Chapter Seven
Arisan
POV: Arga
Mama memintaku pulang jam tiga sore hari Rabu, dan aku sudah tahu sejak awal ini jebakan.
“Arisan, Ga,” katanya di meja sarapan, sambil mengoles mentega ke roti dengan semangat seseorang yang sedang merencanakan kudeta. “Giliran Mama jadi tuan rumah. Kamu harus ada.”
“Ma, aku ada rapat koordinasi struktur jam dua.”
“Pindahin.”
“Itu rapat dengan tiga konsultan.”
“Pindahin, Ga. Tante Merry, Bu Lies, sama Bu Nining sudah tanya-tanya kamu terus. Malu Mama kalau kamu nggak muncul. Dikira Mama nggak punya anak.”
“Mama punya anak. Mereka tahu.”
“Dikira anaknya sombong.”
Aku melirik Dewi, yang duduk di sebelah Mama sambil menuangkan teh. Ia tidak menatapku. Ia sangat sibuk dengan teko. Tapi lesung tipis di pipi kirinya muncul, dan bertahan di sana dengan sangat menyebalkan.
“Jam empat,” kataku akhirnya.
“Jam tiga.”
“Jam tiga tiga puluh.”
Mama menatapku. Lalu ia menatap Dewi. “Wi, anak ini dari kecil suka nawar.”
“Iya, Bu. Saya sudah tahu,” kata Dewi, masih tidak menatapku. “Jam berapa pun yang Bapak sebut, Ibu tinggal kurangi setengah jam. Nanti ketemu di tengah.”
Mama tertawa puas. Aku menatap rotiku.
Jam tiga tiga puluh. Sudah diputuskan oleh dua perempuan, tanpa aku.
Aku tiba pukul tiga lewat dua puluh delapan, dan langsung tahu bahwa insting bisnisku benar.
Tiga mobil terparkir di depan rumah. Di ruang tamu, di atas sofa yang biasanya hanya dipakai Mama untuk menonton acara masak, duduk tiga perempuan paruh baya berkebaya dan tiga perempuan muda dengan dandanan yang terlalu sempurna untuk acara arisan hari Rabu sore.
Tante Merry, sahabat Mama sejak pengajian, memakai kebaya ungu dan perhiasan emas yang berkilau seperti lampu sorot. Bu Lies, bertubuh kurus dengan kacamata berbingkai merah, adalah satu-satunya yang tidak tersenyum. Ia jarang tersenyum. Mama pernah bilang Bu Lies tersenyum terakhir kali waktu harga emas naik tahun 2011. Dan Bu Nining, bulat dan ramah, dengan tiga kotak kue di pangkuannya, tidak pernah datang ke mana pun tanpa kue.
Di sebelah masing-masing tante, duduk seorang keponakan.
“Arga!” Tante Merry berdiri dan memelukku dengan aroma parfum yang bisa membius kuda. “Ya ampun, makin ganteng. Makin sukses. Makin sibuk. Tante sampai harus nunggu arisan buat lihat kamu.”
“Apa kabar, Tante.”
“Baik, baik. Ini, kenalin, keponakan Tante. Sheila. Dokter gigi. Baru buka praktik di Kemang.”
Seorang perempuan berambut pendek berdiri dan menyalamiku dengan senyum yang menunjukkan gigi yang sangat, sangat putih. Tentu saja.
Bu Nining tidak mau kalah. “Ini Putri, ponakan Ibu. Notaris. Kantornya di Sudirman.”
Putri, berkacamata dan bersanggul rapi, menyalamiku dengan genggaman yang profesional.
Lalu Bu Lies, tanpa berdiri, tanpa tersenyum, menunjuk perempuan di sebelahnya dengan dagu. “Vanya. Ponakan saya. Influencer.”
Vanya melambaikan tangan dengan kuku panjang berwarna pastel. “Halo, Kak Arga. Aku sering lihat Kakak di LinkedIn.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa pada kalimat itu. Jadi aku hanya mengangguk.
Mama, duduk di kursi tunggal di ujung ruangan, tersenyum dengan wajah tidak berdosa. Tapi aku melihat matanya berbinar jahil. Ibuku yang sedang belajar lupa ternyata tidak lupa cara menjodohkan anaknya.
Aku duduk di satu-satunya kursi kosong, di tengah-tengah lingkaran itu, seperti terdakwa di depan tiga hakim dan tiga saksi.
Lalu interogasinya dimulai.
“Arga sekarang proyeknya apa?”
“Rumah sakit di BSD, Tante.”
“Wah, rumah sakit. Sheila dokter gigi, lho. Satu bidang.”
“Bukan satu bidang, Merry. Rumah sakit itu bangunan. Sheila itu gigi.”
“Sama-sama kesehatan, Lies.”
“Arga sudah punya rumah berapa?”
“Tiga, Bu.”
“Putri bisa bantu urus sertifikatnya. Notaris.”
“Kak Arga, boleh nggak aku bikin konten di rumah Kakak? Estetiknya bagus banget, lho.”
Aku menatap jam dinding. Pukul tiga lewat tiga puluh enam. Baru delapan menit. Aku sudah memimpin negosiasi tender ratusan miliar yang lebih santai dari ini.
Lalu pintu dapur terbuka.
Dewi keluar membawa nampan teh.
Ia masih memakai seragam putihnya, dengan rambut dicepol rapi di tengkuk. Tidak ada riasan. Tidak ada perhiasan. Nampan itu berisi tujuh cangkir teh melati yang mengepul, ditata rapi di atas kain renda yang mungkin ia temukan di lemari Mama.
Ia berjalan pelan, hati-hati menjaga keseimbangan nampan. Cahaya sore dari jendela besar ruang tamu jatuh menyilang di wajahnya. Beberapa helai rambut lolos dari cepolan dan melengkung di sisi pipinya. Bulu matanya menunduk, fokus ke cangkir-cangkir di nampan. Lesung tipis di pipi kirinya tidak muncul, karena ia sedang tidak tersenyum. Ia sedang bekerja.
Dan tetap saja, ia terlihat seperti seseorang yang sengaja ditaruh di situ oleh sutradara film.
Ruangan itu diam.
Bukan diam sopan. Diam yang total. Tante Merry berhenti di tengah kalimat soal sertifikat. Bu Nining berhenti membuka kotak kue. Sheila menutup mulutnya pelan-pelan. Putri membetulkan kacamata. Vanya, yang tadi sedang memotret vas bunga di meja, menurunkan ponselnya.
Bahkan Bu Lies, yang tidak tersenyum sejak 2011, mengangkat alis.
Dewi meletakkan nampan di meja, membungkuk sedikit, dan mulai menyajikan teh satu per satu. Ia menyerahkan cangkir pertama pada Tante Merry dengan dua tangan.
“Silakan, Bu. Tehnya masih panas.”
“Te… terima kasih, Nak.”
Cangkir kedua untuk Bu Nining. Ketiga untuk Bu Lies. Keempat, kelima, keenam untuk para keponakan, yang menerimanya dengan ekspresi seperti peserta lomba yang baru melihat juara bertahan masuk ke ruangan.
Cangkir terakhir untukku.
Dewi berhenti di depan kursiku. Ia membungkuk sedikit, menyerahkan cangkir itu, dan untuk sepersekian detik matanya bertemu mataku. Ada kilat kecil di sana, kilat yang hanya untukku, yang bilang Bapak kelihatan seperti orang yang sedang disandera.
Aku mengambil cangkir itu. Jari-jari kami bersentuhan sebentar.
Aku menatap tehnya.
“Ratih,” kata Tante Merry pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari Dewi yang kini sedang menata kue-kue Bu Nining di piring saji. “Itu siapa?”
“Itu Dewi,” kata Mama dengan bangga, seolah memperkenalkan anak perempuannya sendiri. “Perawat Ratih. Suster Cantik.”
“Perawat?” Bu Nining mengedipkan mata. “Perawat sungguhan?”
“Perawat VIP,” kata Mama. “Kliennya mantan menteri.”
“Ya Allah,” bisik Tante Merry. “Bidadari pakai stetoskop.”
Bu Lies menyesap tehnya dengan lambat. Lalu, untuk pertama kalinya sejak 2011, sudut bibirnya bergerak ke atas.
“Ratih,” katanya datar. “Kamu sengaja.”
“Sengaja apa, Lies?”
“Kamu undang kami semua bawa keponakan, padahal di rumahmu sudah ada yang begini.”
Mama tersenyum dengan wajah yang sangat tidak berdosa. “Ratih nggak ngerti maksudmu, Lies.”
Dewi, yang sedang menuang air ke gelas, berhenti sebentar. Pipinya memerah. Ia menunduk, cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, dan kembali ke dapur dengan nampan kosong.
Begitu pintu dapur tertutup, ruangan meledak.
“Ratih, itu berapa umurnya?”
“Sudah punya pacar?”
“Asalnya dari mana?”
“Arga sudah kenal lama?”
“Kok kamu nggak bilang-bilang, Ratih!”
Tiga keponakan itu saling pandang. Sheila menyesap tehnya dengan wajah orang yang menerima kekalahan dengan anggun. Putri membuka ponsel dan mulai mengetik sesuatu, mungkin membatalkan rencana. Vanya menatap pintu dapur dengan mata menyipit, lalu berbisik, “Itu kalau aku posting, bisa viral.”
“Jangan,” kataku.
Suaraku keluar lebih tajam dari yang kumaksud. Vanya menatapku, terkejut. Tiga tante menatapku. Mama menatapku dengan senyum yang perlahan melebar.
“Maksud saya,” kataku, melunakkan suara, “dia sedang bekerja. Privasi pasien. Dan privasi perawat.”
“Oh,” kata Vanya. “Oke, Kak.”
Tante Merry menatapku lama. Lalu ia menatap Bu Lies. Lalu Bu Nining. Lalu ketiganya saling pandang dengan cara yang sangat, sangat berbahaya, cara yang biasanya dipakai perempuan-perempuan arisan sebelum mereka memutuskan sesuatu yang akan mengubah hidup seseorang.
“Arga,” kata Tante Merry pelan, dengan suara yang tiba-tiba sangat manis. “Kamu kok tadi nggak berani lihat Dewi?”
“Saya lihat.”
“Kamu lihat cangkir.”
“Cangkirnya cantik, Tante.”
“Ya Allah, Ratih,” Bu Nining menepuk lutut Mama. “Anakmu malu-malu kucing.”
Mama tertawa. “Dari SMP begitu. Ada anak namanya Rini—”
“Ma.”
“—dua tahun dia lihat sepatu.”
Ketiga tante tertawa terbahak-bahak. Ketiga keponakan, yang kini sudah resmi pensiun dari kompetisi, ikut tertawa. Bahkan Bu Lies, yang tidak tersenyum sejak 2011, mengeluarkan suara yang mungkin bisa disebut tawa.
Lalu Tante Merry mencondongkan tubuh ke depan dan mengubah strategi dengan kecepatan yang akan membuat jenderal perang iri.
“Ratih. Kita jodohin aja.”
“Merry!”
“Serius. Sudah di rumah. Sudah kenal Ibu. Sudah cantik. Sudah pinter. Apa lagi?”
“Saya setuju,” kata Bu Nining sambil membuka kotak kue ketiga. “Arga butuh orang yang bisa bikin dia makan.”
“Dewi bisa bikin dia makan,” kata Mama dengan bangga. “Sekarang makan malamnya teratur. Jam tujuh. Nggak boleh bawa ponsel.”
“Ya Allah, sudah diatur-atur,” kata Tante Merry. “Itu sudah setengah istri, Ratih.”
Aku berdiri.
“Saya ambil gula dulu,” kataku pada udara.
“Tehnya sudah manis, Arga.”
“Saya suka manis sekali, Tante.”
Aku berjalan ke dapur dengan langkah secepat yang masih bisa disebut sopan.
Dapur sepi. Mbok Darmi sedang di belakang, menjemur serbet. Satu-satunya orang di dapur adalah Dewi, yang berdiri membelakangiku di depan bak cuci, mencuci nampan dengan bahu yang bergetar.
Ia sedang tertawa. Tanpa suara.
“Kamu dengar semuanya,” kataku.
Dewi berbalik. Matanya berair, wajahnya merah, dan ia menutup mulut dengan punggung tangannya yang basah. “Dinding dapur ini tipis, Pak.”
“Saya akan bangun yang lebih tebal.”
“Untuk apa? Biar saya nggak dengar Bapak suka manis sekali?”
Aku tidak menjawab. Aku bersandar di meja dapur dan menatap kulkas. Magnet stroberi itu masih di sana, menahan jadwal rumah dengan garis bawah tiga kali.
Dewi mengeringkan tangannya dengan serbet. Lalu, pelan, ia berjalan mendekat.
Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti tepat di sebelahku, ikut bersandar di meja dapur, cukup dekat sehingga lengan kami hampir bersentuhan. Wangi sabun bayi dan melati itu datang lagi. Aku merasakan jantungku melonjak, persis seperti di pagar hari Senin itu, persis seperti di kantor dengan papan tulis permanen, persis seperti setiap kali ia terlalu dekat.
“Pak Arga,” katanya pelan.
“Hm.”
“Mereka masih di sana. Kalau Bapak balik ke ruang tamu, mereka pasti tanya-tanya soal saya.”
“Saya tahu.”
“Bapak mau jawab apa?”
“Saya akan bilang kamu perawat Mama. Profesional. Tidak ada apa-apa.”
“Oh.” Ia diam sebentar. “Tapi mereka nggak akan percaya, Pak. Bapak tadi bilang ‘jangan’ ke Mbak Vanya dengan suara seperti mau membatalkan kontrak.”
Aku memejamkan mata. “Kamu dengar itu juga.”
“Seluruh kompleks dengar, Pak.”
Hening sebentar. Dari ruang tamu terdengar tawa tiga tante dan suara Mama yang sedang menceritakan sesuatu tentang aku umur tujuh tahun. Aku tidak mau tahu cerita yang mana.
Lalu Dewi bergerak.
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arahku. Sedikit saja, sampai bahunya menyentuh lenganku, sampai aku bisa merasakan hangatnya lewat kain kemeja. Lalu ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telingaku, dan berbisik dengan suara rendah yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Suara yang bukan suara perawat, bukan suara orang yang sedang bekerja. Suara seorang perempuan dua puluh tujuh tahun yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
“Kalau mereka tanya,” bisiknya, “saya bilang Bapak sudah ada yang punya, ya?”
Napasnya hangat di telingaku.
Aku membeku. Seluruh tubuhku. Seperti seseorang menekan tombol pause di dadaku dan lupa menekan play lagi.
Dewi menarik diri, perlahan, kembali ke posisi semula. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menatapku dari samping, dengan mata teduh yang sekarang tidak teduh sama sekali, menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Aku menatapnya.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa. Mungkin karena terlalu kaget untuk ingat bahwa aku tidak bisa. Tapi aku menatap matanya, dan ia menatap balik, dan untuk tiga detik penuh, aku tidak membuang muka ke kulkas atau magnet stroberi atau jendela.
Lalu, di detik keempat, ia yang tersenyum duluan. Lesung di pipi kirinya muncul, dalam sekali.
Dan aku kalah lagi. Aku menatap bak cuci.
“Siapa,” kataku pada bak cuci, dengan suara yang keluar terlalu serak, “yang punya saya?”
Dewi tertawa kecil. Ia mengambil nampan bersih dan berjalan ke arah pintu dapur.
“Itu nanti kita pikirkan, Pak,” katanya tanpa menoleh. “Sekarang Bapak balik dulu ke ruang tamu. Ambil gulanya. Nanti Tante Merry curiga.”
Pintu dapur terbuka dan tertutup.
Aku berdiri sendirian di dapur dengan telinga yang terbakar dan jantung yang belum juga ditekan play.
Lalu aku sadar aku harus kembali ke ruang tamu. Membawa gula.
Aku mengambil toples gula pasir dari rak. Toples itu kosong. Mbok Darmi lupa mengisinya.
Aku kembali ke ruang tamu dengan toples gula kosong di tangan, dan tiga tante langsung tahu segalanya.
Malamnya, Teddy mengirim pesan.
Teddy: Pak, saya dapat kabar dari Bu Merry.
Aku: Bagaimana Bu Merry bisa punya nomor kamu?
Teddy: Bapak pernah suruh saya kirim parsel Lebaran ke beliau Pak. Sejak itu beliau suka WA saya.
Teddy: Pak, beliau bilang Bapak bawa toples gula kosong ke ruang tamu.
Teddy: Dan muka Bapak merah.
Teddy: Saya mau konfirmasi Pak. Untuk dokumentasi.
Aku: Tidak ada komentar.
Teddy: Baik Pak. Saya catat sebagai “ya”.
Teddy: Oh iya Pak. Bu Merry juga titip pesan.
Teddy: Katanya, “Bilang ke Arga, Tante dukung. Tapi jangan kelamaan. Yang begitu cepat diambil orang.”
Aku menaruh ponsel di meja dan menatap langit-langit kamar.
Pukul sepuluh lewat dua puluh delapan. Dua menit lagi lampu harus mati.
Di lantai bawah, dari kamar tamu, terdengar suara pelan seseorang bersenandung. Suaranya rendah dan hangat. Aku tidak mengenali lagunya.
Aku mematikan lampu dua menit lebih awal, hanya supaya bisa mendengarnya dalam gelap.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan reading
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala