Chapter Four
Sticky Note Kuning
POV: Cleo
Rabu. Hari eksekusi.
Aku datang jam tujuh pagi, dua jam sebelum manusia normal, karena deck untuk Sentosa Niaga harus kubaca sekali lagi dalam keadaan lantai masih sunyi. Dua puluh slide. Angka SLA, akurasi tracking, retensi shipper, tren komplain. Aku menyusunnya empat hari, memverifikasi tiap grafik, dan melatih transisi antar-slide di kamar mandi seperti orang gila — karena tim operasional Sentosa terkenal dengan satu hal: mereka tidak menyerang argumen. Mereka menyerang angka. Satu angka meleset, dan sisa presentasimu, sebagus apa pun, akan mereka perlakukan sebagai dugaan.
Jam 09.42, delapan belas menit sebelum perang, aku kembali dari pantry membawa air putih — aturan pribadi: tidak ada kopi di hari besar, tangan tidak boleh ikut presentasi — dan menemukan satu benda kecil menempel di bingkai monitorku.
Sticky note. Kuning. Tulisan tangan yang rapinya seperti font.
Slide 14 — retensi shipper Q2: 61,4%, bukan 64,1%. Kebalik ketik. Sumber: tabel retention_metrics, data produksi per 02.00 tadi malam. — J
Aku membacanya dua kali. Lalu duduk. Lalu membuka slide 14 dengan jari yang tiba-tiba dingin.
64,1%. Di layarku, besar, di tengah grafik yang kubuat sendiri: 64,1%.
Kubuka dashboard. Kubuka tabel sumbernya, yang bahkan jarang kusentuh langsung. Angka di sana, hitam di atas putih: 61,4%.
Dua digit bertukar tempat. Kesalahan sekecil itu. Kesalahan yang lolos dari empat hari pemeriksaanku sendiri, lolos dari review Pak Bram — kalau membaca sungguhan bisa disebut me-review — dan seandainya lolos delapan belas menit lagi, akan mendarat tepat di depan enam orang yang pekerjaannya menemukan angka yang bertukar tempat.
Dan aku tahu persis bagaimana kejadiannya nanti. Direktur operasional mereka, yang di meeting terakhir mengoreksi pembulatan di slide orang finance sambil tersenyum, akan berkata pelan: “Mbak, 64,1 ini dari mana ya? Data kami 61 koma.” Dan sejak detik itu, dua puluh slide-ku akan berubah status dari laporan menjadi karangan.
Kuperbaiki angkanya. Kuperiksa ulang sumbernya sekali lagi. Lalu aku duduk diam sepuluh detik, memegangi sticky note kuning itu, dan membiarkan satu pertanyaan naik ke permukaan:
Siapa yang membaca deck-ku jam dua pagi?
Jawabannya tertulis di kertasnya sendiri. Satu huruf. J. Bahkan menandatangani jasanya pun dia hemat.
Tidak ada pesan di Slack. Tidak ada email dengan CC ke atasan. Tidak ada “btw semalam aku nemuin error di deck kamu loh” yang diucapkan di depan orang-orang supaya jasanya tercatat publik — dan percayalah, aku bekerja delapan tahun, aku hafal semua format manusia menagih pengakuan. Ini tidak memakai format mana pun. Ini cuma kertas kuning, delapan belas menit sebelum perang, ditempel di tempat yang pasti kulihat dan tidak akan dilihat orang lain.
Dia menemukan kesalahanku — dan keputusan pertamanya adalah melindungiku dari malu, bukan mengambil panggung dari kesalahannya.
Aku menoleh ke area backend. Pojok. Hoodie abu-abu, punggung lurus, kepala di rel. Sedang perang dengan layarnya sendiri, sama sekali tidak memperhatikan bahwa aku sedang memperhatikan.
“Gofar.” Aku memanggil pelan ke meja sebelahnya. “Semalam siapa yang lembur?”
Gofar mengangkat kepala. “Mas Jek, Mbak. Kayak biasa.”
Kayak biasa. Dua kata yang diucapkan Gofar seperti menyebut cuaca, dan yang di kepalaku malah membuka lemari arsip: dashboard retensi yang error Jumat lalu dan sembuh sendiri jam dua siang. Data pendukung yang setiap sprint review selalu sudah rapi sebelum kuminta. Angka-angkaku yang, sekarang kupikir-pikir, tidak pernah salah setiap kali lampu pojok itu menyala sampai malam.
Hantu lantai tujuh, ternyata, punya jam kerja.
Jam 10.00, ruang Trans-Sumatra, perang dimulai.
Enam orang dari Sentosa Niaga. Direktur operasional mereka, Bu Ratna, duduk paling tengah dengan buku catatan kertas — orang yang masih mencatat pakai tangan di zaman ini biasanya jenis yang paling berbahaya. Pak Bram duduk di sisi kami, mengangguk pada segala hal, menyumbang kalimat “kami sangat committed pada partnership ini” pada interval yang tampaknya sudah dia atur dengan alarm.
Aku presentasi. Mereka mencecar. Setiap slide dihentikan minimal satu kali: definisi SLA-nya, metode samplingnya, kenapa grafiknya mulai dari angka sekian dan bukan dari nol — “grafik yang tidak mulai dari nol itu grafik yang sedang menyembunyikan sesuatu, Mbak,” kata salah satu dari mereka, dan aku menampilkan versi dari nol yang memang sudah kusiapkan di lampiran, karena aku pernah dipermalukan sekali seumur hidup oleh trik itu dan sekali sudah lebih dari cukup. Aku menjawab satu-satu, pelan, dengan sumber. Ini maraton yang tidak boleh terlihat seperti maraton.
Di slide 14, Bu Ratna mengangkat pulpennya.
“Retensi 61,4 ini,” katanya, membalik satu halaman catatannya, “cocok dengan data internal kami. 61 koma sekian.” Dia mengangguk sekali, membuat catatan kecil. “Oke. Ini angka yang jujur. Lanjut, Mbak.”
Ini angka yang jujur.
Aku melanjutkan dengan suara yang stabil dan tangan yang stabil dan satu tempat di dalam dada yang sama sekali tidak stabil, karena hanya aku — dan satu hantu di pojok sana — yang tahu betapa tipisnya jarak antara kalimat barusan dengan versi lain hari ini di mana seluruh ruangan menatapku seperti menatap pedagang yang ketahuan main timbangan.
Meeting selesai jam 12.10. Definisi “selesai” yang perlu diberi catatan kaki.
“Kami menghargai transparansinya,” kata Bu Ratna sambil merapikan catatannya, “justru karena itu kami mau bicara level berikutnya. Kontrak kami dievaluasi kuartal ini. Kami butuh komitmen SLA yang baru — dengan klausul penalti. Dan itu bukan level Anda, Mbak Cleo, no offense.” Dia menoleh ke Pak Bram, lalu kembali padaku. “Besok kami datang lagi. Kami mau dengar langsung dari direksi Antarra.”
Ruangan hening sepersekian detik sebelum Pak Bram mengisinya: “Tentu! Kami welcome banget. Ini justru aligned dengan visi kami soal customer obsession—”
“Jam sembilan,” potong Bu Ratna, sudah berdiri.
Mereka pulang. Ruangan Trans-Sumatra tinggal berisi aku, Pak Bram, dan enam gelas air mineral yang hampir tak disentuh.
“Bagus tadi. Kamu memang paling bisa diandalkan.” Pak Bram menepuk punggung kursiku — kursi, bukan punggungku; dia selalu tahu batas yang tidak bisa dilaporkan — lalu mengecek jam. “Soal besok, santai. Direksi tinggal dengar dari kita. Nanti sore kita susun strateginya. Berdua aja dulu biar cepet, ya? Sekalian makan.”
Aku sedang mengumpulkan laptop dan sisa tenagaku, jadi jawabanku keluar dalam mode otomatis: “Materinya saya kirim jam empat, Pak. Reviewnya di sini aja, saya masih harus koordinasi angka SLA sama tim engineering sampai malam.”
“Tim engineering,” ulang Pak Bram. Ada jeda kecil, sepersekian detik, sebelum senyumnya kembali ke posisi default. “Oke. Jam empat.”
Dia keluar. Aku berdiri sendirian di Trans-Sumatra, menatap layar yang masih menampilkan slide terakhir — Terima kasih. Pertanyaan? — dan merasakan hari ini baru setengah jalan padahal kakiku sudah minta pensiun.
Besok. Direksi. Klausul penalti. Angka SLA yang harus bisa dipertanggungjawabkan sampai koma kedua di depan orang-orang yang mencatat pakai tangan.
Dalam perjalanan kembali ke meja, aku melewati area backend. Lampu pojok itu menyala. Punggung itu tidak menoleh, seperti biasa.
Aku sempat memperlambat langkah, menimbang untuk berhenti dan mengucapkan terima kasih. Tapi terima kasih untuk apa, tepatnya? Untuk sticky note yang sengaja ditulis tanpa nama lengkap? Orang yang menandatangani jasanya dengan satu huruf jelas sedang meminta satu hal: jangan dijadikan peristiwa. Dan setelah seharian menjadi peristiwa bagi semua orang, aku ternyata paham betul rasanya ingin tidak dijadikan peristiwa.
Jadi aku lewat saja. Punggung itu tetap lurus, kepala tetap di rel — satu-satunya arah mata di lantai ini yang tidak pernah mampir kepadaku, dan entah sejak kapan justru arah itu yang paling sering kucari.
Di mejaku, sticky note kuning itu masih menempel di bingkai monitor.
Aku melepasnya pelan-pelan, melipatnya sekali, dan — tanpa alasan yang bisa kupertanggungjawabkan di forum mana pun — menyelipkannya ke saku dalam tasku. Bukan tempat sampah.
Besok perang yang lebih besar. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tahu satu hal yang anehnya menenangkan:
Setidaknya di gedung ini, ada satu orang yang memeriksa angkaku bukan untuk menjatuhkanku.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning reading
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?