← Nol Persen

Chapter Three

Aturan Nomor Satu

POV: Cleo

Aku tahu persis di detik ke berapa orang mulai menonton.

Di lobi bawah, detik ketiga setelah pintu kaca terbuka: satpam menegakkan duduknya. Di lift, detik pertama: percakapan dua orang tak dikenal melambat, lalu berbelok jadi bisik. Di lantai tujuh, sebelum detik pun sempat dihitung: kepala-kepala di balik monitor terangkat serempak seperti dikomando, dan aku memasang wajah yang sudah kupakai lebih lama dari KTP-ku — senyum kadar sedang, langkah tetap, sapaan secukupnya.

Orang pikir ditonton itu enak. Orang pikir itu pujian yang berjalan kaki.

Yang orang tidak hitung: menjadi tontonan artinya tidak pernah boleh jelek. Tidak boleh lelah di tempat terang. Tidak boleh salah ambil nada. Setiap “pagi, Mbak Cleo” harus dibalas dengan takaran yang pas — terlalu hangat, besok jadi cerita; terlalu datar, besok jadi cerita juga. Aku sudah dua puluh tujuh tahun jadi kurator museum yang isinya diriku sendiri, dan tidak ada yang pernah bertanya apakah kuratornya boleh pulang.

Maka aku punya aturan. Aturan Nomor Satu, tidak tertulis, tidak bisa dinegosiasi:

Tidak ada yang privat. Tidak pernah.

Makan berdua, dijemput, diantar, hadiah yang dibungkus rapi — tidak. Bukan karena aku jual mahal. Karena aku sudah menghitung harganya: satu kali “iya” yang privat, dan besoknya aku bukan lagi Product Owner yang dipercaya karena kerjanya. Besoknya aku jadi cerita. Dan perempuan yang jadi cerita di kantor tidak pernah memegang kendali atas cerita itu.

Aturan ini tidak lahir dari buku. Lahir dari kantor pertamaku, dari seorang senior perempuan yang kariernya bagus sampai dia satu kali — satu kali — menerima tumpangan pulang dari manajernya karena hujan besar dan ojek langka. Tidak terjadi apa-apa di mobil itu. Tapi tiga bulan kemudian, ketika dia promosi, seisi lantai sudah punya penjelasan versi mereka sendiri, dan tidak ada satu pun versi yang menyebut kerjanya. Aku dua puluh dua tahun waktu itu, baru lulus, dan aku mencatat pelajarannya dengan tinta permanen: dunia tidak butuh kejadian untuk membuat cerita. Dunia cuma butuh bahan.

Yang lolos dari aturanku hanya yang berbungkus kerja. Dan minggu ini, seseorang sedang menguji kualitas bungkusnya.

Jumat, jam 15.40. Aku membalas invite itu sejak Rabu:

Sync 1:1 — Product Direction. Jumat, 18.30. Lokasi: menyusul.

Balasanku: Pak, saya available Jumat 16.00 di Cipularang. Setelah 18.00 saya ada agenda. Materi saya siapkan.

Tiga puluh menit tidak dibalas, lalu: Ok deal. Fleksibel kok aku 👍

Fleksibel. Aku menatap jempol kuning itu lama sekali. Delapan tahun bekerja mengajariku membaca dokumen; tiga tahun terakhir mengajariku membaca emoji. Jempol itu artinya: ronde ini kamu menang, tapi pertandingannya belum selesai.

Jam 16.00, Cipularang. Aku datang lima menit lebih awal dengan laptop terbuka, tiga slide arah produk, dan posisi duduk menghadap pintu — punggung ke jendela, layar terlihat dari pintu. Detail-detail kecil yang tidak akan pernah masuk laporan kerja siapa pun, tapi perempuan mana pun yang pernah rapat berdua di ruang kaca akan paham.

Pak Bram masuk jam 16.09 membawa dua gelas kopi dari kedai di lantai dasar.

“Nah, kan aku bilang fleksibel.” Dia meletakkan satu gelas di depanku. “Caramel macchiato. Cewek-cewek biasanya suka.”

“Terima kasih, Pak.” Aku menggeser gelas itu lima senti ke samping, ke wilayah netral meja, dan membuka slide pertama. “Kuartal depan, saya usul fokusnya retensi shipper, bukan akuisisi. Datanya begini.”

Empat puluh menit berikutnya membuktikan hipotesisku: agenda kerjanya tipis. Pak Bram bertanya hal-hal yang jawabannya sudah ada di dokumen yang dia sendiri approve, mengangguk di tempat yang salah, dan dua kali menyetir percakapan keluar jalur — “Kamu weekend biasanya ke mana sih, Cleo? Kok kayaknya nggak pernah cerita” — yang kutangani dengan teknik standar: senyum kadar sedang, “Istirahat, Pak, weekdays-nya begini soalnya,” lalu kembali ke slide sebelum kalimatnya sempat beranak.

Satu kali dia mencoba jurus yang lebih halus: “Kamu tuh sebenernya overqualified buat level sekarang. Aku udah bilang ke direksi. Tapi ya, karier itu kan bukan cuma soal kerja bagus. Soal siapa yang bawa nama kamu di ruangan yang tepat.” Jeda. Senyum. “Untung kamu punya aku.”

Aku mengucapkan terima kasih dengan takaran yang membuat kalimat itu selesai tanpa menjadi utang. Ini keahlian yang tidak diajarkan di jurusan mana pun dan sudah menjadi setengah pekerjaanku.

Jam 16.51, dia melancarkan serangan utamanya sambil menutup laptop yang sejak awal tidak pernah dibuka.

“Gini deh. Diskusi kayak gini tuh sebenernya lebih hidup kalau nggak di ruang meeting. Ada resto Jepang baru di Senopati, tenang tempatnya, cocok buat mikir strategis. Jumat depan kita pindahin ke sana. Anggap extended session.”

Dan ini dia. Bungkus yang diuji.

Aku menutup laptopku juga, pelan, supaya kalimat berikutnya tidak terdengar seperti tembakan padahal memang tembakan.

“Kalau agendanya kerja, Pak, di kantor cukup. Saya orangnya lebih fokus di sini.” Senyum. Kadar sedang. “Kalau agendanya bukan kerja — saya nggak bisa.”

Dua detik. Aku menonton dua detik itu bekerja di wajahnya: senyumnya bertahan, tapi ada satu otot kecil di rahang yang lupa dapat instruksi.

“Wah, kamu ini.” Dia tertawa, memulihkan diri dengan kecepatan orang yang sering latihan. “Profesional banget. Ya udah, gitu juga bagus. Justru itu yang bikin kamu... beda.”

Kata beda itu dia tinggalkan di meja seperti kartu nama. Aku tidak mengambilnya.

Dia keluar duluan. Aku duduk tiga menit lagi sendirian di Cipularang, dan baru setelah pintu benar-benar tertutup, kubiarkan bahuku turun satu senti. Napas yang dari tadi kutahan di dada kukeluarkan pelan-pelan, dihitung, seperti orang menyelam yang baru naik.

Menang, secara teknis. Tapi menang melawan atasan sendiri itu jenis kemenangan yang tagihannya datang belakangan. Penilaian kinerjaku ada di tangannya. Promosi, alokasi tim, siapa yang dibawa ke ruang direksi — semuanya lewat dia. Aku baru saja bilang tidak kepada orang yang memegang semua pintu di lorong karierku, dan aku akan mengulanginya lagi kalau perlu, dan tidak ada satu bagian pun dari kalimat itu yang membuatku tenang.

Kadang aku iri pada perempuan yang boleh menolak dengan marah. Marah itu jujur, cepat, selesai. Sopan itu pekerjaan tambahan yang tidak dibayar — dan aku sudah bertahun-tahun lemburnya.

Jam 18.30 aku baru selesai merapikan backlog. Lantai tujuh sudah gelap separuh, tinggal deret lampu di beberapa titik. Aku berjalan ke lift melewati area backend — area yang minggu depan akan jadi wilayah mejaku, pikiran yang belum sempat kuproses karena minggu ini terlalu penuh — dan langkahku melambat sendiri tanpa kuputuskan.

Satu monitor masih menyala di pojok. Punggung yang familier, hoodie abu-abu, tidak menoleh. Mas Jaka tidak pernah menoleh; kepalanya selalu lurus ke depan seperti dipasangi rel.

Di layarku sendiri, tadi sore, ada satu hal kecil yang kucatat tanpa sadar: dashboard retensi yang pagi ini error — angkanya kosong semua, sempat membuatku panik lima menit — sudah normal lagi sejak jam dua siang. Tidak ada yang lapor mengerjakannya. Tidak ada yang minta terima kasih. Barangnya tahu-tahu benar, seperti disembuhkan hantu.

Lantai tujuh punya banyak penonton, pikirku sambil menekan tombol lift. Dan sepertinya punya satu hantu.

Ponselku bergetar sebelum pintu lift terbuka. Email. Aku membacanya sambil berjalan masuk, dan lift sempat tertutup lagi tanpa kupencet apa pun.

Dari: procurement@sentosaniaga.co.id
Subjek: Evaluasi Performa Layanan — Q2

“...meminta sesi review khusus hari Rabu terkait pencapaian SLA dan akurasi data pengiriman. Mohon dihadiri pemilik produk. Kami akan membawa tim operasional kami.”

Sentosa Niaga. Klien terbesar kami. “Membawa tim operasional” dalam bahasa mereka artinya membawa orang-orang yang hobi mencecar angka sampai koma kedua.

Tiga puluh detik kemudian, forward dari Pak Bram masuk, satu baris saja:

“Cleo, kamu yang lead ya. Ini penting buat kita semua. Aku yakin kamu bisa 😊”

Aku menatap emoji senyum itu sepanjang tujuh lantai perjalanan turun.

Tagihannya, ternyata, datang lebih cepat dari perkiraan.