Chapter Twenty Two
Lihat Aku, Ga
POV: Arga
Rabu pagi, aku memanggil Teddy ke ruang rapat kecil di lantai delapan belas dan menutup pintunya.
“Saya butuh bantuan kamu.”
Teddy menatapku dengan tablet di tangan, siap mencatat. “Proyek rumah sakit, Pak? Tender sub-kon MEP?”
“Bukan.”
“Rusun Tangerang? Akta jual belinya sudah—”
“Bukan, Ted.”
Teddy berhenti. Ia menatapku lebih lama. Lalu, pelan, ia menurunkan tablet ke meja.
“Pak,” katanya hati-hati. “Ini soal Mbak Dewi?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap papan tulis putih di dinding ruang rapat, papan yang sama jenisnya dengan papan di ruanganku, yang masih memuat tulisan spidol permanen REKOR TATAPAN PAK ARGA karena memang tidak bisa dihapus.
“Saya mau bilang ke dia,” kataku. “Malam ini.”
“Bilang apa, Pak?”
“Kamu tahu bilang apa.”
Teddy menatapku. Wajahnya melewati beberapa ekspresi. Kaget. Senang. Sangat senang. Lalu sangat serius.
“Pak,” katanya. “Bapak sudah siapin kalimatnya?”
“Sudah.”
“Boleh saya dengar?”
Aku mengambil spidol biru dari meja, yang tidak permanen, dan berjalan ke papan tulis. Aku menulis tiga poin dengan rapi:
1. Latar belakang
2. Kondisi saat ini
3. Proposal ke depan
Teddy menatap papan tulis itu. Lalu menatapku. Lalu menatap papan tulis lagi.
“Pak,” katanya pelan. “Itu struktur presentasi tender.”
“Struktur itu yang selalu berhasil.”
“Pak, ini bukan tender.”
“Semua hal bisa distrukturkan, Ted.”
Teddy berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke papan tulis, mengambil penghapus, dan menghapus ketiga poin itu dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat menyedihkan, seperti orang menghapus nama di batu nisan.
“Pak,” katanya, menghadap papan tulis yang sekarang kosong. “Boleh saya kasih saran?”
“Apa?”
“Jangan pakai struktur.” Ia berbalik. “Bapak cuma perlu satu kalimat. Yang benar.”
“Kalimat apa?”
“Saya nggak tahu, Pak. Itu kalimat Bapak, bukan kalimat saya.”
Aku menatapnya.
“Pak,” lanjut Teddy, lebih pelan. “Mau latihan?”
“Latihan?”
“Saya jadi Mbak Dewi.”
Sebelum aku sempat menolak, Teddy sudah duduk di kursi di depanku, menyilangkan kaki dengan anggun, meletakkan tangan di pangkuan, dan menatapku dengan mata yang dibuat-buat teduh. Lalu ia berbicara dengan suara tinggi yang sangat tidak meyakinkan:
“Pak Arga, Bapak mau ngomong apa? Tensi Bapak tinggi lagi?”
Aku menatapnya dengan horor.
“Pak,” kata Teddy dengan suara normalnya, “ayo, Pak. Bilang.”
“Ted, ini tidak—”
“Pak Arga,” potong Teddy dengan falsetto lagi, sambil mengedipkan mata dengan sangat lambat. “Detaknya cepat banget dari sini.”
Pintu ruang rapat terbuka.
Sinta dari HRD berdiri di ambang pintu dengan map di tangan. Ia menatap Teddy yang duduk menyilangkan kaki sambil mengedipkan mata. Ia menatapku yang berdiri di depan papan tulis kosong dengan spidol di tangan.
“Maaf,” kata Sinta. “Saya kira ruangannya kosong.”
Ia menutup pintu.
Teddy dan aku saling menatap.
“Saya akan bilang ke dia,” kataku pelan, “tanpa latihan.”
“Itu keputusan yang bijaksana, Pak,” kata Teddy, menurunkan kakinya dengan martabat yang tersisa.
Malam itu, pukul delapan, Dewi mengetuk pintu ruang kerjaku dengan tas hitam kecil.
Aku sudah menggulung lengan kemeja kiri. Aku sudah membuka dua kancing atas. Aku duduk di kursi dan menunggu, dengan jantung yang sudah berlari bahkan sebelum stetoskop menyentuh dada.
Dewi menatapku dari ambang pintu. Ia melihat lengan kemeja yang sudah tergulung. Dua kancing yang sudah terbuka. Ia mengangkat alis.
“Bapak siap banget malam ini.”
“Saya efisien.”
Ia memasang manset. Angka muncul. Seratus tiga puluh per delapan puluh dua. Membaik lagi.
Ia memasang stetoskop. Logam dingin di dadaku.
Ia mendengarkan, dengan mata terpejam. Lalu matanya terbuka, dan ia menatapku dengan dahi berkerut.
“Seratus tiga puluh delapan,” katanya. “Pak, ini rekor.”
“Saya tahu.”
“Bapak kenapa?”
Aku menarik napas. “Boleh kita bicara? Di balkon?”
Dewi menatapku lama. Ia melepas stetoskop pelan-pelan, menggantungnya di leher.
“Di balkon?”
“Di balkon.”
Balkon ruang kerjaku menghadap ke taman belakang. Tidak besar. Cukup untuk dua kursi rotan dan satu meja kecil, yang jarang kupakai karena aku jarang punya waktu untuk duduk di luar. Pagarnya besi tempa hitam, dan dari sana kamu bisa melihat seluruh taman: kolam ikan, pot-pot melati, pohon mangga yang Mama tanam dari biji.
Malam itu bulan hampir penuh. Cahayanya putih dan terang, membuat daun-daun pohon mangga berkilau seperti perak. Udara sejuk setelah hujan sore. Dari kolam, sesekali terdengar bunyi ikan melompat.
Dewi berdiri di pagar dengan tangan memegang besi tempa. Ia masih memakai seragam putih, rambut dicepol, stetoskop menggantung di leher. Cahaya bulan jatuh di wajahnya dari samping, menggambar garis perak di hidung, bibir, dagu.
Aku berdiri di sebelahnya.
Semua yang sudah kusiapkan hilang dari kepalaku.
Latar belakang. Kondisi saat ini. Proposal ke depan. Tiga poin yang dihapus Teddy dengan penghapus papan tulis. Kalimat-kalimat yang kuucapkan di mobil sepanjang tol, dengan intonasi berbeda-beda. Semuanya hilang, seperti gambar struktur yang terkena hujan.
“Dewi,” kataku.
“Iya, Pak.”
“Saya mau bilang sesuatu.”
“Iya.”
“Saya…” Aku berhenti. Aku menatap pohon mangga. “Saya sudah siapin. Tadi. Dari pagi. Saya bikin struktur.”
“Struktur?”
“Tiga poin. Latar belakang, kondisi saat ini, proposal ke depan.”
Dewi menoleh padaku. Matanya membesar. Lalu bibirnya bergetar, menahan tawa.
“Teddy hapus,” lanjutku cepat. “Dia bilang itu struktur tender. Dia bilang saya cuma perlu satu kalimat yang benar. Tapi saya nggak tahu kalimatnya.”
“Pak…”
“Jadi saya mau bilang semuanya. Tanpa struktur. Dan kalau nggak masuk akal, tolong jangan ketawa.”
Dewi menutup mulutnya. Ia mengangguk. Matanya berkilat.
Aku menarik napas panjang.
“Sejak hari pertama,” kataku, “saya nggak bisa lihat kamu. Kamu tahu itu. Satu setengah detik. Teddy tulis pakai spidol permanen. Saya kira itu karena kamu cantik. Dan kamu memang cantik. Kamu cantik sekali. Kamu cantik sampai satpam nabrak pot, sampai seratus empat puluh orang di kantor saya berhenti kerja, sampai Bu Lies yang nggak pernah senyum bilang antingnya cocok.”
Dewi tidak bergerak.
“Tapi bukan cuma itu,” lanjutku. Kata-kata itu mulai keluar lebih cepat, seperti air dari bendungan yang jebol, seperti di lahan Tangerang. “Saya nggak bisa lihat kamu karena setiap kali saya lihat, saya takut. Saya takut kamu bakal lihat balik, dan kamu bakal lihat semuanya. Anak lima tahun yang duduk di depan pintu. Anak sembilan tahun yang bikin daftar pakai lilin. Laki-laki tiga puluh satu tahun yang punya tiga rumah tapi nggak pernah pulang.”
Aku berhenti. Napasku terengah-engah.
“Dan kamu lihat,” kataku pelan. “Kamu lihat semuanya. Kamu lihat saya nangis di tangga. Kamu lihat buku cokelat. Kamu lihat saya lari dari dapur kayak dikejar anjing Bu Sri. Kamu lihat semuanya, dan kamu nggak pergi.”
Dewi menurunkan tangan dari mulutnya. Matanya berkaca-kaca.
“Saya nggak tahu ini apa,” kataku. “Saya nggak pernah ngerasain ini. Saya nggak tahu kata yang tepat. Suka, tapi bukan suka. Lebih dari suka. Saya cari kata yang benar dari tadi pagi, dan saya nggak ketemu. Saya cuma tahu, setiap jam delapan malam, saya gulung lengan kemeja sebelum kamu datang. Setiap jam dua pagi, saya turun ke dapur berharap lampunya nyala. Setiap Jumat sore, saya benci jalan tol karena kamu pergi lewat situ. Dan setiap Senin pagi, saya bangun jam lima, padahal nggak ada rapat, cuma karena kamu datang jam delapan.”
Aku menatap tanganku di pagar besi tempa. Tanganku gemetar.
“Saya cinta sama kamu,” kataku. Akhirnya. Pelan. Ke pagar. Ke pohon mangga. Ke kolam ikan. Ke mana pun selain wajahnya. “Itu kalimatnya. Saya rasa itu kalimatnya. Saya cinta sama kamu, Dewi. Dan saya nggak bisa lihat kamu waktu bilang ini, karena kalau saya lihat, saya nggak akan bisa selesai ngomong.”
Hening.
Bulan bergeser sedikit di balik awan tipis. Ikan di kolam melompat. Plung.
Lalu Dewi bicara.
“Lihat aku, Ga.”
Aku membeku.
Bukan Pak. Bukan Pak Arga. Bukan Bapak.
Ga.
Tidak ada yang memanggilku Ga selain Mama. Tidak ada. Teddy memanggilku Pak. Direksi memanggilku Pak Arga. Klien memanggilku Pak Pradana. Mbok Darmi memanggilku Mas Arga. Dimas memanggilku Bang Lexus.
Hanya Mama yang memanggilku Ga. Dua huruf pendek. Seperti orang memanggil seseorang yang sudah lama ia kenal.
Dan sekarang Dewi.
Aku menoleh perlahan.
Dewi berdiri di bawah cahaya bulan dengan wajah basah. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara, berkilau perak. Bibirnya gemetar. Tapi ia tidak menunduk. Ia tidak membuang muka. Ia menatapku lurus, dengan mata teduh yang sekarang tidak teduh sama sekali, mata yang penuh dengan sesuatu yang begitu besar sampai aku tidak tahu namanya.
Aku menatapnya.
Satu.
Jantungku berlari. Aku membiarkannya berlari.
Dua.
Aku tidak membuang muka.
Tiga.
Aku melihat bintik kecil di ujung hidungnya. Aku melihat bulu matanya yang basah dan menggumpal karena air mata. Aku melihat lesung di pipi kirinya, yang tidak muncul karena ia tidak tersenyum, tapi bayangannya tetap ada di sana, seperti janji.
Empat. Lima. Enam.
Aku berhenti menghitung.
Aku tidak tahu berapa lama aku menatapnya. Mungkin sepuluh detik. Mungkin satu menit. Mungkin selamanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak peduli angkanya.
“Aku juga,” bisik Dewi.
Aku tidak bergerak.
“Aku juga, Ga,” ulangnya, dengan suara yang pecah di tengah. “Dari pagar. Dari kamu bilang aku salah alamat dan nunjuk rumah sebelah. Dari kamu bakar roti tiga kali. Dari kamu duduk di tangga sampai aku berhenti nangis.”
Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Air matanya hangat di telapak tanganku.
“Aku sudah lihat kamu dari awal,” bisiknya. “Kamu aja yang nggak pernah lihat balik.”
“Sekarang aku lihat,” kataku.
Aku. Bukan saya. Kata itu keluar sendiri, dan aku tidak menariknya kembali.
Dewi memejamkan mata.
Dan aku menciumnya.
Bukan seperti di dapur.
Di dapur, ciuman itu cepat dan kaku dan miring, dengan hidung yang bertabrakan dan kaki yang langsung lari. Di dapur, aku bahkan tidak sempat merasakan apa-apa.
Kali ini, aku merasakan semuanya.
Bibirnya yang lembut dan basah oleh air mata, rasanya sedikit asin. Napasnya yang tertahan, lalu lepas pelan di bibirku. Tangannya yang naik dari pagar besi ke dadaku, ke tempat stetoskop tadi menyentuh, lalu menggenggam kemejaku. Tangannya yang lain naik ke tengkukku, jarinya menyusup ke rambutku, menarikku lebih dekat.
Aku menarik pinggangnya dengan satu tangan. Tangan yang lain masih di pipinya, ibu jariku mengusap air matanya.
Dan ciuman itu tidak berhenti.
Ia tidak menarik diri. Aku juga tidak. Ciuman itu dalam dan pelan, seperti seseorang yang sudah lama haus dan akhirnya menemukan air. Ia membalas dengan cara yang membuat lututku lemas, dengan cara yang membuatku lupa bahwa aku pernah takut menatapnya. Bibirnya bergerak di bibirku, pelan, lalu lebih yakin. Tangannya di tengkukku menggenggam lebih erat.
Bulan bergeser di balik awan. Ikan di kolam melompat. Angin malam menggoyangkan pohon mangga.
Stetoskop yang menggantung di lehernya terjepit di antara kami, logam dinginnya menekan dadaku. Aku tidak peduli.
Ketika akhirnya kami berhenti, kami berhenti pelan-pelan. Bibir kami terpisah, tapi dahi kami masih bersandar satu sama lain. Napas kami berdua terengah-engah, bercampur di udara malam yang sejuk.
Aku membuka mata.
Dewi masih memejamkan mata. Pipinya merah. Bibirnya sedikit bengkak. Air mata masih ada di bulu matanya.
“Ga,” bisiknya, tanpa membuka mata.
“Hm.”
“Detakmu.”
“Kenapa?”
Ia menempelkan telapak tangannya di dadaku, di atas jantung. “Aku nggak perlu stetoskop.”
Aku tertawa kecil. Tawaku bergetar di dahi kami yang bersentuhan.
“Berapa?” tanyaku.
Ia membuka mata. Menatapku dari jarak yang tidak lebih dari lima senti. Matanya basah dan berkilau di bawah cahaya bulan.
“Nggak bisa dihitung,” katanya. “Kayak di parkiran.”
Kami duduk di kursi rotan di balkon. Bukan dua kursi. Satu kursi. Aku duduk, dan ia duduk di sebelahku, di pinggiran kursi yang tidak cukup untuk dua orang, setengah bersandar di bahuku. Tanganku melingkari bahunya. Kepalanya di dadaku.
Kami tidak bicara untuk waktu yang lama.
Lalu Dewi berkata, sangat pelan:
“Ga.”
“Hm.”
“Kalau suatu hari kamu tahu sesuatu tentang aku,” katanya, “sesuatu yang bikin kamu marah—”
“Nggak akan.”
“Ga.” Ia mengangkat kepala dari dadaku dan menatapku. Wajahnya serius. Sangat serius. “Dengerin dulu.”
Aku menunggu.
“Kalau suatu hari kamu tahu sesuatu yang bikin kamu marah,” ulangnya, “janji kamu dengerin aku dulu. Sampai habis. Sebelum kamu tutup pintu.”
Kalimat itu menggantung di udara malam.
Sebelum kamu tutup pintu.
Aku menatapnya. Aku tidak mengerti kenapa ia mengatakan itu. Aku tidak mengerti kenapa matanya, yang tadi penuh dengan sesuatu yang begitu besar, sekarang dipenuhi sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlihat seperti ketakutan.
Tapi aku baru saja mengatakan hal paling jujur yang pernah kukatakan seumur hidup. Dan ia baru saja mengatakannya kembali. Dan aku tidak bisa membayangkan ada apa pun di dunia ini yang bisa membuatku menutup pintu di depan perempuan ini.
“Janji,” kataku.
“Sampai habis?”
“Sampai habis.”
Dewi menatapku lama. Lalu ia mengangguk pelan dan menyandarkan kepalanya lagi di dadaku.
Aku memeluknya lebih erat.
Di bawah sana, di taman, pohon mangga yang Mama tanam dari biji bergoyang pelan. Bulan bergeser ke barat. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu tahun, aku tidak memikirkan target berikutnya.
Pukul sebelas lewat lima belas, Dewi turun ke kamarnya.
Kami melanggar aturan lampu empat puluh lima menit. Ia tidak menegurku. Ia hanya berhenti di ambang pintu ruang kerja, menyentuh pipiku sebentar dengan ujung jarinya, lalu berjalan menuruni tangga sambil menunduk. Anak tangga ketujuh berderit.
Aku mematikan lampu dan berbaring di kasur dalam gelap, menatap langit-langit dengan senyum yang tidak bisa kuhentikan.
Lalu aku mendengarnya.
Dari lantai bawah. Dari kamar tamu. Sangat pelan, nyaris tidak terdengar.
Seseorang sedang menangis dengan wajah ditekan ke bantal.
Aku duduk di kasur.
Aku memikirkan untuk turun. Aku memikirkan anak tangga ketujuh. Aku memikirkan perbedaan antara ingin ditemani dan ingin tidak dilihat.
Lalu aku berbaring lagi.
Mungkin, pikirku, orang memang menangis kalau terlalu bahagia.
Aku pernah membaca itu di suatu tempat. Air mata bahagia. Aku tidak pernah mengalaminya sendiri, tapi aku percaya itu ada. Dewi menangis di balkon tadi, sebelum ia bilang aku juga. Mungkin ia masih menangis karena hal yang sama.
Aku memejamkan mata dengan senyum yang masih ada di wajahku.
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa di kamar tamu di lantai bawah, perempuan yang baru saja kucium di bawah cahaya bulan sedang memeluk koper abu-abunya. Di saku paling dalam koper itu ada amplop cokelat yang belum pernah dibuka. Dan ia menangis bukan karena bahagia.
Ia menangis karena baru saja membuatku berjanji, dan ia tahu persis kenapa ia memintanya.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga reading
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala