Chapter Twenty Five

Rencana Seumur Hidup

POV: Arga

Rabu siang, aku membawa Teddy ke toko perhiasan.

Aku tidak memberitahunya ke mana kami pergi. Aku hanya bilang ada rapat di luar, di Plaza Senayan, dan ia mengikutiku dengan tablet dan wajah profesional sampai kami berhenti di depan etalase kaca yang berkilau di lantai dasar.

Teddy menatap etalase itu. Ia menatap papan nama toko di atasnya. Ia menatapku.

Tablet di tangannya hampir jatuh.

“Pak,” bisiknya.

“Jangan teriak.”

“Pak.”

“Ted. Ada orang.”

“Pak, ini toko cincin.”

“Saya tahu.”

Teddy menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya, di balik tangan itu, langsung berkaca-kaca. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya, menarik lagi.

“Saya profesional, Pak,” katanya dengan suara bergetar. “Saya profesional.”

Pegawai toko, perempuan muda dengan setelan hitam dan senyum yang sangat terlatih, menyambut kami di pintu. Ia membawa kami ke ruang dalam yang lebih privat, dengan kursi beludru dan lampu yang membuat semua batu berkilau seperti bintang.

“Ukuran jarinya, Pak?” tanyanya.

Aku diam.

Aku tidak tahu ukuran jari Dewi.

Aku tahu tekanan darahnya. Aku tahu ia minum teh tanpa gula dan kopi dengan sejumput garam. Aku tahu ia menggaruk ujung hidung kalau sedang berpikir dan menggigit bibir bawah kalau sedang menahan tawa. Aku tahu ia bersenandung lagu keroncong yang sumbang di nada tinggi. Aku tahu wangi rambutnya, sabun bayi dan melati.

Aku tidak tahu ukuran jarinya.

“Pak,” kata Teddy pelan, membaca wajahku. “Bapak nggak tahu?”

“Tidak.”

“Pak, ini masalah besar.”

“Saya tahu, Ted.”

Teddy menatap etalase berisi puluhan cincin. Lalu menatap tangannya sendiri. Lalu, dengan ekspresi seorang prajurit yang siap mengorbankan diri, ia mengulurkan tangan kirinya pada pegawai toko.

“Mbak,” katanya. “Coba di jari kelingking saya.”

“Maaf, Pak?”

“Mbak Dewi tangannya kecil. Kelingking saya mungkin sama dengan jari manisnya.” Teddy menatapku. “Pak, saya pernah pegang tangan Mbak Dewi. Waktu salaman hari pertama. Saya ingat. Tangannya kecil. Lebih kecil dari tangan saya.”

Aku menatapnya.

“Saya profesional, Pak,” ulangnya.

Pegawai toko menatap kami berdua bergantian. Lalu, dengan senyum yang sangat terlatih dan mata yang jelas-jelas menahan tawa, ia mengambil sebuah cincin dari etalase dan menyelipkannya di jari kelingking Teddy.

Selama empat puluh lima menit berikutnya, asisten pribadiku mencoba sebelas cincin di jari kelingkingnya. Ia mengangkat tangannya ke cahaya lampu, memiringkannya ke kiri dan ke kanan, dan memberikan komentar dengan nada seorang kritikus seni.

“Ini terlalu besar batunya, Pak. Mbak Dewi nggak suka yang mencolok. Dia pakai jam tangan perak kecil.”

“Ini bagus, tapi kayak cincin tante-tante arisan.”

“Ini… Pak. Ini.”

Cincin kesebelas. Emas putih. Satu berlian kecil di tengah, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Dikelilingi ukiran halus berbentuk sulur daun, seperti tanaman yang merambat.

“Kayak melati, Pak,” kata Teddy pelan, menatap cincin itu di jarinya. “Ukirannya. Kayak sulur melati.”

Aku menatap cincin itu. Lalu menatap Teddy. Matanya basah.

“Yang ini,” kataku pada pegawai toko.


Kami keluar dari toko dengan kotak beludru kecil di saku jasku. Teddy berjalan di sebelahku dengan wajah yang sangat serius dan mata yang sangat merah.

Di lift parkiran, ia akhirnya bicara.

“Pak. Kapan?”

“Belum tahu.”

“Pak, jangan kelamaan. Bu Merry bilang yang begitu cepat diambil orang.”

“Saya tahu.”

“Pak Rendy dari bank masih nanyain Mbak Dewi ke saya, Pak. Dua kali minggu ini.”

Aku menoleh padanya.

“Saya bilang Mbak Dewi sudah ada yang punya, Pak,” kata Teddy cepat. “Saya bilang punya Bapak. Dengan nada yang sangat tegas.”

Pintu lift terbuka. Kami keluar ke parkiran basement.

“Ted.”

“Iya, Pak.”

“Kamu nggak boleh bilang ke grup.”

Teddy berhenti berjalan. Ia menatapku dengan wajah yang terluka. “Pak. Saya sudah bilang. Yang penting-penting, punya Bapak sama Mbak Dewi aja.”

“Kamu juga bilang begitu soal mobil. Lalu Mama yang bilang ke grup.”

“Itu Bu Ratih, Pak. Bukan saya.” Teddy menegakkan tubuh. “Saya bersumpah, Pak. Demi grafik merah muda. Saya tidak akan bilang siapa-siapa.”

Lexus-ku sudah kembali dari servis. Diangkut pakai mobil derek lagi, kemarin sore. Aku membuka pintu dan masuk. Teddy masuk ke kursi penumpang.

Sebelum aku menyalakan mesin, ia menatapku dari samping.

“Pak.”

“Hm.”

“Saya ikut senang.” Suaranya pelan. “Lima tahun saya kerja sama Bapak. Bapak selalu kerja. Selalu sendiri. Sekarang Bapak nggak sendiri lagi.”

Aku menatapnya.

“Terima kasih, Ted,” kataku. “Buat cincinnya. Buat kelingkingnya.”

Teddy tertawa kecil dan mengusap matanya. “Itu pengorbanan terbesar dalam karier saya, Pak.”


Malam itu, setelah tensi pukul delapan, aku tidak membiarkan Dewi langsung turun.

“Tunggu.”

Ia berhenti di ambang pintu ruang kerja dengan tas hitam kecil.

“Ada yang mau aku tunjukin.”

Aku membuka laci meja kerja. Di dalamnya, di sebelah kotak beludru kecil yang aku sembunyikan di balik tumpukan dokumen tender, ada buku cokelat.

Aku mengeluarkannya dan menaruhnya di meja.

Dewi menatap buku itu. Lalu menatapku. “Ga, itu buku—”

“Iya.”

“Kamu bilang jangan dibaca orang lain. Tiga tanda seru.”

“Kamu bukan orang lain.”

Ia diam.

Aku membuka buku itu. Bukan di halaman belakang. Di halaman tengah, di bagian yang selama ini kosong, setelah daftar panjang yang semuanya sudah dicoret.

Di halaman itu, ada dua baris baru. Ditulis dua malam lalu, dengan tulisan tangan orang dewasa yang tegak dan rapi.

Bangun rumah susun di Cikokol. Dinding tebal. Lorong terang. Sewa 300 ribu.

Dan di bawahnya:

Menikah dengan Dewi.

Belum dicoret.


Dewi berdiri di depan meja, menatap halaman itu. Lama sekali. Ia tidak bergerak. Ia tidak bicara.

Aku berdiri dari kursi dan berjalan ke belakangnya.

Pelan, sangat pelan, aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya. Dari belakang. Seperti yang ia lakukan di ruang kerja dengan nampan nasi. Seperti yang ia lakukan di dapur dengan roti gosong. Aku menyandarkan daguku di bahunya dan menatap halaman yang sama dengannya.

“Aku nulis ini hari Senin,” kataku pelan di dekat telinganya. “Habis kopi termos. Habis mobil derek. Habis dr. Hendra kasih resep lanjutkan.”

Dewi tidak menjawab. Tubuhnya kaku di pelukanku.

“Ini bukan lamaran,” lanjutku cepat. “Belum. Aku belum siap ngomong yang benar. Aku cuma… mau kamu tahu. Ini ada di daftar. Daftar yang sama dengan semua hal yang pernah aku kejar. Juara kelas. Kuliah. Kantor sendiri. Rumah buat Mama.”

Aku menunjuk baris itu dengan jariku, di atas tangannya.

“Dan setiap baris di buku ini,” kataku, “selalu aku coret. Selalu. Nggak pernah ada yang gagal.”

Dewi menunduk. Rambutnya, yang sudah lepas dari cepolan setelah seharian bekerja, jatuh ke depan, menyentuh tanganku.

Aku merasakan napasnya. Pendek-pendek. Tidak beraturan.

“Ga,” katanya akhirnya, dengan suara yang sangat kecil.

“Hm.”

“Halaman belakang.” Ia menyentuh ujung buku itu dengan jarinya, tapi tidak membaliknya. “Yang satu itu. Masih belum dicoret?”

Aku diam sebentar.

Aku tahu baris yang ia maksud. Baris pertama yang pernah kutulis, di lantai kontrakan pakai lilin, dengan huruf besar-besar yang ditekan terlalu keras.

“Belum,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena itu bukan target.” Aku menyandarkan dahiku di bahunya. “Itu janji. Janji nggak bisa dicoret. Harus ditepati tiap hari.”

Dewi diam lama sekali.

Lalu tangannya naik. Ia menutupi tanganku yang melingkar di pinggangnya dengan kedua tangannya. Menggenggamnya. Erat. Seperti malam di teras belakang, malam sandal jepit hitam.

“Ga,” katanya. “Sabtu depan.”

“Kenapa Sabtu depan?”

“Aku mau ajak kamu ke Bekasi.” Suaranya bergetar. “Ketemu Ibu. Ketemu Dimas. Ketemu…” Ia berhenti. Menarik napas. “Ketemu Pakde.”

Aku mengangkat kepala dari bahunya.

“Kamu bilang nanti.”

“Ini nantinya.” Ia masih tidak menoleh. Masih menatap halaman di buku cokelat. “Sabtu depan. Aku jemput kamu jam sembilan pagi. Kita naik KRL, jangan bawa mobil. Mobilmu nggak muat di gang.”

“Oke.”

“Dan ada yang mau aku ceritain.” Tangannya menggenggam tanganku lebih erat. “Di sana. Di rumahku. Penting, Ga. Penting sekali.”

“Soal apa?”

“Sabtu depan.” Ia akhirnya menoleh, sedikit, sehingga pipinya menyentuh pipiku. Matanya basah. “Kamu sudah janji, kan? Di balkon. Dengerin sampai habis.”

“Sampai habis.”

“Sebelum tutup pintu.”

“Wi.” Aku mengencangkan pelukanku. “Aku nggak akan tutup pintu buat kamu. Apa pun.”

Dewi memejamkan mata. Air matanya jatuh ke tanganku.

“Iya,” bisiknya. “Aku tahu.”

Tapi ia mengatakannya seperti seseorang yang berharap, bukan seseorang yang yakin.


Kamis dan Jumat, rumahku berubah jadi markas besar perencanaan pernikahan yang tidak pernah direncanakan siapa pun.

Bu Nining datang hari Kamis dengan tujuh kotak kue sampel. Tester, katanya. Untuk menentukan kue pernikahan. Ia menjajarkan ketujuh kotak itu di meja makan dan memaksa semua orang mencicipinya, termasuk Pak Jono yang dipanggil dari pos dan Mbok Darmi yang awalnya menolak karena diet.

“Ini red velvet. Ini lapis legit tiga puluh dua lapis. Ini tiramisu. Ini black forest modifikasi. Ini…”

“Nin,” kata Mama, mencicipi lapis legit dengan wajah serius. “Belum ada lamaran.”

“Ratih, persiapan itu harus dari jauh-jauh hari. Lapis legit butuh waktu.”

Tante Merry datang hari Jumat dengan setumpuk majalah pernikahan dan katalog dekorasi. Ia membuka katalog-katalog itu di ruang tengah, menunjuk gambar-gambar pelaminan, dan bertanya pada Dewi warna apa yang ia suka.

“Tante, saya belum—”

“Merah muda? Kayak kebaya kondangan? Kamu cocok sekali pakai dusty pink, Sayang. Arga sampai buka mulut.”

“Tante—”

“Atau putih? Putih klasik. Pakai melati. Banyak melati. Kayak di sanggulmu waktu itu.”

Dewi menatapku dengan wajah meminta tolong. Aku pura-pura sibuk dengan ponsel.

Bu Lies datang paling akhir. Ia tidak membawa apa-apa. Ia hanya duduk di sofa, menatap Dewi lama sekali, lalu berkata dengan suara datar:

“Antingnya. Untuk pernikahan. Boleh kamu pinjam lagi.”

Dewi membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Terima kasih, Bu,” katanya akhirnya, pelan.

Bu Lies mengangguk sekali. Lalu, untuk keempat kalinya sejak 2011, sudut bibirnya bergerak ke atas.


Jumat sore, Dimas datang menjemput Dewi dengan motor bebek merahnya.

Ia memarkir motor di depan gerbang, turun, dan langsung berjalan ke carport, di mana Lexus-ku berkilau setelah servis.

Ia memeluk kap mesinnya.

“Kamu kemarin diderek, ya?” bisiknya pada mobil itu. “Kasihan. Aku dengar dari Kakak. Diderek kayak mobil mogok. Padahal kamu nggak mogok. Kamu sehat. Kamu cantik.”

Aku berdiri di teras dengan tangan di saku.

Dimas melepas pelukannya, berbalik, dan melihatku. Ia membungkuk sopan, lalu berjalan mendekat dengan wajah yang sangat serius.

“Bang Lexus.”

“Dimas.”

“Bang, saya dengar dari grup,” katanya pelan. Ternyata ia juga sudah dimasukkan ke grup. Entah oleh siapa. “Soal… soal itu.”

“Soal apa?”

Dimas menatapku. Lalu menatap kakaknya, yang sedang berjalan keluar dari pintu dengan koper abu-abu. Lalu menatapku lagi, dengan mata yang tiba-tiba sangat dewasa untuk anak dua puluh dua tahun.

“Bang,” katanya. “Kalau nanti… kalau nanti ada acara. Acara besar.” Ia menelan ludah. “Boleh saya jadi sopir pengantinnya? Pakai mobil ini?”

Aku menatapnya.

“Saya nyetir pelan, Bang. Lima kilo per jam kalau perlu. Saya cuci dulu pakai sikat gigi. Saya pasang pita. Saya…” Suaranya bergetar. “Saya mau antar Kakak saya, Bang. Pakai mobil yang paling bagus. Kakak saya dari kecil nggak pernah dapat yang paling bagus. Selalu ngalah buat saya. Buat Ibu. Buat Pakde.”

Di belakang Dimas, Dewi berhenti berjalan. Koper abu-abu di tangannya berhenti menggelinding.

Aku menatap adik laki-laki perempuan yang kucintai, dengan jaket jins lusuh dan helm dengan kaca retak dan mata yang berkaca-kaca, memohon untuk menyetir mobil yang tidak pernah disetir siapa pun selain aku.

“Suatu hari nanti,” kataku.

Dimas menatapku. Matanya membesar.

“Itu artinya iya, Bang?”

“Itu artinya,” kataku pelan, “kalau hari itu datang, kunci mobilnya aku kasih ke kamu.”

Dimas tidak bergerak selama tiga detik.

Lalu ia memelukku.

Bukan memeluk mobilku. Memelukku. Dengan kedua lengan, erat, dengan bau oli dan keringat dan sabun mobil, seperti adik laki-laki yang memeluk kakaknya.

“Makasih, Bang,” bisiknya di bahuku. “Makasih.”

Aku berdiri kaku sebentar. Lalu, pelan, aku menepuk punggungnya dua kali.

Di belakang Dimas, Dewi menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh.


Motor bebek merah itu keluar dari gerbang pukul lima lewat dua puluh. Dewi duduk di jok belakang, melambaikan tangan padaku sampai motornya hilang di tikungan.

Aku berdiri di teras sampai suara motornya tidak terdengar lagi.

Lalu aku masuk ke ruang kerja, membuka laci, dan mengeluarkan kotak beludru kecil. Aku membukanya. Cincin emas putih dengan satu berlian kecil dan ukiran sulur seperti melati berkilau di bawah lampu meja.

Sabtu depan, pikirku.

Sabtu depan, aku akan ke Bekasi. Bertemu ibunya. Adiknya. Pakdenya, sopir truk yang membayar kuliahnya dengan gaji yang tidak seberapa dan menangis waktu termosnya disita.

Aku akan mendengarkan apa pun yang ingin ia ceritakan. Sampai habis.

Dan setelah itu, mungkin, kalau semuanya baik, aku akan minta izin pada mereka semua.

Aku menutup kotak beludru itu dan memasukkannya kembali ke laci.

Tapi Sabtu depan terasa terlalu jauh.

Delapan hari. Seratus sembilan puluh dua jam. Aku sudah menunggu lima minggu untuk bisa menatapnya lebih dari dua detik. Aku sudah menunggu tiga puluh satu tahun untuk merasakan sesuatu seperti ini.

Aku tidak mau menunggu delapan hari lagi.

Malam itu, aku mengirim pesan ke satu nomor yang tidak pernah kuhubungi sebelumnya. Nomor yang kudapat dari grup WhatsApp yang tidak pernah kuminta untuk masuk.

Aku: Dimas. Ini Arga. Boleh minta alamat rumah kalian?

Balasannya datang dalam empat detik.

Dimas: BANG!!!

Dimas: Boleh Bang! Boleh banget!

Dimas: Tapi Kakak bilang Sabtu depan kan Bang?

Aku: Saya mau datang besok. Kejutan. Mau minta izin ibumu.

Tidak ada balasan selama satu menit.

Lalu:

Dimas: Bang. Besok?

Aku: Iya.

Satu menit lagi.

Dimas: Bang… boleh. Tapi…

Dimas: Nggak apa-apa deh Bang.

Dimas: Mungkin emang udah waktunya.

Lalu ia mengirimkan alamat. Gang kecil di belakang pasar Bekasi Timur. Rumah hijau muda dengan warung di teras. WARUNG NASI BU SUMI — MURAH, ENAK, KENYANG.

Dan satu pesan terakhir, dikirim sepuluh menit kemudian, setelah aku sudah hampir tertidur:

Dimas: Bang. Apa pun yang Abang lihat besok, tolong inget. Kakak saya sayang sama Abang. Beneran sayang.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Aku tidak mengerti maksudnya.

Aku mematikan ponsel, menatap langit-langit, dan tidak menyadari bahwa aku baru saja mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya.