← Nol Persen

Chapter Twenty Six

Gerimis

POV: Cleo

Ada malam-malam yang kau tahu, bahkan saat sedang menjalaninya, akan kau putar ulang bertahun-tahun kemudian. Malam Jumat itu salah satunya — dan seperti semua malam jenis itu, dia dimulai dari hal kecil sekali.

“Mas Jek. Kamu bawa payung?”

Aku bertanya tanpa berbalik dari jendela, karena kalau berbalik dia akan melihat wajahku, dan wajahku sedang tidak bisa dipercaya sejak jam 21.52 tadi.

“...Nggak,” jawabnya dari mejanya. “Biasanya naik ojek. Tapi hujan gini, antreannya—”

“Sayang banget ya.” Aku membuka tasku dengan gerakan yang sudah kulatih di kepala sejak lampu menyala tadi — santai, kasual, sama sekali bukan momen yang direncanakan tiga jam. Dari dalam tas, kukeluarkan payung hitam tua bergagang halus, dan kubuka lipatannya pelan-pelan di tengah lantai enam. “Untung ada yang bawa.”

Aku berbalik.

Wajahnya sepadan dengan tiga jam penantian. Dia menatap payung itu — payungnya, empat musim hujan umurnya, satu jeruji bengkok, yang menghilang dari partisiku setiap sore dan kembali setiap pagi selama berminggu-minggu tanpa pernah dia tanyakan ke mana perginya — dengan ekspresi orang yang melihat barang bukti dari kasus yang dia kira sudah ditutup.

“Itu—”

“Payung apa ya, Mas?”

Kalimatnya sendiri. Dikembalikan utuh, tanpa bunga, dengan bon pembelian. Aku menyaksikan kalimat itu mendarat, diproses, dikenali — dan untuk kedua kalinya malam ini, kedua telinganya melakukan hal yang sudah jadi hiburan favoritku di gedung ini.

“...Payungku,” katanya akhirnya. Pelan. Menyerah total.

“Oh, jadi sekarang payungmu.” Aku berjalan ke lift sambil memutar gagang payung sekali. “Yang waktu itu katanya payung apa ya. Ayo. Stasiunmu searah kok sama jalanku.”

Dia tahu itu bohong. Aku tahu dia tahu — apartemenku dan stasiunnya berlawanan arah, dan laki-laki yang hafal jam kopiku pasti hafal peta pulangku. Tapi malam ini kami sedang berbaik hati pada kebohongan-kebohongan kecil, jadi dia mengambil tasnya, mematikan monitor, dan menyusul.

Gerimis di luar adalah gerimis kelas menengah: terlalu deras untuk nekat, terlalu halus untuk menyerah. Kami berdiri sebentar di lobi menghadapnya, lalu aku membuka payung, dan terjadilah negosiasi geometri yang tidak diucapkan siapa pun: payung untuk satu setengah orang, trotoar untuk dua, dan jarak antar-bahu yang harus dihitung ulang setiap tiga langkah.

Dia mengambil gagang payung — “biar seimbang,” katanya, alasan teknis, tentu saja alasan teknis — dan kami berjalan menuju stasiun menembus Jakarta jam sebelas malam yang basah dan berkilau.

Dan di bawah payung tua itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah kami, percakapan berjalan tanpa satu pun kata kerja kantor.

Dia bertanya kenapa aku bisa tahan jadi orang yang ditonton. Bukan basa-basi — pertanyaan sungguhan, dari orang yang sudah lama memperhatikan dan baru sekarang merasa boleh bertanya. Aku bercerita hal-hal yang belum pernah keluar di gedung itu: soal jadi anak yang wajahnya dipuji sebelum orang menanyakan namanya, soal lomba-lomba yang didaftarkan tanteku tanpa izin, soal bagaimana kau lama-lama belajar bahwa dipuji dan dilihat itu dua hal yang berbeda dan kau bisa kenyang yang satu sambil kelaparan yang lain.

“Makanya kamu suka gudang,” katanya. Bukan bertanya.

“Makanya aku suka gudang.” Aku menoleh sedikit. “Kamu tahu dari mana aku suka gudang?”

“Laporan kunjungan sortir Bekasi. Kamu nulisnya tiga kali lebih panjang dari format. Ada bagian soal Bu Neni yang...” dia berhenti, sadar sudah mengaku terlalu banyak, dan menyerah lagi untuk kesekian kalinya malam ini, “...aku baca semua laporanmu. Dari dulu. Itu bukan kerjaanku.”

“Aku tahu,” kataku pelan. “Aku juga baca semua commit message-mu. Itu juga bukan kerjaanku.”

Langkah kami bunyi di trotoar basah. Di atas, payung tua menahan gerimis dengan satu jeruji bengkoknya, dan di bawahnya dua orang berjalan sambil mencerna pengakuan bahwa mereka sudah bertahun-tahun saling membaca tulisan masing-masing seperti orang membaca surat.

Lampu jalan lewat satu-satu. Di lampu ketiga, aku menyadari bahu kanannya gelap basah — payungnya miring ke arahku sejak lobi, dimiringkan dengan gerakan halus yang jelas dia pikir tidak ketahuan. Laki-laki ini membangun karier dari ketelitian dan mengira kemiringan lima belas derajat itu tidak terdeteksi. Aku bergeser mendekat, merapatkan jarak supaya payungnya cukup untuk dua. Tiga langkah kemudian, payung itu miring lagi ke arahku. Aku bergeser lagi. Miring lagi.

“Mas Jek.”

“Hm.”

“Bahumu basah.”

“Bahuku tahan air.”

“Itu bukan spesifikasi manusia.”

“Aku engineer. Spesifikasiku beda.”

Aku menyerah dengan cara yang bukan menyerah: menggeser badanku sampai jarak antar-bahu kami habis sama sekali — nol, bersentuhan, kain blazernya di lengan kemejaku — supaya payung sekecil apa pun cukup untuk dua orang yang tidak menyisakan celah. Dia menegang sepersekian detik. Lalu, pelan-pelan, payungnya kembali tegak di tengah.

Kami berjalan begitu sampai stasiun. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu. Gerimis mengerjakan bagiannya di atas payung, Jakarta mengerjakan bagiannya di sekeliling, dan kami mengerjakan bagian kami: berjalan pelan-pelan dengan kecepatan orang yang tidak ingin sampai.

Di depan stasiun, di bawah kanopi, ritual perpisahan berlangsung canggung dan panjang: dia menolak membawa payungnya sendiri (“kamu masih harus jalan ke ojek”), aku menolak penolakannya (“kamu yang nunggu kereta”), dan kami bernegosiasi soal satu payung tua seperti dua diplomat memperebutkan pulau, sampai akhirnya tercapai perjanjian: payung ikut aku malam ini, kembali ke partisinya besok, “seperti biasa” — dan kata seperti biasa itu kami ucapkan hampir bersamaan, lalu sama-sama pura-pura tidak. Payung tua itu kini resmi punya dua rumah dan jadwal kunjungan tetap; ada pasangan bercerai yang mengatur hak asuh lebih buruk dari kami.

“Malam ini,” katanya di ujung, dengan nada laporan penutup, “cutover-nya sukses.”

“Sistem barunya bisa dipercaya?”

Dia menatapku. Gerimis di belakangnya, lampu stasiun di atasnya, dan untuk sekali ini dia tidak mengalihkan mata ke koordinat lain.

“Datanya makin ke arah sana,” katanya.

Kereta terakhirnya diumumkan dari dalam stasiun — suara sember pengeras yang memakan separuh kata-katanya sendiri. Dia mengangkat tasnya, ragu sebentar di batas kanopi seperti orang yang memeriksa saku sebelum pergi jauh, lalu berbalik padaku sekali lagi.

“Malam...” Jeda itu. Jeda yang sudah kukoleksi berminggu-minggu — di pantry, di telepon, di lift — jeda tempat satu suku kata selalu tersangkut dan berbalik arah. Aku sudah menyiapkan senyum untuk kegagalan yang ke sekian, sudah siap menagihnya besok seperti biasa.

“...Vy.”

Satu suku kata. Diucapkan pelan, hampir kalah oleh gerimis, dengan mata yang bertahan di mataku sepanjang pengucapannya — dan baru setelah selesai, setelah kata itu selamat sampai tujuan, dia mengangguk kecil sekali, bukan pada dirinya sendiri kali ini, tapi padaku, seperti kurir yang memastikan paket diterima dengan baik.

Lalu dia masuk ke stasiun, ditelan lampu putih dan pintu tap, dan aku berdiri di bawah kanopi dengan payung tua di tangan dan nama rumahku masih hangat di udara malam.

Dua tahun laki-laki itu menyeberangkan segalanya lewat benda — teh, payung, sticky note, sebelas halaman dokumentasi. Malam ini, untuk pertama kalinya, dia menyeberangkan sesuatu lewat suaranya sendiri. Dalam gelap, memang. Di ujung malam, memang. Dengan bantuan gerimis yang menyamarkan, memang. Tapi paket sampai, dan kurirnya menunggu tanda terima, dan tanda terimaku — senyum yang kadar sedangnya jebol total — untung hanya disaksikan hujan.

Aku sedang berjalan ke arah ojek dengan langkah yang terlalu ringan untuk jam sebelas malam ketika ponselnya — di dalam sana, di peron entah mana — pasti ikut bergetar bersamaan dengan ponselku.

Getar panjang. Email.

Dari: HR Antarra
Subjek: [Penting] Town Hall Khusus — Senin 09.00 — Wajib Hadir Seluruh Karyawan

Preview dua baris terbaca sebelum layar padam: “...menyikapi kondisi pendanaan industri... langkah-langkah penyesuaian organisasi yang akan...”

Aku berhenti di tengah trotoar basah.

Delapan tahun membaca bahasa perusahaan, dan penyesuaian organisasi adalah kata yang tidak pernah dipakai untuk kabar baik. Aku menoleh ke arah stasiun — ke lampu putih yang barusan menelan malam terbaik kami — dan merasakan musim berganti tepat di tengah gerimis, tanpa permisi, seperti semua musim buruk datang.