Chapter Twenty
Kondangan
POV: Arga
Pak Benny menikahkan putrinya hari Jumat malam, di ballroom hotel di Senayan, dan undangannya datang dengan tulisan tangan di bagian belakang:
Pak Arga, datang ya. Bawa pasangan. Saya mau lihat proyeksinya.
Aku menatap tulisan itu lama di meja kantor.
Teddy, yang mengantarkan undangan itu, berdiri di depan mejaku dengan wajah yang sangat netral. Terlalu netral.
“Kamu yang kasih tahu Pak Benny?”
“Pak Benny lihat grafiknya di rapat direksi, Pak. Saya tidak perlu kasih tahu apa-apa.” Teddy menatap langit-langit. “Tapi beliau memang tanya ke saya minggu lalu, apakah grafiknya ada update. Saya bilang ada. Saya bilang proyeksinya sudah jauh terlampaui.”
“Teddy.”
“Pak, beliau senyum lagi. Dua kali dalam sebulan. Itu rekor perusahaan.”
Aku menaruh undangan itu di meja dan tidak berkata apa-apa.
Lalu, malamnya, setelah tensi pukul delapan, aku bertanya pada Dewi.
“Kondangan?”
Dewi menatapku dengan stetoskop masih di telinga. Logam dinginnya masih di dadaku. Nadiku, yang tadi seratus dua puluh enam, sekarang pasti naik lagi.
“Jumat malam,” kataku. “Putri direktur keuangan saya. Di Senayan. Dia minta saya bawa pasangan.”
“Jumat malam saya pulang ke Bekasi, Pak.”
“Saya tahu. Sabtu pagi saya antar. Pakai mobil saya.”
Dewi melepas stetoskop dari telinganya perlahan. Ia tidak menulis angka nadiku di buku catatan. Ia hanya menatapku.
“Pasangan?” ulangnya.
“Dia yang bilang pasangan. Bukan saya.”
“Tapi Bapak ngajak saya.”
“Iya.”
“Sebagai apa?”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi. Ini pertanyaan yang tidak ada di kontrak mana pun. Tidak ada klausul. Tidak ada pasal. Sebagai apa? Perawat ibuku? Perempuan yang kucium di dapur jam dua pagi lalu kutinggal lari? Perempuan yang keningnya kukecup selama enam detik?
“Sebagai orang yang saya mau ajak,” kataku akhirnya.
Dewi menatapku lama. Lalu ia menunduk ke buku catatannya dan menulis angka nadiku dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Saya nggak punya baju kondangan, Pak,” katanya pelan.
“Nanti saya belikan.”
“Jangan.” Ia menggeleng cepat. “Jangan beliin saya apa-apa.”
“Kenapa?”
Ia diam. Lalu menghela napas. “Saya pinjam saja. Ke Ibu atau ke teman.”
Aku tidak sempat menjawab, karena dari lantai bawah terdengar suara Mama yang sangat keras dan sangat jernih:
“DARMI! TELEPON MERRY! SEKARANG!”
Kami saling pandang.
“Ibu dengar dari tangga,” kata Dewi pelan, dengan horor.
“Ibu dengar dari tangga,” kataku.
Tante Merry datang Jumat sore pukul tiga dengan sebuah koper, dua kantong kertas besar, dan Bu Nining yang membawa kotak kue sekaligus kotak peralatan rias.
“Minggir, Arga,” kata Tante Merry begitu aku membuka pintu. “Ini urusan perempuan.”
“Tante, saya cuma—”
“Kamu pakai jas hitam. Kemeja putih. Dasi yang abu-abu muda, yang Tante lihat di foto LinkedIn-mu. Jangan yang biru tua, kamu kelihatan kayak mau sidang skripsi.” Ia melewatiku dan langsung ke kamar tamu. “Dewi! Dewi, sayang, ayo! Kita nggak punya banyak waktu!”
Pintu kamar tamu tertutup. Dari baliknya, aku mendengar suara Tante Merry yang heboh, suara Bu Nining yang tertawa, suara Mama yang memberi instruksi, dan suara Dewi yang memprotes dengan lemah dan kalah.
Bu Lies datang setengah jam kemudian. Ia tidak membawa apa-apa kecuali sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam, yang ia serahkan pada Tante Merry di ambang pintu kamar tamu dengan wajah datar.
“Anting,” katanya. “Mutiara. Punya almarhumah ibu saya. Kembalikan besok.”
Lalu ia duduk di sofa ruang tengah, di sebelahku, dan menatap pintu kamar tamu dengan tangan terlipat.
“Bu Lies nggak ikut di dalam?” tanyaku.
“Saya sudah tua,” kata Bu Lies. “Saya cukup lihat hasilnya.”
Kami duduk bersebelahan di sofa dalam diam selama dua jam. Teddy datang pukul lima dengan jas hitam yang terlalu mengilap, membawakan dasi abu-abu muda yang ia ambil dari lemari kantorku. Ia duduk di kursi tunggal Mama dan ikut menatap pintu kamar tamu.
Pukul enam lewat sepuluh, pintu itu terbuka.
Tante Merry keluar lebih dulu, dengan wajah puas seperti jenderal yang baru memenangkan perang. Bu Nining di belakangnya, mengusap mata dengan tisu. Mama menyusul, digandeng Mbok Darmi, tersenyum lebar.
Lalu Dewi.
Aku berdiri tanpa sadar.
Ia memakai kebaya brokat berwarna merah muda pucat, warna yang Tante Merry sebut dusty pink tiga kali dengan suara keras supaya semua orang tahu. Kebaya itu pas di tubuhnya, menutup sampai pergelangan tangan dengan renda-renda halus yang membentuk bunga-bunga kecil. Di bawahnya, kain batik sogan dengan motif parang yang dililit rapi sampai ke mata kaki. Selop berwarna senada.
Rambutnya, yang biasanya dicepol rapi atau terurai kusut, sekarang disanggul rendah di tengkuk dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajah. Di sanggul itu terselip satu tangkai melati putih yang Mama petik sendiri dari taman belakang.
Wajahnya dirias tipis. Sangat tipis. Bu Nining, ternyata, punya tangan seorang perias pengantin. Kulit kuning langsat itu dibiarkan bersih, hanya dengan sapuan merah muda samar di pipi dan sedikit warna di bibir. Bulu matanya yang panjang dibiarkan alami. Matanya yang teduh dipertegas dengan garis tipis di pinggir, cukup untuk membuatnya terlihat lebih dalam, lebih tenang, lebih seperti seseorang yang bisa membuat orang lupa diri tanpa berusaha.
Dan di telinganya, anting mutiara kecil milik almarhumah ibu Bu Lies. Berkilau lembut setiap kali ia menoleh.
Ia berdiri di ambang pintu kamar tamu dengan tangan saling menggenggam di depan perut, gugup, menatap lantai.
Lalu ia mengangkat kepala dan menatapku.
Aku tidak menghitung detik.
Aku lupa caranya.
Ruang tengah hening.
Bukan hening seperti arisan, ketika para tante terdiam karena kaget. Ini hening yang lain. Hening seperti di masjid sebelum azan. Hening seperti di lokasi proyek setelah pengecoran terakhir selesai dan semua orang berdiri menatap bangunan yang baru berdiri.
Bu Nining menangis lebih keras ke tisunya. Tante Merry menepuk-nepuk dadanya sendiri. Mama tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mbok Darmi menutup mulut dengan celemek.
Teddy berdiri dari kursi tunggal, membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi, lalu duduk kembali tanpa berkata apa-apa. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, asisten pribadiku kehabisan kata-kata.
Dan Bu Lies, di sebelahku, yang tidak tersenyum sejak harga emas naik tahun 2011, mengangguk pelan sekali dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar:
“Antingnya cocok.”
Lalu ia menoleh padaku.
“Arga,” katanya datar. “Mulutmu terbuka.”
Aku menutup mulutku.
Dewi tertawa kecil. Tawa gugup, dengan pipi yang semakin merah di bawah sapuan merah muda Bu Nining. Ia berjalan pelan ke arahku, langkahnya kecil-kecil karena kain batik yang dililit ketat, dan berhenti di depanku.
“Gimana, Pak?” bisiknya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Semua kosakata yang kupelajari dari SD sampai S1 mendadak hilang.
“Kamu,” kataku. Lalu berhenti.
“Saya?”
“Kamu… cantik.”
