Chapter Four
Aturan Rumah
POV: Arga
Pada hari ketiga, ada selembar kertas di pintu kulkas.
Kertas HVS biasa, ditempel dengan magnet berbentuk buah stroberi yang entah dari mana asalnya, karena aku yakin rumah ini tidak pernah punya magnet stroberi. Isinya ditulis tangan dengan spidol biru, rapi dan bulat-bulat, dengan judul yang digarisbawahi dua kali:
JADWAL RUMAH (MULAI SENIN)
06.00 — Bangun, minum air putih, jalan pagi di taman (Bu Ratih + Dewi)
07.00 — Sarapan + obat pagi
09.00 — Aktivitas: berkebun / menyusun puzzle / masak bersama Mbok Darmi
12.00 — Makan siang
13.00 — Istirahat
16.00 — Jalan sore + teh
19.00 — MAKAN MALAM BERSAMA (WAJIB)
21.00 — Obat malam, persiapan tidur
22.00 — Lampu kamar dimatikan (berlaku untuk semua penghuni rumah)
Di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil:
Catatan: Pasien demensia butuh rutinitas yang konsisten dan suasana rumah yang tenang. Rutinitas anggota keluarga juga memengaruhi pasien.
Dan di bawahnya lagi, lebih kecil dan sedikit miring, seperti ditambahkan belakangan:
Termasuk yang suka balas email jam 2 pagi.
Aku membaca kertas itu tiga kali. Lalu aku mencabutnya dari kulkas dan membawanya ke taman belakang.
Dewi sedang berjongkok di samping Mama di depan pot-pot melati. Pagi itu ia memakai seragam putih yang sama dengan yang ada di foto ID-nya: atasan berkerah sederhana dan celana putih, dengan rambut panjang yang dicepol rapi di tengkuk. Beberapa helai rambut lolos dari cepolan dan menempel di lehernya yang sedikit berkeringat karena matahari pagi.
Aku mengalihkan pandangan ke pot melati.
Mama sedang menunjukkan cara memangkas daun yang menguning. Dewi memperhatikan dengan serius, mengangguk-angguk, dan sesekali bertanya hal yang membuat Mama bersemangat menjelaskan lebih panjang. Pemandangannya sangat damai. Aku hampir tidak tega mengganggunya.
Hampir.
“Bu Dewi.”
Dewi menoleh. “Dewi saja, Pak.”
“Dewi.” Aku mengangkat kertas itu. “Ini apa?”
“Jadwal rumah, Pak.”
“Saya tahu ini jadwal rumah. Maksud saya, ini.” Aku menunjuk baris yang ditebalkan. “Makan malam bersama wajib. Dan ini, lampu kamar mati jam sepuluh untuk semua penghuni rumah.”
“Iya, Pak.”
“Saya penghuni rumah.”
“Betul, Pak.”
“Saya kerja sampai malam.”
“Saya tahu, Pak. Saya dengar Bapak mengetik sampai jam dua kemarin. Kamar saya persis di bawah ruang kerja Bapak.” Ia berdiri, menepuk-nepuk tanah dari lututnya, dan menatapku lurus. “Keyboard Bapak berisik sekali. Seperti hujan es.”
Aku membuka mulut, menutupnya lagi. Kucoba menatap balik. Satu detik. Dua detik. Lalu aku melihat ke daun melati yang menguning.
“Itu bukan urusan perawat,” kataku pada daun itu.
“Itu urusan perawat kalau memengaruhi pasien, Pak.” Suaranya tetap tenang, tetap sopan, tapi ada sesuatu yang keras di bawahnya, seperti fondasi beton di bawah lantai kayu. “Bu Ratih tidurnya ringan. Kemarin malam beliau terbangun jam satu dan bertanya ke saya, kenapa ada orang di atas yang tidak tidur-tidur. Beliau khawatir ada maling.”
Aku diam.
“Lalu beliau bilang, Oh, itu pasti Arga. Anak itu dari kecil nggak bisa disuruh tidur.” Dewi tersenyum kecil. “Lalu beliau tidak bisa tidur lagi sampai subuh, karena katanya beliau mau menunggu sampai lampu Bapak mati.”
Kertas di tanganku tiba-tiba terasa berat.
“Mama nunggu?”
“Setiap malam, Pak. Kata Mbok Darmi, sudah bertahun-tahun.”
Aku menoleh pada Mama. Ia sedang memangkas melati dengan gunting kecil, bersenandung, tidak mendengar percakapan kami. Rambut ubannya terlihat lebih banyak di bawah matahari pagi.
Bertahun-tahun. Setiap malam aku mengetik sampai larut, menyelesaikan proposal, membalas email, merancang target berikutnya, dan setiap malam ibuku berbaring di lantai bawah, menunggu lampuku mati supaya ia bisa tidur.
Aku tidak pernah tahu.
“Makan malamnya,” kataku akhirnya, pelan. “Kenapa harus bersama?”
“Pasien demensia lebih banyak makan kalau ditemani, Pak. Mereka juga lebih tenang kalau melihat wajah keluarga di jam yang sama setiap hari. Itu jangkar.” Dewi melipat tangan. “Dan kata Mbok Darmi, Bapak makan malam di depan laptop di ruang kerja. Kadang tidak makan sama sekali.”
“Mbok Darmi banyak cerita.”
“Mbok Darmi sangat sayang sama Bapak.”
Aku menatap kertas itu lagi. Termasuk yang suka balas email jam 2 pagi. Huruf-hurufnya bulat dan sedikit miring, dan aku bisa membayangkan ia menulisnya dengan senyum kecil yang miring itu.
“Satu syarat,” kataku.
Dewi mengangkat alis.
“Lampu mati jam sebelas. Bukan sepuluh.”
“Sepuluh tiga puluh.”
“Sebelas kurang seperempat.”
“Sepuluh tiga puluh, Pak,” katanya, sangat sopan. “Atau saya pasang saklar otomatis di ruang kerja Bapak. Saya tahu caranya. Dimas, adik saya, montir.”
Aku menatapnya. Kali ini aku bertahan tiga detik, karena aku kesal, dan kesal ternyata membantu. Ia menatap balik tanpa berkedip, tenang, dengan dagu sedikit terangkat.
Di detik keempat, ia tersenyum. Lesung di pipi kirinya muncul.
Aku kalah. Aku melihat ke pohon mangga.
“Sepuluh tiga puluh,” kataku pada pohon mangga.
“Terima kasih, Pak.” Ia mengambil kertas dari tanganku, berjalan masuk ke rumah, dan aku mendengar suara magnet stroberi menempel lagi di pintu kulkas.
Dari pot melati, Mama tertawa. Rupanya ia mendengar semuanya.
“Kamu kalah, Ga,” katanya dengan riang. “Dari dulu nggak ada yang bisa nyuruh kamu tidur. Sekarang ada.”
Siang harinya, aku melihat Dewi berdiri di depan lemari ruang tengah dengan kotak plastik besar dan daftar di tangan.
“Ini apa lagi?”
“Pengamanan, Pak.” Ia menunjuk daftar itu. Gunting, pisau lipat, korek api, obat-obatan di kotak P3K, lem tembak, cairan pembersih lantai. “Barang-barang yang berisiko kalau Bu Ratih sedang bingung. Saya kumpulkan di satu tempat yang bisa dikunci.”
“Saya sudah punya daftarnya,” kataku. “Di spreadsheet.”
“Saya lihat spreadsheet Bapak kemarin. Mas Teddy kirim.” Ia memasukkan gunting ke kotak. “Dua belas tab. Satu tab namanya Skenario Terburuk (Jangan Dibuka).”
Aku memejamkan mata. “Teddy.”
“Saya buka, Pak. Maaf.” Suaranya tidak terdengar menyesal sama sekali. “Spreadsheet Bapak bagus. Sangat lengkap. Tapi Bapak lupa satu hal.”
“Apa?”
“Spreadsheet Bapak tidak tahu Bu Ratih suka menyembunyikan gunting di bawah bantal sofa.”
Ia mengangkat bantal sofa paling ujung. Di bawahnya ada gunting kecil berwarna oranye, gulungan benang hijau, dan setengah bungkus permen jahe.
Aku menatap benda-benda itu lama. “Sejak kapan?”
“Kata Mbok Darmi, sejak dulu. Bu Ratih menjahit sambil nonton TV, lalu lupa menaruh guntingnya.” Dewi memasukkan gunting oranye itu ke kotak dan meninggalkan permen jahenya. “Permennya aman. Saya tinggal.”
Lalu ia berjalan ke lemari kayu kecil di sudut ruang tengah, lemari tua yang ikut pindah dari kontrakan Tangerang dan tidak pernah dibuang karena Mama tidak mau. Di rak paling bawah lemari itu ada kotak jahit Mama.
Aku mengenali kotak itu seumur hidupku. Kotak kayu berwarna cokelat tua dengan pegangan kuningan yang sudah kusam, ukiran bunga di tutupnya, dan engsel yang berderit. Waktu kecil aku sering melihat Mama membukanya untuk menjahit kancing seragamku yang lepas. Isinya jarum, benang warna-warni, kancing-kancing cadangan dalam kaleng permen bekas, meteran kain, dan gunting jahit besar yang sangat tajam.
Dewi berjongkok dan menarik kotak itu keluar.
“Jangan!”
Suara itu begitu keras sampai Dewi tersentak dan hampir menjatuhkan kotaknya.
Mama berdiri di ambang pintu ruang tengah. Wajahnya pucat. Tangannya mencengkeram kusen pintu. Aku belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah ibuku, bahkan di malam-malam paling sulit di kontrakan dulu, waktu listrik dicabut dan kami makan nasi dengan kecap di bawah lilin.
“Itu punya Ibu,” kata Mama. Suaranya bergetar. “Jangan disentuh. Jangan dibuka.”
“Ma,” kataku, melangkah ke arahnya. “Dewi cuma mau mengamankan guntingnya. Biar Mama nggak luka.”
“Jangan dibuka!”
Mama berjalan cepat, hampir berlari, melewatiku, dan merebut kotak itu dari tangan Dewi. Ia memeluknya di dada seperti memeluk bayi. Napasnya terengah-engah.
Ruangan sunyi.
Dewi tidak bergerak. Ia tetap berjongkok di lantai, tangannya terangkat sedikit di udara, posisi orang yang baru saja diberi tahu bahwa ia melangkah ke tempat yang salah. Lalu, perlahan, ia menurunkan tangannya dan bicara dengan suara paling lembut yang pernah kudengar.
“Maaf, Bu. Saya tidak tahu itu penting buat Ibu.”
Mama masih memeluk kotak itu. Matanya berkaca-kaca.
“Saya tidak akan membukanya,” lanjut Dewi, masih pelan. “Saya janji. Kotaknya tetap punya Ibu, di tempat Ibu. Tapi boleh Ibu sendiri yang ambilkan gunting besarnya dan jarum-jarumnya? Biar saya simpan di kotak kunci. Kalau Ibu mau menjahit, tinggal bilang saya, saya ambilkan.”
Mama menatapnya lama. Lalu menatapku. Lalu kotak di pelukannya.
“Ibu sendiri yang ambil?” tanyanya pelan.
“Iya, Bu. Ibu sendiri.”
Mama duduk di sofa. Ia membuka kotak itu sedikit, hanya sedikit, cukup untuk memasukkan tangan, sambil memiringkannya membelakangi kami. Ia mengeluarkan gunting jahit besar, bantalan jarum berbentuk tomat, dan kaleng permen berisi peniti. Lalu ia menutup kotak itu rapat dan mengembalikannya ke rak paling bawah lemari, mendorongnya sampai ke belakang.
Dewi menerima gunting dan jarum itu dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang sangat berharga.
“Terima kasih, Bu.”
Mama mengangguk. Lalu, seperti tirai yang tersingkap, wajahnya berubah lagi. Matanya cerah. Ia tersenyum.
“Dewi, kamu sudah makan siang?”
“Sudah, Bu.”
“Makan apa?”
“Opor, Bu. Dari Mbok Darmi.”
“Opor lagi?” Mama tertawa. “Darmi itu, opornya nggak habis-habis. Nanti sore Ibu masakin yang lain ya. Kamu suka pepes?”
“Suka sekali, Bu.”
“Daunnya dua lapis. Biar bumbunya nggak lari.”
Mama berjalan ke dapur sambil bersenandung, seolah tidak ada yang terjadi.
Aku dan Dewi saling menatap di tengah ruang tengah. Kali ini aku tidak langsung membuang muka, karena yang kulihat di wajahnya bukan senyum menggoda. Wajahnya serius, dan sedikit sedih.
“Pak,” katanya pelan. “Bapak tahu isi kotak itu?”
“Jarum. Benang. Kancing.” Aku mengerutkan dahi. “Mama nggak pernah melarang saya menyentuhnya waktu kecil. Saya sering main kancing-kancingnya.”
“Mungkin sekarang isinya beda.”
“Mungkin.”
Dewi menatap lemari tua itu sebentar. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kubaca, sesuatu yang terlihat seperti tahu lebih banyak dari yang ia katakan. Lalu ekspresi itu hilang, dan ia mengangkat kotak plastik pengamanan.
“Saya tulis di catatan, ya, Pak. Kotak jahit Bu Ratih jangan disentuh siapa pun. Termasuk Bapak.”
“Termasuk saya?”
“Itu punya Ibu,” katanya, mengulang kata-kata Mama dengan lembut. “Semua orang perlu satu tempat yang tidak boleh dibuka orang lain.”
Pukul tujuh malam, aku turun ke ruang makan karena aku sudah setuju, dan karena aku tidak mau melihat saklar otomatis dipasang di ruang kerjaku.
Meja makan sudah disiapkan untuk tiga orang. Pepes ikan dua lapis, sayur bening, tempe goreng, sambal terasi, dan nasi hangat. Mama duduk di kepala meja dengan wajah bangga. Mbok Darmi berdiri di dekat pintu dapur, menolak duduk karena “Mbok makan nanti saja.”
Dewi duduk di sisi kanan Mama. Ia sudah berganti dari seragam ke kaus abu-abu longgar dan celana kain, dengan rambut yang tadi dicepol kini dibiarkan terurai dan masih sedikit basah setelah mandi. Rambut itu jatuh melewati bahunya seperti tirai hitam yang berat.
Satu-satunya kursi kosong ada di sisi kiri Mama. Tepat di seberang Dewi.
Aku duduk. Aku menatap pepes.
“Ponsel, Pak,” kata Dewi.
“Saya cuma mau cek satu email.”
“Ponsel, Pak.”
Aku menaruh ponsel di meja kecil di dekat dinding. Dewi mengangguk puas.
Kami makan. Mama bercerita tentang cara membuat pepes yang benar, cara memilih ikan yang segar, cara membungkus daun pisang supaya tidak sobek. Dewi mendengarkan dengan penuh perhatian, bertanya, tertawa di tempat yang tepat. Aku makan dan berusaha tidak menatap ke seberang meja.
Itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Meja makan kami tidak lebar, jadi setiap kali aku mengangkat kepala dari piring, wajahnya ada di sana. Wajah yang tertawa mendengar cerita Mama, rambut basah yang jatuh ke depan setiap ia menunduk, jari-jari ramping yang membuka bungkus pepes dengan hati-hati.
Akhirnya aku memutuskan untuk menatap sambal terasi selama sisa makan malam.
Mama berhenti bercerita dan memperhatikan kami berdua. Matanya menyipit, berkilat jahil.
“Ga,” katanya. “Kamu kok lihatin sambal terus? Sambalnya cantik?”
“Saya suka sambalnya, Ma.”
“Dari tadi kamu nggak lihat Dewi sama sekali.” Mama menoleh pada Dewi. “Suster Cantik, anak Ibu memang begitu. Dari kecil kalau ketemu perempuan cantik langsung jadi patung.”
“Ma.”
“Bener. Dulu SMP ada anak perempuan namanya Rini, cantik, rambutnya panjang. Arga kalau ketemu dia langsung lihat sepatu. Dua tahun, Nak. Dua tahun dia lihat sepatu.”
Dewi menutup mulut dengan tangan. Bahunya bergetar.
“Ma, itu nggak benar.”
“Benar. Ibu ingat.” Mama mengangguk mantap, dan aku tidak bisa membantah, karena dokter bilang ingatan lama justru bertahan paling lama. Dan sialnya, ingatan itu memang benar. “Mas Ganteng ini dari dulu pintar, tapi kalau soal perempuan, bodohnya minta ampun.”
“Mas Ganteng?” tanya Dewi, suaranya bergetar karena menahan tawa.
“Iya. Ibu panggil dia Mas Ganteng kalau dia lagi bandel.” Mama menunjukku dengan sendok. “Mas Ganteng, lihat Suster Cantik. Nggak sopan makan sama tamu nggak dilihat.”
“Ma…”
“Lihat.”
Jadi aku mengangkat kepala dan menatap Dewi.
Ia sudah menatapku. Dagunya ditopang tangan, rambutnya jatuh ke satu sisi, dan matanya berkilat geli. Lesung di pipi kirinya dalam sekali.
Satu detik. Dua detik.
“Bapak boleh lihat piring saja, kok,” katanya pelan, hanya untukku. “Piringnya nggak akan ge-er.”
Detik ketiga, aku menunduk ke pepes ikan dengan telinga yang terbakar.
Mama tertawa sampai terbatuk. Mbok Darmi, di ambang pintu dapur, ikut tertawa sambil menutup mulut dengan celemek.
Dan malam itu, pukul sepuluh lewat dua puluh sembilan menit, aku mematikan lampu ruang kerja dengan email yang belum dibalas.
Dari lantai bawah, samar, aku mendengar suara Mama.
“Tuh kan, Wi. Lampunya mati. Sekarang Ibu bisa tidur.”
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah reading
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala