Chapter Nine

Yang Menolong Diam-Diam

POV: Arga

Jumat siang, Dewi mengirim pesan yang membuatku meninggalkan kantor pukul tiga.

Dewi: Pak, sore ini jadwal terapi kenangan Bu Ratih. Kami akan susun album foto lama. Kalau Bapak punya barang-barang masa kecil yang Ibu kenal, boleh dibawa. Biasanya pasien lebih tenang kalau ada keluarga yang ikut bercerita.

Dewi: Tapi kalau Bapak sibuk, tidak apa-apa.

Dewi: Saya tahu Bapak sibuk.

Dewi: Tapi Bu Ratih tadi pagi tanya dua kali, “Arga ikut nggak?”

Aku membaca pesan itu di tengah rapat dengan konsultan MEP. Lalu aku menutup laptop, berdiri, dan bilang pada tiga konsultan yang sedang memperdebatkan diameter pipa bahwa rapat dilanjutkan Senin.

Teddy, di sudut ruangan, tidak berkata apa-apa. Ia hanya menulis sesuatu di tablet dengan senyum yang sangat tidak profesional.


Ruang tengah sore itu dipenuhi kardus.

Dewi sudah mengeluarkan semua album foto dari lemari tua di sudut. Album-album itu tebal, bersampul plastik yang sudah menguning, dengan foto-foto yang ditempel menggunakan lem dan sebagian sudah lepas. Mama duduk di karpet dengan kaki bersila, dikelilingi foto-foto lama, seperti anak kecil yang menemukan kotak harta karun.

“Ga!” serunya begitu melihatku masuk. “Sini! Lihat ini! Kamu waktu sunatan!”

“Ma, jangan yang itu.”

“Kenapa? Lucu. Kamu nangis tiga jam.”

Dewi, yang duduk di sebelah Mama dengan seragam putih dan rambut dicepol, menutup mulutnya dengan tangan. Aku melepas jas, menggulung lengan kemeja, dan duduk di karpet di seberang mereka.

Terapi kenangan, menurut Dewi, adalah cara membantu pasien demensia menyambung kembali benang-benang ingatan yang mulai putus. Foto lama, lagu lama, barang lama. Ingatan dari masa lalu masih tersimpan lebih kuat daripada ingatan kemarin, jadi dengan menyentuhnya, pasien bisa merasa utuh lagi, walau sebentar.

Mama memang terlihat utuh sore itu. Ia ingat nama semua tetangga di kontrakan. Ia ingat warna cat rumah Bu Sri yang anjingnya galak. Ia ingat bahwa aku juara kelas pertama kali di kelas tiga SD, dan bahwa hadiahnya buku tulis bergambar Doraemon yang kupakai sampai halamannya habis.

Ia tidak ingat sudah makan siang atau belum. Tapi ia ingat buku tulis Doraemon dari dua puluh dua tahun lalu.

“Pak,” kata Dewi pelan, “Bapak bawa sesuatu?”

Aku mengangguk dan mengambil kotak dari tas kerjaku.

Kotak sepatu. Kardus biru tua dengan logo merek sepatu olahraga yang sudah pudar, sepatu pertama yang kubeli dengan uangku sendiri di umur lima belas, dari gaji mengajar les matematika anak tetangga. Sepatunya sudah lama hilang. Kotaknya kusimpan.

Aku membuka tutupnya dan meletakkannya di karpet di antara kami.

Lima puluh satu kartu krem, ditumpuk rapi dan diikat dengan karet gelang. Ditambah satu yang ada di bingkai di ruang kerjaku, jumlahnya lima puluh dua.


Mama mengambil kartu paling atas dan menatapnya lama.

“Ini…” katanya pelan. “Ini kartu yang datang setiap semester.”

“Iya, Ma. Dari Yayasan Pelita.”

“Mama yang terima dari tukang pos.” Ia mengusap permukaan kartu itu dengan ibu jari. “Pak Pos-nya namanya Pak Udin. Selalu datang tanggal dua atau tiga. Mama tunggu di depan pintu kontrakan.”

Aku tidak tahu itu. Aku selalu menemukan amplop itu di meja belajarku sepulang sekolah, sudah dibuka, dengan bukti transfer di dalamnya. Aku tidak pernah bertanya siapa yang membukanya. Aku hanya tahu, setiap awal semester, aku tidak perlu takut tidak bisa sekolah.

“Mama baca kartunya dulu?” tanyaku.

Mama tidak langsung menjawab. Ia terus mengusap kartu itu. Bukan ke tulisan Yayasan Pelita. Ke tulisan tangannya. Ke huruf g berekor panjang di nama Arga.

“Tulisannya…” kata Mama pelan, dengan suara yang tiba-tiba jauh sekali.

Aku menunggu.

Dewi, di sebelah Mama, menahan napas. Aku tidak memperhatikannya waktu itu. Aku baru mengingatnya jauh kemudian, ketika semuanya sudah terlambat untuk diingat.

“Tulisannya kenapa, Ma?”

Mama berkedip. Satu kali. Dua kali. Lalu ia tersenyum, senyum kosong yang sudah mulai kukenal, senyum seseorang yang baru saja membuka pintu dan lupa mau mengambil apa.

“Bagus,” katanya. “Tulisannya bagus. Mama mau minum teh. Ada teh?”

“Saya ambilkan, Bu,” kata Dewi cepat. Terlalu cepat. Ia berdiri dan berjalan ke dapur tanpa menoleh.

Mama menaruh kartu itu kembali di kotak dan mengambil foto lain dari album. Foto kami berdua di depan kontrakan, aku umur tujuh dengan seragam merah putih kebesaran, Mama dengan daster dan rambut panjang yang belum beruban.

“Kamu kurus sekali, Ga,” katanya. “Ya Allah, kurusnya.”

Aku menatap kartu-kartu di dalam kotak, lalu menatap pintu dapur, tempat Dewi menghilang.


Dewi kembali lima menit kemudian dengan tiga cangkir teh. Wajahnya tenang lagi. Ia duduk di tempat semula, menyerahkan teh pada Mama, lalu padaku, dan tidak menyentuh kotak sepatu itu.

Mama tertidur dua puluh menit kemudian, bersandar di sofa dengan foto sunatanku masih di pangkuannya. Dewi menyelimutinya dengan kain batik dari keranjang di sebelah sofa, pelan sekali, supaya tidak membangunkannya.

Lalu ia duduk lagi di karpet, di seberangku. Kotak sepatu itu ada di antara kami.

“Boleh saya lihat?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Ia mengambil kartu-kartu itu satu per satu. Ia tidak membacanya cepat-cepat. Ia membacanya seperti orang membaca surat dari seseorang yang ia kenal. Pelan. Satu baris, berhenti. Satu baris lagi, berhenti.

Untuk Arga. Semangat masuk SMP.

Untuk Arga. Juara lagi? Hebat.

Untuk Arga. Matematika susah ya? Pelan-pelan saja.

Untuk Arga. Selamat masuk SMA. Jaga ibumu.

Tangannya berhenti di kartu itu. Jaga ibumu. Ia menatap tiga kata itu lama sekali.

“Saya tidak pernah tahu siapa orangnya,” kataku, mengisi keheningan. “Saya pernah ke alamat yayasan itu, sekali, waktu kuliah. Pengurusnya bilang donaturnya tidak mau dikenal.”

“Bapak pernah coba cari lagi?”

“Tidak. Dia minta jangan dicari.” Aku mengambil satu kartu dari tumpukan. Untuk Arga. Selamat ulang tahun ke-17. Jadilah laki-laki yang tidak meninggalkan. “Dia bilang, kalau saya sudah sukses, cari anak lain yang perlu dibantu. Jadi itu yang saya lakukan.”

Dewi mengangkat kepala.

“Seratus dua puluh anak setiap tahun,” kataku. “Lewat perusahaan. Saya tidak pernah bilang ke siapa pun kenapa. Teddy pun tidak tahu kenapa.”

Dewi tidak berkata apa-apa. Ia menatapku dengan mata yang sedikit merah di pinggirnya.

“Dia satu-satunya orang yang pernah membantu saya,” kataku pelan. “Selain Mama. Tidak ada keluarga yang datang. Tidak ada saudara. Tidak ada—” Aku berhenti. Tidak ada ayah. “Cuma orang asing yang menulis kartu.”

“Satu-satunya?” ulang Dewi, sangat pelan.

“Satu-satunya.”

Dewi menunduk. Ia mengambil kartu berikutnya dari tumpukan, dan aku melihat jarinya sedikit gemetar.

Untuk Arga. Kuliah itu berat. Jangan lupa makan.

Ia menatap kartu itu dan tidak bergerak.

Aku menatapnya menatap kartu itu. Di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela, dengan helai-helai rambut yang lolos dari cepolan dan bulu mata panjang yang menunduk, ia terlihat seperti seseorang yang sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh.

“Kamu kayak dia,” kataku.

Dewi tersentak dan mengangkat kepala. Wajahnya tiba-tiba pucat. “Apa?”

“Jangan lupa makan.” Aku menunjuk kartu di tangannya. “Kamu selalu bilang begitu ke saya. Setiap hari. Persis seperti kartu itu.”

Hening.

Dewi menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Untuk sesaat, sangat singkat, aku melihat sesuatu di wajahnya yang terlihat seperti ketakutan. Lalu ekspresi itu hilang, digantikan senyum kecil yang tidak sampai ke lesung di pipinya.

“Semua perawat bilang begitu, Pak,” katanya ringan. “Itu kalimat paling dasar di sekolah keperawatan. Bab satu.”

“Oh.”

“Mungkin donatur Bapak juga perawat.”

“Mungkin.”

Ia mengikat kembali kartu-kartu itu dengan karet gelang, meletakkannya di kotak sepatu, dan menutup tutupnya. Gerakannya hati-hati, rapi, seperti menutup peti sesuatu yang berharga.

“Bapak pasti suatu hari ketemu dia,” katanya pelan, tanpa menatapku. “Orang yang menulis kartu sebanyak itu pasti juga ingin ketemu.”

“Kalau begitu, kenapa dia minta jangan dicari?”

Dewi tidak menjawab. Ia berdiri, merapikan seragamnya, dan menatap jam dinding.

“Saya harus siap-siap pulang, Pak. Dimas jemput jam lima.”


Dimas datang pukul lima kurang tujuh menit, dan hal pertama yang ia lakukan adalah memeluk mobilku.

Aku sedang berdiri di teras ketika sebuah motor bebek tua berwarna merah pudar masuk ke halaman, dikendarai seorang pemuda kurus berjaket jins dengan helm yang kacanya retak. Ia mematikan mesin, membuka helm, dan aku melihat wajah yang sangat mirip dengan Dewi, versi laki-laki dan versi yang jauh lebih berantakan.

Lalu ia melihat Lexus hitam yang terparkir di depan garasi.

Ia turun dari motor. Ia berjalan ke arah mobil itu dengan langkah lambat, seperti peziarah yang mendekati makam keramat. Ia berhenti di depan kap mesin. Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu, menyentuh permukaan cat hitam yang mengilap.

Lalu ia membungkuk dan memeluk kap mesin itu dengan kedua lengan, pipi menempel di cat, mata terpejam.

“Ya Allah,” bisiknya. “LS. Generasi terbaru. Ya Allah, Ya Rabbi.”

Aku berdiri di teras dengan tangan di saku, tidak tahu harus berbuat apa.

“Dimas!” Dewi muncul dari pintu dengan koper abu-abunya, wajahnya merah padam. “Lepas! Itu mobil orang!”

“Kak, ini LS, Kak. Ini mesinnya hybrid V6 twin-turbo. Kak, ini harganya lebih mahal dari rumah kita.”

“Dimas!”

Dimas akhirnya melepaskan pelukannya, berdiri, dan baru sadar ada aku di teras. Wajahnya langsung pucat. Ia membetulkan jaket jinsnya dan membungkuk dalam-dalam.

“Maaf, Pak! Maaf! Saya Dimas, adiknya Kak Dewi. Saya montir. Saya nggak bermaksud kurang ajar. Saya cuma… sudah lama pengin lihat langsung.”

“Tidak apa-apa,” kataku.

“Bapak yang punya?”

“Iya.”

Matanya berbinar. Binar yang sangat mirip dengan binar di mata kakaknya waktu ia menertawakanku di kantor. “Bang. Boleh saya panggil Abang? Bang, sekali aja. Boleh saya duduk di kursi sopirnya? Sebentar aja. Nggak nyalain mesin. Cuma duduk.”

“Tidak.”

“Lima detik, Bang.”

“Tidak ada yang duduk di kursi itu selain saya.”

Dimas menatapku dengan wajah orang yang baru ditolak cinta pertamanya. Lalu ia menoleh pada kakaknya. “Kak, Abang ini galak.”

“Bapak ini bos Kakak,” desis Dewi. “Panggil Pak.”

“Tapi mobilnya Lexus, Kak. Nggak cocok dipanggil Pak. Cocoknya Bang Lexus.”

Dewi menutup wajah dengan tangannya.

Aku, entah kenapa, hampir tertawa. Sudah lama sekali tidak ada orang yang memanggilku dengan sesuatu selain Pak atau Mas Arga. Bahkan Teddy, setelah lima tahun, masih memanggilku Pak dengan nada seperti prajurit menyapa jenderal.

Bang Lexus. Ini panggilan paling konyol yang pernah kudengar.

“Kamu montir di mana?” tanyaku.

“Bengkel Jaya Motor, Bang. Di Bekasi Timur. Spesialis mobil Jepang.” Ia menatap mobilku lagi dengan mata penuh rindu. “Kalau nanti mobil Abang perlu servis, Bang, saya gratisin. Seumur hidup. Asal saya boleh pegang mesinnya.”

“Dimas, cukup.”

Dimas mengangguk, mengambil koper dari tangan kakaknya, dan mengikatnya di jok belakang motor dengan tali karet yang sudah lusuh. Ia naik ke motor, memasang helm, lalu menoleh pada Dewi.

“Kak, ayo. Tadi Pakde pesan, katanya pulangnya jangan kemalaman, terus—”

“Nanti di rumah,” potong Dewi cepat.

“Tapi Pakde bilang—”

“Dimas. Nanti di rumah.”

Dimas menutup mulutnya. Ia melirikku sebentar, lalu kakaknya, lalu mengangguk dengan bingung.

Pakde. Penyewa kamar. Sopir truk yang membayar kuliahnya. Aku ingat cerita itu dari hujan di dalam mobil dua minggu lalu.

Aku tidak curiga. Kenapa aku harus curiga? Setiap keluarga di dunia punya pakde. Aku tidak punya, tapi aku tahu orang lain punya.


Dewi naik ke jok belakang motor. Sebelum Dimas menyalakan mesin, ia menoleh padaku.

“Pak Arga.”

“Ya.”

“Weekend ini, makan tiga kali. Saya cek ke Bu Yati.”

“Saya bukan pasien kamu.”

“Bukan,” katanya. “Tapi Bapak anak pasien saya. Itu satu paket.”

Motor menyala dengan suara yang terlalu keras untuk ukurannya. Dimas melambai padaku dan pada Lexus, dalam urutan yang aku curigai terbalik, lalu motor itu keluar dari gerbang dan menghilang di tikungan jalan kompleks.

Aku berdiri di teras sampai suara motornya hilang.

Lalu aku berjalan ke Lexus untuk memasukkannya ke garasi. Di kaca jendela pengemudi, tepat sejajar dengan mataku, menempel secarik kertas kuning dari notes tempel. Kertas yang sama seperti yang kutinggalkan di meja dapur seminggu lalu.

Tulisannya bulat-bulat dan sedikit miring, spidol biru:

Roti bakarnya enak. Selainya kebanyakan.
Sabtu pagi jangan lupa terapi musik.
Bapak sudah janji.
— D.

Dan di bawahnya, lebih kecil, seperti ditambahkan belakangan dengan sedikit ragu:

Bapak nggak sendirian, kok.

Aku mencabut kertas itu dari kaca. Aku menatapnya lama di bawah cahaya senja yang mulai oranye.

Lalu aku melipatnya dua kali dan memasukkannya ke saku kemeja, tepat di atas jantung, karena di situ satu-satunya tempat yang terpikir olehku.

Malamnya, aku membuka kotak sepatu biru itu lagi di ruang kerja dan menghitung kartu-kartunya. Lima puluh satu. Ditambah satu di bingkai, lima puluh dua.

Ditambah satu kertas kuning di saku kemejaku.

Untuk pertama kalinya, jumlahnya terasa tidak genap.