← Nol Persen

Chapter Twenty Seven

Kabar Angin

POV: Cleo

Senin, jam 09.00, seluruh Antarra dijejalkan ke Pantura dan lorong di sekitarnya, dan Pak Dhimas berdiri di depan dengan wajah yang sudah menjawab semua pertanyaan sebelum satu kata pun keluar.

“Kalian pasti udah baca berita industri,” dia membuka, tanpa slide, tanpa pemanasan. “Pendanaan lagi musim dingin. Dua kompetitor kita tutup bulan lalu. Investor kita masih komit, tapi dengan syarat: runway harus dipanjangin. Artinya semua pengeluaran dikaji.” Dia berhenti, mengedarkan pandangan, dan memilih kejujuran yang mahal: “Termasuk struktur organisasi. Belum ada keputusan apa-apa soal orang. Saya ulangi: belum ada. Tapi saya nggak mau bohong bilang opsinya nggak ada di meja. Yang saya janjiin cuma satu: kalau sampai ke sana, prosesnya bakal adil dan berbasis data.”

Berbasis data. Kata yang biasanya menenangkanku. Pagi itu, entah kenapa, kata itu justru terdengar seperti pisau yang sedang diasah — tergantung siapa yang memegang datanya.

Town hall bubar dalam keheningan yang belum pernah dialami gedung ini. Tidak ada yang ke pantry. Slack #random, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sunyi total selama dua jam — kesunyian yang lebih berisik dari keramaian mana pun. Bahkan Pak Slamet, yang biasanya mengepel lorong sambil bersenandung dangdut lawas nyaris tanpa suara, hari itu mengepel dalam diam total, dan entah kenapa justru hilangnya senandung itu yang membuat lantai tujuh terasa paling sakit.

Lalu, pelan-pelan, kabar angin mulai bekerja seperti kabar angin bekerja: lewat pantry, lewat DM, lewat “eh denger nggak”.

Gofar mampir ke mejaku siang itu dengan wajah yang belum pernah kulihat dia pakai — wajah tanpa taruhan di dalamnya. “Mbak. Yang tadi itu... seberapa serius menurut Mbak? Jujur aja. Cicilan rumah gue baru jalan dua tahun, anak gue mau masuk TK.”

“Aku belum tahu apa-apa, Far. Beneran.” Dan itu jujur, dan kejujuran itu tidak menghibur siapa-siapa. “Tapi kerjaanmu kelihatan. Dashboard, monitoring, handover kemarin — semua tercatat.”

“Tercatat,” ulangnya, mengangguk pelan, lalu tersenyum sedikit dengan senyum yang tidak sampai ke mana-mana. “Iya. Semoga yang baca catatannya bener orangnya.”

Tami tidak bertanya apa-apa. Dia cuma bekerja lebih senyap dari biasanya, dan sorenya kulihat dia mengekspor semua test case dan dokumentasinya ke folder pribadi — bukan panik, tapi persiapan, khas Tami, seperti orang yang memeriksa pelampung bukan karena kapal pasti tenggelam tapi karena pelampung tidak pernah rugi diperiksa.

Radit muncul di lantai tujuh membawa kotak martabak besar dan membagikannya keliling tanpa banyak kata — Radit versi krisis, yang kekonyolannya berubah jadi logistik. “Perut kenyang, panik berkurang tiga puluh persen,” katanya. “Itu data. Sumbernya gue.”

Dan di tengah semua kecemasan yang berserakan itu, satu orang bergerak dengan tenang yang salah.

Ada dua jenis tenang di masa krisis. Tenangnya lantai enam: tenang orang yang siap menanggung apa pun hasilnya. Dan tenang yang satu ini: tenang orang yang sudah membaca hasilnya duluan. Dua-duanya sunyi. Bedanya seperti beda antara orang yang berdoa dan orang yang memegang kunci jawaban.

Pak Bram menghabiskan minggu itu dalam kondisi terbaiknya. Rapat-rapatnya penuh energi. Jargonnya berganti musim — rightsizing, lean organization, doing more with less — diucapkan dengan kefasihan orang yang sudah berlatih di depan cermin. Selasa, dia terpilih memimpin Workforce Planning Task Force — “diminta direksi,” katanya, dengan kerendahan hati yang jahitannya kelihatan. Rabu, dia mampir ke mejaku membawa permintaan yang di permukaan wajar sekali:

“Cleo, tolong susunin ranking prioritas fitur sama dependency tim-nya ya. Buat perencanaan kuartal.” Senyum. “Format bebas. Yang penting kelihatan mana yang mission critical, mana yang... nggak.”

Aku menyusun dokumen itu selama dua hari dengan kesadaran penuh bahwa aku sedang diminta menggambar peta — dan bahwa peta bisa dipakai untuk membangun atau membombardir, tergantung siapa jenderalnya. Maka kususun dengan cara yang membuat setiap tim terlihat persis sepenting kenyataannya: proyek data infra kutulis sebagai fondasi semua target SLA, lengkap dengan angka; monitoring Gofar kutulis sebagai penjaga komitmen Sentosa; QA kutulis dengan daftar bencana yang berhasil dicegah. Kalau dokumen ini mau dijadikan senjata, setidaknya pelurunya kuisi sendiri dengan kebenaran.

Kamis sore, aku turun ke lantai enam dengan alasan yang setengah sah, dan menemukan pemandangan yang membuat langkahku melambat di pintu lift.

Dia sedang menulis dokumentasi.

Bukan dokumentasi biasa — aku sudah kenal ritme kerjanya, dan ini ritme yang lain: metodis, menyeluruh, folder demi folder dirapikan, diagram diperbarui, README ditulis ulang. Ritme yang terakhir kulihat jejaknya di sebelas halaman yang dia tinggalkan untuk Gofar. Ritme orang yang merapikan rumah sebelum bepergian jauh.

“Beres-beres?” tanyaku, menjaga suara tetap ringan.

“Kebiasaan,” katanya, tanpa berhenti mengetik. “Sistem yang cuma dipahami satu orang itu liability. Apalagi—” dia berhenti sepersekian detik, dan melanjutkan dengan nada yang terlalu datar, “—apalagi di musim kayak gini. Nggak ada salahnya semua siap serah terima.”

“Kamu nggak akan ke mana-mana.”

Dia menoleh. Tersenyum sedikit — senyum yang niatnya menenangkan dan efeknya kebalikan total. “Semua orang nggak akan ke mana-mana,” katanya, “sampai ada daftar yang bilang sebaliknya. Aku cuma nggak suka ninggalin sistem berantakan. Itu aja.”

Aku pulang sore itu dengan kalimat sampai ada daftar tersangkut di dadaku seperti duri, dan dengan pemahaman baru yang tidak kuminta: laki-laki itu tidak takut. Itu masalahnya. Gofar takut, Tami bersiap, seisi gedung cemas — dia merapikan. Ketakutan bisa ditenangkan. Kerapian jenis itu, yang tenang dan menyeluruh dan sudah selesai berdamai, jauh lebih menakutkan.

Kamis malam, jam 22.30, tiket mingguan kami masuk seperti biasa — materi SQL modul berikutnya, rapi seperti biasa. Kalimat ekstranya, satu seperti biasa, berbunyi:

Window function itu materi paling susah, tapi kamu pasti bisa. Kamu selalu lebih cepet dari estimasiku.

Aku membacanya tiga kali. Di permukaan: pujian guru. Di bawahnya, dengan telinga yang sudah terlatih membaca dialeknya: kamu akan baik-baik saja, dengan atau tanpa. Laki-laki itu bahkan menyusun kalimat penghiburannya dua lapis, supaya lapis bawahnya bisa disangkal.

Malam itu aku tidur jam dua, dan sebelum tidur melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur karier: membuka sistem penilaian kinerja, mencari satu nama, dan menatap skornya lama-lama — 4,6, lima besar seangkatan — seperti orang memeriksa gembok sebelum tidur. Gemboknya bagus. Kokoh. Resmi.

Aku tidur dengan keyakinan bodoh bahwa gembok yang bagus cukup untuk melindungi pintu.

Jumat sore, jam lima, Sasha menghampiriku di lorong dengan langkah yang berbeda dari biasanya — tanpa tumbler, tanpa gaya, cepat.

“Mbak.” Suaranya turun ke bisikan sungguhan, bukan bisikan panggung yang biasa. “Off the record. Beneran off the record yang ini.” Dia melirik kiri-kanan, dan aku baru sadar tangannya sedikit gemetar. “Tadi aku fotokopi di ruang HR. Di printer, ada dokumen ketinggalan. Kesalahan orang, bukan aku yang nyari. Aku cuma sempat lihat sekilas sebelum orangnya balik ngambil.”

Lorong itu terasa mengecil.

“Ada daftarnya, Mbak. Draft. Judulnya skenario, tapi isinya nama.” Dia menelan ludah. “Aku nggak sempat baca semua. Cuma kolom paling atas. Engineering.”

“Sasha—”

“Aku nggak akan nyebut nama. Nggak boleh, nggak akan.” Dia menatapku, dan di mata tukang gosip paling andal segedung itu ada sesuatu yang belum pernah kulihat: penyesalan sudah melihat. “Aku cuma mau bilang ke Mbak duluan karena... karena Mbak orangnya data. Dan ada satu nama di situ yang datanya — kerjaannya — semua orang di gedung ini tahu. Nggak masuk akal, Mbak. Nggak masuk akal dia ada di situ.”

Dia pergi, cepat, meninggalkanku sendirian di lorong yang lampunya tiba-tiba terasa terlalu putih.

Sasha yang tidak mau menyebut nama. Sasha — yang seumur hidupnya beroperasi di pasar informasi dan tidak pernah sekali pun menahan barang dagangan — hari ini memilih diam demi melindungi seseorang. Itu sendiri sudah data: bahkan tukang gosip punya garis yang tidak dia seberangi, dan seseorang di gedung ini baru saja menyeberangi garis yang jauh lebih dalam.

Aku berdiri di sana lama sekali, dan pikiranku hanya memutar satu gambar: lantai enam, kemarin, seseorang yang merapikan rumahnya folder demi folder, dengan tenang, seperti sudah tahu.