Chapter Thirty One
Mimpi
POV: Arga
Aku tertidur di meja dapur.
Aku tidak berniat tidur di sana. Setelah kopi basi dari termos penyok, aku duduk di kursi tinggi di meja dapur, kursi yang sama tempat Dewi duduk dengan kaki dilipat ke atas waktu kami makan mi instan jam dua pagi. Aku hanya ingin duduk sebentar. Aku hanya ingin memikirkan semuanya dengan tenang, seperti memikirkan perhitungan struktur.
Tapi tidak ada yang bisa dihitung. Jadi aku menyandarkan kepala di lengan, di atas meja dapur yang dingin, di sebelah termos hijau, dan entah kapan, aku tertidur.
Dan aku bermimpi.
Lampu dapur menyala. Tentu saja menyala.
Dewi berdiri di depan kompor dengan kaus putih longgar dan celana tidur kotak-kotak biru. Rambutnya terurai. Kakinya telanjang di atas lantai keramik. Di atas kompor, panci kecil berisi susu dipanaskan dengan api paling kecil.
Ia tidak menoleh. Tapi ia tahu aku di sana.
“Anak tangga ketujuh,” katanya. “Kamu masih belum bisa lewat tanpa bunyi.”
“Aku nggak mau lewat tanpa bunyi.”
“Kenapa?”
“Supaya kamu tahu aku datang.”
Ia mematikan kompor. Menuang susu ke gelas. Satu sendok teh madu. Diaduk pelan, searah jarum jam.
Lalu ia berbalik dan menatapku.
Aku menatapnya. Tidak membuang muka. Tidak menghitung. Di dalam mimpi, aku tidak perlu menghitung. Di dalam mimpi, jantungku berlari tapi kakiku tidak lari.
“Kamu suruh aku pergi,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Kamu nggak natap aku. Lima belas detik.”
“Aku tahu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku lihat,” kataku, “aku nggak bisa benci kamu. Dan aku butuh benci seseorang.”
Ia menatapku lama. Matanya basah, tapi ia tersenyum. Senyum kecil dengan lesung di pipi kirinya.
“Sekarang?” tanyanya.
“Sekarang aku nggak tahu harus benci siapa.”
Ia berjalan ke arahku. Satu langkah. Dua langkah. Ia menaruh gelas susu itu di meja di sebelahku, di sebelah termos hijau, lalu berdiri di depanku. Begitu dekat sampai aku bisa mencium wangi sabun bayi dan melati.
“Nggak usah benci siapa-siapa, Ga,” bisiknya.
Lalu ia menunduk dan menciumku.
Pelan. Lembut. Rasa susu dan madu. Tangannya di rahangku. Rambutnya jatuh ke wajahku. Sama seperti di dapur dulu, tapi tidak kaku, tidak miring, tidak ada hidung yang bertabrakan, tidak ada kaki yang lari. Hanya pelan dan hangat dan lama, seperti seseorang yang pulang ke rumah setelah perjalanan yang sangat jauh.
Aku memejamkan mata.
Dan ketika aku membukanya lagi, dapur itu gelap.
Aku terbangun dengan kepala di lengan, di atas meja dapur yang dingin.
Lampu dapur masih menyala. Aku tidak mematikannya semalam. Tapi tidak ada siapa-siapa di depan kompor. Tidak ada panci susu. Tidak ada gelas dengan madu satu sendok teh.
Hanya termos hijau penyok di sebelah kepalaku, dan gelas kosong yang tadi kupakai untuk kopi basi.
Aku menyentuh bibirku dengan ujung jari.
Aku tidak tahu apakah itu mimpi atau ingatan. Batas di antara keduanya sudah kabur, seperti tulisan tinta biru di amplop-amplop kuning yang sudah dua puluh enam tahun disimpan di kotak jahit. Mungkin aku mengingat dapur yang lain, malam yang lain, ciuman yang kaku dan miring yang membuatku lari ke tangga. Mungkin otakku menyusunnya ulang, memperbaikinya, membuatnya seperti seharusnya.
Atau mungkin aku hanya ingin ia ada di sana.
Jam dinding di lorong berdetak. Pukul lima lewat empat puluh pagi.
Aku menatap kompor yang dingin dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Bukan sedih. Bukan marah. Sesuatu yang lain. Seperti ruangan yang terlalu besar untuk satu orang.
Rumah ini terlalu sunyi.
Dewi pernah bilang begitu. Mbok Darmi yang cerita padaku, minggu lalu, dengan ejaan satu jari di grup WhatsApp: mbak dewi bilang rumah ini terlalu sunyi. mbok setuju. tapi sekarang udah rame.
Sekarang sunyi lagi.
Mbok Darmi menemukanku di dapur pukul enam.
Ia melihatku di kursi tinggi dengan kemeja kemarin yang kusut, rambut berantakan, mata merah. Ia melihat termos hijau di sebelahku. Ia melihat gelas kosong.
Ia tidak berkata apa-apa.
Ia mengambil panci terbesar dari lemari. Panci yang hanya keluar waktu Lebaran. Ia mengisinya dengan air, menyalakan kompor, dan mulai memotong ayam.
Pukul tujuh, dapur dipenuhi opor ayam. Lima panci. Sambal goreng kentang. Perkedel. Tempe bacem. Ikan tongkol balado. Sayur asem dalam panci baru yang kubelikan untuk mengganti panci gosong dari zaman kontrakan.
“Mbok,” kataku pelan. “Buat berapa orang?”
“Buat kita.”
“Kita bertiga, Mbok.”
“Biar ada stok.” Mbok Darmi mengaduk opor dengan semangat berlebihan. Matanya merah. “Mbok nggak bisa tidur, Mas. Kalau nggak masak, Mbok nangis terus.”
Aku menatap punggungnya.
“Mbok,” kataku. “Mbok tahu Dewi di mana?”
Tangan Mbok Darmi berhenti mengaduk.
“Di Bekasi, Mas.”
“Di rumahnya?”
Mbok Darmi diam sebentar. “Di rumah sakit, Mas. Kalau hari Senin, Rabu, Jumat. Mas Har cuci darah tiga kali seminggu sekarang. Mbak Dewi yang antar. Sama Dimas.”
Hari ini Kamis.
“Mbok,” kataku. “Mbok marah sama saya?”
Mbok Darmi berbalik. Ia menatapku dengan sutil di tangan dan celemek yang berlumuran bumbu opor. Wajahnya yang keriput itu terlihat sangat lelah.
“Mbok nggak pernah marah sama Mas Arga,” katanya pelan. “Dari Mas Arga kecil. Mbok cuma sedih.”
“Saya teriak sama Mbok. Hari Sabtu.”
“Mas teriak karena sakit.” Mbok Darmi kembali ke opornya. “Orang sakit boleh teriak. Mbok yang jaga Mas Arga dari umur tujuh tahun. Mbok tahu.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Mas,” kata Mbok Darmi tanpa menoleh, dengan suara yang tiba-tiba sangat kecil. “Ibu semalam baca surat-surat itu?”
“Saya yang baca, Mbok. Ibu minta.”
Mbok Darmi berhenti mengaduk lagi. Bahunya bergetar.
“Dua puluh enam tahun,” bisiknya. “Dua puluh enam tahun Mbok lihat Ibu nulis kertas itu tiap malam. Pas Mas Arga udah tidur. Di meja dapur kontrakan. Pakai pulpen yang tintanya hampir habis.” Ia mengusap matanya dengan ujung celemek. “Mbok nggak pernah baca. Mbok cuma lihat. Ibu nulis, terus nangis, terus lipat, terus masukin ke kotak jahit.”
Ia menoleh padaku.
“Mbok seneng Mas Arga yang baca, Mas,” katanya. “Akhirnya ada yang baca.”
Pukul delapan, Mama keluar dari kamarnya.
Bu Yati menggandengnya ke meja makan. Mama tampak segar setelah tidur nyenyak. Ia tidak ingat semalam. Tidak ingat amplop-amplop kuning, tidak ingat surat-surat yang kubacakan, tidak ingat aku menangis di lantai kamarnya seperti anak lima tahun.
Ia duduk di kepala meja dan menatap lima panci opor di meja dapur.
“Darmi,” katanya. “Kita mau hajatan?”
“Nggak, Bu. Stok.”
“Oh.” Mama mengangguk. Lalu ia menatapku. “Ga, kamu nggak kerja?”
“Nanti, Ma.”
“Kok bajunya kusut? Kamu tidur pakai baju itu?”
“Iya, Ma.”
Mama mengerutkan dahi. Lalu ia menatap pintu dapur. Lalu pintu kamar tamu yang tertutup. Lalu pintu depan.
“Suster Cantik belum datang?”
Aku tidak menjawab.
Mama menatapku. Matanya mulai bingung, mulai mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan.
“Panggil dia pulang, Ga,” katanya pelan.
Aku berhenti.
Itu kalimat yang sama. Kalimat yang Mama ucapkan semalam, di lantai kamar, di antara amplop-amplop kuning, di detik terakhir sebelum matanya kembali kabur. Panggil dia pulang, Ga. Rumah ini sepi lagi.
Ia tidak ingat mengucapkannya. Tapi ia mengucapkannya lagi.
Seperti sesuatu yang tidak bisa dihapus demensia. Seperti lagu keroncong yang tetap ia ingat walaupun ia lupa sudah makan siang.
“Iya, Ma,” kataku.
Teddy datang pukul sembilan.
Ia tidak membawa map. Tidak membawa tablet. Tidak memakai jas. Ia memakai kemeja biasa dan celana kain, dan ia datang ke rumah, bukan ke kantor, tanpa aku memintanya.
Ia berdiri di ambang pintu ruang makan dan menatapku. Kemeja kusut. Rambut berantakan. Mata merah. Lima panci opor di belakangku.
“Pak,” katanya.
“Ted.”
“Saya dapat telepon dari Kasih Paripurna. Tadi pagi.” Ia tidak duduk. “Mbak Rina, koordinator Mbak Dewi. Beliau bilang Mbak Dewi mengundurkan diri. Bukan cuma dari kontrak kita. Dari agensi. Total.”
Aku menatapnya.
“Mbak Rina bilang Mbak Dewi punya daftar tunggu klien VIP tiga bulan,” lanjut Teddy. “Mantan menteri. Konglomerat. Semuanya dia tinggal.” Ia menelan ludah. “Mbak Rina bilang Mbak Dewi nangis di telepon. Waktu nitip pesan buat perawat pengganti. Soal sendok hijau. Soal susu madu satu sendok. Soal kerupuk dua belas warung.”
Aku memejamkan mata.
“Pak,” kata Teddy. Suaranya berubah. Tidak lagi seperti laporan audit. “Boleh saya ngomong sesuatu? Bukan sebagai asisten. Sebagai Teddy.”
Aku membuka mata.
“Lima tahun saya kerja sama Bapak,” katanya. “Saya pernah lihat Bapak menang. Kalah. Capek. Marah. Begadang tiga hari. Tapi saya belum pernah lihat Bapak takut.”
“Saya nggak takut, Ted.”
“Bapak takut, Pak.” Teddy menatapku lurus. Tidak membuang muka. “Bapak takut dari hari Sabtu. Bapak takut sampai nggak berani lihat Mbak Dewi waktu dia minta. Saya lihat dari gerbang. Bapak berdiri di jendela, lihat pohon mangga. Itu bukan marah, Pak. Itu takut.”
Hening.
Mbok Darmi berhenti mengaduk opor. Bu Yati, yang sedang menyuapi Mama bubur, berhenti dengan sendok di udara.
“Saya nggak tahu ceritanya apa,” kata Teddy, lebih pelan. “Saya nggak akan tanya. Tapi saya tahu satu hal. Bapak pernah bilang ke saya, waktu saya baru kerja, waktu saya bikin kesalahan besar di tender pertama saya. Bapak bilang, Ted, kesalahan itu bukan masalah. Masalahnya kalau kamu lari dari kesalahan itu.”
Aku menatapnya.
“Bapak lagi lari, Pak,” kata Teddy. “Sama kayak minggu Tangerang. Cuma kali ini Bapak lari lebih jauh.”
Aku tidak menjawab.
Aku berdiri dari kursi. Aku berjalan ke dapur. Aku mengambil termos hijau penyok dari meja.
Teddy menatapku dengan bingung.
“Ted,” kataku. “Batalkan semua rapat hari ini. Besok juga.”
“Pak?”
“Semua. Bank. MEP. Struktur. Direksi. Semua.”
Teddy menatapku. Lalu, pelan, wajahnya berubah. Matanya mulai berkaca-kaca. Sudut bibirnya bergetar.
“Bapak mau ke mana, Pak?”
Aku menatap termos di tanganku. Hijau tentara yang sudah pudar. Cat yang mengelupas seperti peta pulau-pulau. Penyok besar di sisi kiri.
“Balikin termos,” kataku.
Teddy tertawa. Tawa yang pecah, basah, bergetar. Ia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa sambil menangis, seperti di parkiran basement hotel, seperti di toko perhiasan dengan cincin di jari kelingkingnya.
“Siap, Pak,” katanya di sela tawa. “Saya batalkan semuanya. Dengan senang hati.”
“Dan Ted.”
“Iya, Pak.”
“Terima kasih.”
Teddy mengusap matanya dengan cepat. “Pak, jangan bikin saya nangis di depan Mbok Darmi. Saya profesional.”
Dari dapur, Mbok Darmi tertawa sambil menangis ke ujung celemeknya.
Aku tidak berangkat hari itu.
Aku ingin berangkat. Aku berdiri di carport dengan termos di tangan dan kunci mobil di tangan yang lain. Aku membuka pintu pengemudi.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Hari ini Kamis. Har tidak cuci darah hari Kamis. Ia di rumah. Di kamar belakang. Di dipan kayu dengan kipas angin yang batuk.
Kalau aku ke Bekasi sekarang, aku akan bertemu dengannya.
Dan aku tidak tahu apa yang akan kukatakan.
Aku berdiri di carport dengan pintu mobil terbuka selama sepuluh menit. Lalu aku menutupnya. Aku kembali ke dalam rumah. Aku duduk di ruang tengah, di sebelah Mama yang sedang menonton acara masak, dengan termos hijau di pangkuan.
Mama menoleh padaku.
“Ga. Itu termos siapa?”
Aku menatap termos itu.
“Termos Bapak, Ma,” kataku.
Mama menatapnya lama. Lalu ia mengulurkan tangan, tangan dengan bekas luka minyak panas, dan menyentuh penyok besar di sisi kiri.
“Ini jatuh dari truk,” katanya pelan. “Di Pantura. Waktu hujan. Bapakmu cerita di surat.”
Lalu ia kembali menatap televisi, seperti tidak mengatakan apa-apa.
Aku duduk di sana sampai sore, memeluk termos itu, dan menyusun kalimat. Kalimat untuk Dewi. Kalimat untuk laki-laki di kamar belakang. Kalimat untuk dua puluh enam tahun.
Aku tidak menemukan satu pun yang benar.
Malam itu, aku tidur di ranjangku sendiri untuk pertama kalinya sejak Sabtu. Aku tidak bermimpi.
Pukul enam pagi hari Jumat, aku bangun, mandi, mencukur, memakai kemeja putih yang Tante Merry pilih untuk kondangan. Aku menyisir rambut ke belakang.
Hari Jumat. Har cuci darah hari Jumat. Kamar belakang akan kosong.
Mungkin itu pengecut. Mungkin aku masih lari. Tapi aku butuh melihat tempat itu dulu, sebelum aku melihat orangnya. Seperti survei lokasi sebelum pengecoran. Seperti memeriksa tanah sebelum membangun fondasi.
Aku mengambil termos hijau dan kunci mobil.
Kali ini aku tidak berhenti di carport.
Aku menyetir sendiri ke Bekasi Timur.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi reading
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala