Chapter Thirty Two

Kamar Belakang, dari Mata Arga

POV: Arga

Aku memarkir Lexus di depan toko kelontong yang buka dua puluh empat jam, di tempat yang sama seperti hari Sabtu.

Dua bapak ojek di pangkalan sebelah toko itu langsung berdiri. Salah satunya, laki-laki kurus dengan gigi yang hitam karena rokok, menatapku dengan mata menyipit, lalu tersenyum lebar.

“Calon!” serunya. “Calonnya Wi!”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mengangguk.

“Wi nggak di rumah, Mas,” kata bapak ojek itu, Pak Darman, kalau aku tidak salah ingat namanya dari warung hari Sabtu. “Ke rumah sakit. Antar Pak Har. Sama Dimas.”

“Saya tahu, Pak.”

“Oh.” Pak Darman menatapku lebih lama. Lalu menatap termos hijau di tanganku. Matanya membesar sedikit. “Itu termosnya Pak Har?”

“Iya.”

Pak Darman tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk bahuku sekali, dengan tangan yang kasar dan bau bensin, lalu duduk kembali di pangkalan ojeknya.

Aku berjalan masuk ke gang.

Burung beo Bu Ani berteriak maling! maling! Aku tidak berhenti. Aku melewati selokan, melewati kucing-kucing yang tidur di bawah pagar, melewati rumah-rumah yang berdempetan seperti gigi yang tumbuh terlalu rapat.

Lalu aku berhenti di depan rumah hijau muda dengan warung di teras.

WARUNG NASI BU SUMI — MURAH, ENAK, KENYANG.


Bu Sumi sedang menggoreng tempe di balik panci soto.

Ia mendengar langkahku dan menoleh. Ia melihatku. Ia melihat termos di tanganku.

Sutil di tangannya berhenti.

Warung sepi. Hanya ada satu pembeli, seorang ibu-ibu dengan anak kecil yang sedang makan nasi uduk di bangku panjang. Radio kecil di atas lemari menyiarkan dangdut yang suaranya pecah-pecah.

Bu Sumi mematikan kompor.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak menyuruhku duduk. Ia tidak menawariku soto. Ia hanya melepas celemek bermotif ayam, melipatnya, menaruhnya di atas meja, lalu berjalan keluar dari balik warung.

Ia berjalan melewatiku. Ke dalam rumah. Ke arah lorong sempit di samping dapur.

Lalu ia berhenti dan menoleh. Menungguku.

Aku mengikutinya.


Lorong itu sempit sekali. Dinding di kiri dan kanan begitu dekat sampai bahuku hampir menyentuh keduanya. Lantainya semen, sedikit lembap. Bau sabun cuci dan minyak goreng dan sesuatu yang lain. Bau minyak angin. Bau obat.

Di ujung lorong ada pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Tidak dikunci. Terbuka sedikit.

Bu Sumi berhenti di depan pintu itu. Ia tidak membukanya. Ia hanya berdiri di samping, memberi jalan.

Aku menatapnya.

Ia menatapku balik. Wajahnya tidak bisa kubaca. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya lelah, sangat lelah, seperti seseorang yang sudah dua puluh tahun menjaga sesuatu dan akhirnya menyerahkannya.

Aku mendorong pintu itu.


Kamar itu kecil. Tiga kali tiga meter. Satu jendela kecil menghadap tembok tetangga. Lantai semen yang dicat merah, catnya mengelupas di beberapa tempat. Dipan kayu dengan kasur busa tipis. Lemari plastik. Meja kayu kecil dengan kursi lipat. Kipas angin di sudut, mati.

Dan dinding.

Aku berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bergerak.

Dari lantai sampai hampir ke langit-langit, menempel kliping koran.

Ratusan. Ditempel rapi berderet seperti ubin, dengan lem yang dioleskan hati-hati supaya tidak bergelombang. Kliping-kliping di bagian atas sudah menguning, hampir cokelat. Makin ke bawah, makin putih. Makin baru.

Dan di setiap kliping itu, wajahku.

Aku melangkah masuk. Pelan. Seperti masuk ke tempat ibadah.

Di sudut kanan atas, kliping paling tua. Koran lokal Tangerang. Foto hitam-putih kecil, buram, dengan tinta yang mulai pudar. Mahasiswa Teknik Sipil Raih Juara Lomba Desain Jembatan Nasional. Seorang anak muda kurus dengan kemeja kebesaran, memegang piala, tersenyum canggung ke kamera.

Aku. Dua puluh satu tahun. Aku bahkan sudah lupa pernah difoto koran untuk lomba itu.

Di bawah kliping itu, secarik kertas kecil, ditempel dengan selotip yang sudah menguning. Tulisan tangan. Miring ke kanan. Agak kaku.

Arga. Juara jembatan. Maret.

Huruf g berekor panjang.

Aku bergerak ke kliping berikutnya. Foto ruko dua lantai di Serpong, hari peresmian. Aku berdiri di depannya dengan pita merah dan gunting besar. Arga. Kantor pertama. Juli.

Lalu artikel kecil di koran bisnis. Arga. Proyek sekolah. November.

Lalu majalah. 30 Pengusaha Muda di Bawah 30. Foto setengah halaman. Aku dengan jas biru tua, tangan dilipat, menatap kamera dengan wajah yang terlalu serius. Arga. Masuk majalah. Ganteng. Agustus.

Ganteng.

Aku berhenti di depan kertas kecil itu lama sekali.

Lalu aku terus bergerak. Kliping demi kliping. Tahun demi tahun. Wawancara. Peresmian proyek. Penghargaan. Foto-foto yang aku sendiri tidak ingat pernah ada. Foto-foto yang diambil wartawan di acara-acara yang aku datangi dengan wajah lelah dan langsung lupa. Semuanya ada di sini. Semuanya ditempel. Semuanya diberi tanggal.

Sepuluh tahun hidupku, di dinding kamar tiga kali tiga meter di belakang warung nasi di Bekasi Timur.


Baris paling bawah.

Kliping koran dari minggu-minggu terakhir. Foto berwarna setengah halaman. Aku dengan jas abu-abu di depan layar proyektor bertuliskan satu koma dua triliun, menyalami direktur rumah sakit berambut perak.

Arga. Tender RS. Oktober.

Dan di sebelahnya, bukan kliping koran.

Foto.

Dicetak di kertas foto murah, dengan warna yang sedikit terlalu kuning, seperti dicetak di warnet. Seorang laki-laki di meja makan dengan kemeja putih, menutupi wajahnya dengan satu tangan, tertawa sampai matanya basah. Di belakangnya, sebagian dapur. Toples gula. Magnet stroberi di pintu kulkas.

Aku.

Senin pagi. Selamat hari Senin. Dewi mengecup pipiku, lalu memotretku tanpa suara. Buat dokumentasi, Pak.

Di bawah foto itu, secarik kertas kecil. Tulisan tangan yang sama, tapi lebih gemetar. Seperti ditulis oleh tangan yang sudah tidak kuat memegang pulpen dengan mantap.

Ganteng sekali anakku.
Akhirnya ketawa.


Aku tidak tahu kapan aku jatuh berlutut.

Aku hanya tahu bahwa aku sudah di lantai, di atas semen merah yang catnya mengelupas, dengan kedua tangan di lutut dan termos hijau penyok tergeletak di sebelahku. Aku menatap foto itu dari bawah. Foto diriku tertawa. Dan kertas kecil dengan tulisan tangan yang gemetar.

Akhirnya ketawa.

Ia tidak pernah melihatku tertawa. Sejak aku lima tahun. Dua puluh enam tahun, ia mengumpulkan foto-foto wajahku dari koran dan majalah, ratusan, dan semuanya serius. Semuanya wajah laki-laki yang sedang berlari.

Sampai Dewi mengirimkan satu foto.

Satu.

Dan ia menempelnya di sini, di baris paling bawah, dengan tangan yang gemetar, dan menulis akhirnya.

Aku tidak menangis. Aku sudah menangis semalam, di lantai kamar Mama, di antara amplop-amplop kuning. Aku pikir air mataku sudah habis.

Tapi sesuatu di dadaku terus pecah. Pelan. Retak demi retak. Seperti beton yang dibebani terlalu lama dan akhirnya menyerah.


Lalu aku melihat meja.

Meja kayu kecil di bawah jendela. Di atasnya ada gunting, lem kertas, spidol hitam, beberapa lembar koran yang belum dipotong. Kacamata baca dengan gagang yang dibalut selotip. Bungkus obat-obatan. Jadwal cuci darah yang ditulis tangan di kertas kalender: Senin. Rabu. Jumat.

Dan di sudut meja, ada sebuah lingkaran.

Bekas. Noda cokelat berbentuk lingkaran sempurna di permukaan kayu, sedikit lebih gelap dari sekelilingnya. Bekas sesuatu yang selama bertahun-tahun ditaruh di tempat yang sama, setiap hari, sampai meninggalkan jejak di kayu.

Bekas termos.

Aku mengambil termos hijau penyok dari lantai. Aku berdiri. Aku menaruhnya di meja, tepat di atas lingkaran itu.

Pas. Persis. Seperti kunci yang menemukan lubangnya.

Aku menatap termos itu di tempatnya. Lalu aku melihat sesuatu yang lain di meja, di bawah tumpukan koran yang belum dipotong.

Buku tulis.


Sampulnya cokelat.

Bukan cokelat yang sama dengan bukuku. Lebih tua. Lebih pudar. Ujung-ujungnya sudah lunak dan menggulung, seperti buku yang terlalu sering dibuka. Tidak ada tulisan di sampulnya. Tidak ada jangan dibaca orang lain dengan tiga tanda seru.

Aku tidak seharusnya membukanya. Aku tahu itu. Semua orang perlu satu tempat yang nggak boleh dibuka orang lain.

Aku membukanya.

Halaman pertama. Tulisan tangan miring ke kanan, dengan tinta yang sudah sangat pudar, hampir tidak terbaca. Sebuah daftar.

Utang Bang Jarot.

Di bawahnya, angka-angka. Puluhan baris. Tanggal dan jumlah. Lima puluh ribu. Seratus ribu. Tujuh puluh lima ribu. Setiap baris dicoret dengan satu garis lurus yang rapi. Halaman demi halaman. Delapan tahun.

Baris terakhir, di halaman ketujuh: LUNAS. Ditulis dengan huruf besar. Dicoret dua kali.

Aku membalik halaman.

Halaman berikutnya. Daftar baru. Judulnya ditulis dengan tinta yang lebih baru, lebih jelas.

Arga.

Di bawahnya:

SMP negeri.
Juara kelas.
SMA.
Beli sepatu sendiri. (kata Darmi, dari ngajar les)
Kuliah.
Lulus. Cum laude.
Kerja.
Kantor sendiri.
Rumah buat Ratih. Ada tamannya.
Mobil. (hitam. bagus. dia nyetir sendiri.)

Dan seterusnya. Puluhan baris. Setiap baris dicoret dengan satu garis lurus yang rapi. Di samping beberapa baris, catatan kecil. Tanggal. Sumber. Koran Tangerang. Majalah. Kata Darmi. Kata Wi.

Aku menatap daftar itu dengan tangan gemetar.

Daftarku.

Bukan daftar yang sama persis. Tapi hampir. Juara kelas. Sepatu. Kuliah. Kantor. Rumah untuk Mama.

Daftar yang kutulis di lantai kontrakan dengan lilin waktu umur sembilan tahun, dan kucoret satu per satu selama dua puluh dua tahun.

Ia menulisnya juga. Di kamar ini. Di buku tulis cokelat ini. Dan ia mencoretnya setiap kali aku mencoret milikku, dari koran, dari majalah, dari cerita Mbok Darmi di telepon, dari cerita Dewi.

Dua buku. Dua daftar. Dua orang yang mencoret baris yang sama, di dua tempat yang berbeda, tanpa pernah tahu yang lain melakukannya.

Aku membalik ke halaman terakhir yang ditulis.

Baris paling bawah. Tinta paling baru. Tulisan paling gemetar.

Ketemu Arga. Sekali. Sebelum—

Kalimat itu tidak selesai.

Tidak dicoret.


Aku tidak mendengar Bu Sumi masuk.

Ia berdiri di ambang pintu. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin dari tadi. Mungkin ia melihat semuanya. Aku berlutut di depan dinding. Termos di atas lingkaran. Buku tulis cokelat di tanganku.

Ia tidak berkata apa-apa.

Aku menutup buku itu. Aku menaruhnya kembali di meja, di bawah tumpukan koran, persis di tempat yang sama. Aku merapikan posisinya supaya lurus.

Lalu aku berdiri di tengah kamar tiga kali tiga meter itu, dikelilingi ratusan wajahku sendiri, dan menatap dipan kayu dengan kasur busa tipis.

Di bawah dipan itu, di sudut, ada sesuatu.

Aku tidak tahu kenapa aku melihatnya. Mungkin karena cahaya dari jendela kecil jatuh tepat di situ. Mungkin karena aku seorang insinyur dan selalu memeriksa bagian bawah sebuah struktur.

Aku berjongkok.

Sepasang sandal jepit.

Hitam. Besar. Karetnya sudah retak-retak dan mengeras karena usia. Talinya sudah diganti, satu dengan tali rafia biru yang diikat dengan simpul. Solnya sudah sangat tipis, hampir bolong di bagian tumit.

Sandal jepit hitam besar.

Satu. Dua.

Yang hilang dari depan pintu kontrakan, suatu pagi, dua puluh enam tahun lalu.


Aku tidak bisa berdiri.

Aku duduk di lantai semen merah, bersandar di kaki dipan, dengan sandal jepit hitam itu di tanganku. Aku memegangnya seperti memegang sesuatu yang bisa pecah. Karetnya keras dan dingin. Ada debu di talinya. Ada bekas lumpur yang sudah mengering di solnya, lumpur dari jalan yang entah di mana.

Dua puluh enam tahun.

Ia menyimpannya dua puluh enam tahun.

Sandal yang ia pakai waktu pergi subuh-subuh. Sandal yang membuatku menghitung satu, dua di depan pintu setiap pagi selama seminggu, menunggu hitungan itu kembali jadi tiga.

Ia tidak membuangnya. Ia tidak memakainya lagi. Ia menyimpannya di bawah dipan, di kamar tiga kali tiga, di bawah dinding penuh wajahku.

Seperti seseorang yang menyimpan sesuatu untuk dikembalikan. Suatu hari. Nanti.

Bu Sumi akhirnya bergerak.

Ia masuk ke kamar. Pelan. Ia berdiri di depanku, menatapku yang duduk di lantai dengan sandal jepit hitam di pelukan.

Lalu ia berbicara. Untuk pertama kalinya sejak aku datang.

“Dia nggak pernah pakai lagi,” katanya pelan. “Dari pertama datang ke sini. Dua puluh tahun. Dia beli sandal baru di pasar. Yang ini dia taruh di bawah dipan.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Saya pernah tanya,” lanjut Bu Sumi. “Kenapa nggak dibuang. Sudah jelek. Sudah retak. Nanti dimakan tikus.”

Ia diam sebentar.

“Dia bilang,” suara Bu Sumi bergetar, “Ini sandal buat pulang, Sum. Kalau aku pulang, aku pakai yang ini. Biar anakku kenal.”

Aku menekan sandal jepit itu ke dadaku.

Bu Sumi menatapku lama. Matanya basah. Lalu ia berbalik dan berjalan ke pintu.

Di ambang pintu, ia berhenti.

“Dia pulang jam lima,” katanya tanpa menoleh. “Dari cuci darah. Dewi sama Dimas yang antar.”

Ia menatap jam di dinding lorong.

“Sekarang jam satu.”

Lalu ia pergi, dan meninggalkan pintu kamar belakang terbuka.


Aku duduk di lantai kamar itu lama sekali.

Aku tidak menghitung waktunya.

Aku hanya duduk, bersandar di kaki dipan, dengan sandal jepit hitam di pelukan, menatap dinding penuh wajahku sendiri. Ratusan aku. Mahasiswa kurus dengan piala. Kontraktor muda dengan pita merah. Pengusaha dengan jas biru tua yang terlalu serius. Laki-laki berjas abu-abu di depan layar proyektor.

Dan di baris paling bawah, satu-satunya yang tertawa.

Kipas angin di sudut mati. Jendela kecil menghadap tembok tetangga. Dari warung, terdengar suara Bu Sumi menyalakan kompor lagi. Radio kecil menyiarkan dangdut. Burung beo Bu Ani berteriak maling pada seseorang yang lewat di mulut gang.

Dan di dalam kepalaku, untuk pertama kalinya, suara yang berat dan serak dengan bau kopi dan minyak mesin itu punya wajah. Wajah yang tidak pernah kulihat. Wajah yang hanya kukenali dari bayangannya di cermin.

Aku memejamkan mata.

Empat jam lagi, ia pulang.

Empat jam lagi, aku akan melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun, aku tidak lari.