Kata itu terlalu kecil. Terlalu sederhana. Seperti menyebut gedung dua puluh dua lantai sebagai rumah. Tapi hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Dewi menatapku. Lalu ia menunduk, dan lesung di pipi kirinya muncul, dalam sekali.
“Bapak juga,” katanya pelan. “Dasinya bagus.”
Dari belakang kami, Tante Merry berteriak: “FOTO! FOTO DULU SEBELUM BERANGKAT!”
Ballroom hotel itu penuh. Lampu kristal bergelantungan di langit-langit seperti air terjun yang membeku. Lima ratus tamu. Musik orkestra di sudut. Pelaminan berhiaskan ratusan mawar putih.
Begitu kami masuk, kepala-kepala menoleh.
Aku sudah terbiasa dengan kepala yang menoleh ketika aku masuk ke ruangan. Itu bagian dari pekerjaanku. CEO muda yang baru memenangkan tender satu koma dua triliun. Orang ingin menyalami, ingin berkenalan, ingin minta kartu nama.
Tapi malam ini, kepala-kepala itu tidak menoleh padaku.
Mereka menoleh pada perempuan di sebelahku, yang menggandeng lenganku dengan tangan yang sedikit gemetar, dalam kebaya merah muda pucat dengan melati di sanggulnya.
Aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku. Bangga, tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat tanganku, yang ia gandeng, sedikit menegang.
Pak Benny menyambut kami di depan pelaminan. Ia menyalamiku, lalu menatap Dewi, lalu menatapku lagi. Dan untuk ketiga kalinya dalam sebulan, ia tersenyum.
“Proyeksinya,” katanya pelan padaku, “jauh di atas target, Pak Arga.”
Lalu ia menyalami Dewi dengan sangat sopan dan memperkenalkannya pada istrinya sebagai “Mbak Dewi, pasangan Pak Arga”.
Dewi tidak mengoreksi. Aku juga tidak.
Masalahnya dimulai pukul tujuh lewat empat puluh.
Aku sedang berbicara dengan dua kontraktor senior di dekat meja prasmanan, membicarakan harga besi, ketika Dewi pamit sebentar ke meja minuman. Lima menit kemudian, aku menoleh untuk mencarinya.
Ia sedang berbicara dengan seorang laki-laki.
Laki-laki itu tinggi, berumur awal empat puluhan, dengan jas biru tua yang jelas dijahit khusus, rambut yang disisir rapi dengan sedikit uban di pelipis, dan senyum yang terlalu lebar. Aku mengenalnya. Rendy Wijaksana, direktur salah satu bank swasta terbesar yang membiayai proyek rumah sakitku. Duda. Terkenal di kalangan pengusaha karena dua hal: kemampuannya menegosiasikan bunga pinjaman, dan kemampuannya mendekati perempuan di acara-acara seperti ini.
Ia sedang berdiri terlalu dekat dengan Dewi. Ia sedang berbicara, dan Dewi sedang tersenyum sopan, dan ia sedang menatap Dewi dengan cara yang membuat rahangku mengeras.
Dengan cara yang sama seperti aku menatap Dewi.
Ponselku bergetar.
Teddy: Pak. Arah jam 2. Pak Rendy.
Teddy: Durasi interaksi sudah 4 menit.
Teddy: Pak, dia barusan pegang lengan Mbak Dewi. Sebentar. Pas ketawa.
Teddy: 5 menit, Pak.
Teddy: Pak, saya bisa pura-pura tumpahin minuman ke jasnya. Saya sudah siap. Tinggal Bapak kasih kode.
Aku menyimpan ponsel ke saku.
“Permisi,” kataku pada dua kontraktor di depanku, yang masih bicara soal harga besi. Aku tidak menunggu jawaban mereka.
Aku berjalan ke meja minuman.
“…jadi kalau Mbak Dewi mau, kantor saya sedang cari perawat untuk ibu saya. Beliau juga sudah sepuh. Saya bisa bayar dua kali lipat dari—”
“Pak Rendy.”
Rendy menoleh. Senyumnya yang terlalu lebar sedikit menyempit ketika melihatku. Lalu melebar lagi, dengan cara yang profesional.
“Pak Arga! Selamat atas tendernya. Saya baru saja ngobrol dengan Mbak Dewi. Saya nggak tahu Bapak punya perawat secantik ini untuk ibu Bapak.”
Perawat. Ia mengucapkan kata itu dengan nada yang membuatku ingin membatalkan seluruh pinjaman proyek.
“Dewi bukan cuma perawat ibu saya,” kataku.
Rendy mengangkat alis. Dewi menoleh padaku, cepat, matanya membesar.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan setelah itu. Aku tidak merencanakan kalimat ini. Seperti semua hal yang kulakukan sejak perempuan ini datang ke rumahku, mulutku bergerak lebih cepat dari otakku.
“Dewi,” kataku, menoleh padanya, “Mama telepon tadi. Katanya mau bicara sama kamu.”
Dewi menatapku. Ia tahu itu bohong. Ia tahu Mama sedang di rumah, menonton acara masak dengan Mbok Darmi, dan tidak pernah menelepon siapa pun lewat jam tujuh malam karena katanya “jam segitu ponsel itu buat istirahat”.
“Oh,” kata Dewi pelan. “Iya, Pak. Saya telepon balik.”
Ia menoleh pada Rendy, tersenyum sopan. “Maaf, Pak Rendy. Permisi.”
“Tentu, tentu.” Rendy mengangguk, lalu menatapku sebentar dengan senyum yang sangat tahu. “Pak Arga. Senang bertemu. Kita lanjut soal tenor pinjaman Senin depan, ya.”
“Senin depan,” kataku.
Aku mengulurkan tangan pada Dewi. Ia menatap tanganku sebentar. Lalu ia menggandengnya.
Kami berjalan keluar ballroom tanpa menoleh.
Parkiran basement hotel itu sepi. Hanya deretan mobil mewah yang berkilau di bawah lampu neon putih, dan suara musik orkestra yang samar-samar terdengar dari atas.
Aku berjalan ke Lexus-ku dengan Dewi di sebelahku, masih menggandeng tangannya. Ia berjalan dengan langkah kecil-kecil karena kain batiknya.
Di samping mobil, aku berhenti. Aku melepaskan tangannya.
“Bu Ratih nggak telepon, kan, Pak?” tanya Dewi pelan.
“Nggak.”
“Bapak bohong.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatap Lexus-ku. Lalu lantai parkiran. Lalu dinding beton dengan nomor B2-47 yang dicat kuning.
“Saya nggak suka dia lihat kamu begitu,” kataku.
Dewi diam sebentar. “Begitu gimana, Pak?”
Aku menoleh padanya.
Ia berdiri di bawah lampu neon putih parkiran basement, dalam kebaya merah muda pucat dengan renda bunga-bunga kecil, dengan melati di sanggul dan anting mutiara yang berkilau lembut. Wajahnya menengadah menatapku. Matanya menunggu.
“Begitu,” kataku pelan, “kayak saya lihat kamu.”
Dewi tidak bergerak.
Musik orkestra dari atas berganti lagu. Sesuatu yang pelan dan panjang, dengan biola yang naik turun. Di suatu tempat di parkiran, sebuah mobil menyalakan mesin, lalu pergi.
“Bapak lihat saya gimana?” bisiknya.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku melangkah maju, dan memeluknya.
Bukan pelukan di tangga, ketika ia menahanku supaya runtuhku tidak berantakan. Bukan pelukan dari belakang di ruang kerja, ketika ia menghukumku dengan nampan nasi.
Kali ini aku yang memeluk.
Aku melingkarkan kedua lenganku di tubuhnya, menariknya ke dadaku, dan menyandarkan daguku di atas kepalanya, di dekat sanggul dengan melati yang wangi. Ia kecil di pelukanku. Lebih kecil dari yang kukira. Bahunya pas di bawah lenganku, seperti dua potongan puzzle yang memang dibuat untuk saling mengisi.
Dewi membeku sebentar. Satu detik.
Lalu ia melingkarkan lengannya di pinggangku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Di kemeja putih yang Tante Merry pilih, di dekat dasi abu-abu muda.
“Begini,” bisikku di rambutnya. “Saya lihat kamu begini.”
Aku merasakan napasnya di dadaku. Cepat. Tidak beraturan.
“Pak,” katanya pelan, suaranya teredam kemeja.
“Hm.”
“Jantung Bapak.”
“Kenapa?”
“Kedengeran.” Ia menempelkan telinganya lebih erat ke dadaku. “Nggak perlu stetoskop.”
Aku tertawa kecil. Tawaku bergetar di dadaku, di telinganya. Ia ikut tertawa, dan aku merasakan tawanya di dadaku juga, dan kami berdiri di parkiran basement hotel di Senayan, di samping Lexus hitam, berpelukan dan tertawa seperti dua orang bodoh di bawah lampu neon putih yang berkedip-kedip.
“Berapa?” tanyaku.
“Apa?”
“Detaknya. Kamu perawat. Pasti bisa hitung.”
Dewi diam sebentar. Mendengarkan.
“Nggak bisa dihitung, Pak,” katanya akhirnya, pelan. “Terlalu cepat.”
Kami berdiri seperti itu lama sekali. Aku tidak tahu berapa lama. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung.
Lalu, dari arah lift parkiran, terdengar suara pintu terbuka dan langkah-langkah kaki.
Kami melepaskan pelukan dengan cepat. Terlalu cepat. Dewi mundur selangkah dan merapikan kebayanya. Aku merapikan dasi.
Teddy berdiri di depan pintu lift dengan dua kotak berisi kue pengantin di tangan.
Ia menatap kami. Kami menatapnya.
“Saya bawain kue, Pak,” katanya pelan. “Dari Pak Benny. Buat Bu Ratih.”
“Terima kasih, Ted.”
Teddy berjalan mendekat, menyerahkan dua kotak kue itu padaku. Lalu ia menatap Dewi, menatapku, menatap jarak satu langkah di antara kami yang terlalu jelas baru saja terbentuk, dan menatap kemejaku, di bagian dada, yang sedikit kusut dan ada bekas bedak tipis berwarna merah muda.
Teddy tidak berkata apa-apa.
Ia hanya mengangguk pelan, sangat pelan, dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke lift.
Di depan pintu lift, ia berhenti.
“Pak,” katanya tanpa menoleh.
“Hm.”
“Kali ini saya nggak bikin grafik.”
Pintu lift terbuka. Ia masuk. Pintu tertutup.
Dewi menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar.
Aku membukakan pintu penumpang Lexus untuknya. Ia masuk dengan hati-hati, mengangkat ujung kain batiknya. Aku menutup pintu, berjalan ke sisi pengemudi, dan masuk.
Di dalam kabin yang sunyi, wangi melati dari sanggulnya langsung memenuhi udara.
Aku menyalakan mesin. Aku tidak langsung melaju.
“Dewi.”
“Hm.”
“Besok pagi saya antar ke Bekasi.”
“Iya, Pak.”
“Saya mau ketemu ibumu.”
Dewi menoleh padaku. Cepat. Wajahnya, di bawah lampu kabin yang redup, tiba-tiba pucat.
“Ketemu Ibu?”
“Dan Dimas. Dan Pakde kamu, kalau dia mau.” Aku menatap setir. “Saya mau kenalan sama orang-orang yang bikin kamu jadi kamu.”
Dewi tidak menjawab.
Ia menatapku lama, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang terlihat seperti ketakutan dan kebahagiaan sekaligus, seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang dan melihat matahari terbit.
“Jangan dulu, Pak,” katanya akhirnya, sangat pelan.
“Kenapa?”
“Rumah saya kecil. Di gang. Mobil Bapak nggak bisa masuk.”
“Saya bisa jalan kaki.”
“Pak.” Ia menggenggam tanganku di atas tuas persneling. Genggamannya erat. Terlalu erat. “Jangan dulu. Nanti. Saya janji. Nanti saya ajak.”
Aku menatap tangannya di atas tanganku. Lalu wajahnya.
Aku tidak mengerti kenapa ia takut. Tapi aku sudah belajar, dalam lima minggu ini, bahwa ada saat ketika seseorang ingin ditemani, dan ada saat ketika seseorang ingin tidak dilihat.
“Nanti,” kataku.
“Nanti,” ulangnya pelan.
Aku melaju keluar dari parkiran basement. Di kursi penumpang, Dewi bersandar ke jendela, menatap lampu-lampu Jakarta yang lewat, dengan tangan yang masih menggenggam tanganku di atas tuas persneling sepanjang jalan pulang.
Ia tidak melepaskannya sampai kami tiba di Pondok Indah.
Di kursi belakang, dua kotak kue pengantin dari Pak Benny bergeser pelan setiap kali mobil berbelok.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan reading
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala