Chapter Twenty Eight

Jangan Lihat Aku

POV: Arga

Dewi datang hari Minggu pukul sembilan pagi.

Bukan Senin. Bukan jadwalnya. Ia datang dengan KRL dan ojek, dengan koper abu-abu yang sama dan mata yang bengkak sampai kelopaknya hampir menutup. Pak Jono membukakan gerbang dengan ragu-ragu, menatap ke arah rumah, lalu menatap Dewi, lalu membukanya juga.

Aku melihatnya dari jendela ruang kerja.

Aku sudah mandi. Aku sudah berganti kemeja. Aku sudah menyisir rambut ke belakang. Aku sudah duduk di kursi kerja sejak pukul enam pagi, setelah keluar dari garasi dengan punggung yang kaku dan mata yang perih, dan aku belum melakukan apa pun selain menatap lima puluh dua kartu krem yang masih berjajar di meja.

Aku tidak membereskannya. Aku tidak tahu kenapa.

Dari lantai bawah, aku mendengar suara Mama.

“Suster Cantik! Kok hari Minggu? Kamu kangen Ibu, ya?”

Lalu suara Dewi. Pelan. Bergetar. “Iya, Bu. Kangen.”

“Matamu kenapa? Bengkak.”

“Kurang tidur, Bu.”

“Kamu begadang? Siapa yang begadangin kamu? Arga?”

Diam.

Lalu langkah kaki di tangga. Pelan. Satu-satu. Anak tangga ketujuh berderit.

Ketukan di pintu ruang kerja.

Dua kali.

Aku tidak menjawab.

Pintu terbuka.


Dewi berdiri di ambang pintu.

Ia tidak memakai seragam. Ia memakai kaus abu-abu dan celana jins yang sudah pudar, dengan rambut yang diikat asal-asalan di tengkuk, beberapa helai lepas dan menempel di pipinya yang basah. Tidak ada riasan. Tidak ada anting. Hanya jam tangan perak kecil yang sama.

Wajahnya pucat. Matanya merah dan bengkak. Bibirnya pecah-pecah, seperti seseorang yang terlalu banyak menggigitnya.

Ia menatapku. Lalu menatap meja.

Lima puluh dua kartu krem, berjajar rapi di bawah lampu meja yang menyala.

Napasnya tertahan.

“Ga,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Ga, aku—”

“Suster Dewi.”

Ia berhenti.

Aku melihat kata itu menghantamnya. Seperti tamparan. Suster Dewi. Bukan Wi. Bukan Dewi. Bukan Sayang, yang kukatakan tidak sengaja di depan Mama tiga hari lalu dan membuatku ingin bersembunyi di bawah meja makan.

Suster Dewi. Seperti perawat dari agensi. Seperti Bu Yati, yang datang setiap Sabtu dan Minggu dengan seragam yang disetrika licin.

“Silakan duduk,” kataku.

Ia tidak duduk. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan menggenggam ujung kausnya.

“Ga, tolong. Aku mau jelasin.”

“Silakan.”

“Dari awal. Semuanya. Kamu janji dengerin sampai—”

“Berapa?”

Dewi berhenti.

“Berapa dia bayar kamu untuk ini?”


Ruangan sunyi.

Aku melihat wajahnya berubah. Dari pucat ke putih. Dari putih ke sesuatu yang tidak punya warna. Tangannya yang menggenggam ujung kaus melepaskannya, perlahan, dan jatuh lemas di sisi tubuhnya.

“Nggak pernah,” bisiknya.

“Sopir truk,” kataku. Suaraku datar. Tenang. Suara yang kupakai untuk menolak kontraktor yang mencoba menipu. “Gajinya berapa? Tiga juta? Empat? Dia biayai sekolahku sepuluh tahun. Dia biayai kuliahmu. Dia bayar kamar sewaan. Dia bayar cuci darah tiga kali seminggu.” Aku menatap kartu-kartu di meja. “Pasti ada sisa. Pasti dia kasih kamu sesuatu. Supaya kamu mau datang ke sini. Ke rumah orang yang nggak kamu kenal. Buat jaga perempuan yang dia tinggalin.”

“Dia nggak pernah kasih aku apa-apa, Ga.”

“Lalu kenapa kamu mau?”

“Karena dia yang minta.”

“Dan kamu selalu nurut apa pun yang dia minta.”

“Dia yang bawa jenazah ayahku pulang!” Suaranya pecah. Keras. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Dewi berteriak. “Dia yang gali kubur ayahku! Dia yang duduk di teras tiga malam supaya Ibu nggak merasa rumah kosong! Dia yang bayar kuliahku dari gaji nyetir truk di Pantura, dua puluh jam sehari, tidur di kabin! Dia yang nyanyiin aku lagu tiap malam waktu aku nggak bisa tidur habis ayahku meninggal!”

Ia menangis sekarang. Tidak tertahan. Air mata mengalir deras di pipinya yang pucat.

“Dia minta satu hal dari aku, Ga. Satu. Seumur hidup. Jaga ibumu. Jaga kamu.” Ia menatapku dengan mata yang hancur. “Gimana aku bisa nolak?”

Aku menatap kartu-kartu di meja.

Jaga ibumu.

Huruf g berekor panjang.

“Jadi semuanya tugas,” kataku pelan.

“Ga—”

“Roti bakar. Notes kuning. Jangan lupa makan.” Aku mengambil satu kartu dari meja dan mengangkatnya. Untuk Arga. Kuliah itu berat. Jangan lupa makan. “Ini, kan? Kamu baca ini waktu umur berapa? Lima belas? Enam belas? Kamu lihat dia nulis ini di meja kayu di kamar belakang. Terus kamu datang ke rumahku dan nulis kalimat yang sama di bawah gelas kopiku.”

“Itu bukan—”

“Lagu yang kamu nyanyiin buat Mama. Dia yang ajarin.”

“Iya, tapi—”

“Kopi garam di termos. Dia yang ajarin.”

“Ga—”

“Kalimat di Tangerang.” Suaraku akhirnya bergetar. “Yang bikin kamu pucat. Yang kamu bilang cuma ungkapan buat pasien. Dia yang ajarin.”

Dewi tidak menjawab. Ia menutup mulutnya dengan tangan.

“Stetoskop,” lanjutku. Aku tidak bisa berhenti. Seperti bendungan yang jebol, tapi kali ini bukan air yang keluar. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang keras dan tajam dan sudah dua puluh enam tahun mengendap. “Pelukan dari belakang. Kecupan di pipi. Lunas, Pak. Balkon. Aku juga, Ga.”

Aku menatapnya.

“Mana yang tugas, Suster Dewi? Mana yang bukan?”


Dewi menurunkan tangannya dari mulut.

Ia menatapku lama. Air mata masih mengalir di pipinya, tapi wajahnya, untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke ruangan ini, tidak lagi memohon.

Wajahnya terluka.

“Kamu tahu jawabannya,” katanya pelan.

“Saya nggak tahu apa-apa. Itu masalahnya. Saya nggak pernah tahu apa-apa.” Aku melempar kartu itu kembali ke meja. “Lima puluh dua kartu, saya nggak tahu siapa yang nulis. Sepuluh tahun uang sekolah, saya nggak tahu dari mana. Amplop di kotak jahit Mama, saya nggak tahu dari siapa. Kamu datang ke rumah ini, saya nggak tahu kenapa.”

Aku berdiri dari kursi.

“Semua orang tahu,” kataku. “Mbok Darmi tahu. Mama tahu. Ibumu tahu. Dimas tahu. Kamu tahu. Dia tahu.” Aku tertawa pendek, tanpa suara. “Semua orang tahu, kecuali saya. Dua puluh enam tahun. Saya satu-satunya orang bodoh yang nggak tahu.”

“Ga, aku mau bilang—”

“Kapan?”

Ia berhenti.

“Kapan kamu mau bilang? Sabtu depan? Waktu saya sudah lamar kamu? Waktu saya sudah tulis nama kamu di buku itu?” Aku menunjuk laci meja, tempat buku cokelat seharusnya ada, walaupun sekarang buku itu ada di mobil. “Waktu saya sudah coret?”

“Aku mau bilang di dapur!” Dewi berteriak lagi. “Jam dua pagi! Waktu kamu tawarin bantuan buat Pakde! Aku bilang Pak, ada yang harus saya, dan kamu cium aku! Kamu nggak biarin aku selesai!”

Aku diam.

“Aku mau bilang di mobil kantor!” lanjutnya, suaranya pecah di setiap kata. “Waktu kamu bilang kopinya ngingetin kamu sesuatu! Aku bilang itu penting, Ga, dan kamu cium aku lagi! Kamu nggak mau dengar, Ga! Setiap kali aku mau bilang, kamu nggak mau dengar!”

Itu benar.

Aku tahu itu benar. Aku tahu, bahkan waktu itu, di dapur dan di mobil kantor, ada bagian dari diriku yang memilih menciumnya karena aku takut mendengar apa pun yang membuat matanya sesedih itu.

Tapi aku tidak bisa mengakuinya sekarang. Tidak di depan lima puluh dua kartu. Tidak di depan perempuan yang dikirim oleh laki-laki yang meninggalkanku.

“Kamu bisa bilang dari hari pertama,” kataku dingin.

Dewi menatapku. Lalu, pelan, ia menggeleng.

“Kalau aku bilang dari hari pertama,” bisiknya, “kamu bakal tutup pintu.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu sendiri yang bilang, Ga. Di teras belakang. Kalau ayahmu datang, berdiri di depan pagar, kamu tutup pintunya.” Air matanya jatuh lagi. “Aku takut kamu tutup pintu buat aku juga.”

“Dan sekarang?”

Dewi tidak bergerak.

“Sekarang kamu pikir saya mau buka?”


Ia melangkah masuk ke ruangan.

Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti di depan meja kerjaku, di depan lima puluh dua kartu krem, satu meter dariku.

“Kamu janji,” katanya pelan. “Di balkon. Kamu bilang, Wi, aku nggak akan tutup pintu buat kamu. Apa pun.”

“Saya janji ke Dewi.”

Ia menatapku.

“Saya janji ke perempuan yang saya kira datang ke rumah ini karena kebetulan,” kataku. “Perempuan yang saya kira dikirim agensi. Perempuan yang saya kira jatuh cinta sama saya karena saya, bukan karena dia sudah dua puluh tahun lihat muka saya di koran dan disuruh jaga saya.” Aku menatap jendela. Pohon mangga. Kolam ikan. “Saya nggak tahu kamu siapa.”

Hening.

Panjang sekali.

Di luar, angin pagi menggoyangkan pohon mangga. Dari lantai bawah, terdengar suara televisi. Acara masak. Mama pasti sedang menontonnya.

Lalu Dewi bicara. Suaranya sangat pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi aku mendengarnya, seperti aku selalu mendengarnya. Seperti gong. Seperti di kantor dengan papan tulis permanen. Seperti di balkon di bawah cahaya bulan.

“Lihat aku, Ga.”

Aku tidak menoleh.

Aku menatap jendela. Pohon mangga. Kolam ikan.

“Ga. Tolong.”

Aku tidak menoleh.

Aku bisa merasakannya. Matanya di wajahku. Menunggu. Memohon. Seperti di kantor, ketika ia pertama kali memintaku menatapnya dan aku kalah dalam satu setengah detik. Seperti di ruang kerja, ketika ia bilang dua detik saja dan aku bertahan tiga. Seperti di balkon, ketika ia memanggil namaku begitu dan aku berhenti menghitung.

Sekarang ia bilang lagi. Dan aku tidak menoleh.

Bukan karena jantungku berlari. Jantungku tidak berlari. Jantungku diam, berat, seperti beton yang sudah mengeras.

Aku tidak menoleh karena aku tahu, kalau aku menatapnya sekarang, aku akan melihat perempuan yang memelukku di anak tangga ketiga ketika ibuku tidak mengenaliku. Perempuan yang menangis untuk anak lima tahun yang duduk di depan pintu sampai magrib. Perempuan yang bilang aku juga, Ga di bawah cahaya bulan.

Dan kalau aku melihat perempuan itu, aku tidak akan bisa membencinya.

Dan aku butuh membenci seseorang. Aku sudah dua puluh enam tahun membenci satu orang. Dan sekarang orang itu punya wajah, dan wajah itu sedang sekarat di rumah sakit di Bekasi, dan aku tidak tahu bagaimana caranya membenci orang yang sedang sekarat.

Jadi aku tidak menoleh.

Lima detik. Sepuluh. Lima belas.

Aku menatap pohon mangga.


Akhirnya, aku mendengar Dewi menarik napas. Panjang. Bergetar. Seperti seseorang yang baru saja berhenti berharap.

“Ibu kamu,” katanya pelan. Suaranya sudah tidak memohon lagi. Suaranya datar, profesional, persis seperti suaraku. “Jangan biarin beliau sendirian. Rutinitasnya jangan diubah. Jalan pagi jam enam. Makan malam jam tujuh. Susu madu satu sendok teh kalau nggak bisa tidur. Obat pakai sendok kecil warna hijau. Kalau beliau bingung soal kerupuk, bilang sudah diantar ke dua belas warung.”

Aku tidak menjawab.

“Agensi bakal kirim pengganti. Saya telepon besok pagi.”

“Kontrakmu selesai hari ini,” kataku pada jendela. “Teddy yang urus.”

Diam.

“Iya, Pak,” kata Dewi.

Pak.

Aku mendengar langkahnya berbalik. Mendengar ia berhenti di ambang pintu. Mendengar ia menarik napas lagi, seperti mau mengatakan sesuatu. Tapi ia tidak mengatakannya.

Lalu langkahnya menuruni tangga. Pelan. Satu-satu.

Anak tangga ketujuh berderit.


Dari jendela ruang kerja, aku melihatnya keluar dari pintu depan dengan koper abu-abu.

Mama menyusulnya ke teras. Aku bisa mendengar suaranya, bingung dan tinggi.

“Wi? Wi, mau ke mana? Ini hari Minggu. Kamu baru datang.”

“Saya pulang dulu, Bu.”

“Pulang? Kok pulang? Kamu kan tinggal di sini.”

“Saya…” Suara Dewi pecah. “Saya harus pulang, Bu. Ada urusan.”

“Kapan balik?”

Dewi tidak menjawab.

Aku melihat Mama memegang lengan Dewi. Erat. Dengan tangan yang punya bekas luka minyak panas. “Wi. Kapan balik? Senin?”

Dewi menunduk. Lalu, pelan, ia memeluk Mama. Lama. Dengan koper abu-abu masih di tangan yang lain.

“Ibu jaga diri, ya,” bisiknya. “Jangan lupa minum obat. Pakai sendok hijau.”

“Wi…”

Dewi melepaskan pelukannya dan berjalan ke gerbang.

Di gerbang, Pak Jono berdiri dengan sepeda ontelnya. Ia tidak memberi hormat. Ia tidak memanggil Bu Bos. Ia hanya menatap Dewi dengan wajah bingung dan sedih, dan membukakan gerbang perlahan.

Dan di depan gerbang, baru turun dari mobil kantor, berdiri Teddy.

Ia memakai kaus polo dan celana jins, pakaian hari Minggu. Di kedua tangannya ada dua gelas kopi dari kedai di ujung jalan. Satu untukku. Satu untuk Dewi.

Ia melihat Dewi keluar dari gerbang dengan koper dan wajah basah.

Ia berhenti.

Mereka berdiri berhadapan di trotoar. Teddy dengan dua gelas kopi. Dewi dengan koper abu-abu.

Teddy membuka mulut. Menutupnya lagi.

Dewi menatapnya sebentar. Lalu ia tersenyum. Senyum kecil yang tidak sampai ke lesung di pipinya.

“Jaga Bapak ya, Mas Teddy,” katanya.

Lalu ia berjalan melewati Teddy, menyeret koper abu-abunya di trotoar, menuju ujung jalan kompleks. Rodanya berbunyi di atas paving block. Krek, krek, krek.

Teddy tidak bergerak. Ia berdiri di depan gerbang dengan dua gelas kopi di tangan, menatap punggung Dewi sampai menghilang di tikungan.

Lalu ia mengangkat kepala dan menatap jendela ruang kerjaku.

Ia melihatku.

Aku melihatnya.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak menulis apa-apa. Ia tidak mengangkat jempol atau membuat grafik. Ia hanya menatapku dengan wajah yang tidak pernah kulihat selama lima tahun. Wajah seseorang yang kecewa.

Lalu ia berjalan masuk ke rumah.


Lima menit kemudian, aku turun ke ruang makan.

Teddy sudah pergi. Ia tidak naik ke ruang kerja. Ia tidak menungguku.

Tapi di meja makan, di kursi di seberang tempat dudukku, kursi yang selama enam minggu ditempati Dewi setiap pukul tujuh malam, ada segelas kopi dari kedai di ujung jalan.

Masih hangat. Masih tertutup. Di sisi gelasnya, ditulis dengan spidol hitam oleh barista: Mbak Dewi.

Aku berdiri di ruang makan dan menatap gelas kopi itu.

Mama duduk di kursi tunggalnya di ruang tengah, di depan televisi yang menyiarkan acara masak. Ia tidak menonton. Ia menatap pintu depan. Tangannya menggenggam ujung selendang.

“Ga,” katanya tanpa menoleh.

“Iya, Ma.”

“Suster Cantik ke mana?”

Aku tidak menjawab.

“Dia bilang pulang. Tapi dia nggak bilang kapan balik.” Mama akhirnya menoleh padaku. Matanya bingung. Sangat bingung. Mata seseorang yang sedang kehilangan sesuatu dan tidak tahu apa. “Kamu marahin dia?”

“Nggak, Ma.”

“Kamu bikin dia nangis.”

Aku diam.

“Mama lihat matanya. Bengkak. Kayak Mama dulu.” Mama menatap pintu lagi. “Kayak Mama dulu, waktu Bapakmu pergi.”

Aku membeku.

Mama tidak sadar apa yang baru ia katakan. Ia sudah kembali menatap televisi, menatap seorang chef yang sedang memotong bawang, dengan wajah yang perlahan kehilangan fokus. Seperti pintu yang terbuka sebentar, lalu tertutup lagi.

Aku berdiri di ruang makan, di antara ibuku yang menatap pintu dan gelas kopi yang bertuliskan nama perempuan yang baru saja pergi.

Malam itu, pukul delapan, tidak ada ketukan di pintu ruang kerja.

Pukul sepuluh tiga puluh, tidak ada yang menyuruhku mematikan lampu.

Pukul dua pagi, lampu dapur gelap.

Dan dari lantai bawah, dari kamar tamu yang kosong, tidak ada senandung lagu keroncong yang sumbang di nada tinggi.

Hanya hening.

Hening yang sama seperti sebelum ia datang.

Tapi sekarang aku tahu bedanya.