Chapter Six
Rumah Ini Terlalu Sunyi
POV: Dewi
Rumah ini terlalu besar untuk dua orang, dan terlalu sunyi untuk satu orang yang sedang belajar lupa.
Itu yang kupikirkan setiap pagi pukul lima lewat empat puluh, ketika aku bangun di kamar tamu yang luasnya hampir sama dengan seluruh lantai bawah rumahku di Bekasi. Kasurnya terlalu empuk. Selimutnya terlalu tebal. Pendingin udaranya terlalu senyap, sampai-sampai aku bisa mendengar detak jam dinding di lorong, satu per satu, seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu dengan sangat sabar.
Di rumahku, pagi selalu berisik. Ibu menyalakan kompor warung jam empat, menggoreng tempe, memarahi panci, memarahi Dimas, memarahi ayam tetangga yang masuk ke dapur. Radio kecil di atas lemari selalu menyiarkan dangdut pagi yang suaranya pecah-pecah. Dan dari kamar belakang, setiap pagi tanpa pernah absen, terdengar batuk berat seseorang yang sudah bangun sejak subuh dan sedang menyeduh kopi di termos hijau penyok yang tidak pernah mau ia ganti.
Di rumah ini, satu-satunya suara pagi adalah gemericik air kolam dan Bu Ratih yang bersenandung di taman belakang.
Aku duduk di tepi kasur, mengikat rambut, dan memandangi koper abu-abuku di sudut kamar. Di dalam koper itu ada lima setel seragam, dua setel baju tidur, peralatan mandi, dan satu amplop cokelat yang tidak pernah kubuka sejak aku menerimanya.
Simpan saja, Wi, kata orang yang memberikannya padaku. Kalau suatu hari kamu butuh, baru dibuka.
Aku belum butuh. Aku berharap tidak akan pernah butuh.
Minggu kedua di rumah ini, aku sudah hafal ritmenya.
Bu Ratih bangun pukul lima tiga puluh, lebih awal dari jadwal, karena tubuhnya masih ingat bahwa dulu ia harus menggoreng kerupuk sebelum matahari terbit. Beliau akan duduk di tepi ranjang, kebingungan sebentar, lalu tersenyum begitu melihatku di pintu. Kadang beliau ingat namaku. Kadang beliau memanggilku “Suster Cantik”. Sekali, hari Selasa, beliau memanggilku “Rini”, dan aku butuh dua jam untuk sadar bahwa itu nama gadis SMP yang dulu membuat anaknya menatap sepatu selama dua tahun.
Mbok Darmi sudah di dapur pukul lima. Ia memasak terlalu banyak untuk tiga orang, tapi aku tidak lagi menyuruhnya berhenti. Seminggu di sini, aku sudah tahu bahwa memasak adalah cara Mbok Darmi berdoa.
Dan Pak Arga.
Pak Arga turun pukul enam lewat lima, mandi, rapi, wangi, dengan kemeja yang disetrika licin dan rambut yang disisir ke belakang. Ia akan berdiri di dapur dengan gelas kopi, membaca ponsel, dan pura-pura tidak memperhatikan aku dan ibunya yang sedang jalan pagi di taman.
Ia tidak pandai berpura-pura.
Aku tahu karena setiap kali aku menoleh ke jendela dapur, ia langsung menunduk ke ponselnya dengan kecepatan yang hampir membuat lehernya terkilir. Setiap pagi. Tanpa gagal. Aku sudah mulai menghitungnya, seperti Mas Teddy menghitung rekor tatapan. Senin tiga kali. Selasa lima kali. Rabu tujuh kali, karena hari itu aku sengaja menoleh lebih sering.
Itu tidak profesional. Aku tahu.
Tapi aku juga perempuan dua puluh tujuh tahun yang selama lima tahun bekerja hanya merawat pasien berumur tujuh puluh ke atas. Klien-klienku mantan menteri yang lupa namanya sendiri, istri konglomerat yang mengira aku cucunya, profesor yang setiap hari menanyakan apakah perang sudah selesai. Aku menyayangi mereka semua. Tapi tidak satu pun dari mereka membuat pipiku panas di jam enam pagi.
Pak Arga membuat pipiku panas di jam enam pagi.
Ini bukan sesuatu yang kurencanakan.
Biar kujelaskan, karena kalau Ibu tahu, beliau pasti bilang aku genit.
Pak Arga tampan. Itu fakta, bukan pendapat. Tingginya hampir seratus delapan puluh, bahunya lebar, dan cara ia berdiri selalu tegak, seperti orang yang dari kecil diajari bahwa membungkuk itu tanda kalah. Rahangnya tegas. Hidungnya mancung. Alisnya tebal dan sering berkerut, seolah ada spreadsheet tak kasatmata di depan wajahnya yang terus ia hitung.
Tapi yang paling sulit kuabaikan adalah matanya.
Matanya berbinar. Bukan berbinar karena senang, tapi karena menyala. Seperti lampu di ruangan yang tidak pernah dimatikan. Aku melihatnya pertama kali di pagar, hari Senin minggu lalu, selama tiga detik sebelum ia membuang muka ke tiang. Aku melihatnya lagi waktu ia bercerita tentang bangku rumah sakit yang harus empuk, di malam ketiga, dengan suara yang tiba-tiba hidup. Aku melihatnya waktu ia bilang ia akan baca laporan harianku setiap malam.
Dan ia membaca. Setiap malam pukul sembilan lewat sepuluh, emailku dibalas. Satu kalimat. Terima kasih. Sudah saya baca. Kadang dua kalimat. Terima kasih. Mama makan pepes dua kali hari ini? Itu bagus.
Laki-laki yang menulis “Itu bagus” untuk ibunya yang makan pepes dua kali.
Laki-laki yang membangun gedung dua puluh dua lantai tapi tidak sanggup menatapku lebih dari dua detik.
Laki-laki yang lupa makan, tidur empat jam, minum tiga gelas kopi sebelum jam delapan pagi, dan masih punya mata yang menyala seperti itu.
Ia terlalu tampan untuk orang yang lupa makan. Itu tidak adil. Seseorang harus memberinya makan.
Aku tidak bermaksud menjadi orang itu.
Kamis sore, Pak Jono, satpam kompleks, menabrak pot.
Aku sedang menemani Bu Ratih berjalan sore di trotoar depan rumah, seperti jadwal. Bu Ratih memakai topi pandan dan menggandeng lenganku sambil bercerita tentang pohon mangga yang ia tanam dari biji. Aku memakai seragam putih dengan rambut dicepol, tidak ada yang istimewa.
Pak Jono datang dari arah pos dengan sepeda ontel patroli. Ia melambai pada Bu Ratih. Lalu ia melihatku.
Lalu ia terus melihatku.
Lalu sepedanya terus berjalan ke arah yang tidak ia lihat, melewati trotoar, naik ke halaman rumah tetangga, dan menghantam pot keramik besar berisi pohon kamboja dengan suara prang yang sangat keras.
Pak Jono jatuh dengan gaya yang, kalau dinilai juri senam, mungkin dapat nilai tujuh. Pot itu pecah. Kamboja tumbang. Seekor kucing lari dari balik pagar sambil mengeong marah.
Bu Ratih berhenti berjalan. Ia menatap Pak Jono yang tergeletak di antara pecahan pot. Lalu ia menatapku. Lalu ia tertawa begitu keras sampai topi pandannya miring.
“Ya Allah, Jono,” katanya di sela tawa. “Kamu lihat apa sampai nabrak pot?”
Pak Jono bangun dengan wajah merah, menepuk-nepuk seragamnya. “Ndak lihat apa-apa, Bu. Remnya blong.”
“Sepeda ontel nggak ada remnya, Jono.”
“Makanya, Bu. Blong.”
Aku membantu Pak Jono membereskan pecahan pot. Ia tidak berani menatapku. Kupingnya merah sampai ke pangkal. Dari jendela lantai dua rumah tetangga, aku melihat tirai bergerak. Seseorang sedang menonton.
Malamnya, saat makan malam, Bu Ratih menceritakan kejadian itu dengan sangat detail. Ia memeragakan cara Pak Jono jatuh dengan tangannya. Mbok Darmi tertawa sampai sendoknya jatuh.
Pak Arga tidak tertawa.
Ia menatap piringnya dengan dahi berkerut, dan setelah Bu Ratih selesai bercerita, ia bertanya dengan suara sangat datar:
“Pak Jono sudah berapa lama jadi satpam di sini?”
“Lima tahun,” kata Mbok Darmi.
“Hm.”
Hanya itu. Hm. Lalu ia kembali makan.
Aku menunduk ke piringku dan menggigit bibir supaya tidak tersenyum. Karena aku sudah cukup lama hidup di dunia ini untuk mengenali hm yang seperti itu. Itu bukan hm seorang bos yang peduli pada satpam kompleks. Itu hm seorang laki-laki yang tidak suka laki-laki lain menatap sesuatu yang belum boleh ia tatap sendiri.
Aku tidak boleh senang karena itu.
Aku senang karena itu.
Malam itu, pukul sepuluh lewat tiga puluh lima, setelah lampu ruang kerja di atas kamarku mati, aku duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar di kasur, dan menelepon ke Bekasi.
Nada sambung tiga kali. Lalu suara itu. Berat, serak, dengan sisa batuk di ujungnya.
“Wi.”
“Pakde belum tidur?”
“Nunggu telepon kamu.” Ia batuk. Batuknya lebih panjang dari minggu lalu. “Gimana?”
Aku menatap langit-langit kamar. Di atasnya, ruang kerja Pak Arga. Aku bisa membayangkan ia duduk di kursinya dalam gelap, tidak tidur, menatap laptop yang sudah dimatikan.
“Baik, Pakde,” kataku. “Semuanya baik.”
“Ibunya?”
“Baik. Makannya banyak. Tidurnya nyenyak. Minggu ini cuma dua kali bingung.”
Itu bohong. Bu Ratih bingung empat kali minggu ini. Selasa ia memanggilku Rini. Rabu ia berdiri di depan pintu dengan tas tangan lagi, mau menjemput anaknya pulang sekolah. Kamis pagi ia menangis di kamar mandi karena tidak ingat sudah mandi atau belum. Dan Kamis malam, setelah cerita Pak Jono yang membuatnya tertawa sampai topinya miring, ia menatapku di kamar sebelum tidur dan bertanya dengan suara kecil, Kamu siapa, Nak? Kok baik sekali sama Ibu?
Aku tidak menceritakan itu. Pakde tidak perlu tahu. Pakde tidak boleh tahu, karena kalau tahu, ia akan berdiri di depan pagar hitam tinggi itu dengan napas yang sudah setengah dan kaki yang bengkak, dan ia akan menunggu di sana sampai seseorang memanggil satpam.
“Anaknya?” tanya Pakde.
Pertanyaannya selalu begitu. Dua kata, pelan, seperti takut kedengaran orang lain.
“Kerjanya kebanyakan,” kataku. “Tidurnya kurang. Kopinya tiga gelas pagi-pagi.”
Pakde tertawa kecil, lalu batuk lagi. “Bandel.”
“Iya. Tapi sekarang lampunya mati jam sepuluh tiga puluh. Aku yang suruh.”
“Dia nurut?”
“Nawar dulu. Tapi akhirnya nurut.”
Diam. Di seberang sana aku mendengar suara radio kecil di atas lemari, suara Ibu memarahi Dimas soal motor yang diparkir di depan warung, dan suara napas Pakde yang berat, satu-satu.
“Makannya, Wi?” tanyanya akhirnya. “Teratur?”
Aku memejamkan mata.
Aku teringat kalimat yang ditulis tangan di atas kartu krem, kartu yang tidak dibingkai, kartu yang mungkin ada di kotak sepatu di lemari laki-laki itu, kartu yang pernah kubaca waktu aku umur lima belas, mengintip dari balik pundak orang yang sedang menulisnya di meja kayu kamar belakang:
Kuliah itu berat. Jangan lupa makan.
“Sekarang teratur, Pakde,” kataku. “Makan malam bareng ibunya. Aku yang atur.”
“Bagus.”
Satu kata. Lalu Pakde diam lama sekali, dan aku tahu ia sedang menahan sesuatu. Ia tidak pernah menangis di telepon. Ia tidak pernah menangis di depanku sama sekali, bahkan di ruang cuci darah, bahkan waktu dokter bilang angka-angkanya tidak bagus.
“Kamu jaga mereka ya, Wi,” katanya pelan.
“Iya, Pakde.”
“Dua-duanya.”
“Iya.”
“Jangan bilang apa-apa.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Iya, Pakde,” kataku untuk ketiga kalinya, dan setiap iya terasa lebih berat dari yang sebelumnya, seperti batu yang kususun satu per satu di dadaku sendiri.
“Ya sudah. Tidur. Besok kamu kerja.”
“Pakde juga tidur. Jangan lupa jadwal Kamis depan. Aku sudah bilang Dimas antar.”
“Iya, iya. Bawel kamu, kayak ibumu.”
Telepon ditutup.
Aku duduk di lantai kamar itu lama sekali. Di luar, gemericik air kolam. Di lorong, jam dinding yang terus menghitung. Di atas kepalaku, sunyi.
Lalu aku mendengar sesuatu. Sangat pelan. Bunyi lantai kayu yang berderit di lantai atas, langkah kaki seseorang yang mondar-mandir di ruang kerja yang lampunya sudah mati.
Ia belum tidur.
Aku menatap langit-langit dan, tanpa sadar, tersenyum.
“Tidur, Pak,” bisikku pada langit-langit. “Bandel.”
Tentu saja ia tidak mendengar. Tapi lima menit kemudian, deritan itu berhenti.
Jumat pagi, sebelum Mas Teddy datang dengan laporan mingguan dan sebelum aku pulang ke Bekasi, aku menemukan sesuatu di meja dapur.
Sebuah piring kecil berisi dua potong roti bakar dengan selai srikaya, ditutup tudung saji plastik. Di sebelahnya ada secarik kertas kuning dari notes tempel, dengan tulisan tangan yang tegak dan rapi, setiap huruf berdiri lurus seperti tiang bangunan:
Roti itu bukan sarapan. Kata Mama.
Tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
Untuk perjalanan pulang. — A.
Aku membaca kertas itu tiga kali.
Lalu aku menoleh ke jendela dapur. Di halaman depan, Lexus hitam baru saja keluar dari gerbang. Kaca jendela pengemudinya gelap. Aku tidak bisa melihat siapa pun di dalamnya.
Tapi mobil itu berhenti sebentar di depan pagar, satu detik, dua detik, sebelum melaju.
Seperti seseorang yang sedang menatap sesuatu dari balik kaca gelap, dan hanya sanggup menatapnya dari situ.
Aku melipat kertas kuning itu, menyelipkannya ke saku seragam, dan memakan roti bakar itu sambil berdiri di dapur.
Rasanya enak. Selainya kebanyakan. Rotinya sedikit gosong di pinggir, seperti dibuat oleh seseorang yang tidak pernah membuat roti bakar dan terlalu takut kurang matang.
Mbok Darmi masuk ke dapur, melihatku, melihat piring kosong, melihat tudung saji, dan tersenyum dengan cara yang membuat kerutan di matanya bertambah tiga.
“Mas Arga bangun jam lima tadi,” katanya, tanpa ditanya. “Bakar roti tiga kali. Dua yang pertama gosong, Mbok yang makan.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Mbok udah dua puluh tahun lebih sama Mas Arga, Mbak,” lanjutnya sambil mengambil piring kosong dari tanganku. “Mbok belum pernah lihat dia bakar roti buat siapa-siapa.”
Mbok Darmi menatapku lama. Matanya yang tua itu menyimpan sesuatu, sesuatu yang aku tahu persis, karena aku menyimpan hal yang sama.
“Hati-hati, Mbak,” katanya pelan. Bukan ancaman. Lebih seperti doa.
Lalu ia berbalik ke kompor dan mulai menggoreng tempe untuk empat puluh orang.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi reading
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala