Chapter Seventeen

Pakde, Aku Takut

POV: Dewi

Dimas menjemputku hari Jumat sore dengan wajah orang yang baru memenangkan undian.

“Kak,” katanya bahkan sebelum aku naik ke motor. “Kak, Bang Lexus bilang suatu hari nanti.”

“Apanya?”

“Duduk di kursi sopirnya, Kak! Dia bilang suatu hari nanti! Itu artinya iya, Kak! Itu bahasa orang kaya buat bilang iya!”

“Itu bahasa orang kaya buat bilang jangan nanya lagi, Dim.”

Dimas tidak mendengarkan. Ia memasang helm dengan semangat, menyalakan motor dengan semangat, dan sepanjang perjalanan dari Pondok Indah ke Bekasi Timur, satu jam empat puluh menit di tengah macet Jumat sore, ia bercerita tentang Lexus. Tentang mesin hybrid-nya. Tentang suspensinya. Tentang betapa mulus catnya waktu ia gosok dengan microfiber.

“Kak,” katanya di lampu merah Cawang. “Kakak tahu nggak? Bang Lexus nontonin aku nyuci mobil dua jam empat puluh menit. Duduk di teras. Laptopnya nggak dibuka sama sekali.”

“Iya, Kakak lihat dari jendela.”

“Dia senyum, Kak. Pas aku ngomong sama mobilnya. Dia kira aku nggak lihat. Aku lihat dari pantulan kaca pintu.”

Aku menatap punggung adikku dari jok belakang motor. Jaket jins lusuh. Helm dengan kaca retak. Dua puluh dua tahun, montir, tidak pernah kuliah karena memilih kerja supaya aku bisa lulus.

“Kak,” katanya lagi, lebih pelan, ketika motor melaju di jalan tol layang. “Bang Lexus itu… anaknya Pakde, kan?”

Aku membeku di jok belakang.

Dimas tidak menoleh. Ia terus menatap jalan.

“Aku nggak bodoh, Kak,” katanya. “Aku tumbuh di depan dinding kliping itu juga. Mukanya sama. Matanya sama. Cara dia berdiri sama. Aku lihat dia di teras, Kak, terus aku pulang dan lihat Pakde di teras, dan mereka duduk dengan cara yang sama persis. Kaki kanan di atas kaki kiri, tangan di lutut.”

Aku tidak bisa bicara.

“Pakde nggak pernah bilang,” lanjut Dimas. “Ibu nggak pernah bilang. Kakak juga nggak. Tapi aku tahu dari dulu. Dari SMP.”

“Dim…”

“Aku nggak bakal bilang ke siapa-siapa, Kak. Tenang.” Ia diam sebentar. “Aku cuma mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Kakak suka sama dia, ya?”

Motor terus melaju. Angin tol menerpa wajahku. Di bawah sana, Jakarta mulai menyalakan lampu-lampunya satu per satu.

Aku tidak menjawab.

Dimas tidak bertanya lagi. Tapi di lampu merah berikutnya, ia mengulurkan tangan kirinya ke belakang tanpa menoleh, dan menepuk lututku dua kali. Pelan. Seperti Pakde biasa menepuk lututku waktu aku kecil dan menangis karena diejek anak tetangga tidak punya bapak.


Ibu menyambutku dengan semangkuk soto dan tatapan curiga.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Mukamu merah.”

“Kena angin di motor.”

“Angin nggak bikin muka merah sampai telinga.” Ibu menyipitkan mata. “Kamu ngapain di rumah orang kaya itu?”

“Kerja, Bu.”

“Kerja apa sampai mukamu kayak tomat?”

Dimas, yang sedang makan gorengan di bangku warung, tersedak dan terbatuk-batuk. Ibu memukul punggungnya dengan sendok sayur tanpa mengalihkan pandangan dariku.

Aku mengambil mangkuk soto dan kabur ke lorong belakang.


Pakde sedang duduk di kursi lipat di depan meja kayu, tapi tidak sedang menempel kliping. Ia sedang menatap jendela kecil yang menghadap tembok tetangga. Kakinya, di balik sarung, terlihat lebih bengkak dari minggu lalu. Di meja ada setumpuk kertas dari rumah sakit, hasil laboratorium, yang ia letakkan terbalik supaya tidak bisa dibaca.

“Pakde.”

Ia menoleh dan tersenyum. “Wi. Sudah makan?”

“Sudah. Bawa soto.” Aku menaruh mangkuk di meja. “Buat Pakde. Kuahnya sedikit. Ibu yang takar.”

“Ibumu nakar kuah kayak nakar emas.”

Aku duduk di tepi dipan. Pakde mengambil sendok, menyuap soto pelan-pelan. Tangannya gemetar. Lebih gemetar dari minggu lalu. Setiap kali sendok itu bergerak dari mangkuk ke mulutnya, sedikit kuah menetes ke meja.

Aku melirik kertas lab yang terbalik.

“Hasilnya gimana, Pakde?”

“Biasa.”

“Biasa itu gimana?”

“Biasa itu biasa, Wi.” Ia tidak menatapku. “Dokter bilang cuci darah ditambah. Jadi tiga kali seminggu. Senin, Rabu, Jumat.”

Aku menatapnya. Tiga kali. Dari dua kali.

“Dimas yang antar?”

“Dimas yang antar. Bengkelnya kasih izin.” Pakde menyuap soto lagi. “Kamu nggak usah pikirin. Kamu kerja.”

Aku tidak berkata apa-apa. Aku mengambil kertas lab itu dan membaliknya. Pakde tidak melarang. Ia tahu aku perawat. Ia tahu aku bisa membaca angka-angka itu.

Ureum. Kreatinin. Kalium. Hemoglobin.

Angka-angka itu tidak biasa.

Aku meletakkan kertas itu kembali, terbalik, dan menatap lantai semen merah yang catnya mengelupas.

“Berapa lama, Pakde?” tanyaku pelan. “Dokter bilang berapa lama?”

Pakde berhenti menyuap.

“Dokter nggak bilang,” katanya.

“Pakde.”

“Dokter bilang,” ia meletakkan sendok, “kalau cuci darahnya rutin, kalau makannya dijaga, kalau minumnya dibatasi, mungkin setahun. Mungkin lebih. Mungkin kurang.” Ia tersenyum kecil. “Dokter juga nggak tahu, Wi. Dokter cuma pura-pura tahu.”

Setahun. Mungkin kurang.

Aku memeluk lututku sendiri di tepi dipan, seperti yang selalu kulakukan sejak kecil kalau ada sesuatu yang terlalu berat untuk dipegang dengan tangan.


“Wi,” kata Pakde setelah soto di mangkuknya habis. “Kamu kenapa? Dari tadi mukamu kayak orang mau ngomong tapi nggak jadi.”

Aku mengangkat kepala.

Di dinding, ratusan wajah Pak Arga menatapku. Mahasiswa kurus dengan piala. Kontraktor muda di depan ruko. Laki-laki berjas abu-abu di depan layar proyektor.

Dan di kepalaku, wajah yang lain. Wajah yang tidak ada di kliping mana pun. Wajah yang menatapku dari kursi kerja dengan piring kosong di depannya, bertahan lima detik, enam, tujuh, sampai aku yang tidak sanggup. Wajah yang tersenyum duluan untuk pertama kalinya. Wajah yang bertanya hukumannya bisa diulang besok? dengan suara kaku seperti membaca kontrak.

“Pakde,” kataku pelan. “Aku takut.”

Pakde menunggu.

“Aku suka sama dia.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Lebih mudah dari yang kukira. Seperti batu yang sudah lama terganjal di tenggorokan, lalu tiba-tiba tertelan.

Pakde tidak terkejut. Ia hanya menatapku lama, dengan mata tua yang terlalu pintar untuk dibohongi.

“Aku tahu,” katanya.

“Pakde tahu?”

“Darmi bilang.” Ia tersenyum kecil. “Darmi bilang kamu peluk dia dari belakang di ruang kerja. Hari Kamis. Bawa nampan.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya Allah. Mbok Darmi.”

“Darmi lihat dari celah pintu. Dia mau antar teh.” Pakde tertawa kecil, lalu terbatuk. “Dia telepon Pakde jam sebelas malam. Nangis. Katanya, Mas Har, anakmu makan habis dalam empat menit. Empat menit, Mas.”

Aku tertawa di balik tanganku. Tawa yang bercampur dengan sesuatu yang lain.

Lalu aku menurunkan tangan dan menatap Pakde. Wajahnya tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Senang dan sedih di wajah yang sama, seperti langit sore yang separuh oranye separuh gelap.

“Pakde,” kataku. “Aku mau bilang ke dia.”

Senyum Pakde pelan-pelan hilang.

“Aku mau bilang semuanya,” lanjutku. “Soal Pakde. Soal kenapa aku di sana. Soal lagu itu. Soal kartu-kartu itu. Aku nggak bisa terus bohong ke dia, Pakde. Rabu kemarin dia bilang lupakan saja, kalimat itu cuma ungkapan, dia yang aneh. Dia minta maaf ke aku, Pakde. Dia yang minta maaf. Padahal aku yang—”

Suaraku pecah.

Pakde mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku. Tangannya kasar dan hangat, dengan tonjolan cimino di lengan bawah yang terasa seperti dengungan kecil di bawah kulit.

“Kalimat apa, Wi?” tanyanya pelan.

Aku menatapnya.

“Kalimat Pakde,” bisikku. “Yang dulu Pakde bilang ke aku tiap malam, kalau aku belum tidur. Soal mata yang nyala. Aku kelepasan. Di Tangerang. Waktu dia cerita soal rumah susun. Matanya… Pakde, matanya waktu itu persis kayak mata Pakde waktu cerita soal jalur Pantura. Dan aku kelepasan.”

Pakde tidak bergerak.

Untuk waktu yang lama, ia hanya duduk di kursi lipat, menggenggam tanganku, menatap sesuatu yang jauh di balik dinding kliping. Kipas angin batuk setiap kali berputar ke kiri. Di warung, radio kecil menyiarkan dangdut. Ibu memarahi panci yang bocor.

“Dia ingat?” tanya Pakde akhirnya. Suaranya hampir tidak terdengar.

“Dia bilang suara itu nggak punya wajah. Dia nggak tahu itu dari mana. Tapi dia ingat kalimatnya, Pakde. Dia ingat.”

Pakde memejamkan mata.

“Itu bukan kalimat penyemangat, Wi,” katanya pelan.

“Apa?”

“Dia pikir itu kalimat penyemangat, kan? Kayak, semangatmu masih ada, jangan padam.” Pakde tersenyum, dengan mata yang masih terpejam. “Bukan. Itu Pakde yang tanya, dia sudah tidur atau belum.”

Aku menatapnya.

“Dia susah tidur dari bayi,” kata Pakde. “Tiap malam, Pakde pulang dari narik angkot jam sebelas, jam dua belas. Ibunya sudah tidur, capek. Pakde masuk kamar, lihat dia di kasur. Gelap. Tapi Pakde tahu dia belum tidur, karena matanya kebuka. Kelihatan dari lampu jalan yang masuk lewat jendela. Matanya kayak dua titik kecil yang nyala.”

Pakde membuka mata. Basah. Ia tidak menyekanya.

“Jadi Pakde bungkuk di atas kasur, usap rambutnya, tanya kalimat itu. Kalimat yang sama yang dulu Pakde tanya ke kamu, waktu kamu kecil dan nggak bisa tidur habis bapakmu meninggal. Maksudnya cuma, kok belum tidur? Terus dia ketawa, karena ketahuan. Terus Pakde nyanyi lagu itu. Lagu yang kamu nyanyiin buat ibunya. Sampai matanya mati. Sampai dia tidur.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Tiap malam, Wi,” bisik Pakde. “Lima tahun. Tiap malam.”


Aku menangis.

Aku tidak menahannya. Aku menangis di tepi dipan di kamar belakang yang dulu gudang, di bawah ratusan wajah laki-laki yang tidak tahu bahwa kalimat yang ia kira suara tanpa wajah adalah ayahnya yang pulang larut malam dan mengecek apakah anaknya sudah tidur.

Pakde tidak menangis. Ia hanya terus menggenggam tanganku sampai tangisku reda.

“Pakde,” kataku dengan suara serak. “Biarin aku bilang ke dia. Please. Dia harus tahu.”

Pakde menggeleng pelan.

“Jangan dulu, Wi.”

“Kenapa?”

“Karena dia sudah bilang mau apa.” Pakde menatap dinding. “Kamu yang cerita minggu lalu. Kamu tanya, kalau ayahnya datang, dia mau apa. Dia jawab apa?”

Aku memejamkan mata. Saya tutup pintunya.

“Dia tutup pintunya,” kata Pakde, seolah bisa membaca pikiranku. “Biar pintunya tetap tertutup, Wi. Pakde nggak apa-apa. Pakde nggak butuh masuk.”

“Tapi Pakde—”

“Wi.” Suaranya lembut tapi keras, seperti beton di bawah lantai kayu. “Kalau kamu bilang sekarang, dia nggak cuma benci Pakde. Dia benci kamu juga. Dia bakal mikir kamu dikirim. Dia bakal mikir semua yang kamu lakukan di rumahnya bohong. Roti bakarnya bohong. Pelukannya bohong. Stetoskopnya bohong.”

Aku menggeleng keras. “Itu nggak bohong, Pakde.”

“Pakde tahu itu nggak bohong. Kamu tahu. Tapi dia nggak akan tahu.” Pakde meremas tanganku. “Dia anak yang ditinggal, Wi. Anak yang ditinggal selalu mikir semua orang datang dengan alasan lain.”

Aku tidak bisa membantah. Karena aku tahu itu benar. Aku sudah melihatnya. Laki-laki yang membuat target baru setiap kali mencoret target lama, karena takut bangun dan semuanya hilang. Laki-laki yang duduk di anak tangga ketujuh karena tidak tahu apakah ia boleh turun.

“Terus aku harus gimana, Pakde?”

Pakde tersenyum. Senyum yang sangat tua dan sangat lelah, dan sangat, sangat sayang.

“Bikin dia bahagia,” katanya. “Itu aja. Kamu sudah bikin dia ketawa sampai kedengeran ke dapur. Kamu sudah bikin dia tidur sebelum jam sebelas. Kamu sudah bikin dia makan dalam empat menit.” Pakde menepuk tanganku. “Pakde nggak bisa kasih dia apa-apa lagi, Wi. Tapi kamu bisa.”

“Pakde bisa kasih dia ayah.”

“Dia sudah tiga puluh satu. Dia nggak butuh ayah.” Pakde menggeleng. “Dia butuh orang yang nggak pergi.”

Ia menatapku lama.

“Biar Pakde yang dibenci, Wi,” katanya pelan. “Pakde sudah biasa. Dua puluh enam tahun Pakde dibenci, Pakde masih hidup. Tapi kamu jangan. Kamu jangan sampai dibenci sama dia.”

Aku tidak bisa menjawab.

Di luar jendela kecil, tembok tetangga mulai gelap. Lampu jalan di gang menyala satu per satu.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang membuat dadaku sesak, bahwa Pakde salah. Bahwa ini bukan cara melindungiku. Bahwa semakin lama aku diam, semakin dalam aku jatuh, semakin keras nanti aku dibenci.

Tapi aku juga tahu bahwa laki-laki di depanku, dengan ginjal yang tidak bekerja dan kaki yang bengkak dan tangan yang gemetar memegang sendok soto, mungkin hanya punya setahun lagi. Mungkin kurang.

Dan ini satu-satunya hal yang ia minta dariku.

“Iya, Pakde,” bisikku.

Pakde mengangguk pelan. “Makasih, Wi.”


“PAKDE! WI!”

Pintu kamar terbuka keras. Ibu berdiri di ambang pintu dengan sendok sayur di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri.

“Ini apa?”

Ia menyodorkan ponselnya. Di layarnya, sebuah foto. Buram, diambil dari celah pintu, dengan sudut yang aneh. Tapi cukup jelas. Seorang perempuan dengan kaus putih longgar dan rambut terurai, memeluk seorang laki-laki berkemeja dari belakang, di depan meja kerja dengan nampan nasi.

Aku menatap foto itu dengan horor.

“Bu! Dari mana Ibu dapat itu?”

“Dari Darmi!” Ibu mengacungkan sendok sayur ke arah Pakde. “Darmi kirim ke Pakde, Pakde forward ke Dimas, Dimas tunjukin ke Ibu!”

Aku menoleh pada Pakde. Pakde menatap langit-langit dengan wajah sangat tidak berdosa.

“Pakde forward?”

“Pakde mau Dimas lihat,” kata Pakde tanpa menatapku. “Biar Dimas tahu kakaknya bahagia.”

“PAKDE!”

“Itu bagus, Wi,” kata Ibu dengan suara yang tiba-tiba melunak. Ia menurunkan sendok sayur, menatap foto itu lagi. “Itu bagus. Anak orang kaya itu kelihatan… kelihatan kayak orang yang lagi dipeluk untuk pertama kali.”

Aku menatap Ibu.

Ibu menatapku balik. Matanya basah. Ibu, yang memarahi panci dan memarahi ayam tetangga dan memarahi Dimas setiap pagi, yang tidak pernah menangis sejak Ayah meninggal di lorong rumah sakit, matanya basah.

“Ibu nggak ngerti urusan kalian,” katanya pelan. “Urusan Pakde, urusan anak itu, urusan dua puluh enam tahun. Ibu nggak mau ngerti.” Ia menatapku. “Tapi Ibu ngerti satu hal, Wi. Kamu kelihatan bahagia di foto itu. Ibu sudah lama nggak lihat kamu kayak gitu.”

Lalu Ibu berbalik dan kembali ke warung, karena ada pembeli yang memanggil.

Aku duduk di tepi dipan dengan wajah terbakar dan mata yang masih basah.

Pakde, di kursi lipatnya, tertawa pelan. Lalu batuk. Lalu tertawa lagi.

“Ibumu benar, Wi,” katanya. “Kamu bahagia.”

“Pakde jahat.”

“Pakde memang jahat.” Ia mengangguk dengan serius. “Tanya aja anak Pakde.”

Aku tertawa. Aku tidak mau tertawa, tapi aku tertawa. Dan di kamar belakang yang dulu gudang, di bawah dinding penuh wajah laki-laki yang membuatku jatuh cinta, aku tertawa dan menangis bersamaan sampai kipas angin batuk dua puluh kali.


Malam itu, sebelum tidur, Pakde memanggilku lagi ke kamarnya.

“Amplopnya,” katanya. “Masih kamu simpan?”

“Masih, Pakde. Di koper.”

“Jangan dibuka dulu.”

“Iya.”

“Nanti,” katanya pelan, menatap kliping terbaru di baris paling bawah. “Kalau Pakde sudah nggak ada, kasih ke dia. Bilang dari orang yang menulis kartu.”

Aku menatap punggung Pakde lama.

“Iya, Pakde,” kataku.

Dan untuk keempat kalinya hari itu, iya terasa seperti batu yang kususun di dadaku sendiri, satu per satu, sampai suatu hari, aku tahu, batu-batu itu akan terlalu berat untuk dibawa.