Chapter Twelve

Kamar Belakang

POV: Dewi

Rumahku ada di gang kecil di Bekasi Timur, di belakang pasar, di antara bengkel las dan toko kelontong yang buka dua puluh empat jam.

Dari jalan besar, kamu harus belok ke gang yang cuma muat satu motor, melewati selokan yang baunya tergantung musim, melewati rumah Bu Ani yang punya enam kucing dan satu burung beo yang bisa bilang maling, lalu berhenti di rumah bercat hijau muda yang terasnya dijadikan warung nasi. Spanduk di atas warung itu sudah pudar dimakan matahari: WARUNG NASI BU SUMI — MURAH, ENAK, KENYANG.

Ibu yang menulis kata-katanya sendiri. Ibu bilang, kalau kamu sudah bilang murah, enak, dan kenyang, orang nggak butuh alasan lain.

Dimas menurunkanku di depan warung pukul enam lewat sepuluh, Jumat sore. Bau kuah soto dan gorengan langsung menyerbu hidungku. Dua bapak ojek sedang makan di bangku panjang. Radio kecil di atas lemari menyiarkan dangdut. Dan Ibu, dengan celemek bermotif ayam dan rambut digulung asal-asalan, sedang memarahi panci.

“Pancinya kenapa, Bu?”

“Bocor.” Ibu tidak menoleh. “Sudah tiga kali Ibu tambal. Bocor lagi. Panci zaman sekarang nggak punya harga diri.”

Aku memeluk Ibu dari belakang. Ibu mendengus, tapi tidak melepaskan pelukanku.

“Kurusan kamu,” katanya.

“Nggak, Bu. Makan terus di sana.”

“Makan apa?”

“Opor.”

“Opor terus?”

“Ada yang masak opor tiap hari, Bu. Tiga panci.”

Ibu akhirnya menoleh dan menatapku dengan mata menyipit. “Orang kaya makan opor tiga panci tiap hari? Pantas kurus. Bosan.”

Aku tertawa dan melepaskan pelukan. Lalu, seperti setiap Jumat sore selama tiga minggu terakhir, aku menoleh ke arah lorong sempit di samping dapur. Lorong yang menuju ke kamar belakang.

“Pakde gimana, Bu?”

Ibu diam sebentar. Ia mengaduk soto di panci yang tidak bocor.

“Kamis kemarin cuci darah,” katanya. “Dimas yang antar. Pulangnya lemas. Tadi pagi udah bisa duduk di teras. Sekarang di kamar.” Ia menatapku. “Dia nunggu kamu dari siang. Udah tiga kali tanya, Wi sudah sampai?”

Aku menaruh tas di kursi dan berjalan ke lorong.


Kamar belakang itu dulu gudang.

Ukurannya tiga kali tiga meter. Satu jendela kecil menghadap tembok tetangga. Lantainya semen yang dicat merah, catnya sudah mengelupas di beberapa tempat. Di dalamnya ada kasur busa tipis di atas dipan kayu, satu lemari plastik, satu meja kayu kecil dengan kursi lipat, dan kipas angin yang berbunyi seperti batuk setiap kali berputar ke kiri.

Dua puluh tahun lalu, waktu aku umur tujuh, seorang laki-laki datang ke warung Ibu dan bertanya apakah ada kamar yang disewakan. Ayahku masih hidup waktu itu. Ayah menunjuk gudang di belakang. Laki-laki itu melihat gudang itu, melihat atapnya yang bocor, melihat lantainya yang belum disemen, dan bilang, Saya ambil.

Ia membayar tiga bulan di depan. Ia memperbaiki atapnya sendiri. Ia menyemen lantainya sendiri. Ia mengecatnya merah, karena katanya, merah itu warna semangat.

Setahun kemudian ayahku meninggal di lorong rumah sakit. Laki-laki itu yang membawa jenazah ayahku pulang dengan truknya, karena kami tidak punya uang untuk ambulans. Ia yang menggali sebagian kuburnya. Ia yang duduk di teras sampai subuh, tiga malam berturut-turut, dengan termos kopi di sebelahnya, supaya Ibu tidak merasa rumah ini kosong.

Sejak itu, kami memanggilnya Pakde.

Pintu kamar belakang terbuka sedikit. Aku mengetuk dua kali, dengan ketukan khusus yang sudah kami pakai sejak aku kecil. Tok. Tok-tok.

“Masuk, Wi.”

Aku masuk.


Pakde Har duduk di kursi lipat di depan meja kayu, membelakangiku.

Ia memakai kaus oblong putih yang sudah kekuningan di bagian kerah dan sarung kotak-kotak cokelat. Punggungnya lebar, tapi sudah tidak setegak dulu. Rambutnya hampir seluruhnya putih, dipotong cepak seperti tentara. Di lengan kirinya, di bagian bawah siku, ada benjolan yang menonjol di bawah kulit. Akses cuci darah, yang dokter sebut cimino. Pakde menyebutnya tombol.

Di atas meja, di depannya, ada gunting, lem kertas, sebuah koran yang terbuka, dan sebuah map plastik tebal berwarna biru.

Di dinding kamar itu, dari lantai sampai hampir ke langit-langit, menempel kliping koran.

Ratusan. Mungkin lebih dari ratusan. Potongan-potongan koran dan majalah yang sudah menguning di bagian atas, makin putih di bagian bawah. Semuanya ditempel rapi berderet seperti ubin, dengan lem yang dioleskan hati-hati supaya tidak bergelombang. Di bawah setiap kliping, ada secarik kertas kecil dengan tanggal yang ditulis tangan.

Aku sudah melihat dinding itu ribuan kali. Aku tumbuh bersama dinding itu.

Tapi setiap kali aku masuk ke kamar ini, aku tetap berhenti sebentar di ambang pintu, seperti orang yang masuk ke masjid dan perlu menenangkan diri dulu.

Karena di setiap kliping itu, ada wajah yang sama.

Pertama kali muncul sepuluh tahun lalu, di koran lokal Tangerang: foto kecil hitam-putih, Mahasiswa Teknik Sipil Raih Juara Lomba Desain Jembatan Nasional. Seorang anak muda kurus dengan kemeja kebesaran, memegang piala, matanya berbinar.

Lalu foto peresmian ruko dua lantai di Serpong. Lalu artikel kecil di koran bisnis tentang kontraktor muda yang memenangkan proyek sekolah. Lalu majalah, 30 Pengusaha Muda di Bawah 30. Lalu wawancara setengah halaman. Lalu foto lebih besar. Lalu foto berwarna.

Dan sekarang, di tangan Pakde, di atas meja kayu yang sudah tua: potongan koran dari Selasa lalu. Foto berwarna setengah halaman. Seorang laki-laki tinggi berjas abu-abu, berdiri di depan layar proyektor bertuliskan angka satu koma dua triliun, menyalami lelaki berambut perak.

PT Pradana Bangun Persada Menangkan Tender RS Medika Persada BSD.

Pakde sedang mengoleskan lem di belakang potongan koran itu, pelan sekali. Tangannya gemetar sedikit. Tangan yang dulu memegang setir truk delapan belas roda dengan mantap sekarang gemetar memegang potongan koran.

“Duduk, Wi,” katanya tanpa menoleh.

Aku duduk di tepi dipan.

Pakde menempelkan kliping itu di dinding, di baris paling bawah, di sebelah kliping majalah bulan lalu. Ia menekannya dengan telapak tangan, pelan, dari tengah ke pinggir, supaya tidak ada udara yang terperangkap. Lalu ia mengambil spidol hitam dari meja dan menulis di secarik kertas kecil:

Arga. Tender RS. Oktober.

Huruf g di nama itu melengkung panjang sekali ke bawah, hampir menyentuh pinggir kertas. Persis seperti di kartu krem yang dibingkai di ruang kerja di Pondok Indah. Persis seperti di lima puluh satu kartu yang diikat karet gelang di kotak sepatu biru.

Pakde menempelkan kertas kecil itu di bawah kliping, lalu bersandar di kursi lipat dan menatap dinding itu lama.

“Ganteng ya, Wi,” katanya pelan.

“Ganteng, Pakde.”

“Mirip ibunya.”

Aku tidak menjawab. Karena aku tahu itu tidak benar. Pak Arga tidak mirip Bu Ratih. Pak Arga mirip laki-laki yang sedang duduk di depanku. Rahang yang sama. Alis tebal yang sama. Bahu lebar yang sama. Cara berdiri tegak yang sama, seperti orang yang dari kecil diajari bahwa membungkuk itu tanda kalah.

Dan mata yang sama. Mata yang, bahkan sekarang, di wajah yang sudah enam puluh tiga tahun, dengan ginjal yang tidak lagi bekerja dan kaki yang bengkak, masih menyala.


Namanya Haryanto.

Dua puluh enam tahun lalu, ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki berumur lima tahun di kontrakan dua petak di sebuah gang sempit di Tangerang. Ia pergi sebelum subuh, tanpa pamit pada anaknya, dengan satu tas dan sepasang sandal jepit besar yang ia pakai di kaki.

Anak laki-laki itu sekarang tiga puluh satu tahun. Ia punya tiga rumah, ratusan miliar di tabungan, Lexus hitam yang tidak boleh disetir siapa pun, dan sebuah buku cokelat bertuliskan jangan dibaca orang lain dengan tiga tanda seru.

Namanya Arga Pradana.

Dan aku, perawat VIP di Kasih Paripurna Home Care, tinggal di rumahnya dari Senin sampai Jumat, merawat ibunya, memasakkan mi instan untuknya jam dua pagi, mengukur tekanan darahnya pakai stetoskop, dan tidak pernah, sekali pun, mengatakan padanya bahwa ayahnya masih hidup.

Dan sedang sekarat.

Di kamar belakang rumahku.


“Bagaimana dia, Wi?” tanya Pakde. “Makannya teratur?”

Selalu pertanyaan itu duluan. Bukan bagaimana tendernya, bukan bagaimana rumahnya, bukan berapa uangnya. Makannya teratur?

“Sekarang teratur, Pakde. Makan malam jam tujuh. Bareng Bu Ratih.”

“Tidurnya?”

“Lampu mati jam sepuluh tiga puluh. Kemarin malam tidur sebelum jam sebelas. Pertama kali.”

Pakde tersenyum. Senyumnya kecil, tapi seluruh wajahnya ikut tersenyum. Kerutan di sudut matanya bertambah.

“Kok kamu tahu dia tidur sebelum jam sebelas?”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Karena aku tahu dari suara lantai kayu di atas kamarku yang berhenti berderit. Karena aku berbaring dalam gelap dan mendengarkan, menunggu derit itu berhenti. Karena aku tidak bisa tidur sebelum derit itu berhenti, sama seperti Bu Ratih yang dulu menunggu lampu kamar anaknya mati.

Pakde menatapku lama. Matanya yang tua itu terlalu pintar untuk dibohongi.

“Wi,” katanya pelan.

“Iya, Pakde.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

Ia tidak bertanya lagi. Ia tidak pernah memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu mengambil termos hijau penyok dari bawah meja dan menuang kopi ke gelas belimbing.

Termos itu sudah lebih tua dariku. Warnanya hijau tentara, catnya sudah mengelupas di banyak tempat, dan ada penyok besar di sisi kiri bekas jatuh dari kabin truk di jalur Pantura belasan tahun lalu. Tutupnya sudah diganti tiga kali. Pakde tidak pernah mau membeli termos baru. Yang ini sudah tahu cara jaga panas kopi saya, katanya.

“PAKDE!”

Ibu berdiri di ambang pintu kamar dengan sendok sayur di tangan, wajahnya merah.

“Itu gelas keberapa?”

Pakde berhenti menuang. “Pertama, Sum.”

“Bohong! Tadi pagi Ibu lihat Pakde minum di teras! Terus siang! Terus jam tiga!”

“Itu bukan kopi. Itu teh.”

“Teh juga cairan, Pakde! Dokter bilang cairan dibatasi! Ginjal Pakde itu sudah nggak bisa buang air, semua numpuk di kaki! Lihat kakinya! Kayak kaki gajah!”

Pakde menatap kakinya yang memang bengkak di balik sarung. Lalu menatap Ibu. Lalu menatap gelas kopi di tangannya, yang baru terisi setengah.

“Setengah gelas, Sum.”

“Seperempat!”

“Setengah.”

“Seperempat, atau Ibu buang termos itu ke selokan.”

Pakde memeluk termos hijaunya ke dada dengan wajah yang sangat terluka. “Jangan, Sum. Ini termos bersejarah.”

“Sejarah apa? Sejarah bikin kaki bengkak?”

Aku menutup mulut dengan tangan, menahan tawa. Pakde menatapku dengan wajah meminta tolong. Aku menggeleng. Aku tidak berani melawan Ibu kalau sudah memegang sendok sayur.

Akhirnya Pakde menuang separuh kopi di gelasnya kembali ke termos, dengan wajah seperti orang yang baru menyerahkan sebagian hartanya pada negara. Ibu mengangguk puas, menunjuk Pakde sekali lagi dengan sendok sayur sebagai peringatan terakhir, dan kembali ke warung.

“Ibumu itu,” gerutu Pakde sambil meniup kopi seperempat gelasnya, “makin tua makin mirip komandan.”

“Ibu sayang Pakde.”

“Ya. Sayangnya pakai sendok sayur.”

Kami tertawa. Pakde tertawa sampai batuk, batuk yang panjang dan berat, dan aku harus mengusap punggungnya sampai batuknya berhenti. Punggungnya terasa lebih kurus dari bulan lalu. Tulang-tulang belikatnya menonjol di bawah kaus.


Setelah batuknya reda, aku menceritakan soal Selasa malam.

Aku tidak berniat menceritakannya. Selama tiga minggu aku sudah berbohong lewat telepon, dan aku sudah terbiasa. Baik, Pakde. Semuanya baik. Tapi di kamar belakang ini, di bawah dinding penuh wajah anaknya, aku tidak bisa.

Aku menceritakan Bu Ratih yang duduk di ruang tengah dalam gelap. Gunting oranye. Teriakan. Suami saya nggak ada. Utangnya nanti dibayar. Jangan bangunin Arga, dia besok sekolah.

Pakde mendengarkan tanpa bergerak. Wajahnya tidak berubah. Hanya tangannya, yang memegang gelas kopi, menggenggam semakin erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Lalu aku menceritakan lagunya.

“Aku nyanyi lagu itu, Pakde,” kataku pelan. “Lagu yang Pakde nyanyikan tiap malam di teras. Yang Pakde ajarin ke aku waktu kecil.”

Pakde menatapku.

“Bu Ratih langsung tenang,” lanjutku. “Beliau bilang, dulu ada yang suka nyanyi itu kalau Ibu nggak bisa tidur. Pakai susu hangat.”

Pakde diam.

Lama sekali.

Lalu ia memutar kursi lipatnya perlahan, menghadap ke dinding. Membelakangiku. Menghadap ke ratusan wajah anaknya yang menatapnya dari kliping-kliping koran.

Bahunya tidak bergetar. Ia tidak bersuara. Ia hanya duduk di sana, tegak, menghadap dinding, dengan gelas kopi seperempat di tangan yang tidak lagi ia minum.

Aku tidak mendekat. Aku tahu Pakde. Dua puluh tahun aku tahu Pakde. Ada saat-saat ketika ia ingin ditemani, dan ada saat-saat ketika ia ingin tidak dilihat.

Ini saat yang kedua.

Jadi aku tetap duduk di tepi dipan, menatap lantai semen merah yang catnya mengelupas, dan mendengarkan kipas angin yang batuk setiap kali berputar ke kiri.

“Susunya,” kata Pakde akhirnya, masih menghadap dinding. Suaranya serak. “Susunya pakai madu, Wi. Satu sendok teh. Jangan kebanyakan. Dia nggak suka terlalu manis.”

“Iya, Pakde. Aku udah pakai madu.”

“Satu sendok?”

“Satu sendok.”

Pakde mengangguk pelan, masih membelakangiku.

“Bagus,” katanya.


Sebelum aku keluar dari kamar itu, Pakde memanggilku lagi.

“Wi.”

Aku berhenti di ambang pintu.

Ia sudah memutar kursinya kembali menghadapku. Wajahnya sudah tenang. Matanya sedikit merah di pinggirnya, tapi kering. Pakde tidak pernah membiarkan siapa pun melihat matanya basah.

“Darmi telepon tadi siang,” katanya.

Jantungku berhenti sebentar.

Mbok Darmi. Perempuan tua di dapur Pondok Indah yang memasak opor tiga panci. Tetangga kontrakan di Tangerang dua puluh enam tahun lalu. Satu-satunya orang di dunia, selain Ibu, Dimas, dan aku, yang tahu di mana Haryanto berada.

Mbok Darmi yang menelepon ke rumah ini tiga minggu lalu, jam sebelas malam, menangis, bilang bahwa Bu Ratih didiagnosis demensia. Mbok Darmi yang bertanya pada Pakde, Mas Har, saya harus gimana? Mbok Darmi yang, atas permintaan Pakde, menyebut nama agensi tempatku bekerja pada Pak Arga di meja sarapan, dan bilang mau yang namanya Dewi dengan suara terlalu cepat.

“Mbok Darmi bilang apa, Pakde?”

Pakde tersenyum kecil. Senyum yang sangat tua dan sangat lelah.

“Darmi bilang,” katanya pelan, “Arga sekarang ketawa di rumah.”

Aku diam.

“Darmi bilang, dua puluh tahun dia di rumah itu, dia belum pernah dengar Arga ketawa kayak Selasa malam kemarin. Dari ruang kerja. Kenceng. Sampai kedengaran ke dapur.”

Selasa malam. Stetoskop. Tiga detik. Bapak lihatnya kayak mau makan orang.

Pipiku panas.

Pakde menatap pipiku yang panas, dan senyumnya berubah. Masih tua, masih lelah, tapi sekarang ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang terlihat seperti bangga, dan sedih, dan sangat, sangat pengertian, semuanya sekaligus.

“Makasih ya, Wi,” katanya.

“Buat apa, Pakde?”

Ia tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap dinding. Menatap kliping terbaru di baris paling bawah. Menatap laki-laki tinggi berjas abu-abu yang matanya berbinar di depan layar proyektor.

Aku keluar dari kamar belakang dan menutup pintunya pelan.

Di lorong sempit menuju dapur, aku berhenti dan bersandar di dinding. Di dapur, Ibu masih memarahi panci yang bocor. Di teras, Dimas sedang bercerita pada bapak-bapak ojek tentang Lexus LS yang ia peluk minggu lalu, dengan detail mesin yang terlalu lengkap.

Aku memejamkan mata.

Di kopernya, di kamar tamu Pondok Indah, ada amplop cokelat yang belum pernah kubuka.

Di sini, di kamar belakang, ada laki-laki yang sedang menghitung sisa waktunya dengan kliping koran.

Dan di antara keduanya, ada aku. Perempuan yang mendengarkan lantai kayu berderit setiap malam, menunggu derit itu berhenti, dan mulai takut bahwa suatu hari, ia harus memilih antara janji pada laki-laki yang membesarkannya, dan laki-laki yang jantungnya berdetak seratus dua puluh setiap kali aku terlalu dekat.