Chapter Two

Diagnosis

POV: Arga

Ruang tunggu Klinik Memori di lantai lima rumah sakit itu punya bangku yang empuk.

Itu hal pertama yang kuperhatikan, dan aku membencinya karena hal itu yang pertama kuperhatikan. Sofa abu-abu berbantalan tebal, lampu hangat, akuarium kecil berisi ikan-ikan oranye yang berenang tanpa tujuan. Seseorang sudah berpikir keras supaya keluarga yang menunggu di sini tidak merasa sedang menunggu kabar buruk.

Aku duduk di sebelah Mama, memegang map berisi hasil MRI dan tes darah. Mama sibuk mengobrol dengan nenek di sebelahnya soal resep pepes ikan.

“Daunnya harus dua lapis, Bu,” kata Mama dengan yakin. “Biar bumbunya nggak lari.”

“Saya selalu satu lapis.”

“Pantas.”

Nenek itu tertawa. Mama ikut tertawa. Dari luar mereka terlihat seperti dua ibu yang bertemu di arisan, bukan dua pasien yang menunggu dipanggil ke ruang neurolog.

Teddy duduk di seberang kami dengan tablet di pangkuan. Aku tidak menyuruhnya ikut. Ia datang sendiri jam enam pagi ke rumah, membawa lima detektor asap dan seorang teknisi, lalu memutuskan sendiri bahwa jadwalku hari ini “di-reschedule secara strategis.” Rapat tim struktur dipindah ke sore. Konsultan MEP dipindah ke besok. Aku tidak protes. Aku tidak punya tenaga untuk protes.

“Ibu Ratih Pradana?”

Seorang perawat memanggil dari pintu. Mama berdiri, membetulkan kerudungnya, dan menepuk tangan nenek di sebelahnya. “Dua lapis ya, Bu. Ingat.”

“Ingat, ingat.”

Mama tersenyum padaku. “Ayo, Ga. Kita dengar dokternya mau ngomel apa.”


dr. Hendra Saputra, Sp.N, adalah lelaki berusia lima puluhan dengan kacamata bulat, kemeja batik, dan suara sangat tenang, jenis suara yang membuat kabar apa pun terdengar bisa ditangani. Di mejanya ada foto keluarga, setumpuk jurnal, dan sebuah otak plastik yang bisa dibongkar pasang.

Ia memeriksa Mama dulu. Pertanyaan-pertanyaan sederhana. Hari ini tanggal berapa. Kita sedang di kota apa. Tolong ulangi tiga kata ini: apel, meja, koin. Gambar jam yang menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh.

Mama menjawab sebagian besar dengan benar. Ia salah menyebut tanggal, tapi itu bisa terjadi pada siapa saja. Lalu dr. Hendra memintanya mengulang tiga kata tadi.

“Apel,” kata Mama. “Terus… meja.” Ia berhenti. Dahinya berkerut. “Satunya lagi apa, Dok? Tadi ada yang bulat.”

“Pelan-pelan, Bu.”

“Bola?”

“Bukan.”

Mama menoleh padaku, tersenyum malu, seperti anak kecil yang tidak hafal perkalian. “Ga, apa tadi?”

Aku tidak boleh menjawab. Dokter sudah bilang. Jadi aku hanya duduk diam dan merasa seperti orang paling tidak berguna di dunia.

Gambar jamnya lebih buruk. Mama menggambar lingkaran yang rapi, lalu menulis angka satu sampai dua belas, tapi semua angkanya berdesakan di sisi kanan, dan jarumnya menunjuk ke arah yang tidak masuk akal. Mama melihat gambarnya sendiri dan tertawa.

“Jelek ya, Dok? Dari dulu saya nggak bisa gambar.”

“Tidak apa-apa, Bu,” kata dr. Hendra dengan lembut. “Bu Ratih tunggu sebentar di luar sama perawat, ya. Saya mau bicara sebentar sama Mas Arga, soal jadwal kontrol.”

Mama keluar bersama perawat. Pintu tertutup.

dr. Hendra melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung batik, lalu memakainya lagi. Aku mengenali gerakan itu. Aku sendiri melakukannya dengan pulpen sebelum menyampaikan angka yang tidak disukai klien.

“Mas Arga,” katanya. “Hasil MRI menunjukkan penyusutan di area hipokampus, bagian otak yang mengatur ingatan baru. Dikombinasikan dengan hasil tes kognitif hari ini dan keluhan yang Mas ceritakan, diagnosis kerja saya adalah demensia Alzheimer onset dini.”

Kata-kata itu masuk ke telingaku satu per satu, rapi, seperti barisan angka di laporan keuangan. Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Aku hanya tidak bisa mengerti apa artinya.

“Onset dini,” ulangku.

“Ibu Mas berumur lima puluh delapan. Umumnya Alzheimer muncul di atas enam puluh lima.”

“Bisa sembuh?”

dr. Hendra tidak langsung menjawab. Ia menatapku dengan cara yang membuatku tahu jawabannya sebelum ia membuka mulut.

“Belum ada obat yang menyembuhkan, Mas. Yang bisa kita lakukan adalah memperlambat. Obat, terapi, rutinitas, lingkungan yang aman, dukungan keluarga. Dengan penanganan yang baik, banyak pasien bisa hidup dengan kualitas baik bertahun-tahun.”

“Berapa tahun?”

“Setiap orang berbeda.”

“Rata-ratanya?”

“Mas Arga.” Suaranya tetap tenang. “Saya tahu Mas orang yang terbiasa dengan angka. Tapi untuk yang satu ini, angka rata-rata tidak akan membantu Mas tidur.”

Aku diam.

“Yang perlu Mas tahu sekarang,” lanjutnya, “ingatan Ibu akan mundur. Biasanya yang hilang duluan ingatan yang paling baru. Ingatan lama justru sering bertahan paling lama, kadang malah jadi lebih jelas. Jadi jangan kaget kalau suatu hari Ibu lebih ingat kejadian tiga puluh tahun lalu daripada sarapan tadi pagi.”

Aku teringat kemarin. Bukannya kamu ada les tambahan sampai jam lima?

“Ibu juga bisa bingung soal waktu,” kata dr. Hendra. “Mengira dirinya masih di masa lalu. Mencari orang-orang dari masa itu.”

“Orang-orang dari masa itu,” ulangku lagi, seperti orang bodoh.

“Mas punya saudara?”

“Tidak. Cuma saya.”

“Ayah?”

“Tidak ada.”

dr. Hendra mengangguk pelan, tidak bertanya lebih jauh. Ia menulis sesuatu di catatannya. “Saran saya, Mas, cari perawat pendamping yang berpengalaman dengan pasien demensia. Bukan sekadar pengasuh. Perawat yang benar-benar paham. Ibu akan butuh rutinitas yang konsisten, dan Mas,” ia menatapku dari balik kacamata, “Mas juga akan butuh seseorang. Merawat orang tua dengan demensia itu maraton, bukan sprint.”

“Saya biasa lari jauh, Dok.”

“Saya tahu,” katanya. “Justru itu yang saya khawatirkan.”


Di parkiran, Mama minta mampir beli es dawet.

“Yang di pinggir jalan dekat masjid, Ga. Yang gerobaknya biru.”

“Ma, itu jauh.”

“Nggak apa-apa. Mama pengin.”

Jadi aku menyetir dua puluh menit ke arah berlawanan untuk membeli es dawet dari gerobak biru yang ternyata sudah pindah. Penggantinya gerobak hijau. Mama bilang rasanya sama saja. Ia menghabiskan satu gelas di kursi penumpang sambil bercerita tentang nenek di ruang tunggu yang pepesnya satu lapis.

“Kasihan,” kata Mama. “Pasti bumbunya lari terus.”

Aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa aku tertawa, karena di dadaku ada sesuatu yang sangat berat. Tapi Mama tertawa juga, dan untuk beberapa detik, di dalam mobil yang dinginnya pas dengan es dawet di tangan ibuku, semuanya terasa normal.

Lalu Mama bertanya, “Tadi dokternya ngomong apa, Ga?”

Padahal aku sudah menjelaskannya di parkiran. Lima belas menit yang lalu.


Malamnya aku melakukan satu-satunya hal yang kutahu caranya.

Aku membuat spreadsheet.

Kolom A: jadwal obat. Kolom B: jadwal kontrol. Kolom C: daftar risiko di rumah. Kompor, tangga, kolam ikan di taman belakang, pintu depan yang bisa dibuka dari dalam, pisau dapur, setrika. Kolom D: tindakan mitigasi. Kolom E: penanggung jawab. Kolom F: tenggat waktu.

Aku membuat dua belas tab. Satu untuk literatur tentang Alzheimer. Satu untuk daftar rumah sakit dengan spesialis demensia terbaik di Asia Tenggara. Satu untuk perbandingan biaya perawatan di Singapura, Jakarta, dan Jepang. Satu untuk daftar agensi perawat home care, lengkap dengan rating, harga, dan ulasan.

Pukul satu dini hari, Teddy membalas email yang kukirim pukul dua belas lewat lima puluh.

Teddy: Pak, saya baru buka spreadsheetnya.

Teddy: Pak ini ada 12 tab.

Teddy: Pak ada tab namanya “Skenario Terburuk (Jangan Dibuka)”

Teddy: Saya buka Pak. Maaf.

Teddy: Pak tidur ya. Saya serius. Besok saya bantu cari perawat. Bapak tidur.

Aku menatap layar ponsel lama. Lalu aku menutup laptop.

Di dinding ruang kerjaku tergantung beberapa bingkai. Ijazah S1 Teknik Sipil dengan predikat cum laude. Foto peresmian kantor pertama di ruko dua lantai di Serpong. Sertifikat penghargaan pengusaha muda dari majalah bisnis, yang kugantung hanya karena Mama memaksa.

Dan satu bingkai kecil, paling ujung, yang tidak pernah kuperlihatkan pada siapa pun.

Sebuah kartu ucapan. Kertas tebal berwarna krem yang sudah sedikit menguning. Di sudut kirinya tercetak logo kecil berbentuk lilin dengan tulisan Yayasan Pelita. Isinya hanya dua baris, ditulis tangan dengan tinta biru:

Untuk Arga. Selamat atas kelulusanmu.
Terus menyala.

Tulisannya miring ke kanan, agak kaku, seperti ditulis oleh seseorang yang tidak sering menulis. Huruf g di nama Arga punya ekor yang panjang sekali, melengkung jauh ke bawah sampai hampir menyentuh baris berikutnya.

Yayasan Pelita membiayaiku sejak kelas satu SMP sampai lulus kuliah. Uang sekolah, buku, seragam, bahkan biaya skripsi. Setiap awal semester datang amplop lewat pos, berisi bukti transfer ke rekening sekolah dan selembar kartu. Kartunya selalu sama: kertas krem, logo lilin, dua atau tiga baris dengan tulisan tangan yang miring dan huruf g berekor panjang.

Untuk Arga. Semangat ujiannya.
Untuk Arga. Juara lagi? Hebat.
Untuk Arga. Kuliah itu berat. Jangan lupa makan.

Aku tidak pernah tahu siapa yang menulisnya. Aku pernah sekali datang ke alamat yayasan itu di Cikokol, rumah tua dengan papan nama kecil di pagar. Yang keluar seorang lelaki tua berkacamata tebal, pensiunan guru bernama Pak Sobari, yang bilang yayasannya hanya penyalur dan donaturnya meminta tidak disebutkan namanya.

“Donaturnya cuma titip pesan,” kata Pak Sobari waktu itu. “Katanya, kalau Nak Arga sudah sukses, jangan cari dia. Cari anak lain yang perlu dibantu.”

Jadi aku melakukannya. Pradana Bangun Persada membiayai seratus dua puluh anak sekolah setiap tahun. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun kenapa.

Kartu wisuda itu satu-satunya yang kubingkai. Sisanya kusimpan di kotak sepatu di lemari. Lima puluh dua kartu. Aku tahu jumlahnya karena aku pernah menghitungnya di malam-malam seperti ini.

Seumur hidup aku membangun semuanya sendirian. Itu bukan kesombongan. Itu fakta. Tidak ada ayah yang membiayai, tidak ada keluarga kaya yang mewariskan, tidak ada koneksi yang membukakan pintu. Hanya aku, Mama yang menggoreng kerupuk, dan satu orang asing yang tidak mau dikenal dan menulis huruf g terlalu panjang.

Malam ini, untuk pertama kalinya, aku ingin tahu siapa orang itu. Supaya aku bisa bilang padanya bahwa ibuku sakit, dan aku tidak tahu harus berbuat apa.


Pagi harinya, dapur dipenuhi makanan.

Bukan sedikit. Tiga panci besar opor ayam. Dua baskom sambal goreng kentang. Setumpuk perkedel di piring saji yang biasanya hanya keluar saat Lebaran. Sepanci besar sayur asem, dengan panci baru yang kubelikan kemarin. Tempe bacem, tahu isi, ikan tongkol balado, dan sesuatu yang tampak seperti rendang tapi aku tidak yakin.

Mbok Darmi berdiri di tengah semua itu dengan celemek dan wajah lelah yang menolak mengaku lelah.

“Mbok,” kataku pelan. “Ini buat berapa orang?”

“Buat kita.”

“Kita bertiga.”

“Ya kan biar ada stok, Mas.” Mbok Darmi mengaduk opor yang sudah matang dengan semangat berlebihan. “Ibu kan harus makan bergizi. Mas juga. Mbok baca di internet, otak itu butuh protein.”

“Mbok masak dari jam berapa?”

“Jam tiga.”

“Mbok…”

“Mbok nggak bisa tidur, Mas.” Sendoknya berhenti. Suaranya mengecil. “Kalau nggak masak, Mbok nangis terus. Mending masak.”

Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku mengambil piring, menyendok opor, perkedel, dan sambal goreng kentang, lalu duduk di meja makan dan makan. Jam enam pagi. Opor ayam. Rasanya enak sekali dan aku hampir menangis di atasnya.

Mbok Darmi duduk di seberangku. Ia memperhatikanku makan dengan cara yang sama seperti waktu aku kecil dan pulang dengan rapor.

“Mas,” katanya. “Kata dokter, Ibu perlu perawat?”

“Iya. Teddy lagi bantu cari.”

Mbok Darmi memainkan ujung celemeknya. Lagi-lagi diam yang sedikit terlalu lama, seperti kemarin.

“Mbok kemarin di pasar ketemu orang,” katanya akhirnya. “Teman lama. Dia bilang ponakannya kerja di agensi perawat. Namanya Kasih… Kasih Pari… apa gitu.”

“Kasih Paripurna?”

“Nah, itu.” Mbok Darmi mengangguk terlalu cepat. “Katanya bagus, Mas. Perawatnya sabar-sabar. Ada satu yang paling bagus, katanya. Yang ngurus pasien kayak Ibu. Pinter, telaten.”

Kasih Paripurna ada di tab kesembilan spreadsheet-ku. Rating tertinggi. Daftar tunggu tiga bulan. Kliennya mantan menteri, pemilik bank, keluarga konglomerat.

“Namanya siapa, Mbok? Perawatnya?”

“Dewi.”

“Dewi siapa?”

“Mbok lupa.” Mbok Darmi berdiri tiba-tiba dan kembali ke kompor. “Pokoknya Dewi. Mas tanya aja ke agensinya. Bilang mau yang namanya Dewi.”

Aku menatap punggungnya. Tangannya mengaduk opor yang sudah tidak perlu diaduk.

Mbok Darmi tidak pernah lupa nama orang. Ia hafal nama semua tukang sayur di kompleks, nama anak-anak satpam, nama kucing tetangga. Ia bahkan hafal nama wali kelasku waktu SD.

Tapi pagi itu aku terlalu lelah untuk curiga. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Teddy.

Aku: Kasih Paripurna. Minta perawat bernama Dewi. Apa pun caranya.

Teddy: Siap Pak. Daftar tunggunya 3 bulan tapi saya punya cara.

Aku: Cara apa?

Teddy: Saya akan memohon Pak. Dengan sangat menyedihkan.

Teddy: Saya sudah latihan di depan cermin.

Aku menaruh ponsel dan menghabiskan opor di piringku. Mbok Darmi menyendokkan perkedel lagi tanpa bertanya.

Di luar jendela, Mama sedang menyiram melati yang sudah ia siram tadi pagi.