Chapter Sixteen

Hukuman

POV: Arga

Aku melakukan apa yang selalu kulakukan ketika ada sesuatu yang tidak bisa kupahami.

Aku bekerja.

Kamis setelah Tangerang, aku berangkat ke kantor pukul enam pagi, sebelum Dewi dan Mama selesai jalan pagi. Aku tidak sarapan. Notes kuning di bawah gelas kopi, Satu gelas, Pak, kulipat dan kumasukkan ke saku tanpa kubaca dua kali. Aku memimpin rapat koordinasi struktur pukul tujuh, rapat pengadaan pukul sembilan, rapat dengan bank pukul sebelas, dan survei lokasi rumah sakit pukul dua.

Aku pulang pukul sembilan malam. Makan malam sudah lewat dua jam.

Jumat, aku melakukan hal yang sama. Dewi pulang ke Bekasi sore itu, dan aku tidak di rumah untuk melihatnya pergi. Tidak ada notes kuning di kaca mobilku. Aku tidak tahu apakah itu karena ia tidak menulisnya, atau karena aku memarkir mobil di basement kantor dan ia tidak bisa menjangkaunya.

Senin dan Selasa, sama.

Pukul enam pagi berangkat. Pukul sembilan malam pulang. Makan siang di mobil, kalau ingat. Kopi empat gelas, kalau tidak ada yang menghitung.

Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan. Aku tidak bodoh. Aku sedang lari.

Dari kalimat yang diucapkan Dewi di tengah lahan kosong, di antara rumput liar dan daun ketapang yang berjatuhan. Dari suara tanpa wajah yang tiba-tiba punya mulut. Dari perempuan yang mengecup pipiku lalu bilang lunas, lalu empat hari kemudian menangis dengan wajah ditekan ke bantal karena sesuatu yang tidak mau ia jelaskan.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan semua itu. Jadi aku membuat target baru di kepalaku: selesaikan revisi jadwal pengecoran sebelum Jumat. Tanda tangan akta lahan Tangerang hari Rabu. Turunkan biaya pengadaan besi dua persen.

Itu target-target yang bisa dicoret. Dewi bukan.


Selasa sore, Teddy masuk ke ruanganku dengan wajah yang sangat serius.

“Pak, rapat jam tujuh dengan sub-kontraktor MEP dibatalkan.”

“Kenapa?”

“Karena saya batalkan, Pak.”

Aku mengangkat kepala dari laptop. “Atas izin siapa?”

“Atas izin pusat, Pak.”

“Pusat apa?”

Teddy mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, dan menunjukkan layarnya padaku. Grup WhatsApp itu. Tim Sukses Arga & Dewi 2026. Pesan terbaru dari Mbok Darmi, dengan ejaan satu jari:

mas arga 3 hari gak makan malam di rumah. mbak dewi diem aja tapi mukanya sedih. mbok gak tega. ted tolong suruh mas arga pulang jam 7.

Di bawahnya, Tante Merry: SETUJU. Ted, ini perintah pusat.

Bu Lies: Kalau perlu, bilang ada keadaan darurat.

Pak Jono: Siap. Saya buka gerbang jam 6.55.

Aku menatap layar itu lama. Lalu aku menatap Teddy.

“Kamu nerima perintah dari grup arisan ibu saya.”

“Saya menerima perintah dari orang-orang yang sayang sama Bapak, Pak.” Teddy memasukkan ponselnya ke saku. “Dan, Pak, mohon maaf, tapi saya juga setuju sama mereka.”

Aku tidak menjawab.

“Pak.” Suara Teddy turun, kehilangan nada bercandanya. “Lima tahun saya kerja sama Bapak. Bapak selalu kerja keras. Tapi minggu ini Bapak bukan kerja keras. Bapak kabur.”

Aku menatapnya. Ia menatap balik, tidak membuang muka. Teddy Kusuma, yang setiap hari membuat klien tertawa di saat yang salah, ternyata bisa sangat serius kalau ia mau.

“Saya nggak tahu apa yang terjadi di Tangerang,” lanjutnya. “Saya cuma lihat Mbak Dewi jalan cepat dari tengah lahan sambil ngusap mata, terus Bapak berdiri di situ kayak orang kesambar. Saya nggak akan tanya. Tapi kalau Bapak lari terus, Pak, nanti Bapak nggak sempat tanya juga.”

Hening.

Di luar dinding kaca, langit sore mulai oranye. Lantai delapan belas masih sibuk dengan suara keyboard dan telepon.

Aku menutup laptop.

“Jam berapa sekarang?”

“Lima lewat empat puluh, Pak.”

“Masih sempat.”

Teddy tersenyum. Senyum lebarnya yang biasa, yang tidak profesional sama sekali. “Saya sudah siapin mobil Bapak di lobi, Pak.”

“Mobil saya di basement.”

“Sudah saya minta valet naikin.”

“Tidak ada yang nyetir mobil itu selain—”

“Valetnya dorong, Pak. Nggak dinyalain. Saya awasi.”

Aku menatapnya. Ia menatap balik dengan wajah tanpa dosa.

Aku mengambil jas dan keluar.


Aku tiba di rumah pukul tujuh lewat delapan menit.

Delapan menit terlambat. Pak Jono membukakan gerbang dengan salam hormat yang terlalu bersemangat. Aku memarkir mobil, masuk lewat pintu samping, dan berjalan ke ruang makan.

Meja makan sudah dibereskan.

Mama sudah duduk di sofa ruang tengah, menonton acara masak. Mbok Darmi sedang mencuci piring di dapur. Dewi tidak terlihat di mana-mana.

“Ga!” seru Mama. “Kamu dari mana? Makan malamnya sudah selesai. Dewi nungguin kamu sampai jam tujuh lewat lima.”

“Dewi di mana, Ma?”

“Di kamarnya. Katanya capek.”

Aku berdiri di ruang makan yang kosong dan merasa sangat bodoh. Lima menit. Ia menunggu sampai lima menit lewat jam tujuh, lalu menyerah. Dan aku datang delapan menit kemudian.

Aku naik ke ruang kerja. Aku membuka laptop, karena itu satu-satunya hal yang terpikir olehku. Aku menatap layar tanpa membaca apa pun.

Pukul delapan, tidak ada ketukan di pintu.

Tidak ada tas hitam kecil. Tidak ada tensimeter. Tidak ada stetoskop.

Pukul delapan lewat lima belas, masih tidak ada.

Aku menyadari bahwa selama tiga minggu, setiap malam pukul delapan, aku menunggu ketukan itu. Aku menggulung lengan kemeja kiri sebelum ia datang. Aku tahu persis berapa detik manset itu mengembang, berapa detik angka muncul, berapa detik sebelum ia bilang dua kancing, Pak.

Dan malam ini, karena aku lari empat hari, ketukan itu tidak datang.


Rabu, aku pulang pukul enam lewat lima puluh.

Aku duduk di meja makan. Dewi duduk di seberangku. Ia tersenyum sopan dan menuangkan teh untuk Mama, lalu untukku. Ia tidak menatapku. Ia bicara dengan Mama soal pepes dan daun pisang dan cara memilih ikan yang segar, dan menjawab pertanyaanku dengan kalimat-kalimat pendek yang sangat profesional.

“Mama makan banyak hari ini?”

“Banyak, Pak.”

“Tidurnya siang tadi?”

“Satu jam, Pak.”

“Kamu?”

Ia akhirnya menoleh padaku, satu detik. “Saya kenapa, Pak?”

“Kamu tidur?”

Ia diam sebentar. “Cukup, Pak.”

Lalu ia kembali ke Mama.

Aku menatap pepes ikan di piringku dan kehilangan nafsu makan.

Pukul delapan, tidak ada ketukan.

Kamis, sama.

Aku pulang tepat waktu. Aku duduk di meja makan. Aku makan sedikit. Dewi sopan, profesional, menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek. Mama melirik kami berdua bergantian dengan dahi berkerut. Mbok Darmi mencuci piring yang sudah bersih.

Pukul delapan, tidak ada ketukan.

Pukul sembilan, aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk tegak di kursi.

Aku tidak menghabiskan makan malam tiga hari berturut-turut. Rabu, setengah piring. Kamis, sepertiga. Dan aku tidak makan siang hari ini, karena rapat dengan bank molor dan aku lupa.

Perutku kosong sejak sarapan roti bakar yang, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, tidak disertai notes kuning.


Pukul sepuluh malam, pintu ruang kerjaku terbuka tanpa diketuk.

Aku mengangkat kepala dari laptop.

Dewi berdiri di ambang pintu dengan kaus putih longgar dan celana tidur kotak-kotak biru. Rambutnya terurai. Di tangannya ada nampan berisi sepiring nasi, sepotong pepes ikan yang sudah dipanaskan ulang, tempe goreng, sambal terasi, dan segelas air putih.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia berjalan masuk, meletakkan nampan itu di meja kerjaku, tepat di atas keyboard laptop, sehingga aku tidak bisa mengetik lagi.

“Dewi—”

Ia tidak menjawab.

Ia berjalan ke belakang kursiku.

Lalu, tanpa peringatan, ia memelukku dari belakang.

Kedua lengannya melingkari bahuku, menyilang di dadaku. Dagunya bertumpu di bahu kananku, sangat dekat dengan telingaku. Pipinya menempel di pipiku. Rambutnya yang terurai jatuh ke depan, menyentuh leherku, menyentuh tanganku yang membeku di atas meja.

Aku tidak bisa bergerak.

Wangi sabun bayi dan melati itu memenuhi seluruh paru-paruku. Hangatnya, lewat kaus tipisnya, merembes ke punggungku lewat kemeja. Aku bisa merasakan detak jantungnya di punggungku. Cepat. Hampir secepat milikku.

“Ini hukuman,” bisiknya di telingaku.

Suaranya pelan dan sedikit bergetar.

“Bapak tiga hari nggak makan malam. Bapak empat hari pulang jam sembilan. Bapak lari.” Lengannya mengencang sedikit. “Jadi ini hukumannya. Saya nggak lepas sampai Bapak makan.”

Aku menatap nampan di depanku. Nasi. Pepes. Tempe. Sambal.

Aku menatap tangannya yang menyilang di dadaku. Jari-jarinya, yang biasanya cekatan memasang manset tensimeter, sekarang menggenggam kain kemejaku erat-erat.

“Dewi,” kataku pelan.

“Makan, Pak.”

“Saya—”

“Makan.”

Aku mengambil sendok.


Aku makan dalam empat menit.

Aku tahu karena jam dinding di ruang kerjaku berbunyi pelan setiap menit, dan aku menghitungnya. Empat bunyi. Nasi, pepes, tempe, sambal, air putih. Semuanya habis. Aku makan seperti orang yang sedang dikejar, bukan karena lapar, walaupun aku memang lapar, tapi karena setiap suapan terasa seperti berjalan di atas tali di ketinggian dua puluh dua lantai. Dewi masih memelukku dari belakang. Dagunya masih di bahuku. Napasnya masih di telingaku.

Setiap kali aku menyuap, pipiku bergerak sedikit dan menyentuh pipinya.

Setiap kali, jantungku melompat seperti ikan di kolam.

Aku meletakkan sendok di piring kosong. Bunyinya kecil. Ting.

“Sudah,” kataku. Suaraku serak.

Dewi tidak melepaskan pelukannya.

“Dewi. Sudah habis.”

“Saya tahu.”

“Kamu bilang nggak lepas sampai saya makan.”

“Saya bilang nggak lepas sampai Bapak makan,” katanya pelan. “Saya nggak bilang langsung lepas begitu Bapak selesai.”

Aku memejamkan mata.

Kami diam seperti itu beberapa saat. Ia memelukku dari belakang, aku duduk di kursi dengan piring kosong di depanku. Di luar jendela, pohon mangga bergoyang pelan. Lampu meja menyala kekuningan.

“Maaf,” kataku akhirnya.

Lengannya mengencang sedikit.

“Saya lari,” lanjutku. “Kamu benar. Setelah Tangerang. Saya nggak tahu harus gimana, jadi saya lari ke kantor.”

“Karena kalimat itu?” bisiknya.

“Karena kalimat itu.”

Ia diam lama sekali. Aku merasakan napasnya berhenti, lalu jalan lagi, pelan dan berat.

“Pak,” katanya. “Kalimat itu—”

“Lupakan.”

Ia tersentak sedikit.

“Lupakan saja,” kataku. Aku tidak tahu kenapa aku bilang begitu. Mungkin karena aku tidak siap mendengar jawabannya, apa pun jawabannya. Mungkin karena aku lebih takut kehilangan pelukan ini daripada tidak tahu asal sebuah kalimat. “Itu cuma kalimat. Saya yang aneh. Kamu benar, itu cuma ungkapan.”

Dewi tidak menjawab.

Tapi aku merasakan sesuatu yang basah dan hangat jatuh di bahuku, di tempat dagunya bertumpu. Satu tetes. Lalu dua.

Aku mengangkat tangan, ragu-ragu, dan menyentuh tangannya yang menyilang di dadaku. Aku menggenggam jari-jarinya.

“Jangan nangis lagi,” kataku pelan. “Minggu lalu kamu nangis. Saya dengar dari tangga.”

Lengannya kaku sebentar. “Bapak dengar?”

“Anak tangga ketujuh. Saya duduk di sana sampai kamu berhenti.”

Hening.

Lalu Dewi tertawa kecil. Tawa yang basah, bercampur isak, tapi tetap tawa.

“Bapak duduk di tangga?”

“Iya.”

“Kenapa nggak turun?”

“Saya nggak tahu kamu mau ditemani atau mau nggak dilihat.”

Ia diam lagi. Lalu, pelan, ia menempelkan dahinya di sisi kepalaku. Rambutnya menyentuh pipiku.

“Bapak tahu bedanya?” bisiknya.

“Saya belajar.”


Akhirnya ia melepaskan pelukannya. Pelan, seperti seseorang yang menarik plester dari luka.

Aku langsung merasa dingin di punggung.

Dewi berdiri di sebelah kursiku. Wajahnya merah. Matanya merah. Rambutnya berantakan. Ia mengambil nampan dari meja, piring kosong, gelas kosong, semuanya.

Aku menatapnya. Lama. Dan aku tidak membuang muka.

Bukan karena aku sudah sembuh dari ketidakmampuanku. Jantungku masih berlari. Telingaku masih terbakar. Tapi malam ini, setelah empat hari tidak melihatnya dengan benar, setelah empat malam tidak ada ketukan di pintu, aku menyadari bahwa aku lebih takut tidak menatapnya daripada menatapnya.

Dewi menyadari itu. Ia berhenti di tempatnya dengan nampan di tangan.

“Pak,” katanya pelan. “Bapak lihat saya.”

“Iya.”

“Udah lima detik.”

“Saya tahu.”

Pipinya makin merah. Ia menunduk ke nampan. “Jangan gitu, Pak.”

“Kenapa?”

“Karena…” Ia berhenti. Menggigit bibir. “Karena saya jadi nggak bisa mikir.”

Dan untuk pertama kalinya sejak di pagar hari Senin itu, aku yang tersenyum duluan.

“Dewi.”

“Hm.”

“Hukumannya,” kataku, dengan suara yang mencoba terdengar santai dan gagal total, “bisa diulang besok?”

Dewi membeku.

Ia mengangkat kepala dan menatapku dengan mata yang membesar, mulut sedikit terbuka. Nampan di tangannya miring. Gelas kosong di atasnya meluncur ke pinggir dan hampir jatuh. Ia menangkapnya tepat waktu.

“Bapak…” Ia menatapku seperti melihat orang asing. “Bapak barusan godain saya?”

“Saya nggak tahu. Itu godaan?”

“Itu…” Ia menatap langit-langit, menatap lantai, menatap nampan. “Itu godaan paling kaku yang pernah saya dengar, Pak.”

“Oh.”

“Kayak baca dari kontrak.”

“Saya belum pernah godain orang.”

Dewi menatapku lama. Lalu ia tertawa. Tawa lepas yang sama seperti di kantorku waktu Teddy menulis rekor tatapan dengan spidol permanen. Ia tertawa sampai harus menaruh nampan kembali di meja supaya tidak jatuh. Ia tertawa sampai air matanya keluar lagi, tapi kali ini dari jenis yang lain.

“Pak,” katanya di sela tawa. “Pak, itu… Ya Allah. Bisa diulang besok? Kayak minta jadwal rapat.”

“Jadi nggak bisa?”

Tawanya berhenti. Ia menatapku. Pipinya merah sampai ke telinga.

“Bisa,” katanya pelan. “Kalau Bapak nggak makan malam lagi.”

“Jadi saya harus nggak makan malam supaya dihukum?”

“Bapak harus makan malam,” katanya, mengambil nampan lagi, “supaya saya nggak perlu cari alasan.”

Ia berbalik dan berjalan cepat ke pintu.

Di ambang pintu, ia berhenti, dan tanpa menoleh, berkata:

“Besok jam delapan. Tensi. Jangan lupa gulung lengan.”

Pintu tertutup.

Aku duduk di ruang kerja dengan piring kosong yang sudah dibawa pergi, laptop yang tertutup, dan punggung yang masih terasa hangat di tempat ia bersandar tadi.

Aku menatap jam dinding. Pukul sepuluh lewat dua puluh enam.

Empat menit lagi, lampu harus mati.

Aku mematikannya sekarang. Aku berbaring dalam gelap. Dan dari lantai bawah, dari kamar tamu, untuk pertama kalinya dalam seminggu, terdengar suara pelan seseorang bersenandung.

Lagu keroncong lama itu. Sedikit sumbang di nada tinggi.

Aku tertidur sebelum lagunya selesai.