Chapter Thirty Five
Yayasan Pelita
POV: Arga
Dimas menunggu di depan pintu bangsal.
Ia berdiri di lorong rumah sakit dengan kemeja yang kancingnya lengkap, kemeja yang sama dari hari Sabtu, dan mata yang bengkak. Ia melihat kami datang dari ujung lorong. Aku dengan kaus Jaya Motor yang terlalu kecil dan celana kain yang masih basah. Dewi dengan rambut yang menempel di pipi dan tas berisi sarung cokelat.
Dimas tidak berkata apa-apa.
Ia berjalan ke arahku dan memelukku. Seperti di carport hari Jumat lalu, waktu aku bilang suatu hari nanti. Erat. Dengan bau oli dan keringat dan obat rumah sakit.
“Bang,” bisiknya di bahuku.
Aku menepuk punggungnya dua kali.
Ketika ia melepaskan pelukannya, ia menatapku dengan wajah yang sangat serius. “Bang. Pakde lagi tidur. Tadi sempat bangun, nanya Kak Wi. Aku bilang lagi ambil baju.” Ia menelan ludah. “Aku nggak bilang Abang datang.”
“Terima kasih, Dim.”
“Bang.” Dimas menahan lenganku sebelum aku masuk. “Pakde… beda sama di foto, Bang. Sama yang di kepala Abang. Jangan kaget.”
Aku mengangguk.
Lalu aku masuk.
Bangsal kelas tiga itu panjang dan sempit, dengan delapan ranjang berderet di dua sisi dan tirai hijau pudar yang setengah tertutup di antara masing-masing. Bau antiseptik dan nasi rumah sakit dan sesuatu yang lain, sesuatu yang manis dan berat, bau orang-orang yang sudah terlalu lama sakit.
Di ujung bangsal, di ranjang dekat jendela, seorang laki-laki tua tertidur.
Aku berhenti di kaki ranjangnya.
Dimas benar. Ia berbeda.
Laki-laki di ranjang itu kurus. Sangat kurus. Tulang pipinya menonjol di bawah kulit yang berwarna abu-abu kekuningan. Rambutnya putih, dipotong cepak seperti tentara. Ada selang oksigen di hidungnya. Ada infus di lengan kanannya. Di lengan kirinya, di bawah siku, ada benjolan yang menonjol di bawah kulit, seperti tali yang dijahit di dalam daging.
Kakinya, di bawah selimut tipis rumah sakit, bengkak. Besar. Tidak proporsional dengan tubuhnya yang kurus.
Ia tidur dengan mulut sedikit terbuka. Napasnya berat, berbunyi pelan seperti air yang mendidih jauh di dalam dadanya.
Aku tidak mengenalinya.
Aku sudah melihat dinding kliping itu. Aku sudah membaca surat-surat di kotak jahit. Aku sudah memegang sandal jepit hitamnya di pelukanku selama empat jam. Aku sudah tahu namanya. Haryanto.
Tapi aku tidak mengenali wajah ini. Wajah ini tidak ada di ingatanku. Ingatanku hanya punya suara tanpa wajah, bau kopi dan minyak mesin, tangan besar yang mengusap rambutku dalam gelap.
Aku menatapnya, dan aku menunggu sesuatu terjadi. Sesuatu di dadaku. Pengenalan. Kemarahan. Apa pun.
Tidak ada apa-apa.
Hanya seorang laki-laki tua yang sakit, tidur di ranjang rumah sakit kelas tiga, dengan selang di hidung.
Lalu aku melihat tangannya.
Tangan kanannya, yang terpasang infus, terkulai di atas selimut. Besar. Jari-jarinya panjang dan buku-bukunya menonjol. Kulitnya kasar dan kecokelatan, dengan bekas luka-luka kecil di punggung tangan. Kuku jempolnya hitam di satu sisi, bekas terjepit sesuatu yang berat, bertahun-tahun lalu.
Aku mengenali tangan itu.
Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku mengenalinya. Tangan yang mengulurkan gelas belimbing berisi kopi pahit. Tangan yang mengusap rambutku dalam gelap. Tangan yang menulis huruf g berekor panjang lima puluh dua kali.
Aku berdiri di kaki ranjang dan tidak bisa bergerak.
Ia bangun.
Pelan. Matanya terbuka setengah, menatap langit-langit, lalu menoleh ke arah jendela, lalu ke kaki ranjang.
Ia melihatku.
Matanya berhenti.
Untuk waktu yang lama, sangat lama, ia hanya menatap. Tidak bergerak. Tidak bicara. Napasnya, yang tadi berat, tiba-tiba tidak terdengar sama sekali.
Lalu matanya bergerak. Dari wajahku, turun ke kaus Jaya Motor yang terlalu kecil. Ke celana kain yang masih basah. Ke tanganku.
Ke sandal jepit hitam di tanganku.
Ia berhenti di sana lama sekali.
Lalu tangannya bergerak. Tangan kanan yang terpasang infus. Pelan, gemetar, ia mengangkatnya ke kepala dan mengusap rambutnya yang putih dan cepak. Merapikan. Seperti orang yang baru sadar ada tamu dan rambutnya berantakan.
Dewi bergerak di belakangku. Ia berjalan ke sisi ranjang, membuka tas, mengeluarkan sisir kecil, dan memberikannya ke tangan Pakde.
Ia menyisir rambutnya. Pelan. Dengan tangan yang gemetar. Rambut yang cepak dan putih itu tidak benar-benar perlu disisir. Tapi ia menyisirnya, dari depan ke belakang, tiga kali, sambil terus menatapku.
Lalu ia menyerahkan sisir itu kembali pada Dewi.
Dan ia bicara.
Suaranya berat dan serak, sangat lemah, nyaris tidak terdengar di atas suara pendingin udara dan batuk pasien di ranjang sebelah. Tapi aku mendengarnya. Aku akan mendengarnya di mana pun.
Suara yang sama. Suara tanpa wajah. Sekarang punya wajah.
“Sudah makan?”
Aku tidak bisa menjawab.
Aku berdiri di kaki ranjang dengan sandal jepit hitam di tangan, dan aku tidak bisa membuka mulut. Kata-kata yang sudah kususun di lantai kamar belakang, di anak tangga teras, di bawah hujan, semuanya hilang.
Sudah makan?
Dua puluh enam tahun. Bukan maafkan aku. Bukan kamu sudah besar. Bukan kamu benci aku? Bukan apa pun yang kubayangkan akan ia katakan, di malam-malam ketika aku duduk di ruang kerja dan berpikir apa yang akan terjadi kalau suatu hari ia berdiri di depan pagar.
Sudah makan?
Pertanyaan yang sama yang Dewi tanyakan setiap hari. Yang tertulis di kartu krem di kotak sepatu biru. Kuliah itu berat. Jangan lupa makan.
Ia menungguku menjawab. Matanya tidak lepas dari wajahku.
Aku menunduk.
Aku melangkah ke sisi ranjang. Pelan. Aku meletakkan sandal jepit hitam itu di lantai, di bawah kaki ranjangnya. Berjajar. Kiri dan kanan. Seperti di depan pintu kontrakan, dua puluh enam tahun lalu.
Ia melihat sandal itu.
“Itu jelek,” katanya pelan. “Kenapa dibawa?”
“Bu Sumi bilang,” kataku, dan suaraku keluar serak, pecah, “itu sandal buat pulang.”
Ia tidak menjawab.
Ia menatap sandal itu. Lalu, pelan, ia memalingkan wajah ke jendela. Ke langit Bekasi yang masih gelap dan basah. Ke tembok rumah sakit di seberang dengan noda bocor yang panjang.
Bahunya tidak bergetar. Ia tidak bersuara. Ia hanya menatap jendela.
Di sisi lain ranjang, Dewi menutup mulutnya dengan tangan.
Aku berdiri di sana. Satu menit. Dua menit. Tiga.
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa berdiri di sana lebih lama dan menatap laki-laki yang menatap jendela, karena aku tahu persis apa yang ia lakukan. Aku melakukannya hari Minggu. Lima belas detik. Pohon mangga.
Ia tidak membuang muka karena ia tidak mau melihatku.
Ia membuang muka karena ia tidak sanggup.
“Saya keluar dulu,” kataku.
Ia tidak menoleh.
Aku berbalik dan berjalan keluar dari bangsal, melewati delapan ranjang dan tirai hijau pudar dan pasien-pasien yang menatapku dengan mata lelah, dan aku tidak berhenti sampai aku keluar dari pintu dan duduk di kursi plastik di lorong.
Dimas duduk di sebelahku. Ia tidak berkata apa-apa.
Dari dalam bangsal, sangat pelan, hampir tidak terdengar, aku mendengar suara Dewi. Bicara. Lalu suara lain. Serak. Pecah.
Lalu suara batuk. Panjang.
Lalu diam.
Malam itu aku tidak pulang.
Aku tidur di kursi plastik di lorong rumah sakit, dengan kaus Jaya Motor dan celana kain yang akhirnya kering. Dimas pulang pukul sepuluh, membawa pesan dari Bu Sumi bahwa aku harus makan. Ia meninggalkan sebungkus nasi dan tempe orek di pangkuanku. Aku memakannya pukul sebelas, dingin, dengan tangan.
Dewi keluar dari bangsal sesekali. Ia duduk di sebelahku tanpa bicara. Lalu masuk lagi.
Pukul satu dini hari, ia keluar dan berkata pelan:
“Dia tanya, kamu sudah makan belum.”
Aku menatapnya.
“Aku bilang sudah,” kata Dewi. “Nasi tempe orek dari Ibu. Dia bilang, bagus.”
Ia kembali masuk.
Aku tidak tidur sampai subuh.
Pukul tujuh pagi hari Sabtu, aku menyetir ke Cikokol.
Dewi bertanya aku mau ke mana. Aku bilang ada satu tempat yang harus kudatangi dulu. Sebelum aku masuk lagi ke bangsal itu. Sebelum aku duduk di sisi ranjang dan bicara dengan laki-laki yang menatap jendela.
Dewi tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menyodorkan termos hijau yang Dimas bawa dari rumah, terisi kopi baru. Pahit. Gula aren. Sejumput garam.
Aku meminumnya di sepanjang tol Jakarta-Tangerang.
Rumah tua itu masih ada. Rumah dengan pagar besi yang catnya sudah mengelupas dan papan nama kecil di atasnya, hampir tidak terbaca: Yayasan Pelita. Logo lilin di sebelahnya, yang dulu kulihat di sudut setiap kartu krem, sekarang sudah pudar menjadi bayangan.
Aku mengetuk pintu.
Yang membuka seorang perempuan tua berkerudung, dengan wajah ramah dan mata yang menyipit menatapku.
“Cari siapa, Nak?”
“Pak Sobari, Bu. Saya…”
Aku berhenti. Aku tidak tahu harus memperkenalkan diri sebagai apa.
“Saya Arga,” kataku akhirnya. “Pradana. Dulu dapat beasiswa di sini.”
Perempuan tua itu menatapku lama. Lalu matanya membesar. Lalu ia menutup mulutnya dengan tangan.
“Ya Allah,” bisiknya. “Arga. Arga-nya Pak Har.”
Pak Sobari sudah delapan puluh tiga tahun.
Ia duduk di kursi rotan di teras belakang rumahnya, dengan selimut di pangkuan dan kacamata tebal di wajah. Tangannya gemetar terus, bahkan ketika diam. Tapi matanya, di balik kacamata itu, masih tajam.
Ia menatapku lama ketika istrinya membawaku ke teras.
“Kamu datang juga akhirnya,” katanya pelan.
“Bapak tahu saya akan datang?”
“Pak Har bilang kamu nggak akan datang.” Ia tersenyum, dengan gigi yang tinggal sedikit. “Dia bilang kamu terlalu sibuk lari. Saya bilang, anak yang lari pasti suatu hari capek. Dan kalau dia capek, dia akan cari tempat duduk.”
Aku duduk di kursi rotan di depannya.
“Bapak sudah tahu saya tahu?”
“Darmi telepon saya kemarin.” Pak Sobari mengangguk. “Darmi nangis. Darmi selalu nangis. Dia bilang kamu sudah tahu semuanya. Kartu. Surat. Kamar belakang.”
“Belum semuanya,” kataku.
Pak Sobari menatapku dengan mata tajam di balik kacamata tebal.
“Kamu mau tahu apa lagi, Nak?”
Aku tidak tahu harus bertanya apa. Aku datang ke sini tanpa pertanyaan. Aku datang karena ini tempat pertama yang pernah kudatangi dalam hidupku untuk mencari laki-laki yang menulis kartu-kartu itu, waktu aku kuliah, waktu Pak Sobari bilang donaturnya tidak mau dikenal.
Dan aku pulang waktu itu tanpa jawaban.
“Waktu saya datang ke sini dulu,” kataku pelan, “Bapak bilang donaturnya titip pesan. Kalau saya sudah sukses, jangan cari dia. Cari anak lain yang perlu dibantu.”
“Iya.”
“Saya lakukan itu, Pak. Lewat perusahaan. Seratus dua puluh anak setiap tahun.”
Pak Sobari tersenyum. Senyum yang sangat tua dan sangat lembut.
“Saya tahu, Nak,” katanya. “Pak Har juga tahu.”
Ia mengulurkan tangan yang gemetar ke meja kecil di sebelahnya. Di sana ada sebuah buku besar. Buku kas. Sampulnya hitam, sudah lusuh, ujung-ujungnya lunak.
“Bu,” panggilnya ke arah dalam rumah. “Ambilkan buku yang satunya.”
Istri Pak Sobari membawa buku kedua. Sama hitamnya. Sama lusuhnya.
Pak Sobari membuka buku pertama dengan tangan gemetar. Ia membalik halaman-halaman sampai ke bagian tengah, lalu menyodorkannya padaku.
Daftar nama. Dengan tulisan tangan yang rapi, tulisan guru pensiunan. Tanggal. Jumlah uang. Nama sekolah.
Arga Pradana. SMP Negeri 3 Tangerang.
Arga Pradana. SMA Negeri 1 Tangerang.
Arga Pradana. Teknik Sipil.
Dan seterusnya. Sepuluh tahun. Setiap semester. Setiap jumlah. Semuanya dari satu sumber, ditulis di kolom paling kanan dengan huruf kecil: H.
Lalu, setelah nama terakhirku, Arga Pradana, wisuda, lunas, daftar itu tidak berhenti.
Rizki Maulana. SD Negeri 2 Cikokol. H.
Siti Rahmawati. SMP Negeri 5 Tangerang. H.
Bayu Saputra. SD Negeri 2 Cikokol. H.
Nur Aini. SMK Kesehatan. H.
Nama-nama yang tidak kukenal. Empat belas nama. Sampai tahun lalu.
Semuanya dengan huruf H di kolom paling kanan.
Aku menatap buku itu lama sekali.
“Setelah kamu lulus,” kata Pak Sobari pelan, “Pak Har nggak berhenti. Dia bilang, Pak, anak saya sudah lulus. Tapi uangnya jangan berhenti. Kasih ke anak lain. Jadi dia terus kirim. Tiap bulan. Dari gaji nyetir truk. Sampai tahun lalu, waktu ginjalnya rusak dan dia nggak bisa nyetir lagi.”
Empat belas anak.
“Terakhir dia ke sini,” lanjut Pak Sobari, “waktu sebelum cuci darah pertama. Dia bawa uang terakhirnya. Buat Nur Aini, yang SMK Kesehatan. Mau jadi perawat, kayak anak angkatnya.”
Pak Sobari menatapku.
“Lalu dia bilang sesuatu,” katanya. “Dia bilang, Pak, Arga sekarang bantu seratus dua puluh anak setahun. Saya cuma empat belas. Seumur hidup.” Pak Sobari tersenyum, dengan mata yang basah di balik kacamata tebal. “Saya kalah sama anak saya, Pak. Saya senang sekali kalah.”
Aku menutup buku itu.
Aku tidak bisa membacanya lagi. Nama-nama itu mulai kabur.
Seratus dua puluh anak setiap tahun. Program yang kubuat lewat perusahaan. Program yang tidak pernah kujelaskan pada siapa pun, bahkan pada Teddy. Program yang kubuat karena seorang donatur anonim menitipkan pesan: cari anak lain yang perlu dibantu.
Aku pikir itu keputusanku. Aku pikir itu satu hal yang kulakukan sendiri. Kebaikan pertama yang kuberikan pada dunia, tanpa disuruh siapa pun, dari uangku sendiri, dari kerja kerasku sendiri.
Ternyata itu permintaan ayahku.
Ternyata ia sudah melakukannya lebih dulu. Empat belas anak. Dari gaji nyetir truk. Sementara aku melakukannya dengan seratus dua puluh, dari perusahaan dengan seratus empat puluh karyawan. Dan ia menyebutnya kalah.
Saya senang sekali kalah.
Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang membangun gedung dua puluh dua lantai. Tangan yang menandatangani kontrak satu koma dua triliun. Tangan yang menulis Jangan pernah jadi seperti Ayah dengan huruf besar-besar yang ditekan terlalu keras.
Aku tidak pernah membangun apa pun sendirian.
Sekolahku: dari dia. Kebaikanku: dari dia. Kopi pahit dengan sejumput garam yang kusukai: dari dia. Perempuan yang membuatku tidur sebelum jam sebelas: dari dia.
Bahkan kemarahanku. Dua puluh enam tahun kemarahan yang membuatku berlari dari gang sempit di Tangerang sampai ke lantai delapan belas di Kuningan.
Itu juga dari dia. Ia yang memintanya. Biar dia marah. Biar dia lari.
Semua yang kupikir kubangun sendiri, ternyata berdiri di atas fondasi yang ia tuang diam-diam, dua puluh enam tahun lalu, dan terus ia perkuat dari jauh tanpa pernah sekali pun minta dilihat.
“Satu lagi, Nak,” kata Pak Sobari.
Ia membuka buku kedua. Bukan buku kas. Album foto kecil, dengan sampul plastik yang sudah menguning.
Ia membalik halaman-halamannya sampai ke satu foto. Lalu ia melepaskannya dari kantong plastiknya dengan tangan gemetar, dan menyerahkannya padaku.
Foto berwarna. Sedikit pudar. Diambil dari jarak jauh, dari seberang jalan.
Pagar besi sebuah kampus. Di balik pagar, kerumunan mahasiswa bertoga hitam, orang tua dengan kebaya dan batik, bunga-bunga, balon. Hari wisuda.
Dan di depan pagar, di luar, di trotoar, berdiri seorang laki-laki.
Seragam sopir truk. Biru tua dengan nama perusahaan ekspedisi di dada. Topi lusuh. Sandal jepit. Kulit yang gelap terbakar matahari Pantura.
Di tangannya, setangkai bunga sedap malam. Dibungkus kertas koran.
Ia tidak menatap kamera. Ia menatap ke balik pagar. Ke arah kerumunan. Ke arah satu orang, yang di foto ini hanya terlihat sebagai titik kecil bertoga hitam, berdiri di samping seorang perempuan berkebaya dengan rambut yang belum beruban.
Aku. Dan Mama.
“Saya yang foto,” kata Pak Sobari. “Saya ikut dia ke wisudamu. Dia minta. Dia bilang mau lihat dari jauh. Dia berdiri di situ dua jam. Nggak masuk. Nggak manggil.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Bunganya,” kata Pak Sobari, “dia beli di pasar subuh-subuh. Dia mau kasih ke kamu. Tapi waktu kamu keluar dari gerbang sama ibumu, dia mundur. Sembunyi di balik pohon. Kamu lewat di depannya. Satu meter. Kamu nggak lihat dia.”
Aku menatap foto itu. Laki-laki berseragam sopir dengan bunga sedap malam dibungkus koran, menatap ke balik pagar.
Satu meter.
“Bunganya dia bawa pulang,” kata Pak Sobari pelan. “Ke truk. Dia taruh di dasbor. Sampai layu.”
Aku pulang dari Cikokol pukul sebelas siang dengan foto itu di saku kemeja, tepat di atas jantung, di tempat yang sama tempat aku menyimpan notes kuning pertama dari Dewi.
Aku tidak menyetir langsung ke Bekasi.
Aku berhenti di rest area tol. Aku duduk di mobil dengan mesin mati, di kursi pengemudi yang tidak pernah disetir siapa pun selain aku, dan menatap foto itu lagi.
Lalu aku mengeluarkan buku cokelat dari laci konsol tengah.
Aku membukanya di halaman paling belakang.
Jangan pernah jadi seperti Ayah.
Huruf besar-besar. Ditekan terlalu keras sampai kertasnya hampir sobek.
Aku menatap baris itu sangat lama.
Lalu aku menutup buku itu tanpa mencoret apa pun.
Belum. Aku belum tahu harus menulis apa sebagai gantinya.
Pukul dua siang, aku kembali ke rumah sakit.
Dokter belum mengizinkannya pulang. Kalium dalam darahnya terlalu tinggi. Satu malam lagi.
Aku masuk ke bangsal. Ia sedang tidur. Aku duduk di kursi plastik di sisi ranjangnya, dengan foto di saku kemeja, dan menunggu ia bangun.
Ia tidak bangun sampai sore. Dan aku tidak berani membangunkannya.
Pukul sembilan malam, aku tertidur di kursi tunggu di lorong. Kursi plastik oranye yang keras, dengan kepala bersandar di dinding dan kaki terjulur ke lorong. Dua malam tidak tidur akhirnya menang.
Aku tidak tahu jam berapa ketika aku setengah terbangun.
Ada seseorang yang berdiri di depanku. Aku bisa mencium wanginya, bahkan di antara bau antiseptik rumah sakit. Sabun bayi. Melati. Dan sesuatu yang baru: kopi pahit dengan sejumput garam.
Seseorang menyibak rambut dari dahiku. Pelan. Ujung jari yang hangat.
Lalu sesuatu yang lembut menyentuh keningku.
Bibir. Hangat. Menempel di keningku, tepat di tengah, di bawah garis rambut. Tidak sebentar. Lama. Satu detik. Dua. Tiga. Seperti seseorang yang sedang menghitung.
Aku tidak membuka mata. Aku pura-pura masih tidur.
Enam detik.
Bibir itu menarik diri. Aku mendengar seseorang menarik napas yang bergetar. Lalu suara bisikan, sangat pelan, hampir tidak terdengar:
“Enam detik, Ga. Sama kayak kamu.”
Langkah kaki menjauh. Pintu bangsal terbuka dan tertutup.
Aku membuka mata dan menatap lorong rumah sakit yang kosong dan berlampu neon putih.
Di keningku, masih hangat.
Di saku kemejaku, sebuah foto: laki-laki berseragam sopir dengan bunga sedap malam, berdiri satu meter dari anaknya yang tidak pernah melihatnya.
Aku memejamkan mata lagi.
Besok, pikirku. Besok dia pulang. Dan besok, aku yang menyetir.
Lalu aku berpikir lagi.
Bukan. Besok dia yang menyetir.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita reading
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala