Chapter Eight
Jam Dua Pagi
POV: Arga
Mematikan lampu pukul sepuluh tiga puluh ternyata tidak sama dengan tidur pukul sepuluh tiga puluh.
Tubuhku sudah sebelas tahun terbiasa tidur pukul dua atau tiga pagi. Sebelas tahun itu tidak bisa diubah dengan selembar kertas di pintu kulkas, sekeras apa pun garis bawahnya. Jadi setiap malam, setelah lampu ruang kerja mati, aku berbaring di kamar dalam gelap, menatap langit-langit, dan memikirkan hal-hal yang biasanya kupikirkan di depan laptop.
Jadwal pengecoran. Revisi gambar struktur. Harga besi yang naik dua persen minggu ini. Mama yang memanggil Dewi dengan nama Rini.
Dan Dewi yang berbisik di telingaku di dapur, kemarin sore.
Bagian itu tidak termasuk daftar pikiran kerjaku. Tapi ia muncul setiap malam, tanpa diundang, seperti notifikasi yang tidak bisa dimatikan.
Malam Jumat ini, pukul satu lewat lima puluh delapan, aku menyerah. Tenggorokanku kering. Perutku kosong, karena di makan malam tadi aku terlalu sibuk tidak menatap seberang meja sampai lupa menghabiskan nasi. Aku turun ke dapur untuk mengambil air.
Lampu dapur menyala.
Dewi berdiri di depan kompor dengan punggung menghadapku.
Ia tidak memakai seragam. Ia memakai kaus putih longgar yang lengannya terlalu panjang dan celana tidur bermotif kotak-kotak biru. Rambutnya tidak dicepol. Rambut itu terurai sampai ke tengah punggung, sedikit kusut, seperti baru bangun dari bantal. Kakinya telanjang di atas lantai keramik dingin.
Di atas kompor, panci kecil berisi susu sedang dipanaskan dengan api paling kecil. Di meja di sebelahnya ada gelas, satu sachet madu, dan kotak obat Mama yang terbuka.
Aku berdiri di ambang pintu dan, untuk sekali ini, tidak membuang muka.
Karena ia tidak melihatku. Karena ia memunggungiku. Karena dalam cahaya lampu dapur yang kekuningan, dengan rambut terurai dan kaus yang terlalu besar, ia terlihat sangat berbeda dari perawat profesional yang menyerahkan teh dengan dua tangan di ruang tamu. Ia terlihat seperti seseorang yang tinggal di sini. Seperti seseorang yang pantas berdiri di dapur rumah ini jam dua pagi.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Lalu ia bicara tanpa menoleh.
“Bapak mau susu juga?”
Aku tersentak. “Kamu tahu saya di sini?”
“Lantai kayu tangga Bapak berderit di anak tangga ketujuh.” Ia mematikan kompor dan menuang susu ke gelas. “Saya sudah hafal. Bapak turun jam dua pagi setiap malam sejak lampunya dimatikan jam sepuluh tiga puluh.”
“Setiap malam?”
“Senin sampai Jumat. Saya nggak tahu Sabtu-Minggu. Bu Yati bilang Bapak turun jam tiga.”
Aku terdiam. Lima malam. Lima malam aku turun ke dapur dan berdiri di kegelapan dengan segelas air, mengira tidak ada yang tahu.
“Kenapa kamu bangun jam segini?”
“Bu Ratih gelisah.” Ia memasukkan madu ke susu dan mengaduknya pelan. “Beliau terbangun dan mau minum susu hangat. Katanya dulu ada yang suka bikinin beliau susu hangat kalau tidak bisa tidur.”
“Siapa?”
Sendok di tangan Dewi berhenti sebentar. Hanya sebentar.
“Beliau tidak bilang,” katanya. “Mungkin Bapak waktu kecil.”
Aku tidak pernah membuatkan susu hangat untuk Mama. Waktu kecil, aku yang dibuatkan. Tapi aku tidak mengoreksinya.
“Tunggu sebentar ya, Pak,” kata Dewi. “Saya antar ini dulu.”
Ia berjalan melewatiku dengan gelas susu di tangan. Rambutnya yang terurai menyapu lenganku sebentar, wangi sampo yang samar. Aku mendengar pintu kamar Mama terbuka, suara Dewi yang pelan, suara Mama yang bergumam. Lalu hening.
Aku berdiri di dapur sendirian dan perutku berbunyi keras sekali.
Ketika Dewi kembali lima menit kemudian, aku sedang membuka lemari dapur satu per satu.
“Cari apa, Pak?”
“Makanan.”
“Opor Mbok Darmi ada di kulkas. Masih tiga panci.”
“Saya sudah makan opor sebelas hari berturut-turut.”
Dewi menahan tawa. Ia berjalan ke lemari paling atas, berjinjit, dan mengambil dua bungkus mi instan dari belakang deretan toples bumbu.
“Mbok Darmi sembunyikan di sini,” katanya. “Beliau bilang mi instan nggak sehat, jadi beliau cuma makan kalau nggak ada yang lihat.”
“Mbok Darmi makan mi instan diam-diam?”
“Setiap Kamis malam. Sambil nonton sinetron.”
Aku menatap dua bungkus mi itu di tangannya. Lalu aku menatap wajahnya, satu detik, dan menatap mi itu lagi.
“Kamu tahu terlalu banyak tentang rumah ini,” kataku.
“Saya perawat, Pak. Tugas saya memperhatikan.” Ia menyalakan kompor lagi, mengisi panci dengan air. “Duduk saja. Saya masakin.”
“Saya bisa masak sendiri.”
“Bapak bakar roti tiga kali, dua gosong.”
Aku membeku. “Siapa yang bilang?”
Dewi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum ke arah panci, dan aku tahu persis siapa yang bilang. Mbok Darmi. Mbok Darmi yang makan dua potong roti gosong itu dan ternyata juga memakan seluruh harga diriku.
Aku duduk di kursi tinggi di meja dapur dengan dahi bersandar di tangan.
Ia memasak mi dengan cara yang membuatku curiga ia sudah melakukannya ribuan kali. Air mendidih, mi masuk, telur dipecahkan langsung ke dalam panci tanpa diaduk supaya kuningnya tetap utuh. Lalu ia memotong dua buah cabai rawit dengan pisau kecil, cepat, rapi, dan menaburkannya di atas mi bersama sejumput daun bawang yang ia ambil dari kulkas.
“Pedas?” tanyanya tanpa menoleh.
“Sedikit.”
“Bohong. Bapak suka pedas. Sambal terasi di meja makan selalu habis di sisi Bapak.”
Ia menambahkan dua cabai lagi.
Lalu ia menuang mi itu ke dua mangkuk, meletakkan satu di depanku dan satu di seberang meja, dan duduk di kursi tinggi di hadapanku dengan kaki telanjang yang dilipat ke atas kursi, lutut ditekuk ke dada, seperti anak kecil.
Kami makan dalam diam selama beberapa saat. Mi itu enak. Terlalu enak untuk mi instan. Kuahnya pedas dan gurih, telurnya setengah matang, dan aku menghabiskan setengah mangkuk dalam dua menit.
“Pelan-pelan, Pak,” kata Dewi. “Nggak ada yang mau ambil.”
“Saya lapar.”
“Karena Bapak tadi nggak habiskan nasi.” Ia meniup mi di sendoknya. “Karena Bapak sibuk lihat sambal.”
Aku tersedak.
Dewi tertawa dan menyodorkan segelas air. Aku minum, terbatuk, dan minum lagi. Ketika aku mengangkat kepala, ia sedang menatapku dengan dagu bertumpu di lutut, mata teduh yang setengah mengantuk, rambut terurai yang jatuh ke satu sisi.
Kali ini aku tidak langsung membuang muka. Mungkin karena jam dua pagi membuat semua orang sedikit lebih berani. Mungkin karena mi pedas membuat mataku berair dan aku punya alasan untuk berkedip. Aku menatapnya sambil pura-pura masih terbatuk, dan ia menatap balik, dan untuk beberapa saat dapur itu hanya berisi suara kulkas yang mendengung dan jam dinding di lorong yang terus menghitung.
“Pak,” katanya pelan. “Boleh saya tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kenapa Bapak nggak pernah berhenti?”
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti pertanyaan perawat. Tidak ada nada menegur di sana. Hanya keingintahuan yang tulus, seperti orang yang menanyakan kenapa langit berwarna biru.
Aku menatap mangkukku. Kuahnya tinggal sedikit, dengan potongan cabai yang mengapung seperti pulau-pulau kecil.
“Saya berhenti,” kataku. “Lampu mati jam sepuluh tiga puluh.”
“Badan Bapak berhenti. Kepala Bapak nggak.” Ia memiringkan kepala. “Bapak turun jam dua pagi setiap malam. Bapak berdiri di dapur sambil megang gelas air, tapi mata Bapak lihat ke tempat lain. Kayak orang lagi ngitung sesuatu.”
Aku tidak menjawab.
“Tender rumah sakit sudah menang,” lanjutnya. “Rumah sudah tiga. Tabungan, kata Mas Teddy, sudah nggak perlu dihitung lagi. Bu Ratih sudah nggak jualan kerupuk. Bapak sudah sampai, Pak. Kenapa masih lari?”
Jam dinding di lorong berdetak. Sekali. Dua kali.
“Kamu pernah jualan kerupuk?” tanyaku.
Dewi menggeleng. “Ibu saya jualan nasi. Warung.”
“Kerupuk itu dititipkan ke warung-warung,” kataku. “Satu bungkus dua ratus perak. Waktu itu. Mama bangun jam tiga pagi, goreng sampai jam enam, lalu saya bawa ke warung-warung sebelum berangkat sekolah. Dua belas warung. Saya hafal semuanya. Warung Bu Sri yang anjingnya galak. Warung Pak Darto yang suka nggak bayar tepat waktu. Warung Mak Ijah yang suka kasih saya permen.”
Aku tidak tahu kenapa aku menceritakan ini. Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Teddy tidak tahu. Direksi tidak tahu. Majalah yang memberiku penghargaan pengusaha muda hanya tahu aku “berasal dari keluarga sederhana”, dua kata yang mereka tulis dengan nada heroik dan tidak berarti apa-apa.
“Satu hari, Pak Darto nggak bayar dua minggu,” lanjutku. “Mama nggak bisa beli minyak goreng. Kami makan nasi pakai kecap tiga hari. Listrik dicabut. Mama nangis di dapur sambil pura-pura motong bawang, padahal nggak ada bawang.”
Dewi tidak bergerak.
“Waktu itu saya umur sembilan,” kataku. “Saya duduk di lantai kontrakan pakai lilin, terus saya ambil buku tulis, terus saya bikin daftar. Apa saja yang harus saya punya supaya Mama nggak nangis lagi di dapur.”
“Buku cokelat?” tanya Dewi pelan.
Aku mengangkat kepala. “Kamu tahu?”
“Bapak naruh di laci mobil. Saya lihat waktu Bapak antar saya ke stasiun.” Ia menggigit bibir. “Saya nggak baca. Saya cuma lihat sampulnya. Jangan dibaca orang lain, tiga tanda seru.”
Aku hampir tertawa. Hampir.
“Semua yang ada di buku itu sudah saya coret,” kataku. “Hampir semua. Tapi setiap kali saya coret satu, saya langsung takut. Takut kalau saya berhenti nulis yang baru, saya bakal bangun suatu pagi dan semuanya hilang.”
“Kenapa bisa hilang?”
“Karena pernah.”
Dua kata itu keluar dengan suara yang tidak kukenali. Suara anak lima tahun yang bangun di kontrakan dua petak dan menemukan sepasang sandal jepit besar sudah tidak ada di depan pintu.
Aku tidak melanjutkan. Dewi tidak memaksa.
Ia hanya menatapku dari seberang meja dapur dengan dagu di atas lutut. Matanya berkaca-kaca, atau mungkin itu uap dari mangkuk mi. Ia membuka mulut, menutupnya lagi, seperti seseorang yang punya terlalu banyak hal untuk dikatakan dan memutuskan untuk tidak mengatakan satu pun.
Lalu, pelan sekali, ia bilang:
“Rumah ini nggak akan hilang, Pak.”
“Kamu nggak bisa tahu itu.”
“Bisa.” Ia menurunkan kakinya dari kursi dan duduk tegak. “Selama saya di sini, saya jaga. Ibu, dapur, kompor, gunting di bawah bantal sofa. Bapak boleh tidur jam sepuluh tiga puluh. Bapak boleh berhenti sebentar. Saya jaga.”
Kalimat itu sederhana. Diucapkan dengan nada yang sama seperti waktu ia menjelaskan jadwal terapi di kantorku. Profesional. Tenang.
Tapi dadaku sesak seperti seseorang baru saja menaruh batu yang sangat berat di atasnya, lalu, entah bagaimana, mengangkatnya pergi.
Aku tidak sanggup menjawab. Jadi aku menunduk ke mangkuk dan menghabiskan kuah mi itu sampai tetes terakhir, dengan mata yang pedas karena cabai. Karena cabai. Hanya karena cabai.
Ketika aku mengangkat kepala, ada sesuatu di dagu Dewi.
Setitik kuah mi berwarna oranye kemerahan, tepat di bawah bibirnya, di tempat yang tidak bisa ia lihat. Ia sedang tersenyum padaku, senyum kecil yang lembut, tidak menyadari apa-apa.
“Ada…” Aku menunjuk dagu sendiri.
“Apa?”
“Kuah. Di situ.”
Ia mengusap pipi kanannya. Salah. Pipi kirinya. Salah lagi. Hidungnya, yang sama sekali tidak ada hubungannya.
“Bukan,” kataku. “Lebih ke bawah.”
“Di mana, Pak?”
Aku mengambil selembar tisu dari kotak di meja. Aku mencondongkan tubuh ke seberang meja dapur yang sempit itu, mengulurkan tangan, dan dengan sangat hati-hati, seperti menyentuh gambar struktur yang tintanya belum kering, aku mengusap titik kuah itu dari dagunya.
Jarak wajah kami tiba-tiba hanya dua jengkal.
Dewi tidak bergerak. Napasnya berhenti. Aku bisa melihat bulu matanya yang panjang, bintik kecil di ujung hidungnya yang tidak pernah kuperhatikan sebelumnya, dan matanya yang membesar perlahan, menatapku dari jarak sedekat itu.
Tanganku masih di dagunya.
Satu detik.
Dua detik.
“Astagfirullah!”
Kami berdua tersentak. Aku menarik tangan begitu cepat sampai tisu itu terbang dan mendarat di mangkuk mi. Dewi hampir jatuh dari kursinya.
Mbok Darmi berdiri di ambang pintu dapur dengan daster bunga-bunga, rambut digulung handuk, dan senter di tangan. Matanya terbelalak. Mulutnya terbuka. Senter di tangannya menyorot langsung ke wajahku, seperti polisi yang menemukan maling.
“Mbok…” kataku.
“Mbok nggak lihat apa-apa!” Mbok Darmi langsung memutar badan, menyorotkan senter ke dinding. “Mbok nggak lihat! Mbok mau ambil mi! Eh, bukan, Mbok mau ambil air! Mbok nggak makan mi! Mbok nggak pernah makan mi!”
“Mbok, ini bukan—”
“Mbok tidur lagi! Selamat malam! Assalamualaikum!”
Mbok Darmi lari ke arah kamarnya di belakang dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk perempuan enam puluh tahun. Senter di tangannya menyorot liar ke langit-langit, ke dinding, ke pohon mangga di luar jendela. Pintu kamarnya terbanting.
Dapur sunyi lagi.
Aku menatap Dewi. Dewi menatapku. Lalu kami berdua menatap dua bungkus mi instan kosong di atas meja, yang tadi diambil dari lemari persembunyian Mbok Darmi.
“Beliau pasti sadar mi-nya hilang dua,” kata Dewi pelan.
“Itu bukan bagian paling buruknya.”
“Bukan, ya?”
“Bagian paling buruknya,” kataku, menutup wajah dengan kedua tangan, “Mbok Darmi sarapan sama Mama setiap pagi jam enam.”
Pukul enam lewat dua belas pagi itu, Mama duduk di kepala meja makan dengan secangkir teh dan senyum yang sangat, sangat lebar.
Aku duduk. Aku menatap nasi gorengku.
“Ga,” kata Mama manis.
“Pagi, Ma.”
“Mama dengar dari Darmi,” Mama menyesap tehnya dengan lambat, “soal jam dua pagi.”
Di seberang meja, Dewi tersedak tehnya.
“Ma, itu cuma mi instan.”
“Mama nggak bilang apa-apa soal mi.” Mama menaruh cangkirnya. Matanya berkilat. Matanya jernih sekali pagi ini, jernih dan tajam, seolah demensia sengaja libur hanya supaya ia bisa menikmati momen ini. “Darmi bilang kalian duduk dekat-dekatan. Kamu pegang dagunya.”
“Itu kuah, Ma.”
“Kuah?”
“Ada kuah mi di dagunya. Saya bersihkan.”
Mama menatapku lama. Lalu ia menatap Dewi, yang sekarang menutupi wajah merahnya dengan serbet. Lalu ia menatap Mbok Darmi, yang sedang berdiri di ambang pintu dapur dan langsung pura-pura sibuk mengelap pintu kulkas yang sudah bersih.
“Darmi,” panggil Mama.
“Iya, Bu?”
“Mulai minggu ini, stok mi instan ditambah.”
Mbok Darmi berhenti mengelap. “Ditambah, Bu?”
“Ditambah. Taruh di tempat yang gampang dijangkau. Jangan di lemari paling atas. Kasihan Dewi harus jinjit.”
Mama kembali menyesap tehnya dengan wajah paling puas yang pernah kulihat dalam tiga puluh satu tahun hidupku.
Aku menatap nasi goreng.
Dewi menatap serbet.
Mbok Darmi menatap kulkas.
Dan di jendela dapur, pohon mangga yang Mama tanam dari biji bergoyang pelan ditiup angin pagi, seperti sedang ikut tertawa.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi reading
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala