Chapter Forty One
Epilog — Nyala
POV: Arga, lalu Dewi
Dua tahun kemudian, aku mengemudi ke Cikokol setiap Kamis sore.
Bukan Lexus hitam. Lexus itu sudah dua tahun tinggal di Bekasi Timur, di depan sebuah bengkel kecil dengan papan nama yang dicat tangan: BENGKEL HAR MOTOR — SPESIALIS MOBIL JEPANG — DIMAS. Dimas membukanya setahun lalu, dengan modal yang ia tolak dariku tiga kali sebelum akhirnya ia terima dengan syarat: Lexus itu jadi mobil pajangan di depan bengkelnya, dan tidak ada yang boleh menyetirnya selain dia.
“Seumur hidup, Bang,” katanya waktu itu. “Lima kilo per jam.”
Lexus itu sudah dua kali dipakai untuk pengantin. Pertama, untuk pernikahan kami. Dimas menyetirnya dari Pondok Indah ke masjid di Cikokol, empat puluh kilometer, dengan kecepatan yang membuat polisi lalu lintas di tol menghentikannya dua kali untuk bertanya apakah mobilnya rusak. Pita satin putih seharga dua puluh ribu rupiah dibentuk bunga di kap mesin. Dimas mengikatnya sendiri, tiga jam, dengan tangan yang gemetar.
Kedua, untuk pernikahan Teddy, setahun kemudian. Dengan Sinta dari HRD. Perempuan yang dulu mengangkat ponsel untuk memotret Dewi di lantai delapan belas, lalu memergoki Teddy berlatih jadi Dewi dengan falsetto di ruang rapat.
Teddy bilang itu takdir. Aku bilang itu HRD.
Sore ini, aku mengemudi mobil keluarga. Sedan Jepang biasa, berwarna abu-abu, dengan kursi bayi di jok belakang.
Di kursi bayi itu, Haryo tidur.
Tiga bulan. Pipi bulat. Rambut hitam tebal yang berdiri ke segala arah, seperti baru bangun dari bantal. Alis tebal. Rahang yang, kata Mama, sudah kelihatan tegasnya.
Mata yang, setiap kali terbuka, menyala.
Dewi duduk di sebelahnya di jok belakang, dengan satu tangan di dada Haryo, merasakan napasnya. Kebiasaan perawat. Ia tidak bisa berhenti.
Di kursi penumpang depan, Mama memangku termos hijau penyok.
Ia sudah tidak ingat banyak hal sekarang. Ia tidak ingat nama Teddy. Ia memanggil Dimas Har kecil. Ia sering lupa bahwa Dewi istriku, dan memanggilnya Suster Cantik dengan nada seperti memperkenalkan seseorang yang baru ia temui. Ia lupa bahwa Haryo cucunya, dan bertanya setiap pagi bayi siapa yang tidur di boks di kamarku.
Tapi ia tidak pernah lupa termos itu. Setiap Kamis sore, ia sudah duduk di teras dengan termos di pangkuan sebelum aku pulang dari kantor.
Dan ia tidak pernah lupa lagu itu.
Rumah susun di Cikokol berdiri di kiri jalan ketika kami lewat.
Empat tower. Dua belas lantai masing-masing. Delapan ratus unit. Dinding beton bertulang lima belas senti. Lorong yang terang dengan lampu setiap tiga meter. Taman di tengah, dengan lapangan tempat anak-anak main layangan sore ini, puluhan layangan warna-warni di langit oranye.
Sewa tiga ratus ribu sebulan. Penuh sejak hari pertama dibuka.
Keempat tower itu punya nama. Aku tidak memilih nama-nama itu sendiri. Dewi yang memilih, di meja makan, pukul tujuh malam, dengan Mama dan Mbok Darmi dan Bu Sumi dan Dimas dan Teddy berdebat dengan suara keras.
Tower Ratih. Tower Sobari. Tower Darmi.
Dan tower keempat, yang paling dekat dengan gang sempit tempat kontrakan dua petak dulu berdiri.
Tower Pelita.
Mbok Darmi menangis tiga hari waktu tahu ada tower dengan namanya. Ia bilang ia tidak pantas. Bu Sumi bilang kalau Mbok Darmi tidak pantas, berarti tidak ada yang pantas, dan mereka bertengkar dengan sutil dan sendok sayur sampai Mama tertawa begitu keras topinya miring.
Pak Sobari sempat datang ke peresmian. Di kursi roda baru yang kubelikan. Ia meninggal empat bulan kemudian, dalam tidur, dengan buku kas hitam di meja di sebelahnya. Di halaman terakhir buku itu, ia menulis satu nama terakhir dengan tangan yang gemetar.
Nur Aini. SMK Kesehatan. Lulus. Diterima kerja di RS Medika Persada, BSD. H. + A.
Pemakaman di Cikokol sepi pada Kamis sore.
Aku menggendong Haryo dari mobil. Ia terbangun ketika aku mengangkatnya dari kursi bayi, menggeliat di pelukanku, dan membuka matanya. Mata hitam yang bulat dan basah, dengan bulu mata yang panjang. Bulu mata ibunya.
Dewi menggandeng Mama. Mama menggandeng termos.
Makam itu di bawah pohon kamboja, di sudut yang tenang. Batu nisan dari granit abu-abu, sederhana, tidak mahal. Jangan mahal-mahal. Nanti Arga boros.
Haryanto.
Bapak. Suami. Sopir. Penulis kartu.
Di bawahnya, satu baris lagi. Dewi yang memilih. Aku yang menulisnya di kertas untuk tukang batu, dengan huruf g yang sengaja kubuat berekor panjang.
Terus menyala.
Mama berjongkok di sisi makam, pelan, dengan bantuan Dewi. Ia menaruh termos hijau penyok di atas batu nisan. Tepat di atas tulisan Penulis kartu. Lalu ia mengusap batu itu dengan tangan yang punya bekas luka minyak panas. Bolak-balik. Pelan.
“Sudah pulang ya, Mas,” bisiknya.
Ia mengatakan itu setiap Kamis. Ia tidak ingat mengatakannya Kamis lalu.
Dewi berjongkok di sebelahnya, memeluk bahunya. Mama menyandarkan kepala di bahu Dewi.
Aku berdiri di kaki makam dengan Haryo di pelukanku.
Matahari mulai turun di balik pohon-pohon kamboja. Langit berubah dari oranye ke merah muda, warna yang Tante Merry sebut dusty pink dengan suara yang terlalu keras. Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak di lapangan rumah susun, berteriak karena layangan seseorang putus.
Haryo menatapku dari pelukanku.
Matanya terbuka lebar. Menatap wajahku dengan konsentrasi penuh, seperti bayi menatap sesuatu yang sangat menarik dan sangat penting. Ia tidak menangis. Ia tidak menguap. Ia hanya menatap.
Ia seharusnya tidur. Ini jam tidur sorenya. Dewi sudah menyusuinya di mobil, sudah mengganti popoknya, sudah menepuk-nepuk punggungnya sepanjang tol Jakarta-Tangerang.
Tapi ia tidak tidur.
Matanya terbuka. Dua titik kecil yang berkilau dalam cahaya senja.
Menyala.
Aku menatap mata anakku.
Dan aku membungkuk di atasnya, mendekatkan wajahku ke wajahnya yang bulat dan kecil, dan mengusap rambut hitamnya yang berdiri ke segala arah dengan tanganku yang besar.
“Matamu masih nyala, Nak?” bisikku.
Haryo menatapku.
Lalu ia tertawa.
Tawa bayi tiga bulan. Kecil. Tanpa gigi. Dengan mulut yang terbuka lebar dan mata yang menyipit dan kaki yang menendang-nendang di dalam selimut. Tawa seseorang yang ketahuan belum tidur.
Aku tertawa bersamanya. Dengan mata yang basah.
Lalu aku mulai bersenandung.
Lagu keroncong itu. Pelan. Sumbang di nada tinggi. Aku masih tidak tahu liriknya. Aku tidak akan pernah tahu liriknya. Tapi aku tahu nadanya. Naik turun, seperti gelombang. Seperti jalan tol di malam hari. Seperti napas seseorang yang sedang tidur.
Di sisi makam, Mama mengangkat kepala dari bahu Dewi. Dan ikut bersenandung. Suaranya tinggi dan bergetar.
Lalu Dewi. Pelan. Sumbang di nada tinggi, persis seperti diajarkan.
Tiga suara. Di bawah pohon kamboja, di pemakaman di Cikokol, lima ratus meter dari gang sempit tempat semuanya dimulai. Untuk satu laki-laki di bawah batu nisan granit abu-abu, dan satu bayi di pelukanku yang matanya perlahan, sangat perlahan, mulai menutup.
Haryo tertidur sebelum lagunya selesai.
Aku tidak berhenti bersenandung sampai lagunya selesai.
Malamnya, setelah Mama tidur dengan satu tangan menjuntai menyentuh kotak jahit di bawah ranjang, setelah Haryo tidur di boksnya di kamar kami, setelah lampu ruang kerja dimatikan pukul sepuluh lewat dua puluh sembilan, aku menemukan Dewi di dapur.
Lampu dapur menyala. Tentu saja menyala.
Ia berdiri di depan kompor dengan kaus putih longgar, kausku, dan celana tidur kotak-kotak biru. Rambutnya terurai. Kakinya telanjang. Di atas kompor, panci kecil berisi susu dipanaskan dengan api paling kecil.
“Anak tangga ketujuh,” katanya tanpa menoleh.
“Aku masih nggak bisa lewat tanpa bunyi.”
“Kenapa?”
“Supaya kamu tahu aku datang.”
Ia menuang susu ke dua gelas. Satu sendok teh madu masing-masing. Diaduk pelan, searah jarum jam. Ia menyodorkan satu gelas padaku. Kami berdiri bersebelahan di depan kompor, bersandar di meja dapur, memegang gelas susu hangat.
Aku menatapnya.
Ia menatapku balik. Lima detik. Sepuluh. Tiga puluh.
Ia tidak membuang muka. Aku juga tidak.
Lalu ia tersenyum, dan lesung di pipi kirinya muncul.
“Ga,” katanya. “Kamu lihatin aku kayak dulu.”
“Kayak gimana?”
“Kayak mau makan orang.”
Aku menaruh gelas susu di meja. Aku mengambil gelasnya juga, dan menaruhnya di sebelah gelasku. Lalu aku menunduk dan menciumnya.
Pelan. Hangat. Rasa susu dan madu. Tidak kaku. Tidak miring. Tidak ada hidung yang bertabrakan. Tidak ada kaki yang lari ke tangga.
Hanya seseorang yang pulang ke rumah, setiap malam, dan menaruh tasnya di tempat biasa.
Ketika aku menarik diri, Dewi berjinjit dan mengecup pipiku. Di pipi kiri, di dekat sudut rahang. Di tempat yang sama seperti malam ia bilang lunas.
“Selamat malam, Ga,” bisiknya.
“Selamat malam, Wi.”
POV: Dewi
Ga naik ke kamar duluan. Aku mendengar anak tangga ketujuh berderit, lalu langkahnya di lorong atas, lalu pintu kamar kami yang terbuka dan tertutup pelan, supaya Haryo tidak terbangun.
Aku mencuci dua gelas susu di bak cuci. Aku mematikan lampu dapur.
Lalu aku berjalan ke ruang tengah, dan berhenti di depan rak buku di sebelah lemari tua yang ikut pindah dari kontrakan Tangerang.
Di rak paling atas, ada tiga buku tulis bersampul cokelat. Berjajar.
Yang paling kiri, paling tua, paling pudar. Tidak ada tulisan di sampulnya. Di dalamnya, daftar utang yang dicoret sampai LUNAS, daftar pencapaian seorang anak laki-laki yang dicoret satu per satu dari koran-koran, dan di halaman terakhir, satu baris yang dicoret dengan garis lurus yang rapi: Ketemu Arga. Sekali. Sebelum— Dan di bawahnya, dengan tangan yang gemetar: Sudah. Dia ketawa.
Yang di tengah, dengan tulisan tangan anak sembilan tahun di sampulnya. TARGET HIDUP. jangan dibaca orang lain!!! Di dalamnya, puluhan baris yang semuanya sudah dicoret. Termasuk Menikah dengan Dewi, yang dicoret di hari pernikahan, di dalam Lexus yang disetir lima kilometer per jam, dengan pulpen yang tintanya hampir habis. Termasuk Jangan pernah jadi seperti Ayah, dicoret di malam setelah pemakaman. Dan di bawahnya, satu baris yang tidak akan pernah dicoret: Jadi ayah seperti Ayah.
Dan yang paling kanan. Paling baru. Sampulnya masih kaku, belum lunak, belum menggulung.
Di sampulnya, dengan tulisan tangan orang dewasa yang tegak dan rapi, seperti tiang bangunan:
TARGET HIDUP (Haryo)
Boleh dibaca siapa saja.
Aku mengambilnya dari rak. Aku membukanya di halaman pertama.
Hanya ada satu baris di sana. Ditulis tiga bulan lalu, di malam Haryo lahir, di lorong rumah sakit di BSD, di bangku tunggu yang empuk. Bangku yang dirancang oleh seorang laki-laki yang dulu menunggu empat jam di bangku kayu puskesmas yang catnya mengelupas.
Satu baris. Belum dicoret. Tidak akan pernah dicoret.
1. Pulang sebelum matanya mati.
Aku menutup buku itu dan mengembalikannya ke rak, di sebelah dua buku cokelat lainnya.
Tiga buku. Tiga generasi. Tiga orang yang berlari, dan menunggu, dan pulang.
Aku mematikan lampu ruang tengah.
Dari lantai atas, samar, aku mendengar Ga bersenandung di depan boks Haryo. Lagu keroncong itu. Sumbang di nada tinggi.
Aku menaiki tangga. Anak tangga ketujuh berderit.
Aku tidak berusaha menghindarinya.
Supaya mereka tahu aku datang.
Tamat.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala reading