← Nol Persen

Chapter Thirty Four

Yang Diselamatkan

POV: Jaka

Rooftop gedung kami bukan rooftop film — cuma lantai beton dengan unit-unit AC raksasa, pagar besi, dan pemandangan Jakarta yang jam lima sore sedang berpura-pura jadi kota yang tenang. Tapi langitnya, seperti kata Vy, sedang bagus: oranye yang jujur, tanpa filter.

Aku belum pernah naik ke sini. Dua tahun di gedung ini dan aku belum pernah sekali pun ke rooftop — karena rooftop tidak punya fungsi, dan aku menghabiskan dua tahun hanya mendatangi tempat-tempat yang punya fungsi. Dia yang tahu jalannya, tahu pintu mana yang tidak dikunci, tahu jam berapa langitnya bagus. Ada peta gedung ini yang hanya dimiliki orang-orang yang butuh tempat bernapas, dan aku baru diberi aksesnya sore ini.

Kami berdiri di dekat pagar. Aku sudah melatih pertanyaannya tiga hari — bukan kalimatnya; kalimatnya sederhana. Yang kulatih adalah tidak kabur setelah mengucapkannya.

“Waktu itu,” aku mulai, “kamu perang buat aku. Bawa satu halaman ke ruang CEO, lawan VP-mu sendiri, taruhin penilaian kuartalmu, karier yang kamu jaga delapan tahun. Buat satu baris di daftar.” Aku menoleh padanya. “Kenapa sejauh itu?”

Dia menyandarkan lengan di pagar, memandang kota, dan menjawab dengan suara ruang direksinya — rapi, terukur:

“Karena datanya salah, dan semua target produkku berdiri di atas data tim. Kalau angka bisa diubah orang berkuasa, sistem penilaiannya mati, dan yang paling dulu kabur dari perusahaan begitu selalu orang-orang terbaik. Aku menjaga aset paling kritikal perusahaan. Itu kerjaanku.”

“Itu jawaban buat ruang direksi.” Aku menatapnya. Dua tahun aku menjadi murid dari semua kalimat berlapisnya, dan malam ini ujian akhirnya. “Aku nanya jawaban yang satunya.”

Dia menoleh. Angin rooftop menerbangkan anak rambutnya, dan dia tidak menyelipkannya ke belakang telinga — dibiarkan, seperti semua zirah yang malam ini sedang tidak dipakai.

“Jawaban yang satunya,” katanya pelan, “mulainya dari tangga darurat.”

Dan dia bercerita — versi lengkap, dari sisi yang tidak pernah kulihat.

“Malam itu aku baru selesai tiga jam dicecar direksi dan seumur hidup dicecar mata orang. Aku duduk di anak tangga makan mi cup sambil nangis, dan yang paling kutakutin bukan gelap, bukan lapar — yang paling kutakutin ada yang lihat. Karena seumur hidupku, dilihat itu selalu ada harganya. Dilihat artinya besok jadi cerita. Dilihat artinya harus segera rapi lagi.” Suaranya turun. “Terus pintu kebuka. Dan kamu lewat. Dan wajahmu — Mas Jek, aku hafal ratusan wajah orang yang lihat aku, aku bisa bikin katalognya — wajahmu nggak ada di katalog. Kamu lihat aku di titik paling jelek seumur hidupku dan wajahmu bilang: oh, ada orang lagi makan. Terus kamu pergi. Terus kamu balik naruh teh hangat dua anak tangga di atasku, dan pergi lagi, dan nggak pernah nyinggung sampai kapan pun.”

Dia berbalik menghadapku sepenuhnya.

“Seumur hidup aku dilihat semua orang dan malam itu pertama kalinya aku ngerasa terlihat. Kamu tahu bedanya? Dilihat itu tentang yang nonton. Terlihat itu tentang yang di dalam. Kamu satu-satunya orang di gedung ini — mungkin satu-satunya yang pernah kutemui — yang nggak pernah mau apa-apa dariku. Nggak senyumku, nggak wajahku, nggak statusku. Kamu cuma... mastiin aku minum. Terus pergi biar aku nggak perlu bilang makasih.” Matanya mulai berkilat, dan dia membiarkannya, tanpa zirah. “Jadi waktu ada yang mau buang kamu pakai angka palsu, itu bukan cuma salah data, Mas Jek. Itu ada orang mau matiin satu-satunya lampu di gedung ini yang nyala tanpa minta dilihat. Ya jelas aku perang. Aku bakal perang lagi besok kalau perlu.”

Jakarta di bawah sana menyalakan lampu-lampunya satu per satu, dan aku berdiri di rooftop dengan sistem yang seluruh unitnya berhenti untuk mendengarkan.

“Aku juga punya log,” kataku akhirnya, karena keadilan menuntut dua arah. “Minggu keduaku kerja. Sprint review. CEO muji kamu, dan kamu berdiri nolak pujian itu, nunjuk anak magang di barisan belakang, mindahin tepuk tangan satu ruangan ke orang yang paling nggak berani angkat tangan. Aku waktu itu mikir: menarik. Belum jatuh.” Aku menarik napas. “Sorenya kamu lewat lobi dan nyapa petugas kebersihan. Pakai namanya. Pak Slamet. Dan aku sadar aku dua minggu di kantor itu belum tahu nama beliau — nggak ada yang tahu, semua manggil ‘Pak’ doang. Kecuali orang yang paling ditonton segedung, yang paling boleh sibuk sama dirinya sendiri. Malam itu aku pulang naik KRL dan jatuh dengan cara yang nggak bisa di-rollback. Terus aku ngitung, dan hasil hitunganku kamu udah tahu.”

“Nol persen,” katanya pelan.

“Nol persen. Karena kupikir orang yang bisa lihat manusia sekecil itu... nggak akan pernah perlu lihat ke arahku.” Aku menggeleng pelan pada kebodohanku sendiri, dua tahun kebodohan yang terdokumentasi rapi. “Kita jatuh karena alasan yang sama, Vy. Kamu jatuh karena kutonton pakai wajah kosong. Aku jatuh karena kamu nyebut nama orang yang nggak ditonton siapa-siapa. Dua-duanya soal... dilihat sebagai orang.”

“Iya,” katanya. “Dua-duanya itu.”

Angin lewat. Lampu kota bertambah. Dan pertanyaan terakhirku — yang paling berat, yang tiga hari ini kuletakkan paling bawah — akhirnya naik:

“Waktu aku bilang lega. Kamu nggak marah?”

“Aku marah,” katanya, tanpa jeda. “Bukan sama kamu. Sama dua tahun yang bikin kamu ngerasa satu-satunya jalan keluar dari sakit itu pintu keluar gedung. Dan sama diriku, karena aku bagian dari dua tahun itu — aku yang nunggu di meja sembilan puluh sentimeter sambil diem, padahal bisa aja aku yang mulai.” Dia melangkah mendekat, satu langkah, dan suaranya jadi sesuatu yang belum pernah kudengar dia pakai pada siapa pun: “Makanya sekarang aku yang mulai. Mas Jek. Kamu udah nggak boleh lega karena pergi. Aku mau kamu lega karena tinggal. Itu bedanya yang mau kuurus seumur—” dia berhenti, mengukur, lalu memutuskan tidak mengukur, “—pokoknya lama.”

Sistemku, yang dua tahun menjalankan proses jangan menoleh dan jangan berharap dan jangan-jangan lainnya, mematikan semuanya satu per satu — shutdown yang tertib, tanpa error, seperti sistem lama yang akhirnya percaya penggantinya bisa dipegang.

“Boleh?” katanya, sangat pelan, dengan mata yang sudah bertanya duluan.

Aku tidak menjawab dengan kata. Untuk sekali ini, untuk pertanyaan ini, aku memilih jalur yang selama dua tahun kupakai untuk semua hal penting: tanpa suara. Aku membuka lengan.

Dia masuk ke pelukan itu seperti orang pulang — bukan hati-hati, bukan canggung; pasti — dan kedua tanganku menutup di punggungnya, dan kepalanya menemukan tempat di bahuku yang rasanya sudah disiapkan sejak dua tahun lalu tanpa kutahu untuk apa. Kami berdiri begitu lama sekali, di rooftop beton dengan AC raksasa dan langit oranye yang mulai ungu, dua orang yang sama-sama akhirnya berhenti mengelola jarak.

“Jantungmu kenceng banget,” katanya ke bahuku, dan aku bisa mendengar senyumnya.

“Sistem lagi restart,” kataku. “Wajar ada lonjakan.”

“Lama restart-nya?”

“Dua tahun boot loop,” kataku, ke rambutnya, ke wangi yang akhirnya boleh kucatat tanpa denda. “Tapi kayaknya... udah nyala.”

Kami turun dari rooftop ketika langit sudah selesai dengan ungunya — lewat tangga, tentu saja, tujuh lantai, pelan-pelan, karena lift terlalu cepat untuk malam seperti ini. Di lantai lima dia bercerita soal Eyang yang mewariskan nama Vy. Di lantai empat aku bercerita soal bengkel bapak yang sekarang diteruskan adikku. Di lantai tiga kami tidak bercerita apa-apa dan itu juga bagus. Dan di lobi, sebelum berpisah ke arah ojek masing-masing, dia berbalik dengan wajah yang tiba-tiba serius:

“Sabtu depan syukuran funding. Satu kantor dateng.” Jeda. “Kamu... jangan kabur duluan kayak biasa ya. Aku pengen ada yang bisa kuajak diem bareng di acara rame.”

Diajak diam bersama di acara ramai. Dari seluruh ajakan yang pernah diterima manusia, aku yakin belum pernah ada yang formatnya sepersis itu ditujukan untuk spesifikasiku.

“Siap,” kataku. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kata itu bukan kata pelarian.