Chapter Thirty Seven

Minggu-Minggu yang Dipinjam

POV: Dewi

Pakde tinggal di kamar tamu.

Kamar yang dulu kutempati dari Senin sampai Jumat, kamar dengan kasur yang terlalu empuk dan selimut yang terlalu tebal dan pendingin udara yang terlalu senyap. Ga yang memutuskannya, tanpa bertanya pada siapa pun, malam pertama itu, setelah Bu Ratih menyentuh pipi Pakde di halaman dan bertanya kenapa ia baru pulang.

Pakde protes. Ia bilang ia punya kamar di Bekasi. Ia bilang kliping-klipingnya di sana. Ia bilang termosnya, padahal termosnya sudah ada di dapur Pondok Indah sejak tiga minggu lalu.

Ga tidak mendengarkan. Ia hanya menatap Pakde dengan wajah yang sangat datar, wajah yang ia pakai untuk menolak kontraktor yang menawar terlalu rendah, dan berkata:

“Kamar Bapak di sini.”

Pakde menatapnya lama. Lalu ia menoleh padaku, seperti minta bantuan.

Aku mengangkat bahu. “Aku setuju sama dia, Pakde.”

“Kamu juga?”

“Aku perawat Pakde. Cuci darahnya tiga kali seminggu. Rumah sakitnya lebih dekat dari sini. Dokternya lebih bagus.”

Pakde menatap kami berdua bergantian. Lalu ia menghela napas, napas seorang laki-laki yang tahu ia kalah jumlah.

“Kalian berdua,” katanya, “keras kepala.”

“Dari Pakde,” kataku.

“Dari Bapak,” kata Ga bersamaan.

Kami saling pandang. Pakde menatap kami berdua dengan mata yang tiba-tiba basah, lalu buru-buru berbalik ke jendela.


Aku kembali bekerja di rumah ini.

Bukan dari agensi. Mbak Rina meneleponku dua kali minggu itu, menawarkan klien VIP baru. Aku menolak. Aku bilang aku sudah punya pasien. Dua pasien. Satu yang sedang lupa, satu yang sedang pergi pelan-pelan.

Ga mencoba membayarku. Ia menyodorkan kontrak baru, disiapkan Teddy dengan sangat rapi, dengan angka yang lebih besar dari gaji agensi.

Aku merobeknya di depannya.

“Wi.”

“Aku bukan perawat bayaran di rumah ini lagi, Ga,” kataku. “Aku keluarga.”

Ga menatap potongan-potongan kontrak di lantai. Lalu menatapku. Lalu, pelan, lesung yang tidak pernah ia punya tiba-tiba seperti muncul di pipinya. Senyum kecil yang miring, senyum yang ia pelajari dariku.

“Keluarga,” ulangnya.

“Keluarga,” kataku.

Teddy, yang berdiri di ambang pintu dengan tablet, mengusap matanya dan berbalik keluar tanpa berkata apa-apa.


Pagi-pagi pertama, aku menemukan mereka di teras belakang.

Pukul enam. Matahari baru muncul di balik pohon mangga. Pakde duduk di kursi rotan dengan selimut di pangkuan. Bu Ratih duduk di kursi rotan di sebelahnya, dengan daster batik dan topi pandan.

Mereka tidak bicara.

Mereka hanya duduk. Menatap kolam ikan. Menatap pot-pot melati. Menatap pohon mangga yang Bu Ratih tanam dari biji.

Dan tangan mereka berpegangan di atas meja rotan di antara kedua kursi.

Aku berhenti di ambang pintu teras dan tidak berani mendekat.

Bu Ratih sudah tidak ingat banyak hal. Pagi ini ia lupa sudah sikat gigi atau belum, dan aku harus mengecek sikat giginya yang masih basah. Kemarin ia memanggil Mbok Darmi dengan nama ibunya sendiri. Dua hari lalu ia lupa jalan ke kamar mandi di rumahnya sendiri.

Tapi ia tidak lupa cara memegang tangan laki-laki ini.

Jari-jarinya menyelip di antara jari-jari Pakde, dengan posisi yang sangat tepat, sangat terbiasa, seperti dua potongan puzzle yang sudah tiga puluh enam tahun dibuat untuk saling mengisi dan hanya perlu dua puluh enam tahun berpisah untuk tidak lupa bentuknya.

Ibu jari Bu Ratih mengusap punggung tangan Pakde. Pelan. Bolak-balik.

