← Nol Persen

Chapter Thirty One

Malam Sebelum Demo

POV: Jaka

Jam 21.04, aku sedang merebus mi di kosan ketika ponselku menyala seperti pohon natal.

Jam 21.32, aku sudah di lantai tujuh, dan lantai tujuh sedang mengalami akhir dunia versi startup: semua layanan mati, aplikasi tidak bisa dibuka, dashboard monitoring merah dari ujung ke ujung, dan Pantura penuh manusia panik yang setengahnya masih memakai celana rumah.

“BERAPA LAMA?” Pak Bram berdiri di tengah ruangan dengan ponsel di telinga — entah siapa di seberangnya, mungkin tidak ada siapa-siapa — suaranya memenuhi ruangan. “Investor dateng jam sepuluh pagi! JAM SEPULUH! Ini nggak bisa— siapa yang deploy hari ini? SIAPA YANG TERAKHIR PEGANG SISTEM?”

Pertanyaan itu, di ruangan ini, punya jawaban yang semua orang tahu: aku. Aku yang terakhir pegang sistem; aku yang memindahkan jantungnya dua minggu lalu; dan aku bisa merasakan beberapa pasang mata melirik ke arahku dengan hitungan yang sama.

Aku menutup mata. Dua detik.

Membukanya.

“Tami. Kapan terakhir kali ini normal?”

“20.47.” Tami sudah di depan laptopnya, sudah menunggu pertanyaan itu, karena kami sudah pernah menari tarian ini. “Semua sehat sampai 20.47. 20.51 error rate naik. 20.58 mati total.”

“Ada deploy hari ini?”

“Nol. Freeze sejak kemarin, persiapan demo.”

“Berarti bukan kode.” Aku membuka log di layar besar Pantura, dan mulai membaca — dan cerita malam ini, begitu halaman-halamannya terbuka, ternyata cerita lama. “Ini dari storage. Disk database utama... penuh. Bukan penuh wajar — ada satu proses lama yang nulis log transaksi tanpa rotasi. Proses dari sistem lama.”

Ruangan hening sedikit. Aku melanjutkan membaca, dan menemukan bagian yang membuatku ingin tertawa kalau situasinya bukan malam ini: proses itu ada di daftar migrasiku — komponen terakhir, satu-satunya yang belum dipindahkan, dijadwalkan sprint depan. Sisa terakhir sistem legacy, yang selama sepuluh tahun diam-diam menabung log seperti orang tua menabung koran bekas, dan memilih malam ini — dari semua malam — untuk membuat rumahnya penuh.

Sistem lama tidak mau pergi diam-diam. Aku memahaminya lebih dari siapa pun di ruangan ini.

“Oke.” Aku berdiri ke whiteboard, mengambil spidol. “Panik boleh nanti. Sekarang urut dulu, satu-satu.”

Ruangan menoleh, dan menetap.

Dua kolom. “Opsi satu: bersihkan disk, nyalakan ulang seperti biasa. Satu jam, kelihatan selesai. Masalahnya: log transaksi yang menumpuk itu sebagian belum ter-commit ke database. Kalau kita buang begitu saja, ada transaksi hari ini yang hilang — pesanan orang, setoran kurir. Uang orang. Kita akan lolos demo dan bohong ke semua orang.”

Spidol pindah kolom. “Opsi dua: rebuild dan replay. Bersihkan dengan benar, putar ulang semua transaksi dari log, verifikasi satu-satu, baru migrasikan proses tuanya sekalian malam ini juga biar tidak pernah terulang. Estimasi—” aku menghitung di kepala, jujur, tanpa diskon, “—selesai jam tiga. Paling cepat. Tapi selesainya benar, dan besok jam sepuluh sistem yang di-demo-kan itu sistem yang jujur.”

“JAM TIGA?” Pak Bram. “Nggak ada opsi yang lebih—”

“Ada, Pak. Opsi satu. Barusan saya jelasin kenapa jangan.” Aku meletakkan spidol. “Yang milih bukan saya. Yang milih perusahaan.”

Semua mata bergerak ke satu orang yang sejak tadi berdiri diam di belakang: Pak Dhimas, yang datang entah kapan, masih berjaket motor.

“Opsi dua,” katanya. “Kerjain yang jujur. Butuh apa aja?”

“Tami buat verifikasi. Doni-Sigit buat infra. Sisanya—” aku memandang ruangan yang penuh orang panik tanpa tugas, “—pulang, tidur, besok datang segar buat demo. Orang capek itu risiko produksi.”

“Denger semua?” Pak Dhimas menoleh ke ruangan. “Yang disebut, tinggal. Yang nggak, pulang. Bram—” dia berhenti sebentar pada VP yang sejak keputusan tadi berdiri dengan ponsel yang sudah turun dari telinganya, “—kamu pegang komunikasi ke investor besok pagi. Siapin narasinya. Itu keahlianmu.”

Ada sesuatu di cara kalimat terakhir itu diucapkan — datar, tanpa lapisan — yang membuat keahlianmu terdengar seperti hasil audit. Pak Bram mengangguk, mengumpulkan sisa panggungnya, dan pergi bersama rombongan yang pulang. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, parfumnya keluar ruangan bersamaan dengan orangnya, tidak menyisakan apa-apa.

Ruangan terurai pelan-pelan. Dan satu orang, tentu saja, tidak terurai ke mana-mana: dia sudah duduk di ujung meja dengan laptop terbuka, menyusun sesuatu, dan ketika kutatap dia menjawab tatapan itu tanpa mengangkat kepala:

“Komunikasi krisis. Banner status, template CS buat besok pagi, timeline buat manajemen, dan draft penjelasan buat investor kalau mereka nanya kenapa grafik jam sembilan malam ini bolong.” Barulah dia mengangkat kepala, dan di matanya ada sesuatu yang sudah selesai diputuskan sejak lama. “Itu kerjaanku. Kamu urus mesinmu, aku urus manusianya. Kayak biasa.”

Kayak biasa. Dua kata yang dulu diucapkan Gofar tentang aku, dan sekarang berarti kami.

Maka malam itu berjalan. Jam 22.30, disk bersih, replay dimulai — ratusan ribu transaksi diputar ulang satu-satu, progress bar merayap seperti jarum jam yang sadar sedang ditonton. Aku menonton pesanan-pesanan orang lewat di log: sambal botolan ke Balikpapan, sparepart ke Pontianak, kain ke Makassar — sepuluh tahun aku bekerja di logistik dan baru jam segini malam-malam begini kelihatan lagi bahwa setiap baris ini ada manusianya. Jam 23.40, Tami menemukan tiga transaksi ganda; kami perbaiki. Jam 00.50, Doni-Sigit menyelesaikan migrasi si proses tua — komponen terakhir sistem lama resmi pensiun, sepuluh tahun dan satu malam terlalu lambat — lalu pamit lewat chat dari jarak semeter. Jam 01.30, Tami menyerah pada gravitasi, kusuruh pulang; dia pergi setelah menatap kami berdua bergantian dan mengangguk sekali, entah pada siapa, entah untuk apa.

Dan lantai tujuh jam dua pagi tinggal berisi dua orang, satu progress bar, dan kota yang tertidur di balik jendela.

Kami tidak banyak bicara. Tidak perlu — malam sudah terlalu dalam untuk kalimat panjang, dan pembagian kerjanya sudah menemukan ritmenya sendiri: dia menulis, aku memverifikasi, sesekali dia menyodorkan draft dan aku mengoreksi angka, sesekali aku menyebut temuan dan dia menerjemahkannya ke bahasa manusia. Jam 02.15 dia menyeduh dua teh — yang bergambar bunga, dari lemari yang misterinya tidak pernah resmi dipecahkan — dan meletakkan satu di sebelah keyboard-ku tanpa kata, dan aku meminumnya tanpa kata, dan tidak ada satu pun bagian dari transaksi itu yang perlu disangkal siapa pun lagi.

Jam 02.58, replay selesai. Verifikasi akhir: cocok. Tinggal satu langkah: menyalakan ulang seluruh layanan — perintah terakhir, satu baris, yang kalau benar mengembalikan Antarra ke dunia dan kalau salah membuat empat belas jam terakhir sia-sia tujuh jam sebelum demo.

Aku mengetik perintahnya. Jariku berhenti di atas Enter.

“Tunggu.” Dia menggeser kursinya mendekat, mata ke layar. “Oke. Bareng-bareng lihatnya.”

Aku menekan Enter.

Layar memuntahkan baris-baris status: service satu — starting... healthy. Service dua — starting... jeda dua detik yang panjangnya satu dekade — healthy. Tiga. Empat. Lima, si tukang bikin masalah, starting... starting...

Tangan kami bertemu di tengah meja.

Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan. Sungguh tidak tahu — dan aku orang yang mencatat segalanya, jadi ketidaktahuan ini sendiri adalah data. Yang kutahu: pada detik ketika service lima menggantung di starting, tangan kanannya dan tangan kiriku sudah saling menggenggam di atas meja war room, erat, seperti dua orang di pesawat yang turbulensinya baru selesai — dan layar berkedip:

healthy.

All services operational. System status: GREEN.

Kami menatap tulisan hijau itu. Lalu menatap tangan kami. Lalu — dengan kekompakan yang sama seperti waktu genset menyala — melepaskannya pelan-pelan, terlalu pelan untuk disebut refleks, terlalu canggung untuk disebut sengaja, dan sama-sama menghadap layar lagi dengan wajah yang pura-pura membaca status yang sudah kami hafal.

Jantung perusahaan berdegup lagi. Jam tiga kurang dua menit.

Dan di sisa adrenalin jam tiga pagi itu, di lantai tujuh yang sunyi dengan dua gelas teh yang sudah dingin, dia memutar kursinya menghadapku sepenuhnya dan berkata, dengan suara orang yang sudah memutuskan tidak akan menunda apa pun lagi seumur hidupnya:

“Sistem udah pulih. Sekarang giliran kita yang di-debug.”