Chapter Twenty Nine
Bekasi
POV: Dewi
Aku tidak langsung pulang.
Dari stasiun Bekasi Timur, aku naik angkot ke rumah sakit daerah, dengan koper abu-abu di pangkuan dan mata yang tidak mau berhenti basah. Sopir angkot melirikku dari spion dua kali. Ibu-ibu di sebelahku menyodorkan tisu tanpa bertanya. Aku menerimanya tanpa berterima kasih, karena kalau aku membuka mulut, aku tidak yakin yang keluar adalah kata-kata.
Pakde masih di ruang rawat inap kelas tiga, di ranjang dekat jendela. Selang oksigen masih di hidungnya, tapi napasnya sudah lebih teratur. Ia sedang menatap langit-langit ketika aku masuk.
Ia menoleh. Ia melihat koper abu-abu. Ia melihat wajahku.
Ia tidak bertanya. Ia sudah tahu.
Dimas sudah meneleponnya kemarin sore, dari bangku panjang warung, sambil menangis. Dimas menceritakan semuanya. Buku dongeng. Tulisan tangan. Aku lupa ada rapat. Kotak beludru biru tua di saku celana.
“Wi,” kata Pakde pelan.
Aku menaruh koper di lantai. Aku duduk di kursi plastik di sebelah ranjangnya. Aku tidak bicara.
Pakde mengulurkan tangan, tangan kanan yang tidak terpasang infus, dan menyentuh kepalaku. Mengusap rambutku. Pelan. Seperti waktu aku tujuh tahun dan menangis karena diejek anak tetangga tidak punya bapak.
“Dia bilang apa?” tanya Pakde.
Aku menggeleng.
“Wi.”
“Dia tanya berapa Pakde bayar aku.”
Tangan Pakde di kepalaku berhenti.
“Dia bilang dia nggak tahu aku siapa.” Suaraku keluar datar. Kosong. Seperti suara orang yang sudah menangis terlalu lama sampai air matanya habis. “Aku minta dia natap aku. Dia nggak mau. Dia natap jendela. Pohon mangga. Lima belas detik, Pakde. Aku hitung. Dia nggak noleh.”
Pakde menarik tangannya dari kepalaku.
Ia menatap langit-langit. Rahangnya mengeras. Matanya, yang biasanya menyala, sekarang gelap.
“Ini salah Pakde,” katanya.
“Pakde—”
“Salah Pakde, Wi. Dari awal.” Ia memejamkan mata. “Pakde yang minta kamu ke sana. Pakde yang suruh kamu diam. Pakde yang bilang biar Pakde yang dibenci. Pakde pikir Pakde lagi lindungin kamu.”
Ia membuka mata dan menatapku. Ada air di sudut matanya, tapi tidak jatuh. Pakde tidak pernah membiarkannya jatuh, kecuali sekali, di unit hemodialisis, di depan foto buram anaknya.
“Pakde cuma bikin dia benci kamu juga,” bisiknya. “Persis kayak yang Pakde takutkan.”
Pakde mencoba bangun.
Ia menurunkan kakinya yang bengkak dari ranjang, mencengkeram besi pinggiran kasur, dan mencoba berdiri. Selang oksigen tertarik dari hidungnya. Infus di lengannya bergoyang.
“Pakde! Pakde mau ke mana?”
“Pondok Indah.”
“Pakde, jangan!”
“Pakde yang harus ngomong ke dia, Wi. Bukan kamu. Pakde yang salah. Pakde yang harus berdiri di depan pagarnya.”
“Pakde nggak bisa berdiri!”
Itu benar. Kakinya gemetar begitu menyentuh lantai. Lututnya menekuk. Ia jatuh kembali ke kasur dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat, bibirnya mulai membiru lagi.
Aku memasang kembali selang oksigen di hidungnya dengan tangan gemetar. Aku menekan tombol panggil perawat.
“Pakde,” kataku, dan suaraku akhirnya pecah. “Pakde, please. Jangan. Dia bilang kalau Pakde berdiri di depan pagar, dia tutup pintu. Dia bilang itu. Dia sudah putuskan dari dua puluh dua tahun lalu.”
Pakde menatapku dengan napas yang masih tersengal.
“Kalau Pakde ke sana sekarang,” lanjutku, “Pakde cuma bakal lihat pintunya ditutup. Dan Pakde nggak punya waktu buat nunggu pintu itu dibuka lagi.”
Perawat datang. Perempuan galak yang sama, yang Pakde bilang naksir padanya. Ia melihat Pakde yang setengah terbaring dengan kaki menjuntai, selang oksigen miring, infus yang hampir lepas.
“Pak Har! Bapak mau kabur?”
Pakde tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit, sementara perawat itu membetulkan posisinya, memeriksa infus, mengukur tekanan darahnya sambil mengomel.
Ketika perawat itu pergi, Pakde berkata pelan tanpa menatapku:
“Wi. Kamu yang ke sana.”
“Apa?”
“Kamu ke sana. Bilang semuanya. Kenapa Pakde pergi. Utangnya. Orang-orang yang datang malam-malam. Semuanya.” Ia menoleh padaku. “Dia harus tahu itu bukan salah kamu. Dia boleh benci Pakde. Tapi jangan kamu.”
Aku menatapnya.
“Nggak, Pakde.”
“Wi—”
“Nggak.” Aku menggeleng. “Aku sudah coba. Aku sudah berdiri di depan dia dan minta dia natap aku. Dia nggak mau. Dia nggak mau dengar.”
“Coba lagi.”
“Dia nggak mau dengar, Pakde!” Aku berteriak. Pasien di ranjang sebelah menoleh. Aku tidak peduli. “Dia nggak mau dengar dari aku! Aku perempuan yang dikirim! Apa pun yang aku bilang, dia bakal pikir itu suruhan Pakde juga! Pakde nggak ngerti!”
Pakde terdiam.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Dia cuma mau satu hal,” kataku dari balik tangan. “Dia mau ada satu hal di hidupnya yang dia dapat sendiri. Bukan dari Pakde. Bukan dari yayasan. Bukan dari kartu. Sendiri.” Suaraku teredam. “Dan dia pikir aku itu. Dia pikir aku satu-satunya yang dia dapat sendiri. Ternyata aku juga dari Pakde.”
Hening.
Panjang sekali.
Di jendela, langit Bekasi mulai mendung. Suara klakson dari jalan raya di bawah. Suara troli makanan di lorong.
“Wi,” kata Pakde akhirnya, sangat pelan.
Aku menurunkan tangan.
Pakde menatapku dengan mata basah, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia terlihat tua. Sangat tua. Bukan enam puluh tiga. Seratus. Seribu.
“Kamu bukan dari Pakde,” katanya. “Kamu ke sana karena Pakde. Tapi kamu jatuh cinta sendiri. Dia jatuh cinta sendiri. Itu bukan dari Pakde. Pakde nggak bisa nyuruh orang jatuh cinta.”
Air mataku jatuh lagi.
“Pakde nggak bisa nyuruh dia makan habis empat menit,” lanjutnya, suaranya bergetar. “Pakde nggak bisa nyuruh dia ketawa sampai kedengaran ke dapur. Pakde nggak bisa nyuruh dia beli cincin. Itu semua kamu, Wi. Bukan Pakde.”
“Dia nggak tahu itu.”
“Belum,” kata Pakde. “Belum tahu.”
Pukul empat sore, Ibu datang ke rumah sakit dengan rantang dan wajah perang.
Ia meletakkan rantang di meja kecil di samping ranjang dengan bunyi yang terlalu keras. Ia menatap Pakde. Ia menatapku. Ia menarik napas panjang, sangat panjang, seperti seseorang yang sudah menahan sesuatu sejak kemarin siang.
Lalu ia meledak.
“Dua puluh enam tahun!”
Pasien-pasien di ranjang lain menoleh. Perawat di meja jaga menoleh.
“Dua puluh enam tahun kamu sembunyi, Har!” Ibu menunjuk Pakde dengan sendok sayur, yang entah kenapa ia bawa ke rumah sakit. “Dua puluh tahun di kamar belakang rumahku! Tempel koran di dinding! Nangis tiap malam pura-pura batuk! Kamu kira aku nggak dengar? Dindingnya tipis, Har!”
“Sum—”
“Diam!” Sendok sayur itu berayun ke arah Pakde. “Kamu suruh anakku ke rumah orang kaya! Jaga istrimu! Jaga anakmu! Terus kamu suruh dia diam! Sekarang lihat! Anakku nangis dari kemarin! Anak orang kaya itu juga pasti nangis! Istrimu yang sakit lupa itu pasti bingung! Semua orang nangis gara-gara kamu nggak bisa ngomong!”
Pakde menatap Ibu dengan wajah yang sangat bersalah.
Lalu Ibu berbalik padaku.
“Dan kamu!”
Aku tersentak.
“Kamu juga! Kenapa kamu nurut aja? Kamu sudah dua puluh tujuh tahun! Kamu perawat! Kamu pinter! Kamu tahu ini salah dari awal! Kenapa kamu nurut aja disuruh diam?”
“Bu, Pakde yang—”
“Pakde bukan Tuhan!” Ibu menunjukku dengan sendok sayur. “Pakde itu orang tua keras kepala yang nggak bisa ngomong! Kalau dia nyuruh kamu lompat ke sumur, kamu lompat juga?”
Aku tidak bisa menjawab.
Ibu menatapku. Lalu menatap Pakde. Lalu menatapku lagi. Napasnya terengah-engah. Sendok sayur di tangannya gemetar.
Lalu, tiba-tiba, wajahnya runtuh.
Ibu duduk di tepi ranjang Pakde dengan gerakan yang tidak anggun sama sekali. Ia menurunkan sendok sayurnya ke pangkuan. Ia menutup wajah dengan tangan yang berbau bawang goreng.
“Dan aku juga,” bisiknya dari balik tangan. “Aku juga salah. Aku tahu dari awal. Aku lihat muka anak itu di depan warung kemarin, aku tahu. Aku lihat dia makan soto pakai sendok bebek, persis kayak kamu, Har. Persis. Pegang mangkuk pakai dua tangan.” Ibu terisak. “Aku harusnya bilang. Aku harusnya bilang ke anak itu, duduk, Nak, Ibu mau cerita. Tapi aku diam. Aku juga diam.”
Pakde mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Ibu.
Mereka bertiga diam. Pakde di ranjang dengan selang oksigen. Ibu di tepi ranjang dengan sendok sayur di pangkuan. Aku di kursi plastik dengan koper abu-abu di kaki.
Tiga orang yang diam terlalu lama, di ruang rawat inap kelas tiga, dengan langit Bekasi yang mulai hujan di luar jendela.
Pakde pulang hari Selasa.
Dimas yang menjemput dengan motor bebek merahnya, dan aku yang menemani di angkot di belakangnya, karena Pakde tidak kuat duduk lama di jok motor. Ia kembali ke kamar belakang, ke dipan kayu dan kasur busa tipis dan kipas angin yang batuk setiap kali berputar ke kiri.
Ia langsung menatap dinding.
Ratusan kliping koran. Dari mahasiswa kurus dengan piala sampai laki-laki berjas abu-abu di depan layar proyektor. Dan di baris paling bawah, sebelah koran tender, foto berwarna yang dicetak Dimas di warnet. Laki-laki di meja makan, menutupi wajah dengan satu tangan, tertawa sampai matanya basah.
Pakde menatap foto itu lama sekali.
Lalu ia mengambil spidol hitam dari meja dan menulis sesuatu di secarik kertas kecil. Aku tidak bisa membacanya dari tempatku berdiri. Ia menempelkan kertas itu di bawah foto, lalu berbaring di dipan dengan wajah menghadap dinding.
Aku tidak bertanya apa yang ia tulis.
Aku menutup pintu kamar belakang dan berjalan ke warung.
Dimas sedang duduk di bangku panjang warung, sendirian, dengan semangkuk soto yang tidak ia sentuh.
Ia masih memakai kemeja yang kancingnya lengkap. Kemeja yang sama dari hari Sabtu. Ia belum menggantinya.
“Dim.”
“Kak.”
Aku duduk di sebelahnya. Di bangku panjang, di tempat yang sama dengan tempat Ga duduk tiga hari lalu dan makan soto dengan sendok bebek.
“Ganti baju, Dim. Itu sudah tiga hari.”
“Nanti, Kak.”
Kami diam. Di dapur, Ibu menggoreng tempe dengan suara minyak yang mendesis. Radio kecil di atas lemari menyiarkan dangdut. Di mulut gang, burung beo Bu Ani berteriak maling pada seseorang yang lewat.
Dimas mengangkat kepala setiap kali burung itu berteriak. Menatap mulut gang. Lalu menunduk lagi.
Aku tahu kenapa.
“Kak,” kata Dimas akhirnya, pelan.
“Hm.”
“Bang Lexus nggak ke sini lagi, Kak?”
Aku menatap adikku. Dua puluh dua tahun, montir, jaket jins lusuh, helm dengan kaca retak. Ia menatapku dengan mata yang merah dan penuh harap, seperti anak kecil yang menunggu di depan pintu sampai magrib.
“Nggak, Dim,” kataku.
Dimas mengangguk pelan.
“Dia udah janji, Kak,” katanya. “Dia bilang kalau hari itu datang, kunci mobilnya dikasih ke aku. Aku boleh jadi sopir pengantin.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Aku udah beli pita, Kak.” Dimas merogoh saku celananya dan mengeluarkan gulungan pita satin putih. Kecil. Masih dibungkus plastik. Harga dua puluh ribu, stikernya masih menempel. “Di toko kain dekat pasar. Hari Jumat. Sebelum aku kasih alamat ke Bang Arga. Aku pikir… aku pikir nanti dipasang di kap mobilnya. Bentuk bunga.”
Ia menatap pita itu di telapak tangannya.
“Aku yang salah, Kak,” bisiknya. “Kalau aku nggak kasih alamat—”
“Bukan salah kamu, Dim.”
“Kalau aku nggak kasih alamat, Kakak bisa bilang Sabtu depan. Pelan-pelan. Kayak rencana Kakak.”
“Kakak nggak pernah punya rencana, Dim.” Aku mengambil pita itu dari tangannya, menggenggamnya. “Kakak cuma nunda. Lima minggu. Setiap minggu Kakak bilang minggu depan. Kamu benar. Kakak nggak pernah ketemu caranya.”
Dimas menatapku.
“Bang Lexus nangis nggak, Kak?” tanyanya. “Waktu tahu?”
Aku teringat lima belas detik. Pohon mangga. Jendela. Wajah yang tidak menoleh.
“Kakak nggak tahu, Dim,” kataku. “Dia nggak mau lihat Kakak.”
Dimas mengangguk lagi. Lalu, pelan, ia mengambil mangkuk soto yang sudah dingin dan mulai makan. Satu sendok. Dua. Dengan sendok bebek. Dengan dua tangan memegang mangkuk.
Aku menatapnya, dan tiba-tiba aku menyadari bahwa adikku, yang tumbuh di depan dinding kliping koran, yang bilang ia tahu sejak SMP, juga makan soto seperti itu.
Seperti Pakde.
Seperti Ga.
Tiga laki-laki yang memegang mangkuk dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang berharga.
Selasa sore, setelah Pakde tertidur, aku menelepon agensi.
Aku mengundurkan diri. Tidak dari klien. Dari agensi. Aku bilang alasan pribadi. Koordinatorku, Mbak Rina, terdengar kaget. Ia bilang daftar tunggu klien VIP-ku masih panjang, ada mantan menteri yang menunggu sejak tiga bulan lalu, ada konglomerat yang ibunya baru kena stroke.
“Wi, kamu yakin?”
“Yakin, Mbak.”
“Klien Pondok Indah gimana? Pak Arga sudah telepon kemarin. Minta pengganti. Bu Yati sementara.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Bu Yati bagus, Mbak,” kataku. “Tolong bilang ke Bu Yati, Bu Ratih minum obat pakai sendok hijau. Susu madu satu sendok teh. Jangan dua. Beliau nggak suka terlalu manis.”
“Wi—”
“Dan kalau Bu Ratih bingung soal kerupuk,” suaraku pecah, “bilang sudah diantar. Dua belas warung. Semuanya sudah bayar.”
Mbak Rina diam lama di seberang telepon.
“Iya, Wi,” katanya akhirnya, pelan. “Mbak sampaikan.”
Rabu malam, pukul sembilan lewat dua puluh, ponselku bergetar.
Aku sedang duduk di teras rumah, di kursi plastik tempat Pakde biasa duduk dengan termos hijau penyok. Termos itu sekarang tidak ada. Masih di dapur Pondok Indah. Aku lupa membawanya pulang. Atau mungkin aku sengaja meninggalkannya, dan tidak mau mengakuinya.
Pesan dari Mbok Darmi. Diketik dengan satu jari, dengan ejaan yang berantakan:
mbak dewi. ibu cari mbak terus dari minggu. tiap pagi tanya suster cantik mana. ibu gak mau makan sama bu yati. ibu gak mau minum obat. katanya sendoknya salah. mbok udah kasih sendok ijo tapi ibu bilang bukan itu.
Aku menatap pesan itu.
Lalu pesan kedua masuk.
mbak. barusan ibu buka kotak jahit. di kamarnya. di lantai. ibu baca surat surat itu. ibu nangis. ibu panggil mas har. mbok gak berani masuk.
Dan pesan ketiga, dikirim satu menit kemudian:
mas arga baru pulang. mas arga denger ibu nangis. mas arga masuk kamar ibu.
Aku berdiri dari kursi plastik.
Ponsel di tanganku gemetar.
Di balik dinding di belakangku, di ujung lorong sempit, di kamar belakang yang dulu gudang, Pakde batuk. Batuk yang panjang dan berat. Lalu diam.
Aku berdiri di teras dalam gelap, di antara dua rumah. Satu di belakangku, dengan laki-laki tua yang sedang sekarat dan menempel foto anaknya tertawa di dinding. Satu di Pondok Indah, dengan perempuan tua yang sedang lupa dan membaca surat-surat dari suaminya di lantai kamar.
Dan di antara keduanya, seorang laki-laki tiga puluh satu tahun yang baru saja masuk ke kamar ibunya.
Dan aku tidak ada di sana.
Untuk pertama kalinya sejak enam minggu lalu, aku tidak ada di sana.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi reading
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala