Chapter Thirty Six
Kunci Mobil
POV: Arga
Dokter mengizinkannya pulang hari Minggu pukul sepuluh pagi.
Kalium sudah turun. Tekanan darah stabil. Cairan di paru-paru sudah berkurang. Dokter jaga, perempuan muda yang terlihat terlalu lelah untuk umurnya, menandatangani surat pulang dan memberikan daftar obat, jadwal cuci darah, dan pantangan makanan yang panjangnya dua halaman.
“Kopi,” katanya, menatap laki-laki di ranjang dengan mata tajam. “Maksimal setengah gelas sehari, Pak Haryanto. Setengah.”
“Seperempat,” koreksi Suster Ningsih dari belakang dokter.
“Seperempat,” kata dokter itu.
Laki-laki di ranjang menatap kedua perempuan itu dengan wajah seorang terdakwa yang baru dijatuhi hukuman mati.
Aku berdiri di kaki ranjang dan hampir tertawa.
Dewi, di sebelahku, menyikut lenganku pelan.
Ia didorong keluar dengan kursi roda.
Ia protes. Ia bilang ia bisa jalan sendiri. Suster Ningsih bilang itu aturan rumah sakit. Ia bilang aturan rumah sakit dibuat untuk orang-orang lemah. Suster Ningsih bilang kalau begitu ia memang orang lemah, karena kakinya bengkak seperti kaki gajah. Ia bilang Suster Ningsih makin galak setiap hari. Suster Ningsih bilang itu karena ia makin bandel setiap hari.
Mereka bertengkar sepanjang lorong. Dimas mendorong kursi roda sambil menahan tawa. Dewi berjalan di sebelahnya membawa tas berisi baju dan obat.
Aku berjalan di belakang mereka.
Ia sudah memakai sarung cokelat yang dibawa Dewi kemarin. Kemeja batik lengan pendek yang sudah pudar warnanya. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang, dengan sisir kecil yang Dewi tinggalkan di meja samping ranjang. Ia menyisirnya sendiri pagi tadi, tiga kali, sambil menatap pintu bangsal.
Kami belum benar-benar bicara.
Kemarin sore, setelah aku kembali dari Cikokol, ia tidur. Tadi malam, ketika ia bangun pukul sepuluh, aku sedang tertidur di kursi tunggu di lorong. Pagi ini, ketika aku masuk ke bangsal, ia sedang diperiksa dokter. Lalu Suster Ningsih. Lalu urusan surat pulang.
Kami hanya bertukar dua kalimat.
Sudah makan?
Sudah.
Dua kalimat. Dua puluh enam tahun.
Di lobi rumah sakit, Dimas berhenti mendorong.
“Pakde, tunggu sini. Aku panggil taksi.”
“Nggak usah taksi,” kataku.
Mereka bertiga menoleh padaku.
Aku mengeluarkan kunci mobil dari saku celana. Kunci Lexus. Gantungannya kulit hitam polos, tanpa hiasan, tanpa logo, karena aku tidak pernah suka gantungan kunci yang mencolok.
Lalu aku berjongkok di depan kursi roda. Sejajar dengan matanya.
Ia menatapku. Matanya cokelat tua, dengan garis-garis halus di sudutnya dan lingkaran kekuningan di bagian putihnya, tanda ginjal yang sudah lama tidak bekerja. Tapi matanya menyala. Masih menyala. Bahkan sekarang.
Aku mengulurkan kunci itu padanya.
Ia menatap kunci di telapak tanganku. Lalu menatapku.
“Apa ini?” tanyanya pelan.
“Kunci mobil.”
“Mobil siapa?”
“Mobilku.” Aku menelan ludah. “Bapak yang nyetir.”
Lobi rumah sakit tiba-tiba sangat sunyi.
Atau mungkin hanya terasa sunyi. Mungkin di sekitar kami masih ada suara pengumuman dari pengeras suara, suara langkah kaki, suara bayi menangis di ruang tunggu poli anak. Tapi aku tidak mendengar apa-apa.
Aku hanya mendengar diriku sendiri mengucapkan satu kata yang tidak pernah kuucapkan selama dua puluh enam tahun.
Bapak.
Ia tidak bergerak. Ia menatapku dengan mata yang membesar perlahan. Tangannya, yang tadi memegang sandaran kursi roda, gemetar.
Di sebelahku, Dewi menutup mulutnya dengan tangan.
Di belakang kursi roda, Dimas berdiri membeku dengan tangan masih memegang pegangan dorong. Matanya langsung merah.
“Ga,” kata Dewi pelan, dengan suara perawat yang berusaha profesional dan gagal. “Pakde baru keluar rumah sakit. Kakinya bengkak. Tangannya gemetar. Dia nggak boleh nyetir—”
“Nggak jauh,” kataku tanpa menoleh. “Parkiran. Sampai gerbang. Pelan.”
“Ga…”
“Wi.” Aku menoleh padanya. “Tolong.”
Dewi menatapku lama. Lalu ia menatap laki-laki di kursi roda. Lalu ia menghela napas panjang, napas seorang perawat yang tahu ia sedang melanggar semua aturan yang ia pelajari di bab satu sekolah keperawatan.
“Sampai gerbang,” katanya. “Lima kilo per jam. Lampu hazard nyala. Aku duduk di belakang. Kalau tangannya gemetar terlalu keras, berhenti.”
Aku mengangguk.
Lalu aku menoleh kembali pada laki-laki di kursi roda. Kunci itu masih di telapak tanganku, di depannya.
Ia belum mengambilnya.
“Tidak ada yang pernah nyetir mobil ini selain aku,” kataku pelan. “Tiga tahun. Teddy nggak pernah. Valet nggak pernah. Dimas belum.”
Dimas, di belakang kursi roda, mengeluarkan suara kecil, seperti tangisan yang ditahan.
“Bapak yang pertama,” kataku.
Ia menatap kunci itu.
Lalu, pelan, dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengambilnya.
Lexus hitam itu terparkir di area parkir rumah sakit, di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai memerah.
Dimas mendorong kursi roda sampai ke pintu pengemudi. Aku membukakan pintunya. Dewi berdiri di sebelahku dengan tangan siap menahan kalau ia jatuh.
Ia berdiri dari kursi roda.
Pelan. Sangat pelan. Tangannya mencengkeram pintu mobil. Kakinya yang bengkak gemetar di atas aspal. Ia mengambil satu langkah. Dua.
Lalu ia berhenti dan menatap ke bawah, ke kakinya.
Ia memakai sandal jepit biru dari rumah sakit. Karet tipis, murah, dengan logo rumah sakit daerah di talinya.
Ia menatap sandal itu. Lalu menatapku.
Aku tahu apa yang ia pikirkan.
Aku membuka pintu belakang, mengambil kantong plastik dari jok, dan mengeluarkan isinya.
Sandal jepit hitam. Besar. Karetnya retak-retak. Satu talinya tali rafia biru yang diikat dengan simpul.
Aku berjongkok di depannya, di atas aspal parkiran rumah sakit. Aku melepas sandal jepit biru dari kakinya yang bengkak. Pelan. Satu. Lalu yang lain.
Lalu aku memakaikan sandal jepit hitam itu.
Kakinya terlalu bengkak. Sandal itu sesak, talinya menekan kulit yang membengkak. Tapi sandal itu masuk.
Kiri. Kanan.
Aku tetap berjongkok di sana, menatap sepasang sandal jepit hitam di atas aspal, di kaki laki-laki yang memakainya waktu ia pergi subuh-subuh dua puluh enam tahun lalu.
“Sandal buat pulang,” kataku pelan.
Di atasku, aku mendengar suara napas yang tersengal. Sekali. Dua kali.
Lalu sesuatu jatuh di punggung tanganku. Hangat. Basah.
Aku tidak mengangkat kepala.
Ia menyetir dengan kecepatan empat kilometer per jam.
Dewi duduk di jok belakang, tepat di belakang kursi pengemudi, dengan tangan siap di bahunya. Aku duduk di kursi penumpang depan. Lampu hazard menyala. Mesin hybrid itu hampir tidak bersuara.
Tangannya di setir gemetar. Bukan karena takut. Karena tubuhnya yang sudah tidak kuat. Tapi genggamannya mantap. Genggaman seseorang yang sudah dua puluh enam tahun memegang setir truk delapan belas roda di jalur Pantura, di bawah hujan, di bawah terik, di malam-malam panjang tanpa tidur.
Ia menyetir seperti menyetir sesuatu yang sangat rapuh.
Mobil bergerak pelan melewati deretan mobil yang terparkir. Melewati pos satpam parkir, di mana satpam muda menatap Lexus hitam dengan lampu hazard yang merayap seperti siput, dengan wajah bingung.
Dari belakang, terdengar suara motor.
Dimas, dengan motor bebek merahnya, mengikuti kami pada jarak dua meter. Ia memakai helm dengan kaca retak, dan bahkan dari balik kaca itu aku bisa melihat wajahnya basah.
“PAKDEEE!” teriaknya dari atas motor. “PAKDE CURANG! AKU YANG DUA KALI MINTA DULUAN!”
Laki-laki di kursi pengemudi tertawa.
Tawa itu keluar dari tempat yang dalam. Keras. Pecah di tengah. Persis seperti tawa yang kuingat dari lantai semen dan kompor minyak tanah dan gelas belimbing berisi kopi pahit. Tawa yang membuat bangku kayu berderit.
Ia tertawa sambil menangis. Air matanya mengalir di pipinya yang keriput, jatuh ke kemeja batik yang pudar, dan ia tidak menyekanya karena kedua tangannya memegang setir.
“Anak montir itu,” katanya di sela tawa, dengan suara serak. “Dari kecil cerewet.”
“Dia cuci mobil ini pakai sikat gigi,” kataku.
Ia tertawa lebih keras. Lalu batuk. Dewi menepuk punggungnya dari belakang.
Di gerbang rumah sakit, lampu merah.
Ia berhenti. Pelan. Sangat halus, seperti tidak ada rem sama sekali.
Ia menatap lampu merah itu. Lalu ia menoleh. Bukan ke arahku. Ke spion tengah.
Di spion itu, aku bisa melihat diriku sendiri. Kaus Jaya Motor yang terlalu kecil sudah kuganti kemarin dengan kaus polos yang Dimas belikan di pasar. Rambut yang belum disisir. Mata yang merah karena dua malam tidak tidur.
Dan di belakangku, di jok belakang, Dewi.
Ia sudah bergeser. Dari belakang kursi pengemudi ke belakang kursiku. Dan sebelum aku sadar, kedua lengannya sudah melingkari bahuku dari belakang, melewati sandaran kursi. Dagunya bertumpu di bahu kananku. Pipinya menempel di pipiku.
Pelukan dari belakang. Seperti di ruang kerja dengan nampan nasi. Seperti di dapur dengan roti gosong.
Aku tidak bergerak. Aku menggenggam tangannya yang menyilang di dadaku.
Laki-laki di kursi pengemudi menatap kami lewat spion.
Lama.
Lalu matanya bergeser. Dari pantulan Dewi, ke pantulanku. Ke mataku di spion. Mata yang merah dan bengkak dan, aku tahu, masih menyala. Selalu menyala. Bahkan sekarang.
Ia menatap mataku di spion itu dengan mata yang sama.
Dan ia bertanya, pelan, dengan suara yang berat dan serak dan berbau kopi dan minyak mesin, suara yang selama dua puluh enam tahun hidup di kepalaku tanpa wajah:
“Matamu masih nyala, Ga?”
Aku tidak bisa bernapas.
Kalimat itu. Dari mulutnya. Bukan dari ingatan. Bukan dari Dewi yang kelepasan di tengah lahan kosong. Dari dia. Langsung. Sekarang. Dengan matanya yang menatapku lewat spion tengah mobilku, dengan tangannya yang gemetar di setir mobilku, dengan sandal jepit hitam di kakinya yang bengkak.
Dewi tahu artinya. Ia menceritakannya padaku tadi malam, di lorong rumah sakit, ketika aku terbangun dari tidur di kursi plastik dan menemukannya duduk di sebelahku. Ia menceritakan semuanya. Angkot. Jam sebelas malam. Kasur di kontrakan. Dua titik kecil yang menyala dari cahaya lampu jalan.
Bukan kalimat penyemangat. Pertanyaan seorang ayah yang pulang larut malam dan menemukan anaknya belum tidur.
Kok belum tidur?
Aku menatap matanya di spion.
Lalu aku tertawa. Persis seperti kata Dewi. Persis seperti yang ia ceritakan, dari mulut laki-laki ini sendiri, di kamar belakang yang dulu gudang. Terus dia ketawa, karena ketahuan.
Aku tertawa, dengan air mata yang mengalir di pipiku dan pipi Dewi yang menempel di pipiku ikut basah.
“Masih, Pak,” kataku. “Masih nyala.”
Ia tersenyum. Di spion. Senyum yang membuat seluruh wajahnya yang keriput dan sakit dan tua itu berubah, seperti matahari yang muncul dari balik awan.
“Bandel,” katanya pelan. “Dari kecil.”
Lampu berubah hijau.
Ia hanya menyetir sampai gerbang. Seperti janji pada Dewi.
Di luar gerbang rumah sakit, ia menepikan mobil di bahu jalan, menarik rem tangan, dan mematikan lampu hazard. Tangannya gemetar terlalu keras sekarang. Keringat dingin di dahinya.
Ia menatap setir itu lama. Lalu ia melepaskan tangannya dari setir, pelan, satu jari demi satu jari, seperti melepaskan sesuatu yang sangat berharga.
“Sudah,” katanya. “Cukup.”
Kami bertukar tempat. Dimas dan Dewi membantunya pindah ke kursi penumpang depan. Aku masuk ke kursi pengemudi. Kursi itu masih hangat.
Ia bersandar di kursi penumpang dengan mata setengah terpejam, napas yang berat, kunci mobil masih di genggaman tangannya. Ia tidak mengembalikannya. Aku tidak memintanya.
Aku menyalakan mesin dengan tombol.
“Ke mana?” tanyanya pelan, tanpa membuka mata. “Bekasi?”
Aku menatap jalan di depan.
“Pulang, Pak,” kataku.
Ia membuka mata. Menoleh padaku.
“Ke rumah,” kataku.
“Rumah siapa?”
Aku menatap sandal jepit hitam di kakinya. Lalu kunci mobil di tangannya. Lalu matanya, yang menyala dan basah.
“Rumah Mama,” kataku.
Ia tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan.
Satu jam lima puluh menit, dari Bekasi Timur ke Pondok Indah, di tengah macet hari Minggu siang. Ia duduk di kursi penumpang, menatap jalan, menggenggam kunci mobil. Dewi di jok belakang. Dimas mengikuti dengan motor bebek merahnya sampai ke tol, lalu kami kehilangan dia di gerbang tol karena motor tidak boleh masuk. Ia meneleponku dua kali untuk minta alamat lengkap, padahal ia sudah tahu.
Di jalan Fatmawati, ia akhirnya bicara.
“Dia ingat aku?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Kadang,” kataku. “Kadang dia nggak ingat aku. Kadang dia kira aku masih lima tahun. Kadang dia kira aku tukang pos.”
Ia mengangguk pelan.
“Tapi dia ingat lagu Bapak,” kataku. “Dia ingat susu madu satu sendok. Dia ingat Bapak nabrak gerobak bakso di pasar Tangerang.”
Ia memejamkan mata. Rahangnya mengeras.
“Dan dia ingat Bapak yang cat pintu kontrakan warna cokelat,” lanjutku pelan. “Biar Arga tahu ini rumahnya.”
Ia tidak menjawab. Ia hanya menggenggam kunci mobil itu lebih erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Gerbang hitam tinggi di Pondok Indah terbuka pukul dua lewat sepuluh.
Pak Jono membukanya dengan salam hormat. Lalu ia melihat siapa yang duduk di kursi penumpang. Laki-laki tua dengan rambut putih cepak, kemeja batik pudar, dan wajah yang sangat mirip dengan wajahku.
Tangan Pak Jono turun pelan dari pelipisnya.
Aku memarkir mobil di carport.
Mbok Darmi sudah berdiri di ambang pintu samping. Teddy di sebelahnya. Aku tidak memberi tahu Teddy aku akan pulang hari ini. Tapi tentu saja ia tahu. Mbok Darmi pasti sudah memberi tahu grup.
Mereka berdua menatap mobil itu. Menatap pintu penumpang yang perlahan terbuka.
Ia turun. Pelan. Dibantu Dewi dari satu sisi dan aku dari sisi lain.
Sandal jepit hitam menyentuh lantai carport.
Mbok Darmi menutup mulutnya dengan celemek. Bahunya berguncang.
“Mas Har,” bisiknya dari balik celemek.
Ia menatap Mbok Darmi. Dan tersenyum. “Darmi. Kamu gendut.”
Mbok Darmi tertawa sambil menangis begitu keras sampai Teddy harus menahannya supaya tidak jatuh.
Lalu pintu depan terbuka.
Mama berdiri di ambang pintu dengan daster batik dan selendang di bahu. Rambutnya, yang beberapa hari ini tidak disisir dengan benar oleh Bu Yati, sudah disisir rapi pagi ini oleh Mbok Darmi, karena entah bagaimana, Mbok Darmi sudah tahu.
Mama menatap halaman. Menatap Lexus di carport. Menatapku.
Lalu menatap laki-laki tua di sebelahku, yang berdiri dengan kaki bengkak di atas sandal jepit hitam, dengan kunci mobilku di genggamannya, dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang, tiga kali, di bangsal rumah sakit pagi tadi.
Mama tidak bergerak.
Untuk waktu yang lama, sangat lama, ia hanya menatap. Matanya bergerak di wajah laki-laki itu. Rahang. Alis tebal. Mata yang menyala.
Aku menahan napas. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mama bisa tidak mengenalinya. Mama bisa ketakutan, seperti malam itu, malam gunting oranye. Mama bisa memanggilnya Pak Udin.
Lalu Mama melangkah keluar dari ambang pintu.
Satu langkah. Dua. Ia turun dari teras, tanpa sandal, dengan kaki telanjang di atas paving block halaman yang hangat oleh matahari siang. Ia berjalan pelan ke arah kami. Selendangnya jatuh dari bahu. Ia tidak memungutnya.
Ia berhenti di depan laki-laki itu.
Ia menatap wajahnya dari jarak satu jengkal.
Lalu ia mengangkat tangan. Tangan dengan bekas luka minyak panas di punggungnya. Dan menyentuh pipi laki-laki itu. Pelan. Seperti menyentuh sesuatu yang takut ia lupakan lagi.
“Mas Har,” katanya.
Suaranya tidak bingung. Tidak takut. Tidak jauh.
“Kok baru pulang?”
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil reading
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala