Chapter Ten
Siapa Kamu, Mas?
POV: Arga
Selasa pagi, Teddy mempresentasikan grafik di rapat direksi.
Bukan grafik yang seharusnya. Seharusnya ia menampilkan kurva progres pengadaan material untuk proyek rumah sakit, dengan garis biru untuk target dan garis oranye untuk realisasi. Tujuh direktur duduk mengelilingi meja panjang ruang rapat, kopi di tangan, siap mendengar kabar baik.
Teddy menekan tombol next di laptopnya.
Layar proyektor berganti. Grafik garis berwarna merah muda, dengan judul besar di atasnya:
PERKEMBANGAN REKOR TATAPAN (MINGGU 1–3)
Sumbu horizontal: tanggal. Sumbu vertikal: detik. Ada tiga titik data. Jumat minggu pertama, 1,5 detik. Rabu minggu ketiga, 3 detik, dengan catatan kecil di sebelahnya: (sumber: Bu Merry, dapur, toples gula kosong). Dan Kamis malam minggu ketiga, sebuah tanda tanya besar, dengan keterangan: (sumber: Mbok Darmi, dapur, jam 2 pagi, data belum terverifikasi).
Di bawah grafik itu, garis tren putus-putus yang naik tajam ke kanan atas, dengan label: Proyeksi: 10 detik dalam 2 bulan.
Ruang rapat diam.
Direktur keuangan, Pak Benny, lelaki enam puluh tahun yang tidak pernah tertawa di rapat mana pun, meletakkan kopinya perlahan. “Teddy. Ini apa?”
Teddy menatap layar. Wajahnya berubah dari merah ke putih ke merah lagi dalam tiga detik.
“Ini,” katanya, “adalah… proyeksi pertumbuhan. Internal.”
“Tatapan siapa?”
Tujuh pasang mata berbalik ke arahku.
Aku menatap gelas air di depanku dan berkata dengan suara paling tenang yang bisa kukeluarkan: “Teddy, slide berikutnya.”
“Siap, Pak.”
Slide berikutnya muncul. Kurva pengadaan material. Garis biru dan oranye. Rapat berlanjut.
Tapi selama sisa rapat, aku bisa merasakan Pak Benny sesekali melirikku dari balik kacamatanya. Dan di akhir rapat, ketika semua direktur berdiri, ia menepuk bahuku dan berkata pelan, “Semoga proyeksinya tercapai, Pak Arga.”
Ia tersenyum. Itu senyum pertamanya di ruang rapat dalam tiga tahun.
Aku memecat Teddy di lift. Ia bekerja lagi di lantai delapan belas sepuluh menit kemudian, seperti biasa.
Malam itu aku pulang terlambat.
Rapat dengan sub-kontraktor struktur molor tiga jam karena perdebatan soal jadwal pengecoran lantai basement. Aku keluar dari kantor pukul sembilan lewat empat puluh, dan jalanan dari Kuningan ke Pondok Indah macet karena hujan sore yang menyisakan genangan di mana-mana.
Pukul sepuluh lewat dua puluh, aku membuka gerbang. Sepuluh menit sebelum batas lampu mati. Aku sudah melanggar aturan makan malam, tapi setidaknya aku masih bisa menepati aturan lampu.
Rumah gelap. Hanya lampu teras dan lampu malam di lorong yang menyala, lampu kecil yang Dewi pasang minggu lalu supaya Mama tidak tersandung kalau ke kamar mandi tengah malam.
Aku masuk lewat pintu depan, menaruh tas di meja konsol, dan melepas sepatu.
Lalu aku melihat sosok di ruang tengah.
Mama duduk di kursi tunggalnya, dalam gelap, dengan daster dan selendang di bahu. Ia tidak menyalakan lampu. Ia tidak menonton televisi. Ia hanya duduk, tegak, dengan kedua tangan menggenggam sesuatu di pangkuan, menatap ke arah pintu.
“Ma?” kataku pelan. “Kok belum tidur?”
Mama tidak menjawab.
Aku berjalan ke ruang tengah. Satu langkah. Dua langkah. Lampu malam di lorong menerangi wajahku dari samping.
Mama berdiri.
Ia berdiri begitu cepat sampai selendangnya jatuh. Benda di pangkuannya juga jatuh ke lantai dengan suara kecil. Gunting jahit kecil berwarna oranye, yang seharusnya sudah dikunci di kotak pengamanan. Mama pasti menyembunyikan satu lagi di tempat yang tidak kami temukan.
Mama mundur sampai punggungnya membentur dinding.
“Siapa kamu?”
Suaranya bergetar. Bukan bingung. Ketakutan.
Aku berhenti. “Ma, ini Arga.”
“Jangan masuk!” Mama mengangkat tangannya ke depan, telapak terbuka, seperti menahan sesuatu yang akan menabraknya. “Jangan masuk! Saya teriak!”
“Ma—”
“Suami saya nggak ada!” Suaranya pecah. “Dia nggak ada di rumah! Sudah pergi! Kalian cari dia di tempat lain!”
Aku membeku.
Aku pernah membeku di depan Dewi berkali-kali. Di pagar, di kantor, di dapur. Tapi itu beku yang hangat, beku yang membuat jantungku berlari. Ini berbeda. Ini beku yang dingin, seperti seseorang menyiramkan air es ke seluruh tubuhku dari kepala sampai kaki.
Mama menatapku dengan mata yang tidak mengenaliku. Mata yang lebar, basah, panik. Mata seorang perempuan muda di kontrakan dua petak yang mendengar pintu diketuk keras-keras di tengah malam.
“Ma, ini aku. Arga. Anak Mama.”
“Arga masih kecil!” Mama menggeleng keras. “Arga lima tahun! Dia lagi tidur di kamar! Tolong… tolong jangan ganggu anak saya. Utangnya nanti dibayar. Saya yang bayar. Saya jualan. Tolong, jangan bangunin anak saya.”
Utang.
Kata itu menghantamku seperti balok kayu.
Utang apa? Utang siapa? Siapa yang datang ke kontrakan kami di tengah malam? Aku tidak pernah tahu ada orang yang datang. Aku tidak pernah tahu ada utang. Aku hanya tahu ayahku pergi suatu pagi, dan sejak itu Mama menggoreng kerupuk.
Mama mulai menangis. Bukan tangisan keras. Tangisan tertahan, seperti seseorang yang sudah terlalu sering menangis diam-diam supaya anaknya tidak terbangun. Ia merosot perlahan di sepanjang dinding sampai terduduk di lantai, memeluk lututnya sendiri, dan terus bergumam.
“Jangan bangunin Arga. Jangan bangunin Arga. Dia besok sekolah.”
Aku melangkah maju. Mama menjerit.
Aku mundur lagi.
Aku berdiri di tengah ruang tengah rumah yang kubeli dengan uangku sendiri, rumah yang pagarnya hitam dan tinggi, rumah yang taman depannya terlalu luas untuk dua orang, dan ibuku meringkuk di lantai, ketakutan padaku.
Pada anaknya sendiri.
“Pak. Mundur sedikit lagi.”
Suara itu datang dari belakangku. Pelan, tenang, rendah.
Dewi berdiri di ambang lorong dengan kaus putih longgar dan celana tidur kotak-kotak biru. Rambutnya terurai. Kakinya telanjang. Ia pasti terbangun karena suara Mama.
Ia tidak berlari. Ia berjalan pelan sekali, melewatiku, dan menyentuh lenganku sebentar saat lewat. Sentuhan ringan, hanya ujung jari, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa aku masih bernapas.
“Matikan lampu lorongnya, Pak,” bisiknya. “Bu Ratih lihat bayangan Bapak dari belakang. Terlalu tinggi. Terlalu gelap.”
Aku mematikan lampu malam di lorong. Ruang tengah jadi lebih gelap, hanya disinari cahaya dari lampu teras yang masuk lewat jendela.
Dewi tidak mendekati Mama secara langsung. Ia duduk di lantai, dua meter dari Mama, dengan kaki bersila dan tangan di pangkuan. Posisi yang tidak mengancam. Posisi seseorang yang tidak akan ke mana-mana.
Lalu ia mulai bersenandung.
Pelan sekali. Nyaris berbisik. Sebuah lagu keroncong lama dengan nada yang naik turun seperti gelombang, lagu yang tidak kukenal judulnya tapi terasa akrab, seperti sesuatu yang pernah kudengar dari balik dinding kamar ketika aku masih sangat kecil.
Mama berhenti bergumam.
Dewi terus bersenandung. Satu bait. Dua bait. Suaranya rendah dan hangat, tidak sempurna, sedikit sumbang di nada-nada tinggi, tapi tidak pernah berhenti.
Perlahan, sangat perlahan, Mama mengangkat kepala dari lututnya.
Ia menatap Dewi dalam gelap. Napasnya masih tersengal, tapi tidak lagi panik. Matanya yang tadi lebar dan basah sekarang menyipit, seperti seseorang yang mencoba mengingat sesuatu dari jauh.
“Lagu itu…” bisik Mama.
Dewi tidak berhenti. Ia terus bersenandung, dan pelan-pelan beringsut sedikit lebih dekat. Satu jengkal. Dua jengkal.
“Lagu itu,” ulang Mama. Suaranya pecah lagi, tapi kali ini bukan karena takut. “Dulu… dulu ada yang suka nyanyi itu. Kalau Ibu nggak bisa tidur. Pakai susu hangat.”
Dewi berhenti bersenandung. Ia sudah duduk tepat di sebelah Mama sekarang. Ia mengulurkan tangan, pelan, dan menyentuh punggung tangan Mama. Bekas luka minyak panas yang warnanya sedikit lebih terang.
“Ibu mau susu hangat?” bisik Dewi.
Mama menatap tangan Dewi di atas tangannya. Lalu ia mengangguk, seperti anak kecil.
“Ayo, Bu. Kita ke kamar. Saya bikinin.”
Dewi membantu Mama berdiri. Mama bersandar padanya, berjalan pelan menuju kamarnya dengan langkah yang goyah. Mereka melewatiku. Mama tidak menoleh ke arahku sama sekali, seolah aku hanya bagian dari dinding.
Tepat di ambang pintu kamar, Mama berhenti.
Ia menoleh. Matanya menatapku dalam gelap. Lama.
“Mas,” katanya pelan, dengan suara yang sopan dan asing, suara yang dipakai untuk menyapa tamu yang tidak dikenal. “Mas siapa? Teman Dewi, ya?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kalau mau pulang, pintunya ditutup ya, Mas. Anak saya lagi tidur.”
Pintu kamar tertutup.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di ruang tengah.
Aku memungut gunting oranye dari lantai. Aku memungut selendang Mama. Aku melipat selendang itu dengan sangat rapi, empat kali, lalu meletakkannya di sandaran kursi tunggal. Aku melakukan semua itu dengan gerakan yang tenang dan terstruktur, seperti CEO yang sedang memeriksa lokasi proyek setelah kecelakaan kerja.
Lalu aku berjalan ke tangga, berniat naik ke kamar, dan sampai di anak tangga ketiga, kakiku berhenti bekerja.
Aku duduk.
Aku tidak berniat duduk. Aku hanya tiba-tiba sudah duduk di anak tangga ketiga, dengan siku di lutut, dengan gunting oranye masih tergenggam di tangan kanan.
Mas siapa?
Tiga puluh satu tahun. Tiga puluh satu tahun aku jadi anak dari perempuan itu. Anak yang ia gendong ke puskesmas. Anak yang ia bangunkan jam lima pagi untuk mengantar kerupuk ke dua belas warung. Anak yang ia tunggu lampunya mati setiap malam selama bertahun-tahun.
Malam ini, ia menatapku seperti menatap orang asing yang masuk ke rumahnya tengah malam.
Dan sebelum itu, ia menatapku seperti menatap seseorang yang datang untuk menagih utang. Utang yang tidak pernah kuketahui ada. Utang yang ia bayar sendirian, dengan tangan yang melepuh, sambil menyuruhku belajar.
Aku menekan kedua telapak tangan ke mataku. Keras. Sangat keras. Sampai muncul bintik-bintik putih di balik kelopak mata.
Aku tidak menangis. Aku tidak pernah menangis. Terakhir kali aku menangis umur sembilan, di lantai kontrakan pakai lilin, sebelum aku mengambil buku tulis dan membuat daftar. Sejak itu, setiap kali aku ingin menangis, aku menulis target baru.
Tapi malam ini tidak ada buku tulis. Tidak ada target. Tidak ada yang bisa dicoret.
Aku mendengar pintu kamar Mama terbuka, lalu tertutup dengan sangat pelan. Langkah kaki telanjang di lantai keramik. Langkah itu berhenti di bawah tangga.
Aku tidak mengangkat kepala.
Langkah itu naik. Satu anak tangga. Dua. Tiga.
Dewi duduk di sebelahku. Di anak tangga yang sama, begitu dekat sampai bahu kami bersentuhan.
Ia tidak berkata apa-apa.
Aku tidak menatapnya. Aku menatap gunting oranye di tanganku. Aku tidak sanggup menatapnya. Bukan karena jantungku berlari, seperti biasanya. Kali ini karena aku tahu, kalau aku menatap matanya sekarang, aku tidak akan bisa menahan apa pun yang sedang berusaha keluar dari dadaku.
“Ibu sudah tidur,” katanya akhirnya, pelan sekali. “Minum susu setengah gelas. Tidurnya nyenyak.”
Aku mengangguk.
“Besok pagi, kemungkinan besar beliau tidak ingat kejadian tadi.”
Aku mengangguk lagi.
“Pak.”
Aku tidak menjawab.
Dewi diam sebentar. Lalu ia mengambil gunting oranye dari tanganku, pelan, membuka jari-jariku satu per satu karena ternyata aku menggenggamnya terlalu keras. Ada bekas merah di telapak tanganku. Ia meletakkan gunting itu di anak tangga di bawah kami.
Lalu ia memelukku.
Ia tidak bertanya. Ia tidak meminta izin. Ia tidak bilang tidak apa-apa atau Ibu tidak sengaja atau ini bagian dari penyakitnya, kalimat-kalimat yang aku tahu semuanya benar dan semuanya tidak berguna. Ia hanya melingkarkan kedua lengannya di bahuku, dari samping, dan menarikku pelan ke arahnya sampai kepalaku bersandar di bahunya.
Tubuhku kaku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada yang memelukku seperti ini sejak aku lima tahun. Mama memelukku, tentu saja, setiap Lebaran, setiap ulang tahun, setiap aku membelikannya sesuatu. Tapi itu pelukan seorang ibu yang bangga. Ini lain. Ini pelukan seseorang yang tahu aku sedang runtuh, dan memutuskan untuk menahanku supaya runtuhnya tidak berantakan.
“Bapak boleh nangis,” bisiknya di dekat telingaku. “Saya nggak lihat.”
Napasku tersangkut.
“Bapak nggak pernah bisa lihat saya, kan?” lanjutnya, sangat pelan, dengan sedikit senyum di suaranya. “Sekarang gantian. Saya yang nggak lihat Bapak.”
Ia memejamkan mata. Aku bisa merasakannya, karena bulu matanya yang panjang menyentuh pelipisku.
Dan sesuatu di dadaku, sesuatu yang sudah dua puluh dua tahun dikunci dengan daftar target dan garis-garis coretan yang rapi, akhirnya pecah.
Aku tidak bersuara. Bahuku hanya bergetar. Napasku tersengal-sengal, panjang dan pendek, tidak beraturan. Sesuatu yang panas mengalir dari mataku dan membasahi kaus putih longgar di bahunya, dan aku tidak bisa menghentikannya, dan aku tidak mencoba menghentikannya.
Dewi tidak bergerak. Ia hanya memelukku lebih erat. Salah satu tangannya mengusap punggungku, pelan, naik turun, dengan ritme yang sama seperti lagu keroncong yang tadi ia senandungkan untuk Mama.
Kami duduk seperti itu di anak tangga ketiga, dalam gelap, entah berapa lama.
Di lorong, jam dinding terus menghitung. Di luar jendela, hujan turun lagi, pelan. Di kamar bawah, ibuku tidur nyenyak setelah setengah gelas susu hangat, tidak ingat bahwa ia baru saja tidak mengenali anaknya.
Dan aku, untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, menangis tanpa membuat daftar.
Ketika napasku akhirnya tenang, Dewi melepaskan pelukannya perlahan.
Aku tidak menatapnya. Aku menatap gunting oranye di anak tangga bawah. Wajahku basah dan aku tidak tahu harus menyekanya dengan apa, jadi aku menyekanya dengan lengan kemeja, seperti anak sembilan tahun.
Dewi juga tidak menatapku. Ia menatap lurus ke depan, ke ruang tengah yang gelap. Matanya masih setengah terpejam, seperti menepati janji.
“Dewi.”
“Hm.”
“Lagu itu.” Suaraku serak. “Lagu yang kamu nyanyikan buat Mama. Kamu tahu dari mana?”
Ia diam sebentar. Terlalu lama.
“Dari orang rumah,” katanya akhirnya. “Ada yang suka nyanyi itu di rumah saya. Setiap malam. Dari saya kecil.”
“Ibumu?”
Dewi tidak menjawab. Ia berdiri, merapikan kausnya yang basah di bagian bahu, dan memungut gunting oranye dari anak tangga.
“Tidur, Pak,” katanya, masih tanpa menatapku. “Sudah lewat jam sepuluh tiga puluh.”
“Saya melanggar aturan.”
“Malam ini saya kasih dispensasi.”
Ia turun dua anak tangga. Lalu berhenti, dan tanpa menoleh, berkata dengan suara yang sangat pelan:
“Besok pagi saya bikinin roti bakar. Nggak gosong.”
Lalu ia berjalan kembali ke kamar tamu dan menutup pintunya.
Aku duduk di anak tangga ketiga sendirian, dengan kemeja yang basah di bagian kerah dan bau melati yang masih tertinggal di bahu.
Aku tidak naik ke kamar. Aku tetap di sana sampai pukul satu, mendengarkan hujan, dan memikirkan satu kata yang tidak bisa berhenti berputar di kepalaku.
Utang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertanya-tanya: apa lagi yang tidak pernah Mama ceritakan padaku?
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas? reading
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala