Chapter Thirty Four
Sekarang Aku Lihat Kamu
POV: Arga
Aku tidak bisa mengatakannya di dalam mobil.
Aku sudah mencoba. Aku duduk di kursi pengemudi dengan mesin mati, dengan hujan yang mengalir di kaca depan seperti tirai, dengan Dewi di kursi penumpang menungguku bicara. Aku membuka mulut. Kalimat yang sudah kususun selama empat jam di lantai kamar belakang, bersandar di kaki dipan dengan sandal jepit hitam di pelukan, berdiri di ujung lidahku.
Dan aku tidak bisa mengeluarkannya.
Karena di dalam mobil, aku duduk di sampingnya. Karena di dalam mobil, aku tidak perlu menatapnya. Aku bisa menatap kaca depan, setir, dasbor, sandal jepit hitam di atas laci konsol. Seperti di hujan itu, minggu pertama, waktu aku mengantarnya ke Stasiun Cawang dan bisa bicara panjang karena tidak perlu melihat wajahnya.
Jadi kalau mau ngobrol panjang sama Bapak, saya harus duduk di samping, ya. Jangan di depan.
Bukan begitu caranya. Tidak untuk yang ini.
Aku membuka pintu mobil dan keluar.
“Ga?”
Hujan langsung menghantam kepalaku, bahuku, kaus Dimas yang terlalu kecil. Aku berjalan memutari kap mobil. Aku membuka pintu penumpang.
Dewi menatapku dari kursinya dengan wajah bingung. Payung lipat masih di pangkuannya.
“Turun,” kataku.
“Ga, hujan.”
“Aku tahu.”
“Kamu baru ganti baju.”
“Aku tahu, Wi.” Air hujan mengalir di wajahku. “Turun. Tolong.”
Ia menatapku lama. Lalu ia meletakkan payung itu di dasbor, di sebelah sandal jepit hitam, dan turun dari mobil.
Hujan langsung membasahinya. Rambutnya yang diikat asal-asalan di tengkuk langsung jatuh, basah, menempel di pipi dan lehernya. Kaus abu-abunya menggelap. Ia berdiri di depanku di samping Lexus hitam, di depan toko kelontong yang buka dua puluh empat jam, di bawah hujan yang turun seperti dinding.
Di pangkalan ojek, di bawah atap seng, Pak Darman dan dua bapak ojek lain berdiri dengan jas hujan plastik. Menonton. Tidak bersuara.
Aku tidak peduli.
“Aku mau minta maaf,” kataku.
Dewi tidak bergerak.
“Bukan karena aku sudah tahu semuanya. Aku belum tahu semuanya. Aku baru baca tiga surat. Aku baru lihat satu kamar.” Aku menelan ludah. Air hujan masuk ke mulutku. “Aku minta maaf karena hari Minggu. Karena aku tanya berapa dia bayar kamu. Karena aku panggil kamu Suster Dewi.”
Ia menutup mulutnya dengan tangan.
“Kamu bilang aku nggak pernah biarin kamu selesai,” lanjutku. “Di dapur. Di mobil kantor. Setiap kali kamu mau bilang, aku cium kamu.” Aku menatapnya. “Kamu benar. Aku tahu waktu itu juga. Ada bagian dari aku yang tahu. Setiap kali kamu bilang ada yang harus saya, aku takut. Aku nggak tahu kenapa, tapi aku takut. Jadi aku cium kamu, supaya kamu berhenti.”
Air hujan mengalir di pipinya. Bercampur dengan sesuatu yang lain.
“Itu bukan romantis, Wi,” kataku. “Itu pengecut.”
Ia menggeleng pelan. Aku tidak membiarkannya bicara.
“Dan hari Minggu,” kataku, suaraku mulai pecah, “kamu minta aku natap kamu. Dan aku natap pohon mangga. Lima belas detik. Kamu hitung. Aku juga hitung.”
“Ga…”
“Aku nggak natap kamu karena aku butuh benci seseorang. Dua puluh enam tahun aku benci satu orang. Aku nggak tahu caranya hidup tanpa benci dia. Dan hari Sabtu, waktu aku lihat tulisan di buku dongeng itu, aku tiba-tiba nggak bisa benci dia lagi. Karena dia bayar sekolahku. Karena dia nulis kartu. Karena dia sakit.” Aku menarik napas yang bergetar. “Jadi aku benci kamu. Karena kamu yang paling dekat. Karena kamu yang ada di depanku.”
Dewi menangis sekarang. Terang-terangan. Bahunya bergetar di bawah hujan.
“Itu nggak adil,” kataku. “Itu nggak adil buat kamu.”
Aku melangkah maju. Satu langkah. Sekarang hanya setengah meter di antara kami.
“Semalam Mama minta aku baca surat-surat itu,” kataku. “Di kotak jahit. Dari dia. Dua puluh enam tahun.”
Dewi menatapku dengan mata yang membesar.
“Dia pergi karena utang. Rentenir di terminal. Mereka ngelihat aku di kasur, umur lima tahun, dan bilang anak sehat begini laku mahal.” Suaraku hampir hilang. “Dia pergi supaya mereka ikut dia. Dia minta Mama nggak cerita. Supaya aku marah. Supaya aku lari.”
“Ga,” bisik Dewi.
“Kamu tahu?”
Ia mengangguk pelan. “Sebagian. Pakde nggak pernah cerita semuanya. Aku cuma tahu dia pergi buat lindungin kalian.”
“Dan kamu nggak bilang karena dia minta.”
“Iya.”
“Sama kayak Mama.”
Ia menatapku. “Sama kayak Mama.”
Aku tertawa. Pendek. Pahit. Di bawah hujan. “Semua orang yang sayang sama aku,” kataku, “nggak bilang apa-apa ke aku. Karena mereka sayang sama aku.”
Dewi tidak menjawab.
“Dan aku,” lanjutku pelan, “aku nggak dengar apa-apa. Karena aku takut.”
Hujan turun lebih deras. Aku tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Air di mataku, di wajahku, di mana-mana.
“Wi,” kataku. “Hari Minggu kamu bilang kamu nggak tahu harus gimana. Kamu bilang kamu dikirim, tapi kamu jatuh cinta sendiri. Aku nggak dengar. Aku bilang aku nggak tahu kamu siapa.”
Aku melangkah lagi. Sekarang tidak ada jarak lagi. Hanya hujan di antara kami.
“Aku tahu kamu siapa,” kataku. “Kamu perempuan yang bakar roti bakarnya pas. Yang nulis notes kuning di bawah gelas kopi. Yang meluk aku di tangga waktu Mama nggak kenal aku, dan merem supaya aku boleh nangis. Yang ngukur tensiku tiap malam dan nyebut angkanya pakai muka datar. Yang hitung lima belas detik waktu aku nggak mau noleh.”
Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Basah. Dingin.
“Aku tahu kamu siapa,” ulangku. “Aku cuma nggak mau lihat.”
Dewi menatapku. Matanya merah. Bulu matanya basah dan menggumpal.
Aku tidak membuang muka.
“Sekarang aku lihat kamu,” kataku.
Satu detik. Dua detik. Tiga.
Aku tidak menghitung. Aku tahu angkanya, karena aku selalu tahu angkanya. Tapi aku tidak menghitung. Aku hanya menatapnya, di bawah hujan, di depan toko kelontong yang buka dua puluh empat jam, di depan tiga bapak ojek berjas hujan biru, dan aku tidak berpaling.
Dewi menatapku balik.
Lalu wajahnya runtuh. Bukan runtuh seperti hari Minggu, ketika ia berhenti memohon. Runtuh seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah terlalu lama menahan. Ia menangis dengan suara. Ia menangis dengan bahu yang berguncang dan napas yang tersengal dan tangan yang mencengkeram kaus Dimas di dadaku.
