← Nol Persen

Chapter Seventeen

Wajah Itu

POV: Cleo

Dua minggu sejak lantai enam menutup pintunya dengan sopan, hidupku berjalan dalam dua lapisan.

Lapisan permukaan: profesional, produktif, penuh. SLA merangkak ke 97,1. Tiga temuan Cikarang masuk pengembangan. Aku memimpin meeting, menjawab email, tersenyum kadar sedang.

Lapisan bawah: korespondensi tiket. #4127, #4133, #4140, #4151 — di permukaan berisi timestamp dan skema data, dan di baris-baris terakhirnya, selalu, satu kalimat yang bukan kerja. Satu dariku, satu darinya, tidak pernah lebih, seperti dua orang yang berkirim surat lewat celah bawah pintu dan sama-sama pura-pura celahnya tidak ada. Aku membaca kalimat-kalimat ekstra itu lebih sering daripada yang mau kuakui, dan kadang, jam sebelas malam, tersenyum pada layar sistem tiket seperti orang yang tidak waras. Sistem tiket. Prioritas medium. Romansa paling terdokumentasi di Asia Tenggara.

Quarterly alignment adalah satu-satunya meeting di Antarra yang dihadiri semua tim sekaligus, dan karena itu jadi satu-satunya panggung yang lampunya cukup terang untuk semua jenis pertunjukan.

Kamis, jam sepuluh, Pantura penuh sampai ada yang berdiri. Agenda: arah kuartal depan. Aku presentasi roadmap produk — dua puluh menit, lancar, pertanyaan-pertanyaan bagus. Tim ops presentasi progres SLA: 97,1 persen dan menanjak, kurva yang membuat seisi ruangan bertepuk. Dan di urutan ketiga, untuk pertama kalinya sejak tiga minggu, aku melihatnya di depan ruangan.

“Progres data infra,” kata Mas Jaka, tanpa basa-basi pembuka, dan langsung menampilkan diagram.

Dia presentasi seperti dia bekerja: hemat, padat, tidak ada satu slide pun yang dekoratif. Tabel temp_final_v2_FIX_beneran yang legendaris itu ternyata sudah dia bongkar — ruangan tertawa ketika namanya muncul di layar, dan dia menanggapi tawa itu dengan satu kalimat datar, “Nama tabel ini akan saya kenang sebagai bukti bahwa kita semua pernah muda,” yang membuat ruangan tertawa lebih keras, dan aku duduk di barisan kedua menyadari betapa laparnya aku pada suara ini, pada delapan menit ini, pada kesempatan legal untuk menatap ke depan ruangan tanpa perlu alasan.

Dia terlihat baik. Itu yang paling kucatat, dengan campuran lega dan sedikit iri: proyek itu cocok untuknya, bahunya lebih lurus dari terakhir kali kulihat di lantai tujuh, dan ketika tim ops bertanya soal dampak migrasi ke SLA, jawabannya menyambungkan angka mereka ke angka yang kubacakan ke Sentosa dulu — dia masih hafal komitmenku sampai desimalnya, tentu saja hafal, laki-laki ini menghafal jam minum kopiku, apalah artinya 97,5.

Delapan menit. Lalu dia menutup laptop presentasi dan kembali ke kursinya di barisan samping, dekat pintu — kursi orang yang berencana pulang duluan.

Dan di ujung meeting, ketika moderator bertanya “ada pengumuman lain?”, Pak Bram berdiri.

“Satu hal, good news!” Dia memegang ponselnya seperti memegang trofi. “Sentosa Niaga ngundang kita ke Vendor Appreciation Night mereka, Jumat depan, di Ritz. Acara besar — semua mitra strategis datang, direksi mereka, media industri. Dan mereka kasih kita dua undangan.”

Dua. Aku sudah tahu arah kalimat berikutnya sebelum kalimatnya lahir, seperti orang yang sudah pernah membaca skripnya.

“Jadi yang berangkat: aku dan Cleo.” Dia menoleh padaku dengan senyum lebar yang dipasang untuk tiga puluh pasang mata. “Kita berdua kan wajah dari deal ini. Cleo, siapin dress yang bagus ya — ini acara formal, banyak kamera. Sekalian nanti kita atur, aku jemput aja biar praktis, searah kok.”

Ruangan mengeluarkan bunyi campuran: “wah” sopan, satu-dua tepukan, bunyi kursi. Suara-suara itu sampai ke telingaku dari jauh sekali, karena seluruh perhatianku sedang berada di satu titik lain di ruangan itu.

Kursi di barisan samping, dekat pintu.

Aku menoleh ke sana pada detik yang tepat — atau yang salah, tergantung dari sisi mana kau menghitung — dan selama kurang lebih satu detik, sebelum wajah itu sempat memasang penutupnya, aku melihat sesuatu yang tidak dirancang untuk dilihat siapa pun.

Bukan marah. Aku siap untuk marah; marah bisa dijelaskan, marah bisa diajak bicara.

Bukan cemburu. Cemburu masih punya harapan di dalamnya; cemburu itu protes, dan protes hanya diajukan orang yang merasa punya hak suara.

Yang kulihat adalah ini: dia mengangguk. Kecil sekali, sekali, pada dirinya sendiri — anggukan orang yang prediksinya baru saja dikonfirmasi untuk kesekian kali dan sudah tidak merasa perlu kecewa pada hasilnya. Lalu dia menunduk, merapikan laptop ke dalam tasnya dengan gerakan yang teratur dan tenang dan sudah selesai, seperti orang yang membereskan meja setelah pengumuman bahwa dunia akan berjalan persis seperti dugaannya.

Dia bahkan tidak merasa berhak kecewa.

Kalimat itu jatuh ke dalam kepalaku dengan bunyi yang hampir fisik, dan bersamanya, seperti lampu-lampu kota yang menyala serentak saat listrik pulih, semuanya — semuanya — mendadak terang.

Kaca restoran: dia melihat aku tertawa dan mengangguk kecil pada dirinya sendiri, pasti, anggukan yang sama, sudah kuduga. Foto di #random: anggukan yang sama lagi. Lantai enam, kalimat lewat-tiket-aja yang diucapkan pada monitor: bukan pintu yang dibanting orang marah — pintu yang ditutup pelan oleh orang yang percaya dirinya memang seharusnya di luar. Payung yang diberikan tanpa nama, teh yang diseduh tanpa kata, sebelas halaman dokumentasi, semua kebaikan yang dikerjakan dari balik tembok: itu bukan cara orang menjauh.

Itu cara orang mencintai sambil yakin sepenuhnya bahwa dia tidak boleh.

Dia tidak pernah bertanya tentang restoran itu, tentang foto itu, bukan karena tidak peduli. Dia tidak bertanya karena bertanya adalah hak, dan dia — laki-laki yang paling tenang di semua kepanikan, yang paling dibutuhkan di semua krisis, yang paling kupilih dari seisi gedung ini — sudah lama memutuskan dirinya tidak punya hak apa-apa atas apa pun yang menyangkut aku.

Kapan keputusan itu dibuat? Bukan di restoran. Bukan di foto. Anggukan sehalus itu tidak lahir dari dua kejadian; anggukan itu punya jam terbang. Dia sudah memutuskan kalah jauh sebelum aku tahu ada pertandingan — mungkin bertahun-tahun sebelum meja kami berjarak sembilan puluh sentimeter, mungkin sejak awal, dan semua yang kulihat selama ini — teh yang ditaruh dua anak tangga di atas, payung tanpa nama, jasa yang ditandatangani satu huruf — adalah cara mencintai orang yang sudah menyerah sebelum mendaftar. Memberi tanpa alamat pengirim, supaya tidak ada yang perlu ditolak.

Dan selama berminggu-minggu aku menunggu dia bertanya. Aku menunggu di meja sembilan puluh sentimeter, di depan panel lift, di balasan tiket jam malam — menunggu laki-laki yang tidak merasa berhak bertanya untuk mengajukan pertanyaan. Aku menunggu hujan turun dari langit yang sudah dia yakini bukan langitnya.

Betapa bodohnya. Betapa bodohnya kami berdua, dengan cara yang berbeda, dengan tingkat keparahan yang sama.

“...oke, kalau gitu segitu dulu quarterly kita!” Suara moderator menutup dari kejauhan. “Terima kasih semua—”

Kursi-kursi mulai berderit. Orang-orang mulai berdiri. Pak Bram sedang menerima selamat dari seseorang untuk sesuatu. Di barisan samping, dekat pintu, sebuah tas laptop sudah terpanggul di bahu dan pemiliknya sudah setengah berdiri, dua langkah dari pintu keluar, dua langkah dari menghilang lagi ke lantai enam yang dingin bersama semua kesimpulan salahnya yang dikerjakan dengan sangat teliti.

Ada dua cara untuk momen seperti ini. Cara pertama: biarkan meeting bubar, susun strategi, cari waktu yang tepat, siapkan kalimat yang sempurna — cara Ivy Cleopatra, teruji delapan tahun, aman, rapi, dan sudah terbukti berminggu-minggu ini menghasilkan tepat nol.

Cara kedua tidak punya nama, karena aku belum pernah memakainya.

Jantungku memukul dengan ritme yang tidak profesional sama sekali. Tiga puluh orang masih di ruangan. Pak Bram masih berdiri. Sasha sudah memegang ponselnya entah untuk apa. Dan laki-laki di dekat pintu itu meletakkan tangannya di gagang.

Delapan tahun aku menunggu waktu yang tepat untuk banyak hal, dan waktu yang tepat itu tidak pernah datang; dia tidak pernah datang, dia harus dibuat.

“Sebelum bubar—”

Suara itu suaraku. Lebih keras dari rencana, karena tidak ada rencana.

Ruangan menoleh. Tiga puluh wajah, satu gagang pintu yang berhenti terbuka.

“—saya mau menanggapi soal undangan Sentosa. Sekarang, mumpung semua masih di sini.”

Aku berdiri.