Chapter One

Semua Sudah Dicoret

POV: Arga

Angka itu muncul di layar proyektor tepat pukul 14.07.

Satu koma dua triliun rupiah. Pembangunan Rumah Sakit Medika Persada di BSD, dua puluh dua lantai, empat ratus tempat tidur, helipad di atap. Di bawah angka itu tertulis nama perusahaan pemenang tender dengan huruf kapital yang terlalu tebal: PT PRADANA BANGUN PERSADA.

Ruang rapat hening sepersekian detik, cukup lama untuk membuat seseorang di belakangku menahan napas terlalu keras.

Lalu Teddy berdiri.

Bukan berdiri biasa. Asisten pribadiku itu berdiri seperti pemain cadangan yang baru melihat timnya mencetak gol di menit sembilan puluh. Kedua tangannya terangkat. Mulutnya terbuka. Untungnya, sebelum suara apa pun keluar, ia melihat wajah para direktur rumah sakit yang duduk di seberang meja, lalu pelan-pelan menurunkan tangannya dan pura-pura membetulkan kerah.

“Mohon maaf,” katanya dengan sangat serius. “Kram.”

Salah satu direktur tertawa. Yang lain ikut tersenyum. Suasana mencair begitu saja, dan aku berdiri untuk menyalami mereka satu per satu.

“Selamat, Pak Arga,” kata direktur utama, lelaki berambut perak dengan genggaman yang kuat. “Proposal Anda yang paling masuk akal. Tapi jujur, yang membuat kami yakin itu presentasi Anda.”

“Terima kasih, Pak.”

“Anda bicara soal lorong rumah sakit seperti orang yang pernah lama menunggu di lorong rumah sakit.”

Aku tersenyum dan tidak menjawab. Memang pernah. Puskesmas kecamatan di Tangerang, bangku kayu panjang yang catnya mengelupas, dan antrean yang mengular sampai ke parkiran. Aku umur sebelas, menunggu nama Mama dipanggil karena tangannya terkena minyak panas saat menggoreng kerupuk dagangan. Kami menunggu empat jam. Sejak hari itu aku berjanji, kalau suatu hari aku membangun tempat orang sakit menunggu, bangkunya harus empuk dan lorongnya harus terang.

Itu kalimat yang tidak perlu kuucapkan di ruang rapat. Cukup kutaruh di dalam desain.


Teddy baru berani merayakan di lift.

“Satu koma dua T, Pak,” bisiknya, seolah lift itu disadap. “Satu koma dua T. Saya boleh teriak sekarang?”

“Tidak.”

“Sedikit saja?”

“Di lift ini ada kamera.”

Teddy menatap sudut langit-langit lift, lalu melambai ke kamera itu dengan senyum pengusaha muda yang bahagia. Pintu terbuka di lantai dasar. Begitu kami keluar ke lobi, ia berjalan dua langkah di depanku, berhenti di tengah lantai marmer, dan mengepalkan tangan ke udara tanpa suara. Gol tanpa suara. Selebrasi sunyi seorang profesional.

Resepsionis menatapnya. Satpam menatapnya. Seorang ibu dengan anak kecil menatapnya.

“Sudah?” tanyaku.

“Sudah, Pak. Lega.”

“Bagus. Siapkan rapat dengan tim struktur besok pagi jam tujuh. Hubungi konsultan MEP, minta revisi jadwal sebelum Jumat. Dan kirim karangan bunga ke kantor mereka, bukan yang norak.”

“Siap. Kalau bunga yang norak itu yang seperti apa, Pak?”

“Yang ada pita emasnya dan tulisan ‘Sukses Selalu’.”

Teddy terdiam. “Padahal saya sudah pesan yang itu.”

“Batalkan.”

“Baik, Pak.”

Ia mencatat semuanya di ponsel dengan kecepatan yang selalu membuatku curiga ia punya jari tambahan. Teddy Kusuma sudah lima tahun bekerja denganku. Ia dramatis, terlalu banyak bicara, dan sering membuat klien tertawa di momen yang salah, tapi ia tidak pernah lupa satu pun jadwal. Dalam dunia yang penuh orang pintar, orang yang tidak pernah lupa jauh lebih langka.

Di luar, Lexus hitamku sudah menunggu di area penjemputan. Petugas valet membukakan pintu kemudi.

“Biar saya yang bawa ke depan, Pak?” tawarnya.

“Tidak usah, terima kasih.”

Aku masuk, menutup pintu, dan untuk beberapa detik hanya duduk. Kabin mobil ini sunyi sekali. Bau kulit baru, pendingin udara yang pas, layar yang menyala lembut. Tiga tahun lalu aku membeli mobil pertamaku yang bukan bekas, dan aku menyetirnya sendiri pulang dari dealer dengan tangan gemetar. Sekarang aku sudah tidak gemetar lagi, tapi aku tetap tidak membiarkan orang lain menyetir. Ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan. Kursi ini salah satunya.

Ponselku bergetar. Pesan dari Teddy, padahal ia duduk di mobil kantor tepat di belakangku.

Teddy: Pak, maaf. Satu lagi. SELAMAT YA PAK 🎉🎉🎉

Teddy: Sudah, itu saja. Saya profesional lagi.

Aku tertawa sendirian di dalam mobil. Lalu kuketik balasan.

Aku: Terima kasih, Ted. Kamu pulang cepat hari ini.

Teddy: Serius Pak??

Aku: Jam enam.

Teddy: Itu bukan cepat Pak itu normal.

Aku: Untuk kita itu cepat.

Ia mengirim stiker orang menangis bahagia. Aku menyalakan mesin.


Jalanan Jakarta sore itu macet seperti biasa, tapi aku tidak keberatan. Di lampu merah Fatmawati aku membuka laci kecil di konsol tengah dan mengeluarkan sebuah buku.

Buku tulis bersampul cokelat. Ujungnya sudah lunak dan menggulung karena terlalu sering dibuka. Di sampulnya ada tulisan tangan anak kecil yang miring ke kiri, ditulis dengan pulpen yang sudah hampir habis tintanya: TARGET HIDUP. Di bawahnya, lebih kecil: jangan dibaca orang lain!!!

Tiga tanda seru. Aku umur sembilan tahun waktu menulisnya, dan rupanya aku sudah paham bahwa mimpi itu sesuatu yang memalukan kalau ketahuan.

Kubuka di halaman yang sudah kutandai. Daftar panjang berbaris-baris, dan hampir semuanya sudah dicoret dengan satu garis lurus yang rapi.

Juara kelas.
Masuk SMP negeri.
Bisa beli sepatu sendiri.
Mama tidak usah jualan kerupuk lagi.
Kuliah.
Punya kantor sendiri.
Punya rumah. Yang ada tamannya. Buat Mama.
Punya mobil yang tidak mogok.

Dan seterusnya. Puluhan baris. Ada yang kucoret umur empat belas, ada yang umur dua puluh tujuh. Setiap garis lurus itu satu potong hidupku.

Lampu masih merah. Aku mengambil pulpen dari saku jas dan menulis satu baris baru di bawah daftar, dengan tulisan orang dewasa yang tegak dan rapi:

Bangun rumah sakit dengan bangku yang empuk.

Lalu, langsung, kucoret.

Klakson di belakangku berbunyi. Lampu sudah hijau. Aku menaruh buku itu di kursi penumpang dan melaju.

Ada satu baris di halaman paling belakang yang tidak pernah kucoret. Baris yang kutulis paling awal, bahkan sebelum Juara kelas. Aku tidak perlu membukanya untuk tahu bunyinya. Kalimat itu sudah dua puluh dua tahun menempel di kepalaku.

Jangan pernah jadi seperti Ayah.

Itu bukan target yang bisa dicoret. Itu janji yang harus ditepati setiap hari.


Rumahku di Pondok Indah berpagar hitam tinggi dengan taman depan yang terlalu luas untuk dua orang. Mama yang memilih tanaman-tanamannya: kamboja, melati, dan sebatang pohon mangga yang ia tanam dari biji, karena katanya rumah tanpa pohon mangga itu bukan rumah. Aku mengizinkannya menanam apa pun. Lima tahun lalu, waktu pertama kali membawa Mama ke rumah ini, ia berdiri lama di depan pagar dan bertanya, “Ini rumah siapa, Ga?”

“Rumah Mama.”

Ia menangis di depan pagar. Aku tidak, karena salah satu dari kami harus menyetir pulang dari dealer furnitur sore itu.

Sore ini, begitu gerbang otomatis terbuka, aku mencium sesuatu yang salah.

Bau gosong.

Bukan bau sampah dibakar atau asap dari rumah tetangga. Bau panci yang terlalu lama di atas api. Bau logam yang kepanasan dan sesuatu yang dulunya sayur.

Aku memarkir mobil sembarangan, pertama kalinya dalam tiga tahun, dan berlari ke pintu samping yang langsung tembus ke dapur.

Asap putih tipis menggantung di langit-langit. Di atas kompor, panci kecil berwarna hitam legam masih di atas api biru yang menyala tenang, seperti tidak ada yang salah sama sekali. Aku mematikan kompor, membuka semua jendela, menyalakan penyedot asap. Pancinya kuangkat dengan serbet dan kutaruh di bak cuci. Desisnya keras ketika air menyentuh logam panas.

Di dasar panci ada kerak hitam. Mungkin dulunya sayur asem. Mungkin sup. Sudah tidak bisa dibedakan.

“Ma?”

Tidak ada jawaban.

“Mama!”

Aku mencarinya ke ruang tengah, ke kamarnya, ke ruang salat kecil di dekat tangga. Kosong. Jantungku berdetak dengan cara yang tidak kusukai. Aku sudah memimpin ratusan rapat dengan klien yang bisa membuat perusahaanku bangkrut dalam satu tanda tangan, dan jantungku tidak pernah berdetak seperti ini.

Lalu aku melihatnya dari jendela belakang.

Mama sedang di taman belakang, berjongkok di depan pot-pot melati, menyiram satu per satu dengan gembor hijau kecil. Ia memakai daster batik kesukaannya dan topi lebar dari pandan. Rambutnya yang mulai beruban diikat rendah. Ia bersenandung. Aku bisa mendengarnya samar dari balik kaca: lagu lama, lagu yang dulu ia nyanyikan sambil menggoreng kerupuk.

Ia terlihat sangat tenang. Sangat bahagia.

Aku membuka pintu kaca. “Ma.”

Mama menoleh dan wajahnya langsung cerah. “Lho, Ga? Sudah pulang? Kok cepat?”

“Ma, kompornya nyala.”

“Kompor?”

“Ada panci di atas kompor. Sudah gosong. Rumah penuh asap.”

Mama mengerutkan dahi, lalu tertawa kecil, malu. “Ya Allah. Mama lupa. Tadi masak sayur asem buat kamu, terus Mama ke belakang sebentar mau metik daun salam. Eh melatinya kelihatan kering, kasihan. Jadi Mama siram dulu.”

“Mbok Darmi ke mana?”

“Ke pasar. Katanya ikan tongkolnya habis di tukang sayur.”

Aku menghela napas panjang. Lega bercampur kesal, dan kesalnya bukan pada Mama. Kesal pada diriku sendiri karena rumah sebesar ini tidak punya sensor asap di dapur. Aku membangun gedung dua puluh dua lantai dengan sistem pemadam otomatis di setiap koridor, tapi dapur ibuku sendiri tidak punya alarm. Besok pagi aku akan menyuruh Teddy memasang lima.

“Nggak apa-apa, Ma,” kataku, melembut. “Yang penting Mama nggak kenapa-kenapa.”

“Maaf ya, Nak.”

“Nggak usah minta maaf.”

Mama berdiri, menepuk-nepuk lututnya yang kotor tanah, lalu menatapku dengan heran. “Kamu kok sudah pulang jam segini? Bukannya kamu ada les tambahan sampai jam lima?”

Aku diam.

“Kamu bolos ya?” Mama menyipitkan mata, setengah bercanda. “Awas kalau bolos. Nanti nilainya turun.”

“Ma.” Suaraku pelan. “Aku sudah lama nggak les, Ma.”

Mama berkedip. Satu kali. Dua kali. Seperti seseorang yang baru bangun di kamar yang salah dan sedang mencoba mengingat di mana pintunya.

Lalu ia tertawa lagi. “Iya ya. Kamu kan sudah besar. Mama ini ngelantur. Kecapekan kali, panas begini.”

“Iya, Ma. Masuk yuk. Minum dulu.”

Aku menggandeng tangannya masuk ke rumah. Tangannya hangat dan sedikit berpasir. Di punggung tangan kanannya masih ada bekas luka minyak panas dari dua puluh tahun lalu, berwarna sedikit lebih terang dari kulit di sekitarnya. Aku sering lupa bekas luka itu ada. Hari ini aku tidak bisa berhenti melihatnya.


Mbok Darmi pulang setengah jam kemudian dengan dua kantong belanjaan dan langsung menjerit begitu mencium dapur.

“Astagfirullah! Ini kenapa, Mas? Ada yang bakar sate di dalam?”

“Mama lupa matikan kompor, Mbok.”

Mbok Darmi menaruh belanjaan di lantai dan menatap panci hitam di bak cuci dengan wajah orang yang menemukan jenazah. “Ya Allah, panci kesayangan Ibu. Ini panci dari zaman kontrakan, Mas. Sudah ikut pindah tiga kali.”

“Nanti kubelikan yang baru.”

“Bukan soal barunya, Mas.” Mbok Darmi menggosok-gosok pinggiran panci itu dengan sabut, seolah keraknya bisa hilang dengan kasih sayang. “Ini panci yang dulu Ibu pakai bikin sayur asem pas Mas Arga juara kelas pertama kali. Mbok inget. Mas Arga makan tiga piring.”

Aku tidak ingat. Tapi aku percaya. Mbok Darmi sudah bersama keluarga kami sejak aku kelas dua SD, sejak kami masih tinggal di kontrakan dua petak di gang sempit Tangerang. Waktu itu ia bukan pembantu, cuma tetangga yang sering membantu Mama menggoreng kerupuk untuk dititipkan ke warung-warung. Waktu aku membeli rumah pertama, aku memintanya ikut. Ia menangis lebih keras daripada Mama.

“Mbok,” kataku, menurunkan suara. “Akhir-akhir ini Mama sering lupa?”

Tangan Mbok Darmi berhenti menggosok.

Diamnya sedikit terlalu lama.

“Ya… namanya juga sudah umur, Mas,” katanya akhirnya, tanpa menoleh. “Mbok juga sering lupa naruh kacamata.”

“Lupa yang seperti apa?”

“Ya… kemarin Ibu nanya hari ini hari apa. Dua kali. Terus minggu lalu Ibu nyari dompet, ternyata di kulkas.” Mbok Darmi tertawa, tapi tawanya tipis. “Mbok kira bercanda.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Mas Arga sibuk.”

Dua kata itu menamparku lebih keras daripada yang ia maksud. Aku tidak membalas.

Mbok Darmi akhirnya menoleh. Wajahnya yang keriput terlihat ragu, seperti sedang menimbang sesuatu yang berat. Lalu ia mengambil napas.

“Mas. Ibu dibawa ke dokter, ya. Yang bagus. Biar tenang.”

“Besok,” jawabku. “Aku antar sendiri.”

Mbok Darmi mengangguk dan kembali menggosok panci yang tidak akan pernah bersih lagi.


Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku duduk di ruang kerja dengan lampu meja menyala, membuka laptop, lalu menutupnya lagi. Email ucapan selamat masuk satu per satu. Grup direksi ramai dengan stiker. Teddy mengirim foto dirinya makan martabak di rumah dengan keterangan pulang jam 6 ternyata begini rasanya pak dan aku tidak membalas.

Kubuka lagi buku cokelat itu. Kubalik sampai halaman paling belakang.

Jangan pernah jadi seperti Ayah.

Tulisan tangan umur sembilan tahun. Hurufnya besar-besar, ditekan terlalu keras sampai kertasnya hampir sobek.

Aku hampir tidak punya ingatan tentang lelaki itu. Aku umur lima tahun waktu ia pergi. Mama tidak pernah menceritakan apa-apa, tidak pernah menjelek-jelekkannya, tidak pernah juga membelanya. Kalau aku bertanya, ia hanya bilang, “Bapakmu pergi, Ga. Sekarang tinggal kita berdua.” Lalu ia akan menyuruhku belajar.

Yang kutahu hanya ini: suatu pagi ia tidak ada, dan sejak itu Mama menggoreng kerupuk sampai tangannya melepuh.

Itu sudah cukup untuk membenci seseorang seumur hidup.

Tapi malam ini, entah karena bau gosong yang masih menempel di bajuku atau karena Mama yang menanyakan les tambahanku, sesuatu yang sudah lama terkubur naik ke permukaan.

Sebuah suara.

Berat dan serak, seperti orang yang banyak merokok atau terlalu sering teriak di jalan. Suara laki-laki yang membungkuk di atasku. Ada bau kopi dan minyak mesin. Ada tangan besar yang mengusap rambutku. Dan sebuah kalimat, diucapkan pelan, seperti pertanyaan, seperti doa:

“Matamu masih nyala, Ga?”

Aku tidak tahu kapan itu terjadi. Tidak tahu di mana. Suara itu tidak punya wajah. Mungkin seorang guru. Mungkin tetangga. Mungkin cuma mimpi yang tertukar dengan ingatan, seperti yang kata orang sering terjadi pada anak-anak.

Aku menutup buku itu dan menaruhnya kembali di laci.

Di lantai bawah, Mama tertidur dengan lampu kamar masih menyala. Aku mematikannya, menarik selimutnya sampai ke bahu, dan berdiri di ambang pintu lebih lama dari yang perlu.

Hari ini aku memenangkan tender satu koma dua triliun.

Hari ini juga, untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, aku tidak tahu bagaimana cara mencoret sesuatu.