Chapter Thirty Three
Keputusan CEO
POV: Cleo
“Lega. Aku ngerasa lega.”
Jam tiga pagi mengajarkan satu hal lagi malam itu: ada pengakuan yang tidak boleh dijawab dengan kalimat panjang. Kalimat panjang akan membuatnya menyesal jujur, dan aku butuh dia tidak pernah menyesal jujur padaku.
Jadi aku hanya mengangguk, pelan, dan berkata: “Aku tahu. Dan aku tahu lega itu bukan karena kamu pengen pergi.” Dia menatapku. “Lega karena pergi lebih gampang daripada berharap. Berharap itu kerja dua puluh empat jam. Aku kenal rasanya, Mas Jek — aku cuma beda cara nyebutnya.”
Dia tidak menjawab. Tapi sesuatu di bahunya turun satu senti, seperti orang yang ketahuan membawa beban dan akhirnya boleh menurunkannya, dan jam 03.40 kami sepakat menutup sesi dengan istilahnya: “log-nya belum habis. Kita lanjutin setelah semua ini selesai.” Sistem tiket akan menyebutnya pending — blocked by external dependency. Dependensinya bernama Jumat.
Dia mengantarku sampai lobi menunggu ojek datang, jam empat pagi, Jakarta masih milik pemulung dan penjual bubur yang baru mendorong gerobaknya keluar — dan tidak ada yang terjadi di lobi itu selain dua orang berdiri bersebelahan menonton kota bangun, dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri malam terpanjang kami.
Jumat jam 10.00, tiga investor duduk di Pantura, dan Antarra mempertunjukkan dirinya.
Demo berjalan di atas sistem yang jam tiga paginya baru selesai dijahit, dan berjalan tanpa satu tersendat pun. Tapi bagian yang mengubah ruangan bukan demonya. Bagian itu datang ketika partner senior mereka — perempuan berkacamata yang sejak awal mencatat seperti Bu Ratna mencatat — bertanya, “Grafik uptime kalian semalam bolong dua jam lebih. Kenapa?”
Ruangan menahan napas. Pak Dhimas menoleh padaku, dan aku membuka satu slide yang kusiapkan jam dua pagi dan sempat diperdebatkan: Incident Report — jujur, lengkap, dengan akar masalah dan perbaikan permanennya.
“Karena komponen terakhir sistem lama kami jebol semalam,” kataku, “dan tim kami memilih perbaikan empat jam yang benar daripada perbaikan satu jam yang kelihatan benar. Detailnya di halaman ini, termasuk tiga transaksi ganda yang kami temukan dan pulihkan. Kami bisa saja tidak cerita — grafiknya bisa dipotong. Tapi Bapak-Ibu mau menaruh uang di perusahaan ini, jadi Bapak-Ibu berhak tahu persis bagaimana kami berperilaku saat tidak ada yang menonton.”
Partner senior itu menatapku lama, lalu menulis sesuatu, lalu berkata pada Pak Dhimas kalimat yang minggu depannya akan dikutip di term sheet dan diulang-ulang seisi kantor seperti dongeng:
“Sistem bisa dibeli. Perilaku jam dua pagi nggak bisa. Kami masuk.”
Demo bubar jam dua belas dengan jabat tangan yang panjang-panjang, dan begitu pintu lift menutup di belakang rombongan investor, Pantura meledak — Gofar memeluk anak frontend yang tidak sempat menolak, Tami mengizinkan dirinya tersenyum selama tercatat empat detik, dan Pak Dhimas berdiri di tengah ruangan mencari seseorang dengan matanya, menemukannya di kursi dekat pintu — masih di kursi dekat pintu, sebagian kebiasaan memang tidak pindah — dan hanya mengangguk sekali, dalam, jenis anggukan yang di dunia laki-laki pendiam setara dengan pidato.
Dua minggu berikutnya, dua proses berjalan paralel: pendanaan menuju pencairan, dan audit menuju kesimpulan. Aku dipanggil auditor dua kali; menyerahkan salinan, properti, kronologi; menjawab pertanyaan dengan kalimat-kalimat yang sudah kubersihkan dari semua kata sifat. Tami menyerahkan bukti kalibrasi. Mas Hendra menyerahkan riwayat penilaian. Bahkan Sasha dipanggil, dan keluar dari ruang audit dengan wajah orang yang untuk pertama kalinya dalam hidup diminta bercerita on the record dan menemukan bahwa dia menyukainya. Sistem, ternyata, kalau diberi kesempatan, bisa bekerja.
Kamis dua minggu kemudian, jam 14.00, town hall kedua — dan yang ini rasanya berbeda dari pintu masuk.
“Tiga pengumuman,” kata Pak Dhimas. “Satu: pendanaan cair. Runway dua tahun. Dua: dengan runway itu, Skenario B resmi dibatalkan — bukan ditahan, dibatalkan. Penghematan jalan lewat cara lain: hiring freeze, pangkas biaya non-orang. Nggak ada satu pun dari kalian yang pulang bawa kardus.” Dia menunggu gelombang lega itu lewat — dan gelombang itu besar. Ada yang bertepuk. Ada yang menutup wajah. Seorang ibu dari tim finance, yang namanya kutahu ada di baris tiga puluh tujuh, keluar ruangan sebentar untuk menelepon seseorang, dan lewat pintu yang setengah terbuka terdengar suaranya pecah di kata pertama: “Pah.” Gofar di ujung sana menunduk lama sekali, dan ketika mengangkat kepala lagi, dia langsung membuka ponsel — bukan Slack; galeri; foto anaknya. Lalu Pak Dhimas melanjutkan dengan nada yang lebih datar.
“Tiga: hasil audit proses WFP menemukan pelanggaran integritas data — perubahan skor penilaian di luar prosedur oleh satu individu. Individu tersebut sudah menerima konsekuensinya sesuai kebijakan. Dan mulai hari ini, Pak Bramantyo mengundurkan diri dari Antarra untuk melanjutkan karier di tempat lain. Kita doakan yang terbaik.”
Bahasa korporat adalah bahasa yang indah: seluruh perang itu dimuat dalam tiga kalimat pasif, tanpa satu nama korban, tanpa satu tetes darah kelihatan. Tapi seisi ruangan bisa membaca yang tidak tertulis, dan keheningan yang mengiringi kalimat itu bukan keheningan duka.
Aku bertemu Pak Bram sekali lagi sesudahnya, sore itu, di lorong yang sama tempat dia dulu menahankan pintu lift sambil meramal cuaca. Dia membawa kardus kecil — sebagian besar isinya piala-piala kantor lama — dan masih memakai senyumnya, versi yang jahitannya sudah tidak disembunyikan.
“Timing-nya pas, sebenernya,” katanya. “Aku emang udah lama dilirik tempat lain. Scale-up, seri C, mainannya lebih gede.” Dia menatapku, dan untuk sepersekian detik senyum itu turun, dan yang tersisa di baliknya bukan monster — cuma laki-laki yang seumur hidup menang lewat panggung dan baru saja kalah oleh satu halaman kertas tanpa kata sifat. “Kamu tahu yang lucu, Cleo? Dari dulu aku bilang kamu beda. Aku bener. Aku cuma salah ngira bedanya di mana.”
“Semoga sukses di tempat baru, Pak,” kataku, dengan takaran yang pas untuk kalimat terakhir: sopan, final, tidak membawa apa-apa.
Dia masuk lift. Pintu menutup. Dan lorong itu, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, hanya berbau lorong. Aku berdiri di sana sebentar, menunggu perasaan menang datang, dan yang datang cuma lega yang sunyi — mungkin memang begitu bentuk asli semua kemenangan yang benar.
Kemenangan lewat sistem rasanya ternyata tidak seperti di film. Tidak ada tepuk tangan lambat, tidak ada musik. Rasanya seperti dashboard yang pelan-pelan kembali hijau: satu kurva, lalu satu lagi, lalu kau sadar sudah lima menit tidak ada alarm, dan kau menyandarkan punggung, dan badanmu baru mengaku betapa lelahnya dia selama ini.
Malamnya Radit mengirim pesan panjang berisi rencana pesta yang melibatkan konfeti dan spanduk, kubalas dengan penolakan halus, dia membalas “YAUDAH TAPI SATU AJA: gue bangga sama lo, Vy. Naga lo gede.” — dan aku membaca kalimat itu dua kali sebelum tidur, karena dari sebelas tahun persahabatan kami, itu pertama kalinya Radit memakai kata bangga tanpa membungkusnya lelucon.
Jumat sore, jam lima, aku sedang merapikan meja — meja lantai tujuh, karena minggu depan proyek infra selesai dan penghuni lantai enam resmi ditarik pulang ke sembilan puluh sentimeter dari sikuku, informasi yang kubaca di email resmi dengan ekspresi profesional dan kurayakan di dalam hati dengan cara yang tidak profesional sama sekali — ketika bunyi ting lift membuat kepalaku terangkat.
Dia berjalan ke arah mejaku. Bukan jalan kerja. Jalan orang yang sudah menghitung langkahnya dari lantai enam dan memutuskan tetap berjalan walau hitungannya menakutkan.
“Vy.” Lancar. Tanpa tersangkut. Kemajuan yang dicapai lewat jalan yang panjang sekali. “Kamu ada waktu? Sekarang, atau kapan pun kamu bisa.”
“Buat?”
“Log kita masih kebuka.” Dia berdiri tegak, tangan di sisi badan, seperti orang yang sudah melepas semua rencana mundurnya. “Dan aku bawa satu pertanyaan. Udah lama mau kutanyain — dari sebelum daftar, dari sebelum semuanya. Tapi kamu jawabnya jangan di sini.”
Aku menutup laptop, mengambil tas, dan berdiri.
“Rooftop,” kataku. “Jam segini langitnya lagi bagus.”
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO reading
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?