Chapter Twenty One

Ceritakan Semuanya

POV: Dewi

Pak Arga menurunkanku di mulut gang pukul sembilan pagi hari Sabtu, dan tidak memaksa masuk.

Ia memarkir Lexus-nya di depan toko kelontong yang buka dua puluh empat jam, di sebelah bengkel las yang belum buka. Ia turun, membukakan pintu untukku, mengambil tas dari jok belakang, dan menyerahkannya padaku. Ia menatap gang sempit itu, dengan selokan di kedua sisi dan kabel listrik yang berseliweran, dan rumah Bu Ani dengan burung beo yang tiba-tiba berteriak maling! maling! begitu melihat mobil hitam mengilap.

“Itu burungnya Bu Ani,” kataku cepat. “Dia teriak ke semua orang.”

“Oh.”

Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia tidak bilang saya antar sampai depan rumah. Ia hanya berdiri di samping mobilnya, tangan di saku, dan menatapku.

“Nanti,” katanya pelan. “Kamu sudah janji.”

“Iya, Pak. Nanti.”

Ia mengangguk. Lalu, dengan cepat, sebelum aku sempat siap, ia mengulurkan tangan dan menyelipkan helai rambutku ke belakang telinga. Sama seperti di ambang pintu ruang kerja, malam Kamis. Ujung jarinya menyentuh kulit di belakang telingaku sebentar.

Lalu ia masuk ke mobil dan pergi.

Aku berdiri di mulut gang sampai mobil itu hilang di tikungan. Burung beo Bu Ani masih berteriak maling di belakangku.

Dua bapak ojek di pangkalan sebelah toko kelontong menatapku dengan mulut terbuka.


Pukul satu siang, Pakde sesak napas.

Aku sedang membantu Ibu di warung ketika Dimas berlari dari lorong belakang dengan wajah pucat. “Kak! Pakde!”

Aku berlari.

Pakde duduk di tepi dipan, membungkuk, dengan kedua tangan mencengkeram lutut. Napasnya pendek-pendek dan berbunyi, seperti air yang mendidih di dalam dadanya. Bibirnya kebiruan. Kakinya, di balik sarung, membengkak lebih besar dari tadi pagi.

Aku tahu persis apa itu. Aku sudah melihatnya puluhan kali di ruang perawatan. Cairan menumpuk di paru-paru, karena ginjal yang sudah tidak bekerja tidak bisa membuangnya.

Di lantai, di sebelah kaki dipan, termos hijau penyok tergeletak dengan tutup terbuka.

“Pakde minum berapa gelas?”

Pakde tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangkat tiga jari.

Tiga gelas. Ditambah teh. Ditambah kuah soto yang tadi pagi Ibu takar seperti menakar emas, tapi mungkin Pakde menambah sendiri waktu Ibu tidak lihat.

“Dim. Panggil taksi. Sekarang.”


Unit hemodialisis rumah sakit daerah di Bekasi itu penuh pada hari Sabtu siang. Dua puluh tempat tidur berderet dengan dua puluh mesin cuci darah yang berdengung pelan, selang-selang berisi darah merah gelap yang mengalir keluar dari lengan pasien, masuk ke mesin, lalu kembali lagi, bersih.

Perawat jaga mengenal Pakde. Semua perawat di sini mengenal Pakde. Ia sudah setahun datang dua kali seminggu, dan setiap kali ia membawa gorengan dari warung Ibu untuk mereka.

“Pak Har! Kok Sabtu ke sini? Ini bukan jadwalnya!”

“Kebanyakan kopi,” jawabku sambil membantunya naik ke tempat tidur.

Perawat itu menatap Pakde dengan wajah galak yang sangat mirip dengan Ibu. “Pak Har! Sudah berapa kali saya bilang!”

Pakde tersenyum lemah, dengan bibir yang masih kebiruan. “Maaf, Sus. Termosnya nakal.”

Mereka memasang jarum di tombol di lengan kirinya. Darah mulai mengalir ke mesin. Pakde memejamkan mata dan bersandar.

Empat jam. Cuci darah darurat ini akan berlangsung empat jam.

Aku menarik kursi plastik dan duduk di sebelah tempat tidurnya.


Satu jam kemudian, napas Pakde mulai teratur. Bibirnya tidak lagi biru. Ia membuka mata dan menatap langit-langit unit hemodialisis yang dicat putih kusam, dengan noda bocor di sudut.

“Wi.”

“Iya, Pakde.”

“Ceritain.”

Aku tahu maksudnya. Aku selalu tahu maksudnya.

“Ceritain apa, Pakde?”

“Semuanya.” Ia menoleh padaku. Matanya lelah, tapi berbinar. “Dia. Minggu ini. Semuanya. Pelan-pelan. Pakde punya waktu empat jam.”

Jadi aku bercerita.

Aku menceritakan tensi pukul delapan, setiap malam. Angka nadinya yang naik setiap kali stetoskop menyentuh dada. Seratus tiga puluh dua, Selasa malam. Pakde tertawa kecil mendengar angka itu.

Aku menceritakan nasi goreng berbentuk hati. Cetakannya yang Mbok Darmi beli sehari sebelumnya karena firasat. Sedotan merah muda. Pakde tertawa lebih keras, lalu terbatuk, dan perawat di ujung ruangan menoleh dengan wajah galak.

Aku tidak menceritakan kenapa ada nasi goreng berbentuk hati. Pakde tidak bertanya. Tapi ia menatapku dengan mata yang terlalu pintar, dan aku tahu ia tahu.

Aku menceritakan kotak jahit yang jatuh. Amplop-amplop kuning dengan cap pos Semarang dan Cirebon dan Surabaya. Pakde berhenti tertawa. Ia menatap langit-langit lama sekali.

“Dia masih simpan,” katanya pelan.

“Semuanya, Pakde. Diikat benang merah.”

Pakde memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Di mesin di sebelahnya, darah merah gelap terus mengalir, keluar dan masuk, keluar dan masuk.

“Ada yang lain?” tanyanya setelah lama. “Selain amplop?”

“Kertas bergaris. Dilipat tiga. Nggak ada amplopnya.”

“Itu balasan,” bisiknya. “Dia tulis balasan. Nggak pernah dikirim. Karena Pakde nggak pernah kasih alamat.”

Aku menunduk.

“Dua puluh enam tahun,” kata Pakde. “Dia tulis balasan dua puluh enam tahun. Ke orang yang nggak punya alamat.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi untuk waktu yang lama.


“Lanjut, Wi,” katanya akhirnya. “Yang senang-senang.”

Jadi aku menceritakan kondangan.

Tante Merry yang datang dengan koper. Bu Nining yang menangis waktu meriasku. Bu Lies yang meminjamkan anting mutiara almarhumah ibunya. Pak Arga yang berdiri dari sofa dengan mulut terbuka.

“Mulutnya terbuka?” Pakde tersenyum lebar.

“Kata Bu Lies begitu. Bu Lies yang suruh dia tutup.”

“Dasinya warna apa?”

“Abu-abu muda.”

“Kemejanya?”

“Putih.”

“Jasnya?”

“Hitam, Pakde. Rapi. Disetrika licin. Rambutnya disisir ke belakang.”

Pakde mengangguk pelan, seolah sedang membayangkannya. Setiap detail. Warna dasi. Kerah kemeja. Rambut yang disisir ke belakang.

“Dia ganteng?” tanyanya.

“Ganteng sekali, Pakde.”

“Lebih ganteng dari Pakde dulu?”

Aku tertawa. “Pakde dulu kayak gimana?”

“Pakde dulu ganteng, Wi. Ibunya Arga kejar-kejar Pakde dari pasar ke terminal.”

“Bohong.”

“Tanya aja Darmi.”

Lalu aku menceritakan pria dari bank yang berdiri terlalu dekat. Pak Arga yang datang ke meja minuman dan bilang Mama telepon, padahal tidak. Pakde tertawa sampai batuk lagi, lalu tertawa lagi, dan perawat galak di ujung ruangan berjalan ke tempat tidur kami dengan tangan di pinggang.

“Pak Har! Jangan ketawa kenceng-kenceng! Tekanan darahnya naik!”

“Maaf, Sus. Anak saya cemburu.”

Perawat itu menatap Pakde dengan bingung. “Anak Bapak?”

Pakde berhenti tertawa. Aku juga.

Untuk pertama kalinya, dalam dua puluh tahun aku mengenalnya, Pakde menyebut anak saya di depan orang lain.

“Maksudnya, Sus,” kataku cepat, “anak teman beliau.”

Perawat itu mengangkat bahu dan kembali ke ujung ruangan.

Pakde menatap langit-langit. Matanya basah. Ia tidak menyekanya.


“Wi,” katanya pelan, setelah perawat itu pergi. “Ada foto?”

Aku membuka ponsel.

Tante Merry mengirimkan dua ratus tiga belas foto ke grup WhatsApp setelah kondangan. Dua ratus tiga belas. Sebagian besar foto diriku dalam kebaya dari berbagai sudut, karena Tante Merry ternyata punya bakat fotografer yang sangat obsesif. Tapi ada beberapa foto yang lain.

Aku memilih satu dan menyerahkan ponselku pada Pakde.

Foto itu diambil di ruang tengah, sebelum kami berangkat. Aku berdiri di ambang pintu kamar tamu dengan kebaya merah muda pucat, menatap ke arah kamera dengan gugup. Dan di bagian kiri foto, agak buram karena bergerak, Pak Arga berdiri dari sofa.

Ia tidak menatap kamera. Ia menatapku.

Mulutnya sedikit terbuka. Matanya, mata yang menyala itu, terbuka lebar, seperti seseorang yang baru melihat matahari terbit untuk pertama kali.

Pakde memegang ponselku dengan tangan kanan, karena tangan kirinya terhubung ke mesin. Ia menatap foto itu lama sekali. Lalu, perlahan, dengan jempol yang gemetar, ia memperbesar gambarnya. Bukan ke arahku. Ke arah laki-laki di sudut kiri yang sedang berdiri dari sofa.

Ia memperbesar wajah itu sampai memenuhi layar. Buram. Pecah-pecah. Tapi masih bisa dikenali.

Lalu ia menyentuh layar itu. Ujung jarinya. Di pipi anaknya.

“Dia lihat kamu,” bisik Pakde, “kayak Pakde lihat ibunya dulu.”

Aku tidak bisa bicara.

“Di pasar Tangerang. Tahun sembilan puluh. Ibunya jualan kerupuk di lapak paling ujung. Pakde lewat bawa angkot. Pakde lihat dia. Pakde nabrak gerobak bakso.”

Aku tertawa, tapi air mataku jatuh.

“Habis itu Pakde lewat situ tiap hari. Tiga bulan. Tiap hari beli kerupuk. Padahal Pakde nggak suka kerupuk.” Ia masih menatap layar ponsel. Masih menyentuh pipi anaknya yang buram. “Mata Pakde waktu itu pasti kayak gini, Wi. Kayak dia di foto ini. Kayak orang bodoh.”

“Pakde.”

“Dia bodoh kayak Pakde.” Suaranya pecah. “Untung dia nggak dapet yang lain dari Pakde. Cuma bodohnya.”

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku melihat air mata jatuh dari mata Pakde Har.

Satu tetes. Turun pelan di pipinya yang keriput, melewati kerutan-kerutan yang terbentuk dari dua puluh enam tahun menyetir truk di bawah matahari Pantura. Jatuh ke bantal unit hemodialisis yang putih kusam.

Ia tidak menyekanya. Ia terus menatap foto itu.

Aku menggenggam tangan kanannya, tangan yang memegang ponselku, dan menangis bersamanya di unit cuci darah yang penuh, di antara dua puluh mesin yang berdengung, dengan darah yang terus mengalir keluar dan masuk.


Menjelang akhir sesi, Pakde mengembalikan ponselku.

“Wi.”

“Iya, Pakde.”

“Pakde boleh minta satu hal?”

“Apa?”

“Foto dia ketawa.” Pakde menatapku. “Pakde punya ratusan foto dia di dinding. Tapi semuanya serius. Semuanya foto koran. Pakde belum pernah lihat dia ketawa sejak umur lima tahun.”

Aku menatapnya.

“Darmi bilang dia sekarang ketawa,” lanjutnya pelan. “Pakde mau lihat. Sekali aja. Sebelum—”

Ia tidak melanjutkan.

“Iya, Pakde,” kataku. “Aku fotoin.”


Senin pagi, aku kembali ke Pondok Indah.

Pak Arga sedang duduk di meja makan dengan secangkir kopi, membaca ponsel. Ia mengangkat kepala ketika aku masuk. Matanya langsung mencari mataku. Tiga detik. Empat. Ia tidak membuang muka.

Di tanganku ada tas, dan di dalam tas, di saku paling dalam, ada ponsel dengan foto buram seorang laki-laki yang berdiri dari sofa.

Dan di kepalaku, ada bayangan setetes air mata yang jatuh ke bantal unit hemodialisis.

Aku menaruh tas di kursi.

Lalu aku berjalan ke arahnya, membungkuk, dan mengecup pipinya.

Cepat. Ringan. Di pipi kiri, di dekat sudut rahang, di tempat yang sama seperti minggu lalu.

Pak Arga membeku dengan cangkir kopi setengah terangkat.

Aku menegakkan tubuh dan berjalan ke dapur untuk membuat teh Mama, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Dewi.” Suaranya terdengar dari belakangku. Bingung. Serak.

“Iya, Pak?”

“Itu buat apa?”

Aku tidak menoleh. Aku mengambil teko dari rak.

“Nggak buat apa-apa, Pak.”

“Kemarin bayar lembur. Sekarang buat apa?”

Aku menuang air panas ke teko. Tanganku sedikit gemetar.

Buat seseorang yang menyentuh layar ponsel di pipi kamu, Pak. Buat seseorang yang nggak bisa melakukannya sendiri.

“Buat Senin,” kataku. “Selamat hari Senin, Pak.”

Hening di belakangku.

Lalu aku mendengar sesuatu yang membuatku berhenti menuang. Tawa. Tawa pelan, lalu tawa yang lebih keras. Tawa yang keluar dari perut. Tawa yang Mbok Darmi bilang belum pernah ia dengar selama dua puluh tahun.

Aku berbalik.

Pak Arga sedang tertawa di meja makan. Cangkir kopi sudah ia taruh. Ia menutupi wajahnya dengan satu tangan, bahunya berguncang, dan dari sela jari-jarinya aku bisa melihat matanya yang menyipit dan basah karena tertawa.

“Selamat hari Senin,” ulangnya di sela tawa. “Ya Tuhan. Selamat hari Senin.”

Aku mengeluarkan ponsel dari saku seragam.

Aku memotretnya.

Satu kali. Pelan, tanpa suara, karena aku sudah mematikan bunyi kamera di Bekasi kemarin malam, sambil memikirkan momen ini.

Di layar ponselku, seorang laki-laki tiga puluh satu tahun dengan kemeja putih, duduk di meja makan dengan secangkir kopi, menutupi wajahnya dengan satu tangan dan tertawa sampai matanya basah.

Pak Arga menurunkan tangan dan melihat ponsel di tanganku. “Kamu foto saya?”

“Iya.”

“Buat apa?”

Aku memasukkan ponsel ke saku. Aku tersenyum. Lesung di pipiku pasti muncul, karena aku merasakannya.

“Buat dokumentasi, Pak,” kataku. “Mas Teddy bilang semua yang bisa diukur bisa diperbaiki.”

Ia menatapku dengan alis berkerut, bingung, masih setengah tertawa.

Aku kembali ke teko teh Mama dan menuang air panas dengan tangan yang tidak lagi gemetar.

Dan malam itu, di kamar tamu, aku mengirimkan foto itu ke satu nomor di Bekasi.

Tidak ada pesan. Hanya foto.

Sepuluh menit kemudian, balasannya datang. Satu kata, diketik dengan jari yang aku tahu sedang gemetar:

Ganteng.

Dan setengah jam kemudian, satu lagi:

Pakde tempel di dinding. Paling bawah. Sebelah koran tender.