Pakde tidak bergerak. Matanya basah. Ia tidak menyekanya.

Lalu, pelan, ia mulai bersenandung.

Lagu keroncong itu. Sumbang di nada tinggi. Lagu dari teras kontrakan. Lagu yang ia ajarkan padaku setelah ayahku meninggal. Lagu yang kunyanyikan untuk Bu Ratih di ruang tengah dalam gelap, malam gunting oranye.

Bu Ratih menoleh padanya.

Dan ia ikut bersenandung.

Dua suara tua. Satu berat dan serak, satu tinggi dan bergetar. Menyanyikan lagu yang sama di teras belakang rumah di Pondok Indah, dengan tangan yang berpegangan, di bawah pohon mangga yang ditanam dari biji.

Aku berdiri di ambang pintu teras dan menangis tanpa suara.

Di belakangku, aku merasakan seseorang berdiri. Hangat. Wangi sabun mandi dan kopi.

Ga.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di belakangku, menatap orang tuanya dari balik bahuku. Lalu tangannya mencari tanganku, dan menggenggamnya.


Minggu-minggu itu terasa seperti dipinjam.

Aku tahu. Aku perawat. Aku membaca hasil lab Pakde setiap minggu. Ureum. Kreatinin. Kalium. Hemoglobin. Angka-angka yang terus turun dan naik di tempat yang salah. Aku melihat kakinya yang terus membengkak meskipun cuci darahnya rutin. Aku mendengar napasnya di malam hari, berat, berbunyi seperti air yang mendidih jauh di dalam dada.

Aku tahu ini waktu yang dipinjam.

Tapi untuk beberapa minggu, kami semua berpura-pura tidak tahu.


Pakde dan Mbok Darmi bertengkar setiap hari.

Soal kopi. Soal porsi. Soal opor.

“Darmi, ini opor apa kolam renang? Kuahnya kebanyakan.”

“Mas Har nggak boleh banyak cairan! Mbok kasih ayamnya aja!”

“Opor tanpa kuah itu bukan opor, Darmi. Itu ayam yang sedih.”

“Mas Har yang sedih! Kakinya kayak gajah!”

Bu Ratih tertawa setiap kali mereka bertengkar. Tawa yang lepas, yang membuat topi pandannya miring. Ga mencatat di buku kecilnya bahwa Mama tertawa paling banyak di jam makan siang, waktu Mbok Darmi dan Pakde bertengkar soal opor. Ia bilang itu data. Aku bilang itu bukti bahwa ia mulai jadi seperti Teddy.

Pakde dan Pak Jono langsung bersahabat.

Pak Jono datang ke teras belakang setiap sore dengan sepeda ontelnya, membawa gorengan dari warung di ujung jalan. Mereka duduk di kursi rotan, makan gorengan yang tidak boleh dimakan Pakde, membicarakan jalur Pantura, tentara, dan pemerintahan, dengan suara yang terlalu keras dan pendapat yang terlalu yakin.

“Pak Jono dulu tentara?” tanya Pakde.

“Satpam kompleks, Pak.”

“Kok jalannya kayak tentara?”

“Saya latihan sendiri, Pak. Nonton film.”

Pakde tertawa sampai batuk. Pak Jono menepuk punggungnya dengan hormat.

Geng arisan datang di minggu kedua.

Tante Merry masuk ke teras belakang, melihat Pakde di kursi rotan, dan berhenti di tengah langkah. Ia menatap Pakde. Menatap Ga. Menatap Pakde lagi.

“Ya Allah, Ratih,” bisiknya. “Ini mesin fotokopi.”

Bu Nining membawa tujuh kotak kue, karena tentu saja. Ia memaksa Pakde mencicipi lapis legit tiga puluh dua lapis. Pakde makan satu potong, lalu diam lama, lalu bilang dengan suara serak bahwa itu kue terenak yang pernah ia makan, dan Bu Nining menangis ke tisunya.

Bu Lies duduk di sofa dengan tangan terlipat, menatap Pakde dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Kamu yang pergi dua puluh enam tahun,” katanya datar.

“Iya, Bu.”

“Kamu yang tulis kartu.”

“Iya.”

Bu Lies menatapnya lama. Lalu, untuk kelima kalinya sejak 2011, sudut bibirnya bergerak ke atas.

“Anakmu,” katanya, “jadi orang baik. Sayang kamu nggak ada waktu dia tumbuh.”

Pakde tidak menjawab. Ia hanya menunduk.

Bu Lies menatapnya lagi. Lalu ia menggeser kotak beludru hitam kecil di meja ke arahku.

“Anting,” katanya. “Buat pernikahan. Kapan pun itu. Jangan kelamaan. Bapaknya nggak punya banyak waktu.”

Ruangan sunyi.

Lalu Tante Merry menangis. Bu Nining menangis. Mama menangis, tanpa tahu kenapa. Mbok Darmi menangis ke celemeknya di ambang pintu dapur.

Pakde menatap kotak beludru itu. Lalu menatapku. Lalu menatap Ga.

Ga tidak menatap siapa-siapa. Ia sedang menatap tanganku. Jari manis kiriku, yang masih kosong.


Pakde mengajari Ga memancing di kolam ikan.

Kolam ikan hias. Ikan koi dan ikan mas koki yang dibeli Bu Ratih lima tahun lalu dan diberi nama satu per satu: Juragan, Nyonya, Si Gendut, Si Bopeng.

“Pak, itu ikan hias,” kata Ga, berdiri di tepi kolam dengan joran bambu yang dibuat Pakde sendiri dari batang bambu di belakang pos satpam.

“Ikan ya ikan,” kata Pakde dari kursi rotan. “Pegang jorannya. Bukan kayak gitu. Kamu pegang kayak pegang pulpen tanda tangan kontrak. Ini bukan kontrak. Santai.”

“Mama bakal marah.”

“Mamamu yang kasih izin.”

Bu Ratih, di kursi rotan sebelahnya, mengangguk dengan topi pandan dan wajah yang sangat bahagia. “Tangkap Si Gendut, Ga. Dia nakal. Suka makan jatah Juragan.”

Mbok Darmi berlari keluar dari dapur dengan sutil di tangan.

“MAS HAR! ITU IKAN HIAS! MAS ARGA! LEPASIN!”

Ga menangkap Si Gendut tiga menit kemudian. Ikan mas koki oranye bulat itu menggeliat di ujung kail, dan Ga menatapnya dengan wajah yang tidak kalah bingung dengan ikannya.

“Lepasin!” teriak Mbok Darmi.

“Lepasin,” kata Pakde, tertawa sampai batuk. “Ikan hias nggak boleh dimakan.”

Ga melepas Si Gendut dengan sangat hati-hati, mengembalikannya ke kolam dengan dua tangan. Si Gendut berenang menjauh dengan wajah tersinggung.

Ga berdiri di tepi kolam dengan joran bambu di tangan dan kemeja yang basah kena cipratan air. Ia menatap Pakde.

Dan ia tertawa.

Tawa yang sama seperti di foto yang kini menempel di dinding kamar belakang di Bekasi. Tawa yang keluar dari perut. Tawa yang membuat matanya basah.

Pakde menatap anaknya tertawa di tepi kolam ikan hias, dengan joran bambu buatannya sendiri.

Aku melihat Pakde mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja batiknya. Buku tulis cokelat. Kecil. Lusuh. Buku yang Ga ceritakan padaku dengan suara pecah, di bawah hujan, di depan toko kelontong.

Pakde membukanya di halaman terakhir. Ia mengambil pulpen dari saku yang lain.

Ketemu Arga. Sekali. Sebelum—

Ia mencoretnya. Satu garis lurus. Rapi.

Lalu ia menulis sesuatu di bawahnya. Pelan. Dengan tangan gemetar. Aku tidak bisa membacanya dari tempatku berdiri.

Ia menutup buku itu dan memasukkannya kembali ke saku, tepat ketika Ga berbalik dari kolam.

Ga melihat buku itu menghilang ke saku kemeja batik.

Ia tidak bertanya. Ia hanya tersenyum, dan kembali memancing ikan hias yang tidak boleh ia tangkap.


Malam itu, Pakde memanggil Ga ke kamarnya.

Aku sedang di dapur, menyiapkan susu madu untuk Bu Ratih. Satu sendok teh. Diaduk pelan, searah jarum jam. Aku mendengar suara Pakde dari kamar tamu yang pintunya setengah terbuka.

“Ga. Sini. Duduk.”

Langkah kaki Ga. Bunyi kursi yang ditarik.

Diam.

Lalu suara Pakde. Pelan. Berat. Serak.

“Kamu tanya Pakde kemarin. Kenapa Pakde nggak pulang waktu utangnya lunas.”

Aku berhenti mengaduk.

“Pakde takut, Ga,” kata Pakde. “Pakde takut kamu lihat Pakde. Laki-laki bau solar, nggak punya apa-apa, sandal jepit. Pakde takut kamu berhenti lari.” Diam sebentar. “Itu bukan alasan bagus. Itu alasan pengecut. Pakde tahu.”

Diam.

“Kamu nggak berhenti lari, Ga,” lanjut Pakde. “Kamu lari terus. Sampai ke tiga rumah. Sampai ke mobil yang nggak boleh disetir siapa-siapa. Pakde senang. Tapi Pakde juga sedih. Karena kamu lari sendirian.”

Aku mendengar Ga menarik napas.

“Aku nggak sendirian, Pak,” katanya pelan. “Ternyata.”

Diam lama sekali.

“Ga,” kata Pakde akhirnya. “Pakde minta satu hal.”

“Apa?”

“Jaga Wi.”

Sendok di tanganku jatuh ke gelas susu. Ting.

“Dia bukan anak Pakde,” kata Pakde. “Tapi Pakde gendong dia waktu dia umur tujuh. Pakde nyanyiin dia lagu itu waktu bapaknya meninggal. Pakde bayar kuliahnya. Pakde suruh dia ke rumah kamu.” Suaranya pecah. “Dan Pakde bikin dia nangis. Pakde suruh dia diam. Pakde yang bikin kamu benci dia.”

“Pak—”

“Jangan biarin dia sendirian, Ga. Kayak Pakde biarin ibumu sendirian. Jangan.”

Aku berdiri di dapur, dengan susu madu yang mulai dingin, dan tidak bisa bernapas.

Lalu suara Ga. Pelan. Mantap. Seperti suara seseorang yang menandatangani kontrak yang paling penting dalam hidupnya.

“Aku nggak akan pergi, Pak. Aku janji.”

“Janji itu nggak bisa dicoret, Ga,” kata Pakde. “Harus ditepati tiap hari.”

“Aku tahu, Pak,” kata Ga. “Aku belajar dari orang yang tepati janjinya dua puluh enam tahun.”


Aku mengantar susu madu untuk Bu Ratih. Ia sudah tertidur, dengan satu tangan menjuntai ke bawah ranjang, menyentuh kotak jahit. Aku menaruh gelas susu di meja samping ranjangnya.

Ketika aku keluar ke lorong, Ga sudah ada di sana.

Ia berdiri bersandar di dinding di depan kamar tamu, dengan mata yang merah dan tangan di saku. Ia melihatku. Ia tidak membuang muka.

“Kamu dengar?” tanyanya pelan.

“Sebagian.”

“Bagian yang mana?”

“Bagian yang jaga Wi.”

Ga menatapku. Lalu, pelan, ia melangkah dari dinding dan berdiri di depanku. Begitu dekat sampai aku bisa mencium wangi sabun mandinya dan kopi pahit dengan sejumput garam.

“Aku sudah janji,” katanya.

“Aku tahu.”

“Janji itu harus ditepati tiap hari.”

“Aku tahu, Ga.”

Ia mengangkat tangan dan menyelipkan helai rambut ke belakang telingaku. Seperti di ambang pintu ruang kerja. Seperti di mulut gang. Ujung jarinya menyentuh kulit di belakang telingaku, dan aku menahan napas, seperti selalu.

Lalu ia menunduk dan menciumku.

Pelan. Lembut. Tidak ada hujan. Tidak ada air mata. Tidak ada rahasia. Hanya lorong rumah yang sunyi, lampu malam yang kupasang supaya Bu Ratih tidak tersandung, dan dua orang yang tidak lagi menyembunyikan apa pun dari satu sama lain.

Ciuman itu tidak lama. Tidak dalam. Hanya hangat, dan tenang, dan pasti. Seperti seseorang yang pulang ke rumah dan menaruh tasnya di tempat biasa.

Ketika ia menarik diri, ia tidak menjauh. Dahinya bersandar di dahiku.

“Selamat malam, Wi,” bisiknya.

“Selamat malam, Ga.”

Dari kamar tamu di belakangnya, terdengar suara batuk. Lalu suara serak yang pelan, terlalu pelan untuk orang yang mengira ia tidak didengar:

“Tidur, kalian berdua. Sudah lewat jam sepuluh tiga puluh.”

Ga tertawa di dahiku. Aku tertawa di dadanya.

Dan di dalam kamar tamu, aku mendengar Pakde bersenandung. Lagu keroncong itu. Pelan. Sumbang di nada tinggi.

Sampai ia tertidur.