Chapter Thirty

Kotak Jahit

POV: Arga

Senin, Mama tidak mau sarapan.

Bu Yati menyiapkan bubur ayam dan teh hangat. Mama duduk di meja makan, menatap mangkuk bubur itu, lalu menatap Bu Yati.

“Suster Cantik mana?”

“Suster Dewi sedang libur, Bu,” kata Bu Yati dengan suara yang terlatih untuk pasien demensia. Tenang. Lembut. Sedikit terlalu keras. “Hari ini saya yang menemani Ibu.”

“Libur sampai kapan?”

“Belum tahu, Bu.”

Mama menatap bubur itu lagi. Lalu ia mendorong mangkuknya ke tengah meja dengan dua jari, pelan, seperti mendorong sesuatu yang tidak ia inginkan.

“Ibu nggak lapar,” katanya.

Aku duduk di seberangnya dengan kopi yang sudah dingin. Aku tidak berkata apa-apa.

Selasa, sama.

Mama tidak mau minum obat. Bu Yati memberikan obatnya dengan sendok kecil warna hijau, persis seperti catatan yang dikirim agensi. Mama menatap sendok itu, lalu menggeleng.

“Bukan yang ini.”

“Ini sendok hijau, Bu. Sama seperti biasanya.”

“Bukan.” Mama menutup mulutnya dengan tangan. “Sendoknya salah. Yang biasa nggak begini.”

Bu Yati menatapku dengan wajah bingung. Sendok itu sama. Sendok yang sama persis, dari laci yang sama, yang dipakai Dewi setiap pagi selama enam minggu.

Tapi aku mengerti. Sendoknya tidak salah. Yang salah adalah tangan yang memegangnya.

Rabu, Mama berdiri di depan pintu depan pukul tiga sore dengan tas tangan.

“Mau jemput Suster Cantik,” katanya pada Mbok Darmi, yang memeganginya di ambang pintu. “Dia pulang naik apa? Kasihan, jauh. Bekasi. Ibu jemput saja.”

Mbok Darmi meneleponku di kantor sambil menangis.


Di kantor, aku bekerja.

Seperti setelah Tangerang. Seperti setelah kalimat di lahan kosong itu. Seperti setiap kali ada sesuatu yang tidak bisa kupahami. Aku memimpin rapat koordinasi struktur pukul tujuh, rapat pengadaan pukul sembilan, survei lokasi rumah sakit pukul dua. Aku membaca laporan sampai pukul enam. Aku pulang pukul tujuh untuk makan malam dengan Mama, yang tidak mau makan.

Lalu aku kembali ke ruang kerja dan bekerja sampai pukul dua pagi.

Tidak ada yang menyuruhku mematikan lampu pukul sepuluh tiga puluh.

Teddy bekerja di sebelahku sepanjang hari, setiap hari, dan ia tidak berbicara kecuali tentang pekerjaan. Tidak ada grafik merah muda. Tidak ada emoji. Tidak ada Pak, untuk dokumentasi. Pesan-pesannya di ponselku sekarang sependek dan sekering laporan audit.

Teddy: Rapat MEP dimajukan ke jam 10, Pak.

Teddy: Baik, Pak.

Teddy: Dokumen sudah di meja, Pak.

Hari Senin, ia masuk ke ruanganku dengan map berisi dokumen pemutusan kontrak dengan agensi Kasih Paripurna, untuk perawat atas nama Dewi Widyaningsih. Ia meletakkannya di meja. Ia tidak duduk.

“Sudah saya urus, Pak,” katanya. “Sesuai perintah Bapak.”

Aku menandatanganinya tanpa membaca.

Teddy mengambil map itu. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar, tanpa menoleh.

“Dengan berat hati, Pak,” katanya pelan.

Lalu ia keluar.

Itu satu-satunya kalimat pribadi yang ia ucapkan padaku selama tiga hari.


Rabu malam, aku pulang pukul sembilan lewat lima belas.

Aku melewatkan makan malam. Rapat dengan bank molor, dengan Pak Rendy yang sekarang menatapku dengan senyum yang terlalu tahu setiap kali kami bertemu. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli tentang banyak hal minggu ini.

Rumah gelap. Hanya lampu malam di lorong yang menyala, lampu kecil yang Dewi pasang supaya Mama tidak tersandung.

Aku melepas sepatu di ambang pintu. Aku menaruh tas di meja konsol.

Lalu aku mendengarnya.

Dari kamar Mama. Pintunya setengah terbuka, cahaya kuning lampu tidur merembes keluar ke lorong.

Mama menangis.

Bukan tangisan ketakutan seperti malam itu, malam gunting oranye dan suami saya nggak ada. Bukan tangisan histeris seperti hari Kamis itu, hari rayap dan kotak jahit yang jatuh. Ini tangisan yang lain. Pelan. Panjang. Seperti seseorang yang menangis sudah sangat lama dan tidak lagi punya tenaga untuk berhenti.

Dan di antara tangisan itu, sebuah suara. Suara Mama. Bicara pada seseorang yang tidak ada di sana.

“Mas Har… kok belum pulang?”

Aku berhenti di tengah lorong.


Mbok Darmi berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek di tangan. Wajahnya basah. Ia melihatku. Ia menggeleng pelan, seperti memohon, seperti bilang jangan, atau masuk, atau keduanya. Aku tidak tahu.

Aku berjalan ke kamar Mama dan membuka pintunya.

Mama duduk di lantai.

Di lantai kamar, di atas karpet tipis di samping ranjang, dengan kaki terlipat dan punggung bersandar di kaki ranjang. Ia memakai daster batik dan selendang di bahu. Rambutnya, yang biasanya disisir rapi oleh Dewi setiap malam, terurai kusut.

Di depannya, kotak jahit.

Terbuka. Baki kayu berisi benang dan kancing sudah diangkat dan diletakkan di samping. Dan di sekelilingnya, di atas karpet, berserakan amplop-amplop kuning. Puluhan. Ikatan benang merahnya sudah dilepas. Prangko-prangko pudar. Cap pos Semarang, Cirebon, Surabaya, Tegal, Kudus, Pekalongan, Tuban, Rembang. Ada juga kertas-kertas putih bergaris, dilipat tiga, tanpa amplop.

Mama memeluk satu lembar kertas di dadanya. Kertas yang sudah menguning, dengan tulisan tinta biru yang sudah luntur.

Ia menatapku. Matanya basah. Bingung. Tapi kali ini, ia mengenaliku.

“Ga,” katanya.

“Ma.”

“Bapakmu belum pulang.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Sudah malam,” kata Mama, dengan suara anak kecil. “Biasanya jam sebelas sudah pulang. Narik angkot. Bawa martabak kalau dapat banyak.” Ia menatap jam dinding di kamarnya. Pukul sembilan lewat dua puluh. “Kok belum pulang?”

Aku berlutut di lantai. Di depannya. Di antara amplop-amplop kuning yang berserakan.

“Ma,” bisikku. “Mama kenapa buka kotaknya?”

Mama menatap kertas di dadanya. Lalu ia mengulurkannya padaku dengan tangan yang gemetar. Tangan dengan bekas luka minyak panas.

“Bacain, Ga.”

“Ma…”

“Mata Mama nggak bisa baca.” Suaranya pecah. “Hurufnya lari-lari. Dulu bisa. Sekarang nggak bisa. Hurufnya lari ke mana-mana kayak semut.” Ia menekan kertas itu ke tanganku. “Bacain. Mama mau dengar suaranya.”

Aku menatap kertas itu.

Semua orang perlu satu tempat yang nggak boleh dibuka orang lain.

“Itu punya Mama,” kataku pelan. “Mama bilang jangan dibuka. Jangan dilihat.”

Mama menatapku. Dan untuk sesaat, sangat singkat, matanya jernih. Sangat jernih. Seperti ibuku yang dulu, sebelum dokter dan MRI dan kata-kata yang tidak bisa dicoret.

“Iya, itu punya Mama,” katanya. “Makanya Mama yang suruh kamu baca.”


Aku membuka kertas itu.

Tulisan tangan miring ke kanan. Agak kaku. Tinta biru yang sudah luntur. Huruf g yang melengkung panjang sekali ke bawah.

Di pojok kanan atas, sebuah tanggal. Dua puluh enam tahun lalu. Tiga hari setelah sandal jepit hitam hilang dari depan pintu kontrakan.

Aku mulai membaca. Keras. Pelan. Untuk Mama.


Tih.

Aku di Semarang. Ikut truk teman. Aku nggak tahu sampai kapan.

Maaf aku pergi subuh. Maaf aku nggak pamit sama Arga. Aku nggak bisa. Kalau aku lihat dia, aku nggak akan bisa pergi.

Kamu tahu kenapa. Utang ke Bang Jarot di terminal. Buat beli angkot sendiri, biar nggak setor lagi. Angkotnya dicuri bulan lalu. Bunganya sekarang sudah tiga kali lipat. Mereka datang lagi malam Selasa kemarin, waktu kamu sudah tidur. Mereka bilang kalau minggu depan nggak bayar, mereka ambil yang ada di rumah.

Mereka lihat Arga, Tih. Di kasur. Matanya masih kebuka. Salah satu dari mereka bilang anak sehat begini laku mahal.

Aku pergi supaya mereka ikut aku. Utangnya atas namaku, bukan kamu. Aku sudah bilang ke Bang Jarot, aku bayar dari Semarang, dari truk, dari mana pun. Asal mereka nggak datang ke kontrakan lagi. Mereka setuju, asal aku yang pergi. Asal aku kerja buat mereka. Aku setuju.

Jangan cari aku. Jangan cerita ke Arga.

Biar dia marah sama aku, Tih. Biar dia benci. Anak yang marah akan berlari lebih jauh daripada anak yang sedih. Aku mau dia lari. Jauh. Jauh dari gang itu. Jauh dari terminal. Jauh dari orang-orang kayak Bang Jarot. Jauh dari aku.

Kalau dia sedih, dia bakal nunggu aku. Kalau dia marah, dia bakal lari.

Aku mau dia lari, Tih.

Aku kirim uang tiap bulan lewat pos. Nggak banyak. Nanti kalau utangnya lunas, aku kirim lebih.

Kalau Arga nggak bisa tidur, nyanyiin dia lagu itu. Yang di teras. Kasih susu hangat. Madunya satu sendok, jangan kebanyakan. Dia nggak suka terlalu manis. Kayak kamu.

Har.


Aku berhenti membaca.

Kertas di tanganku gemetar. Huruf-hurufnya mulai kabur, bukan karena tinta yang luntur, tapi karena mataku.

Mereka lihat Arga, Tih. Di kasur. Matanya masih kebuka.

Aku umur lima tahun. Aku ingat tidur di kasur kontrakan dengan mata terbuka, menunggu. Menunggu seseorang pulang jam sebelas, jam dua belas, membungkuk di atasku, mengusap rambutku, bertanya apakah aku sudah tidur.

Aku tidak ingat orang-orang yang datang malam Selasa itu.

Tapi mereka melihatku.

Dan karena mereka melihatku, ia pergi.

“Lagi, Ga,” bisik Mama. Ia sudah mengambil amplop lain dari karpet dan menyodorkannya padaku. “Yang ini.”

Aku membuka amplop itu. Cap pos Cirebon. Delapan tahun setelah yang pertama. Aku tiga belas.


Tih.

Lunas. Hari ini. Delapan tahun.

Bang Jarot sudah mati tahun lalu, ditusuk orang di terminal. Anaknya yang terima pelunasan terakhir. Dia sobek kertas utangnya di depanku.

Aku nggak tahu harus ngapain. Aku berdiri di terminal Cirebon tiga jam. Aku pikir mau pulang.

Tapi aku nggak pulang, Tih.

Aku sudah terlalu lama pergi. Arga sudah tiga belas. Darmi bilang dia juara kelas terus. Darmi bilang dia ngajar les matematika anak tetangga buat beli sepatu. Darmi bilang dia nggak pernah nangis.

Kalau aku pulang sekarang, dia bakal ketemu aku. Laki-laki tua yang bau solar dan nggak punya apa-apa. Dan dia bakal berhenti lari.

Aku nggak mau dia berhenti, Tih.

Uang sekolahnya sudah aku urus. Lewat Pak Sobari di Cikokol, guru pensiunan. Namanya Yayasan Pelita. Kalau dari aku, Arga nggak akan mau terima. Kalau dari yayasan, dia terima. Pak Sobari yang kirim. Aku yang tulis kartunya.

Jangan bilang ke Arga, Tih. Tolong.

Har.


Aku menurunkan kertas itu.

Lima puluh dua kartu krem. Logo lilin. Untuk Arga. Semangat masuk SMP.

Aku tiga belas. Aku masuk SMP. Kartu pertama datang tanggal dua, dibawa Pak Udin si tukang pos. Mama menunggunya di depan pintu kontrakan.

Mama tahu. Mama tahu dari awal.

“Lagi,” bisik Mama.

Aku tidak sanggup. Tapi Mama sudah mengambil kertas lain dari karpet. Bukan amplop kuning. Kertas putih bergaris, dilipat tiga, tanpa amplop.

Tulisannya berbeda. Bulat-bulat. Rapi. Tulisan Mama.


Mas Har.

Arga juara lagi. Juara umum. Kamu pasti sudah tahu dari Pak Sobari.

Mas, aku capek. Tanganku melepuh lagi minggu ini. Minyaknya meletup. Tapi aku nggak bilang ke Arga. Dia bakal khawatir. Dia bakal berhenti les dan bantu aku goreng. Aku nggak mau dia berhenti.

Aku cuma bilang ke kamu. Di kertas yang nggak bisa kukirim, karena kamu nggak pernah kasih alamat.

Mas, Arga bikin daftar. Di buku tulis cokelat. Aku lihat waktu dia tidur. Baris pertamanya tentang kamu.

Aku nggak hapus, Mas. Aku biarin. Karena kamu yang minta. Biar dia marah. Biar dia lari.

Maafin aku, Mas. Aku nggak tahu itu benar atau salah. Aku cuma nurut sama kamu, kayak dulu.

Pulang, Mas. Arga sudah besar. Kamu boleh pulang sekarang.

Ratih.


Aku tidak bisa membaca lagi.

Kertas itu jatuh dari tanganku ke karpet, di antara amplop-amplop kuning dan kertas-kertas bergaris lain yang tidak pernah dikirim.

Baris pertamanya tentang kamu.

Aku nggak hapus, Mas.

Mama tahu. Mama melihat buku cokelat itu waktu aku sembilan tahun, waktu aku tidur di lantai kontrakan dengan lilin yang masih menyala. Mama membaca Jangan pernah jadi seperti Ayah, ditulis dengan huruf besar-besar yang ditekan terlalu keras sampai kertasnya hampir sobek.

Dan Mama membiarkannya.

Karena ayahku yang minta.

Karena anak yang marah akan berlari lebih jauh daripada anak yang sedih.

Dan aku berlari. Aku berlari sangat jauh. Dari gang sempit di Tangerang sampai ke lantai delapan belas di Kuningan. Sampai ke tiga rumah dan ratusan miliar dan Lexus hitam dan tender satu koma dua triliun. Aku berlari sampai tidak ada lagi tempat untuk dilari.

Dan selama itu, ada seorang laki-laki yang menyetir truk di sepanjang pantai utara Jawa, dua puluh jam sehari, tidur di kabin, membayar utang yang ia ambil untuk kami. Lalu membayar sekolahku. Lalu menulis kartu. Lalu menempel wajahku di dinding kamar belakang yang dulu gudang.

Dan ada seorang perempuan yang menggoreng kerupuk sampai tangannya melepuh, menulis surat yang tidak bisa dikirim, dan membiarkan anaknya membenci laki-laki yang paling mencintainya.

Karena mereka berdua pikir itu yang terbaik untukku.


Aku menangis.

Bukan seperti di tangga, ketika Dewi memelukku dan bahuku hanya bergetar. Bukan seperti di garasi, ketika aku menyandarkan kepala di setir dan air mataku jatuh tanpa suara.

Aku menangis seperti anak lima tahun.

Keras. Berantakan. Dengan suara yang keluar dari tempat yang sangat dalam di dadaku, tempat yang sudah dua puluh enam tahun dikunci dengan daftar target dan garis-garis coretan yang rapi. Aku menangis dengan wajah menunduk ke karpet, di antara amplop-amplop kuning, dengan bahu yang berguncang dan napas yang tersengal-sengal dan air mata yang jatuh ke kertas-kertas bergaris yang tidak pernah dikirim.

Aku menangis untuk sepasang sandal jepit hitam yang hilang dari depan pintu.

Aku menangis untuk seminggu duduk di depan pintu sampai magrib.

Aku menangis untuk lilin dan buku tulis dan baris pertama yang ditulis dengan tangan yang terlalu keras.

Aku menangis untuk tangan Mama yang melepuh.

Aku menangis untuk laki-laki yang tidur di kabin truk dan tidak pernah pulang, karena ia takut anaknya berhenti berlari.

Dan aku menangis untuk perempuan yang kusuruh pergi dari rumah ini tiga hari lalu. Perempuan yang memintaku menatapnya, dan aku memilih menatap pohon mangga.


Mama mengulurkan tangan.

Ia menyentuh kepalaku. Mengusap rambutku. Pelan. Dengan tangan yang punya bekas luka minyak panas.

“Sssh,” bisiknya. “Sudah, sudah. Jangan nangis. Nanti Bapakmu pulang, dia sedih lihat kamu nangis.”

Aku tidak bisa berhenti.

Mama terus mengusap rambutku. Dan ia mulai bersenandung.

Lagu keroncong lama itu. Pelan. Sumbang di nada tinggi. Lagu yang dinyanyikan ayahku di teras kontrakan setiap malam, sampai mataku berhenti menyala. Lagu yang Dewi senandungkan di ruang tengah dalam gelap, untuk menenangkan Mama yang ketakutan. Lagu yang Dewi pelajari dari laki-laki yang membawa jenazah ayahnya pulang.

Lagu yang sama. Dari mulut ibuku. Untukku.

Aku mengangkat kepala.

Mama menatapku. Matanya jernih lagi. Sangat jernih. Ia berhenti bersenandung dan memegang wajahku dengan kedua tangan, seperti dulu, waktu aku kecil dan pulang dengan rapor.

“Ga,” katanya pelan. “Jangan benci Bapakmu.”

Aku menatapnya.

“Bapakmu yang suruh Mama diam,” lanjutnya. “Mama nurut. Mama selalu nurut sama Bapakmu. Dari dulu. Dari pasar Tangerang, waktu dia nabrak gerobak bakso.” Ia tersenyum, tipis, dengan air mata yang mengalir di pipinya. “Tapi Mama salah, Ga. Mama harusnya bilang. Mama harusnya bilang dari dulu.”

“Ma…”

“Kamu marah sama Mama?”

Aku menggeleng. Keras. Aku tidak bisa bicara.

“Kamu boleh marah,” bisik Mama. “Mama yang salah. Bukan Bapakmu. Bukan Suster Cantik.”

Aku membeku.

“Suster Cantik,” ulang Mama, menatap pintu kamar yang terbuka. “Dia nggak salah, Ga. Dia anak baik. Dia kasih Mama susu pakai madu satu sendok. Kayak Bapakmu dulu.” Ia menatapku lagi. “Kamu suruh dia pergi?”

Aku tidak menjawab.

“Panggil dia pulang, Ga,” kata Mama pelan. “Rumah ini sepi lagi. Kayak dulu. Kayak waktu Bapakmu pergi.”

Lalu, seperti tirai yang tertutup, matanya berubah.

Kejernihan itu hilang. Pelan-pelan, seperti lampu yang diredupkan. Mama menatapku, lalu menatap amplop-amplop di karpet, lalu menatap jam dinding. Wajahnya kembali bingung. Kembali jauh.

Ia mengambil satu amplop dari karpet dan memeluknya di dada.

“Mas Har,” bisiknya pada amplop itu. “Kok belum pulang? Arga sudah besar.”


Aku memeluk ibuku.

Di lantai kamar, di antara amplop-amplop kuning dan kertas-kertas bergaris, dengan kotak jahit yang terbuka di sebelah kami. Aku memeluknya seperti ia memelukku waktu aku kecil, waktu listrik dicabut dan kami makan nasi dengan kecap di bawah lilin.

Mama bersandar di dadaku dengan amplop di pelukannya.

Lalu aku menunduk dan mengecup keningnya.

Lama. Bibirku menempel di kulit keningnya yang sudah berkeriput, di bawah garis rambut yang mulai memutih. Aku memejamkan mata. Aku merasakan napasnya, pelan dan teratur, mulai tenang.

“Iya, Ma,” bisikku di keningnya. “Arga sudah besar.”

Mama tersenyum dengan mata terpejam.

“Bapakmu pasti bangga,” gumamnya.

Lalu ia tertidur. Di pelukanku. Di lantai. Dengan amplop kuning dari Cirebon di dadanya.


Aku tidak memindahkannya ke ranjang sampai lama sekali.

Aku duduk di lantai kamar dengan ibuku tertidur di pelukanku, menatap amplop-amplop kuning yang berserakan di karpet. Aku menghitungnya. Aku tidak bisa berhenti menghitung.

Dua puluh enam amplop dari ayahku. Satu setiap tahun.

Empat puluh tiga kertas bergaris dari ibuku. Lebih banyak. Ia menulis lebih sering. Ia menulis ke seseorang yang tidak punya alamat.

Lima puluh dua kartu krem di kotak sepatu biru di ruang kerjaku.

Dan aku.

Satu.

Satu anak yang tidak pernah tahu bahwa ia tidak pernah berlari sendirian.

Pukul satu dini hari, aku menggendong Mama ke ranjang. Aku menyelimutinya sampai ke bahu. Aku membereskan amplop-amplop dan kertas-kertas bergaris itu, satu per satu, dengan sangat hati-hati, dan memasukkannya kembali ke kotak jahit. Aku memasang baki kayu di atasnya. Aku menutup kotak itu. Engselnya berderit.

Aku menaruhnya di bawah ranjang, di tempat Mama menaruhnya, supaya tangannya bisa menyentuhnya kalau ia bangun.

Lalu aku keluar dari kamar dan berjalan ke dapur.

Lampu dapur mati. Aku menyalakannya.

Di meja dapur, di sudut, di sebelah toples gula, ada termos.

Hijau tentara yang sudah pudar. Cat yang mengelupas seperti peta pulau-pulau. Penyok besar di sisi kiri. Tutup merah yang bukan tutup aslinya.

Dewi lupa membawanya pulang.

Aku berdiri di depan termos itu lama sekali. Lalu aku membukanya. Masih ada sisa kopi di dalamnya, dari hari Jumat. Dingin. Mungkin sudah basi.

Aku menuangnya ke gelas.

Aku meminumnya.

Pahit. Manis gula aren. Sedikit asin.

Pahit, ya? Nanti kalau sudah gede, kamu suka.

Aku berdiri di dapur rumahku sendiri, pukul satu lewat dua puluh dini hari, minum kopi basi dari termos penyok milik ayahku, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun, aku tidak tahu ke mana harus berlari.