← Nol Persen

Chapter Twenty Nine

Lega

POV: Jaka

Aku melihat namaku sendiri jam 10.41, di grup alumni kampus, dikirim oleh teman seangkatan yang bekerja di kantor sebelah, dengan caption “bukan lo kan jek?”

Baris kesebelas. Jaka Wirawan. Skor 2,8. Redundan pasca-migrasi.

Aku membaca baris itu dua kali, meletakkan ponsel, dan menunggu sesuatu terjadi di dalam dadaku.

Yang datang bukan yang kuperkirakan.

Aku sudah membayangkan momen ini berkali-kali sejak town hall — engineer selalu menyiapkan skenario kegagalan — dan dalam semua simulasiku, ada rasa sakit di sana. Marah, mungkin. Malu. Panik menghitung tabungan dan cicilan kos. Sesuatu yang manusiawi.

Yang datang: sunyi. Dan di dasar sunyi itu, sesuatu yang butuh beberapa menit untuk kuberi nama, dan ketika akhirnya kuberi nama, namanya membuatku duduk diam sangat lama:

Lega.

Mari kuurai, karena hal seperti ini harus diurai supaya tidak berbahaya. Bukan lega karena kehilangan pekerjaan — pekerjaan ini kucintai, sistem ini kubangun dengan tanganku, dan angka 2,8 itu bohong yang strukturnya bisa kubongkar dalam lima menit kalau aku mau. Aku tahu nilaiku di pasar. Aku akan dapat kerja dalam sebulan.

Lega karena ini pintu.

Dua tahun aku hidup dengan sistem yang berjalan tanpa izin di dadaku sendiri, dan mengelolanya setiap hari: sembilan puluh sentimeter yang diatur napasnya, satu lantai yang dijadwalkan kunjungannya, error margin yang baru dua minggu berani kutulis dengan pensil. Dua tahun disiplin. Dan belakangan — belakangan justru makin berat, karena belakangan ada kopi dan payung dan satu suku kata di kanopi stasiun, dan harapan, ternyata, jauh lebih melelahkan daripada keputusasaan. Keputusasaan itu stabil. Harapan harus dipantau dua puluh empat jam.

Daftar ini menyelesaikan semuanya dari luar. Bukan aku yang menyerah — aku dikeluarkan. Ada bedanya, dan bedanya penting: menyerah harus dipertanggungjawabkan pada diri sendiri seumur hidup; dikeluarkan cukup ditandatangani. Pintu yang tidak pernah berani kubuka sendiri, dibukakan orang lain, dan aku tinggal berjalan keluar dengan rapi — dari gedung ini, dari lantai enam, dari radius yang tidak pernah berhasil kukelola, dari perhitungan yang tidak pernah selesai.

Itu yang membuatku lega. Dan itu, aku tahu persis, adalah hal paling menyedihkan yang pernah kupikirkan seumur hidup.

Jam 11.10, aku membuka folder dokumentasi dan mulai bekerja.

Handover v2. Yang dulu sebelas halaman untuk satu meja; yang ini untuk seluruh sistem. Aku menulisnya dengan ketelitian yang kupelajari dari bapak dan buku servisnya: setiap komponen, setiap keputusan desain dan alasannya, setiap jebakan yang kutemukan dengan cara jatuh ke dalamnya. Peta lengkap rumah ini, digambar oleh orang yang paling lama tinggal, supaya penghuni berikutnya tidak perlu meraba tembok dalam gelap.

Orang merapikan rumah paling teliti justru saat mau pergi. Tidak ada yang mengajarkan itu; semua orang tahu sendiri pada waktunya.

Sementara aku mengetik, ponselku hidup sendiri di sudut meja. Grup backend meledak — Gofar menulis paragraf-paragraf panjang berisi kata-kata yang belum pernah dia pakai di depan HR, diakhiri “ini gue yang bakal protes, bukan lu. Lu diem aja.” Tami mengirim satu kalimat: “Skor 2,8 itu secara teknis mustahil dari data siklus kemarin. Aku simpan bukti kalibrasinya.” Radit menelepon empat kali; kuangkat yang keempat; dia berbicara selama dua menit penuh tanpa titik koma tentang rencana-rencana yang melibatkan kata “demo massal” dan “banner”; kubilang terima kasih dan tolong jangan; dia diam lama, lalu bilang, dengan suara yang tidak pernah kudengar dari Radit: “Jek. Lo boleh nyerah soal kerjaan. Jangan nyerah soal yang satunya. Itu doang.” — dan menutup telepon sebelum aku bisa bertanya sejak kapan dia tahu ada “yang satunya”.

Aku meletakkan ponsel menghadap bawah dan kembali mengetik. Semua orang ini marah untukku. Ada gudang penuh orang marah untukku, dan satu-satunya yang tidak bisa marah adalah aku. Marah butuh keyakinan bahwa kamu berhak atas sesuatu yang dirampas. Aku sedang tidak memenuhi prasyaratnya.

Jam 11.34, bunyi ting dan langkah yang kukenal.

Dia keluar dari lift dengan tablet didekap dan wajah yang sedang bekerja keras untuk tenang, dan berhenti di ujung mejaku, dan selama beberapa detik tidak ada yang bicara karena kami berdua tahu persis kenapa dia turun.

“Kamu udah lihat,” katanya akhirnya.

“Udah.”

“Itu nggak akan kejadian.” Suaranya rendah dan rata dengan cara yang kukenal dari ruang direksi. “Angka di situ salah. Prosesnya salah. Aku nggak bisa cerita detail sekarang, tapi aku minta satu hal: jangan tanda tangan apa pun, jangan jawab apa pun dari task force, sampai—”

“Vy.”

Nama itu keluar begitu saja — di lantai terang, jam kerja, tanpa gerimis yang menyamarkan — dan menghentikan kalimatnya di tengah jalan.

“Jangan,” kataku pelan. “Jangan perang sama VP kamu gara-gara aku. Kamu tahu cara kerja gedung-gedung ini. Yang kalah bukan yang salah; yang kalah yang lebih kecil. Karier kamu masih panjang dan bagus. Aku—” aku menoleh ke monitor, ke handover v2 yang setengah jadi, “—aku bisa mulai lagi di tempat lain. Gampang. Nggak sebanding.”

Dia diam. Lalu dia melangkah lebih dekat, satu langkah, dan ketika bicara lagi suaranya tidak rendah dan rata lagi.

“Nggak sebanding,” ulangnya. “Kamu dengar nggak sih kalimatmu sendiri? Kamu baru aja bilang dirimu nggak sebanding — kamu, yang mindahin jantung perusahaan ini tanpa satu error, yang angkamu dipalsuin orang karena kamu terlalu—” dia berhenti, menahan sesuatu di belakang giginya, dan menyimpannya. “Kamu selalu gini. Selalu. Semua orang di gedung ini boleh diperjuangkan kecuali kamu, gitu, aturannya?”

Aku tidak menjawab, karena jawaban jujurnya adalah iya, kurang lebih begitu aturannya, sudah lama sekali begitu aturannya, dan kalimat itu tidak akan membantu siapa-siapa.

Dia menatapku lama. Ada banyak hal yang lewat di wajahnya yang biasanya tidak bisa kubaca — hari ini bisa, hari ini semuanya terbaca, dan justru karena terbaca aku harus mengalihkan mata — lalu dia menegakkan punggung, dan ketika bicara lagi, yang berdiri di depanku bukan Vy.

“Oke. Catat ya, Mas Jaka.” Product Owner Antarra, suara ruang direksi, final. “Kamu boleh nggak memperjuangkan dirimu sendiri. Itu hakmu, walaupun itu hak paling bodoh yang pernah kudengar. Tapi kamu nggak punya hak ngelarang aku menjalankan pekerjaanku. Dan pekerjaanku—” dia mengangkat tabletnya sedikit, “—memastikan data yang dipakai perusahaan ini benar. Semua data. Termasuk yang di baris kesebelas.”

Dia berbalik dan pergi. Bunyi ting. Sunyi.

Aku duduk lama di lantai enam yang dingin, menatap handover v2, dan menyadari tanganku belum mengetik lagi sejak tadi.

Nggak sebanding. Kalimat itu keluar dariku otomatis, tanpa dipikir, seperti semua kebenaran lama keluar. Dan cara dia menerima kalimat itu — bukan sedih, bukan kasihan, tapi marah, marah yang bentuknya seperti orang melihat barang bagus diperlakukan salah oleh pemiliknya sendiri—

Aku kembali mengetik. Pelan. Handover harus selesai apa pun yang terjadi; itu prinsip, dan prinsip adalah satu-satunya yang tersisa ketika perhitungan sedang tidak bisa dipercaya.

Sorenya, email dari Pak Dhimas ke seluruh perusahaan: investor utama akan datang Jumat jam 10.00 untuk technical due diligence — demo sistem menyeluruh, syarat pencairan pendanaan lanjutan. “Ini penentu runway kita. Semua tim siaga.”

Jumat. Demo yang menentukan hidup empat ratus orang, dijalankan di atas sistem yang kubangun, tiga hari setelah perusahaan menyatakan pembangunnya redundan.

Aku menutup laptop jam sembilan malam dan pulang lewat tangga — tujuh lantai, satu-satu — karena malam ini badan butuh menghitung sesuatu yang bisa selesai.

Di lantai lima, aku berpapasan dengan tidak ada siapa-siapa dan berhenti sebentar di anak tangga, di sunyi beton yang jujur, dan membiarkan satu pertanyaan naik — pertanyaan yang seharian kutahan di bawah semua dokumentasi: kalau lega itu benar, kenapa waktu dia bilang “kamu nggak punya hak ngelarang aku” tadi, ada satu bagian dari sistemku yang bersorak?

Aku tidak menjawabnya. Aku menuruni dua lantai sisanya, keluar lewat lobi, dan berjalan ke stasiun di bawah langit yang untuk sekali ini tidak hujan — dan sepanjang jalan, bagian yang bersorak itu menolak dimatikan, kecil dan keras kepala, seperti satu service yang menolak shutdown karena masih ada proses yang belum selesai.