“Kamu janji,” isaknya. “Kamu janji nggak tutup pintu.”
“Aku tahu.”
“Kamu tutup.”
“Aku tahu, Wi.”
“Lima belas detik.”
“Aku tahu.”
“Aku kira kamu nggak akan buka lagi.”
Aku menarik napas. Hujan masuk ke mulutku, ke hidungku. Aku tidak peduli.
“Aku sudah buka,” kataku. “Aku duduk di depan pintunya dari jam dua belas.”
Dewi mengangkat kepala.
Dan aku menciumnya.
Bukan seperti di dapur, kaku dan miring dan lari.
Bukan seperti di mobil kantor, singkat dan lembut dan dihentikan Teddy dengan rem mendadak.
Bukan seperti di balkon, di bawah bulan, pelan dan dalam dan penuh sesuatu yang begitu besar sampai aku tidak tahu namanya.
Ini lain.
Ini ciuman dua orang yang hampir saling kehilangan. Hujan mengalir di wajah kami, di bibir kami, membuat semuanya basah dan dingin dan asin. Aku tidak tahu mana air hujan dan mana air mata. Tangannya mencengkeram kaus di dadaku, lalu naik ke leherku, ke tengkukku, menarikku lebih dekat, seolah ia takut aku akan lari lagi. Tanganku di pipinya, di rahangnya, di rambutnya yang basah dan kusut.
Aku menciumnya seperti seseorang yang minta maaf dengan seluruh tubuhnya.
Ia membalas seperti seseorang yang memaafkan, tapi belum lupa.
Bibirnya dingin, lalu hangat. Napasnya tersengal di bibirku. Aku merasakan isaknya, getaran kecil di dadanya yang menempel di dadaku, dan aku menciumnya lebih dalam, lebih pelan, seperti mencoba menyerap semua tangisan itu ke dalam diriku sendiri supaya ia tidak perlu menanggungnya lagi.
Hujan turun. Air dari atap toko kelontong mengalir seperti tirai di samping kami. Selokan meluap. Di kejauhan, burung beo Bu Ani berteriak sesuatu yang tidak bisa kudengar.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung.
Ketika akhirnya kami terpisah, kami tidak benar-benar terpisah. Dahi kami masih bersandar satu sama lain. Napas kami bercampur di udara yang dingin dan basah. Tangannya masih di tengkukku. Tanganku masih di pipinya.
“Ga,” bisiknya, dengan mata yang masih terpejam.
“Hm.”
“Kamu masih marah?”
“Masih.”
“Sama aku?”
Aku diam sebentar.
“Sama semua orang,” kataku. “Tapi paling sedikit sama kamu.”
Ia tertawa. Tawa yang basah, pecah, bergetar. Tawa yang paling indah yang pernah kudengar.
Dari pangkalan ojek, terdengar suara tepuk tangan.
Kami berdua menoleh.
Pak Darman dan dua bapak ojek lain berdiri di bawah atap seng dengan jas hujan plastik biru, bertepuk tangan. Keras. Bersemangat. Salah satunya bersiul.
Dan Pak Darman memegang ponsel dengan kamera menghadap ke arah kami.
“Pak Darman!” Dewi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Maaf, Wi!” seru Pak Darman, sama sekali tidak terdengar menyesal. “Sudah kekirim ke Dimas!”
“PAK DARMAN!”
Ponselku bergetar di saku celana yang basah. Aku mengeluarkannya. Untungnya ponsel ini tahan air.
Dimas: BANG!!!!!!
Dimas: [Gambar terlampir]
Dimas: BANG AKU NANGIS DI RUMAH SAKIT
Dimas: SUSTER NINGSIH NANYA AKU KENAPA
Dimas: Bang aku forward ke Ibu ya
Dimas: Udah Bang. Udah aku forward.
Dua detik kemudian, ponsel Dewi berdering. Ia mengeluarkannya dari saku dengan tangan gemetar. Di layar: Ibu.
Ia mengangkatnya.
“KALIAN NGAPAIN HUJAN-HUJANAN DI DEPAN TOKO KELONTONG?” Suara Bu Sumi keluar dari ponsel begitu keras sampai aku bisa mendengarnya dari setengah meter. “IBU BARU KASIH HANDUK! IBU BARU KASIH KAUS DIMAS! IBU BARU BIKININ TEH JAHE! KALIAN MAU SAKIT DUA-DUANYA? MASUK MOBIL! SEKARANG!”
Dewi menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia menatapku. Aku menatapnya.
Lalu kami berdua tertawa. Di bawah hujan. Basah kuyup. Dengan mata merah dan bibir dingin dan suara Bu Sumi yang masih berteriak dari ponsel.
“Iya, Bu,” kata Dewi ke ponsel, di sela tawa. “Iya. Masuk mobil.”
“DAN NAK ARGA!”
Aku berhenti tertawa.
Dewi menyodorkan ponselnya padaku. Aku menerimanya. “Iya, Bu?”
Hening sebentar di seberang telepon. Lalu suara Bu Sumi, tiba-tiba jauh lebih pelan. Bergetar.
“Jaga anak Ibu, ya, Nak.”
Aku menatap Dewi. Ia menatapku balik, dengan mata yang basah dan rambut yang menempel di pipi.
“Iya, Bu,” kataku. “Saya jaga.”
“Ya sudah. Masuk mobil. Nanti masuk angin.” Suara Bu Sumi kembali keras. “Dan jangan lupa kasih sarung cokelat ke Pakde! Sama sisir! Dia mau rapi!”
Telepon ditutup.
Kami masuk ke mobil. Basah kuyup. Kursi kulit Lexus-ku langsung basah. Aku tidak peduli.
Aku menyalakan mesin. Aku menyalakan pemanas. Aku menyalakan wiper. Air hujan tersapu dari kaca depan, dan dunia di luar muncul kembali. Toko kelontong. Pangkalan ojek. Pak Darman yang masih melambaikan tangan.
Dewi duduk di kursi penumpang dengan payung lipat di pangkuan dan rambut basah yang meneteskan air ke bahunya. Ia menatap sandal jepit hitam di atas dasbor.
“Ga,” katanya pelan.
“Hm.”
“Pakde belum tahu kamu datang.”
Aku menggenggam setir.
“Dia di ranjang dekat jendela,” lanjutnya. “Bangsal kelas tiga. Ada selang oksigen di hidungnya. Tangannya gemetar sekarang. Kakinya bengkak.” Ia menelan ludah. “Dia nggak kayak di kliping-kliping itu, Ga. Dia nggak kayak di ingatan kamu. Dia sudah tua. Sudah sakit.”
“Aku tahu.”
“Kamu siap?”
Aku menatap sandal jepit hitam di dasbor.
Satu. Dua.
“Nggak,” kataku. “Aku nggak siap.”
Dewi menatapku.
“Tapi aku nggak mau lari lagi,” kataku.
Dewi tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku di atas tuas persneling, seperti malam setelah kondangan. Jarinya dingin dan basah. Genggamannya erat.
Aku menginjak gas pelan.
Lexus hitam itu keluar dari depan toko kelontong, membelah hujan, menuju rumah sakit daerah Bekasi, dua puluh menit dari sini. Di dasbor, sandal jepit hitam bergeser sedikit setiap kali mobil berbelok. Dewi memindahkannya ke pangkuannya, di atas payung lipat, dan memeganginya dengan satu tangan supaya tidak jatuh.
Tangannya yang lain tidak melepaskan tanganku di atas tuas persneling sepanjang jalan.
Dan di setiap lampu merah, aku menoleh dan menatapnya.
Lama.
Tanpa berpaling.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu reading
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala