Chapter Thirty Three
Teras
POV: Dewi
Tekanan darah Pakde turun di jam ketiga cuci darah.
Sembilan puluh per enam puluh. Lalu delapan puluh lima per lima puluh lima. Mesin hemodialisis berbunyi dengan alarm yang tajam. Perawat galak itu, yang namanya ternyata Suster Ningsih, berlari dari meja jaga dan langsung mengurangi kecepatan pompa. Pakde pucat. Keringat dingin di dahinya. Matanya setengah terpejam.
“Pak Har,” kata Suster Ningsih, menepuk pipinya. “Pak Har, buka mata.”
Pakde membuka mata. Ia tersenyum lemah pada Suster Ningsih.
“Sus,” katanya. “Kok kamu cantik hari ini?”
“Pak Har, ini bukan waktunya gombal!”
Tekanan darahnya naik lagi setelah setengah jam. Tapi dokter jaga tidak mengizinkannya pulang. Observasi semalam, katanya. Kalau besok pagi stabil, boleh pulang.
Pakde protes. Ia bilang ia baik-baik saja. Ia bilang ia mau tidur di kamarnya sendiri, di dipan kayu dengan kipas angin yang batuk. Ia bilang rumah sakit dinginnya tidak enak.
Dokter tidak peduli. Suster Ningsih apalagi.
Jadi pukul tiga sore, aku pulang sendiri ke rumah untuk mengambil baju ganti dan sarung cokelat Pakde. Dimas tinggal menemaninya.
Langit Bekasi mulai gelap ketika aku naik angkot. Mendung tebal menggantung di atas jalan raya, berwarna abu-abu kebiruan seperti memar. Ketika aku turun di depan pasar, gerimis mulai turun.
Ketika aku sampai di mulut gang, gerimis itu sudah jadi hujan.
Aku melihat Lexus itu sebelum aku melihat yang lain.
Hitam. Berkilau di bawah hujan. Terparkir di depan toko kelontong yang buka dua puluh empat jam, di tempat yang sama seperti hari Sabtu.
Aku berhenti di trotoar.
Air hujan jatuh di kepalaku, di bahuku, di tas berisi botol minum Pakde yang kosong. Aku tidak membuka payung. Aku lupa aku punya payung.
Pak Darman berdiri di pangkalan ojek dengan jas hujan plastik berwarna biru. Ia melihatku. Ia tidak berteriak calon! seperti biasa. Ia hanya menunjuk ke arah gang dengan dagunya.
“Dari jam dua belas, Wi,” katanya pelan. “Belum keluar.”
Aku berjalan masuk ke gang.
Burung beo Bu Ani tidak berteriak. Mungkin karena hujan. Mungkin karena ia juga tahu.
Kucing-kucing berlindung di bawah atap seng. Selokan sudah penuh air yang mengalir deras berwarna cokelat. Aku berjalan di pinggirnya dengan sepatu yang sudah basah sampai ke kaus kaki.
Lalu aku berhenti di depan rumah.
Ga duduk di teras.
Bukan di kursi plastik tempat Pakde biasa duduk. Bukan di bangku panjang warung. Ia duduk di anak tangga teras, di bagian paling bawah, yang tidak terlindung atap. Hujan jatuh langsung di atasnya.
Kemeja putihnya basah kuyup. Kemeja putih yang sama dengan yang ia pakai di kondangan, aku mengenalinya dari kerahnya. Kain itu menempel di bahunya, di punggungnya, transparan di beberapa tempat. Rambutnya yang biasanya disisir rapi ke belakang sekarang jatuh ke dahinya, basah, meneteskan air ke wajahnya.
Ia tidak bergerak.
Ia duduk dengan siku di lutut, kepala sedikit menunduk, dan di tangannya, di pangkuannya, ada sesuatu yang ia pegang dengan kedua tangan. Seperti memegang mangkuk soto. Seperti memegang sesuatu yang berharga.
Sepasang sandal jepit.
Hitam. Besar. Karetnya retak-retak. Satu talinya diganti tali rafia biru.
Aku tidak bisa bernapas.
Ibu berdiri di ambang pintu warung, di balik tirai plastik yang dipasang untuk menahan hujan. Ia melihatku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, sangat pelan, seperti bilang sudah dari tadi, Wi. Ibu sudah suruh masuk. Dia nggak mau.
Aku berjalan ke teras.
Aku berhenti satu meter di depannya. Di bawah hujan. Sama-sama basah.
“Ga.”
Ia mengangkat kepala.
Wajahnya.
Aku sudah melihat wajah itu dalam banyak keadaan. Di pagar, ketika ia menunjuk rumah sebelah dan bilang aku salah alamat. Di ruang kerja, ketika stetoskop di dadanya mendengar seratus tiga puluh delapan. Di balkon, di bawah cahaya bulan, ketika ia bilang saya cinta sama kamu pada pagar besi tempa. Di ruang kerja hari Minggu, ketika ia tidak mau menoleh.
Aku belum pernah melihat wajah ini.
Matanya merah. Bengkak. Bukan karena hujan. Hujan tidak membuat mata bengkak seperti itu. Bibirnya pucat dan sedikit gemetar karena dingin. Pipinya basah, dan aku tidak bisa membedakan mana air hujan dan mana yang bukan.
Tapi yang paling membuatku tidak bisa bernapas adalah cara ia menatapku.
Ia tidak membuang muka.
Ia menatapku lurus. Dari bawah. Dari anak tangga teras, di bawah hujan, dengan sandal jepit hitam di pangkuan. Ia menatapku seperti anak kecil yang sudah lama sekali menunggu di depan pintu, dan akhirnya melihat seseorang datang.
“Wi,” katanya.
Suaranya serak. Seperti orang yang sudah lama tidak bicara. Atau sudah terlalu banyak menangis.
Aku tidak bisa menjawab.
“Kamarnya,” katanya. “Aku masuk. Bu Sumi yang buka pintu.”
Aku mengangguk.
“Aku lihat dindingnya.” Ia menelan ludah. “Fotonya. Yang paling bawah. Yang kamu ambil hari Senin.”
Air mataku jatuh. Bercampur dengan hujan.
“Dia tulis akhirnya ketawa,” bisik Ga.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Dan ini.” Ia mengangkat sandal jepit hitam itu sedikit dari pangkuannya. Air hujan menetes dari karetnya yang retak. “Di bawah dipan. Bu Sumi bilang dia nggak pernah pakai lagi. Dua puluh tahun. Dia bilang ini sandal buat pulang.”
Suaranya pecah di kata terakhir.
“Biar anakku kenal,” bisiknya.
Hujan turun lebih deras.
Air dari atap seng teras mengalir seperti tirai di belakangku, membentuk dinding air yang memisahkan kami dari dunia. Dari gang. Dari burung beo Bu Ani. Dari selokan yang meluap. Dari warung Ibu dengan tirai plastik.
Hanya kami. Aku berdiri di bawah hujan, Ga duduk di anak tangga di bawah hujan, sandal jepit hitam di pangkuannya.
“Dia di mana?” tanya Ga.
“Rumah sakit.”
Wajahnya berubah. “Bu Sumi bilang pulang jam lima.”
“Tensinya turun waktu cuci darah. Dokter suruh observasi semalam.” Aku menelan ludah. “Dia baik-baik aja, Ga. Udah stabil. Cuma… cuma belum boleh pulang.”
Ga menatapku lama.
Lalu ia berdiri. Pelan. Seperti orang yang sudah duduk terlalu lama dan lupa cara berdiri. Lututnya sedikit goyah. Ia berdiri di anak tangga teras, di bawah hujan, lebih tinggi dariku karena anak tangga itu, dengan sandal jepit hitam di satu tangan.
“Wi,” katanya.
“Iya.”
“Antar aku ke dia.”
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.
Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami bergerak bersamaan, seperti dua orang yang sudah terlalu lama berdiri di dua sisi sungai dan akhirnya melompat di saat yang sama.
Aku hanya tahu bahwa tiba-tiba aku sudah di pelukannya.
Basah. Canggung. Dingin. Kemejanya yang basah kuyup menempel di pipiku. Rambutnya yang basah meneteskan air ke leherku. Sandal jepit hitam di tangannya menekan punggungku, karetnya yang keras dan dingin. Lengannya melingkar di bahuku, terlalu erat, terlalu kaku, seperti seseorang yang tidak tahu cara memeluk tapi tetap mencoba.
Aku memeluknya balik. Pinggangnya. Punggungnya yang basah. Aku menyembunyikan wajahku di dadanya, di kemeja yang Tante Merry pilih, yang sekarang basah dan bau hujan dan bau minyak angin dari kamar belakang.
Jantungnya berdetak di telingaku. Cepat. Selalu cepat.
Kami berdiri seperti itu di depan warung Ibu, di bawah hujan yang turun seperti dinding, dengan air dari atap seng yang mengalir di sekeliling kami.
Ini bukan pelukan rekonsiliasi. Aku tahu itu. Ia belum memaafkanku. Aku belum memaafkan diriku sendiri. Ada terlalu banyak hal yang belum dikatakan. Terlalu banyak nanti dan minggu depan dan jangan bilang siapa-siapa. Terlalu banyak lima belas detik menatap pohon mangga.
Ini pelukan dua orang yang sama-sama kedinginan. Yang sama-sama sudah terlalu lama sendirian di dalam rahasia orang lain.
“Wi,” bisiknya di atas kepalaku.
“Hm.”
“Aku masih marah.”
“Aku tahu.”
“Sama kamu. Sama dia. Sama Mama. Sama Mbok Darmi.” Napasnya bergetar. “Sama aku sendiri.”
“Aku tahu, Ga.”
“Tapi aku capek marah.”
Aku memejamkan mata dan memeluknya lebih erat.
“Dua puluh enam tahun,” bisiknya. “Aku capek.”
Dari balik tirai plastik warung, terdengar suara.
“Masuk! Masuk dulu! Ganti baju! Kalian mau sakit dua-duanya?”
Ibu berdiri di ambang pintu dengan sendok sayur di tangan. Wajahnya merah, setengah marah, setengah menangis.
“Nak Arga! Dari jam dua belas kamu duduk di situ! Ibu sudah bilang masuk! Ibu sudah bilang tunggu di dalam! Kamu nggak dengar!” Sendok sayur itu berayun. “Sekarang masuk! Ibu ambilin handuk! Ibu ambilin kaus Dimas! Ibu bikinin teh jahe!”
Ga melepaskan pelukan, pelan. Ia menatap Ibu. Ia menatapku. Ia menatap sandal jepit hitam di tangannya.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku melihatnya di anak tangga teras, ia tersenyum. Kecil. Lelah. Basah.
“Iya, Bu,” katanya.
Ibu memberinya handuk dan kaus Dimas yang terlalu kecil. Kaus oblong putih dengan sablon logo bengkel Jaya Motor di dada. Lengannya terlalu pendek. Bahunya terlalu sempit. Ga memakainya dengan celana kain abu-abunya yang masih basah, dan ia terlihat seperti laki-laki yang tersesat dari dua dunia yang berbeda.
Ibu membuatkan teh jahe yang terlalu kental dan terlalu manis. Ga meminumnya sampai habis di bangku panjang warung, dengan dua tangan memegang gelas.
Seperti Pakde.
Ibu melihat itu juga. Aku tahu dari cara ia berbalik cepat-cepat ke panci soto, dan dari bahunya yang bergetar sebentar.
Sandal jepit hitam itu ia taruh di bangku di sebelahnya. Tidak jauh. Tangannya sesekali menyentuhnya, seperti memastikan sandal itu masih di sana.
“Rumah sakitnya di mana?” tanyanya padaku.
“Rumah sakit daerah. Dua puluh menit naik angkot.”
“Kita naik mobil.”
“Ga, kamu masih basah.”
“Aku nggak peduli.” Ia menatapku. “Wi. Aku sudah dua puluh enam tahun nggak ketemu dia. Aku nggak mau nunggu besok.”
Aku menatapnya. Lalu menatap Ibu. Ibu menatapku balik, dan mengangguk sekali.
“Pakai payung,” kata Ibu. “Bawa sarungnya Pakde. Yang cokelat. Sama sisir. Dia mau rapi kalau ada yang jenguk.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya berdiri dan mengambil tas.
Hujan masih turun ketika kami berjalan keluar dari gang.
Aku membuka payung lipat. Ga mengambilnya dari tanganku dan memegangnya di atas kepala kami berdua. Payung itu terlalu kecil. Bahuku basah di satu sisi. Bahunya basah di sisi lain. Kami berjalan berdempetan di pinggir selokan yang meluap, dengan sandal jepit hitam di tangan Ga yang bebas.
Burung beo Bu Ani berteriak maling! maling! dari balik jendela.
Ga berhenti dan menoleh ke arah burung itu.
“Dia teriak ke semua orang?” tanyanya.
“Semua orang.”
“Ke Pakde kamu juga?”
Aku menatapnya.
“Ke Pakde juga,” kataku. “Dua puluh tahun. Tiap pagi. Pakde selalu balas, iya, iya, aku malingnya.”
Ga diam sebentar.
Lalu ia tertawa. Kecil. Pendek. Tawa yang pecah di tengah, seperti tawa yang tidak yakin ia boleh keluar.
“Iya, iya,” katanya pada burung beo itu, pelan. “Aku malingnya.”
Burung beo itu diam. Lalu, setelah beberapa detik, ia berteriak lagi. Maling! Maling!
Ga tersenyum, dengan mata yang basah dan bukan karena hujan, dan kami berjalan terus ke mulut gang.
Di depan toko kelontong, Pak Darman membukakan pintu penumpang Lexus untukku dengan jas hujan plastik biru yang meneteskan air.
“Hati-hati, Wi,” katanya. “Hati-hati, Calon.”
Ga masuk ke kursi pengemudi. Ia menaruh sandal jepit hitam di dasbor, di atas laci konsol tengah, di tempat buku cokelatnya biasa tinggal.
Ia menyalakan mesin.
Tapi ia tidak langsung melaju.
Ia duduk di sana dengan tangan di setir, menatap hujan di kaca depan, dengan wiper yang belum dinyalakan. Air hujan mengalir di kaca seperti tirai.
“Wi,” katanya.
“Hm.”
“Sebelum kita ke sana.” Ia tidak menoleh. “Ada yang mau aku bilang.”
Aku menunggu.
Ia mematikan mesin.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras reading
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala