikasi yang benar. Aku berdiri di pantry memegang gelas kosong dan merasakan sesuatu yang sudah lama kupahami secara teori kini bekerja padaku secara praktik: narasi itu seperti banjir — kamu tidak bisa menghentikannya dengan berdiri di tengahnya sambil menjelaskan bahwa air seharusnya tidak di sini.
Kamis siang, Radit mampir ke mejaku membawa dua martabak keju — yang kejunya sampai pinggir — dan meletakkan satu tanpa upacara.
“Lo kenapa,” katanya. Bukan pertanyaan. Radit dan aku sudah sebelas tahun; dia bisa membaca kadar senyumku lebih akurat dari siapa pun di gedung ini.
“Capek aja. Sentosa.”
“He-eh.” Dia membuka martabaknya sendiri, mengunyah, menatapku. “Meja sebelah lo kosong.”
“Proyek infra. Sekuartal.”
“He-eh,” katanya lagi, dengan nada yang menyimpan lebih banyak dari dua suku kata, lalu — dan untuk ini aku berterima kasih padanya seumur hidup — dia tidak melanjutkan. Dia cuma duduk di kursi kosong sembilan puluh sentimeter itu, menghabiskan martabaknya sambil menceritakan Figma si kucing yang minggu ini berperang melawan printer, dan membiarkan kursi itu, untuk lima belas menit, terisi oleh sesuatu yang hangat.
Kamis malam, di apartemen, aku akhirnya membuka foto itu lagi.
Weekend warriors. Seratus dua puluh reaksi. Aku memperbesar wajahku sendiri dan memeriksanya seperti memeriksa deck orang lain: senyum simetris, dagu sedikit turun, mata — mata yang kalau diperbesar cukup jauh terlihat sedang tidak berada di gudang itu sama sekali. Senyum kerja nomor tiga, katalog resmi Ivy Cleopatra, dipakai ratusan kali, tidak pernah gagal menipu siapa pun.
Kali ini dia berhasil menipu satu orang yang justru paling tidak boleh tertipu.
Dan yang tidak ada di foto itu, yang tidak akan pernah ada di foto mana pun: aku pulang naik kereta sendirian sambil menyusun slide di kepala supaya tidak merasa. Aku menghabiskan Sabtu malam di sofa dengan lampu mati memikirkan sepasang mata yang akan melihat foto ini. Aku menghabiskan Minggu dengan membaca ulang riwayat chat kami — pendek-pendek semua, kerja semua, dan tetap kubaca ulang seperti orang membaca ulang surat.
Aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit apartemen, dan mengucapkan kalimat itu untuk pertama kalinya. Pelan. Dalam hati dulu, gladi resik. Lalu, karena tidak ada siapa-siapa dan sudah waktunya jujur, keras:
“Aku suka dia.”
Kalimat itu menggantung di udara apartemen, tiga kata, dan tidak ada satu pun alarm yang berbunyi, tidak ada langit runtuh — cuma rasa lega yang aneh dan menyakitkan sekaligus, seperti akhirnya meletakkan barang berat yang sudah lama dibawa sambil pura-pura tidak bawa apa-apa.
Aku, Ivy Cleopatra, dua puluh tujuh tahun, ditaksir VP dan sahabat sendiri, punya seratus dua puluh reaksi emoji dan tidak butuh satu pun — suka pada laki-laki pendiam di lantai enam yang mengajari orang gudang membaca barcode, yang menyeduh teh untuk perempuan menangis lalu pura-pura lupa, yang menulis sebelas halaman dokumentasi supaya aku tetap terurus oleh orang lain ketika dia pergi.
Dan laki-laki itu sedang menjauh dariku dengan kecepatan satu lantai per minggu, karena dia melihat dua foto yang salah dan aku tidak pernah diberi kesempatan menjelaskan satu pun.
Nyeri itu datang bukan seperti badai. Datangnya seperti gudang Bu Neni: teratur, tersortir, satu-satu. Nyeri karena mejanya kosong. Nyeri karena kalimat ekstra hilang. Nyeri karena dia justru makin baik — dokumentasi itu, payung itu — sambil makin jauh, dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dicintai caranya dan dihindari orangnya.
Aku tidak menangis malam itu. Hampir, dua kali, tapi tidak. Menangis rasanya seperti menyerah pada versi cerita yang sedang berjalan, dan aku belum setuju dengan versi cerita yang sedang berjalan.
Jumat sore, jam enam, lantai tujuh mulai kosong dan aku berdiri di depan lift dengan tas di bahu dan payung hitam tua di tangan.
Di panel lift, tombol 6 menyala menungguku menekan.
Alasan kerja sudah ada — tiga temuan Cikarang, sah, penting, bahkan mendesak. Keberanian tiga puluh detik itu yang stoknya sedang diperiksa. Aku berdiri di depan panel itu cukup lama sampai pintu lift terbuka sendiri, kosong, menunggu, lalu menutup lagi karena tidak ada yang masuk.
Belum. Bukan hari ini, dengan lantai enam yang menjelang malam pasti tinggal dia sendirian, dan aku yang datang membawa alasan kerja dengan tangan memegang payungnya — terlalu banyak, terlalu telanjang, terlalu bisa gagal.
Aku pulang, dan di lobi, hujan menyambut seperti biasa musim ini. Aku membuka payung hitam tua itu — dia mengembang dengan bunyi yang sudah kukenal, satu jerujinya sedikit bengkok, melindungi dengan cara yang persis seperti pemiliknya: tidak sempurna, tidak baru, tidak pernah absen.
Senin. Senin, jam kerja, dengan tablet dan agenda dan zirah lengkap.
Senin aku turun ke lantai enam.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu reading
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?