Chapter Eighteen
Dapur Jam Dua, Lagi
POV: Arga
Senin malam, aku tidak bisa tidur. Lagi.
Kali ini bukan karena jadwal pengecoran atau harga besi. Kali ini karena Dewi kembali dari Bekasi dengan mata sembap.
Ia menutupinya dengan baik. Ia datang pukul delapan pagi dengan seragam putih, rambut dicepol rapi, senyum sopan untuk Mama, dan notes kuning di bawah gelas kopiku: Satu gelas. Sudah dihukum minggu lalu, jangan ulangi. Ia bekerja seperti biasa sepanjang hari. Ia mengukur tensiku pukul delapan malam. Seratus tiga puluh per delapan puluh lima. Membaik. Nadi seratus delapan belas waktu stetoskop menyentuh dada.
“Masih tinggi, Pak,” katanya sambil melepas stetoskop.
“Kamu yang bikin tinggi.”
Itu godaan keduaku dalam hidup. Kali ini aku sudah berlatih di mobil sepanjang tol, dengan intonasi yang berbeda-beda. Dewi menatapku, berkedip dua kali, lalu tertawa kecil sambil menggeleng.
“Lebih baik dari minggu lalu, Pak,” katanya. “Sekarang kayak baca brosur, bukan kontrak.”
Tapi tawanya tidak sampai ke mata. Dan aku sudah cukup lama memperhatikan matanya untuk tahu bedanya.
Pukul dua lewat lima pagi, aku turun ke dapur.
Anak tangga ketujuh berderit. Aku tidak berusaha menghindarinya lagi.
Lampu dapur menyala. Tentu saja menyala.
Dewi berdiri di depan kompor dengan kaus putih longgar dan celana tidur kotak-kotak biru, rambut terurai, kaki telanjang. Persis seperti tiga minggu lalu, malam mi instan dan Mbok Darmi dengan senter. Di atas kompor, panci kecil berisi susu sedang dipanaskan dengan api paling kecil.
“Bu Ratih bangun?” tanyaku dari ambang pintu.
“Nggak, Pak.” Ia tidak menoleh. “Ini buat saya.”
“Kamu nggak bisa tidur?”
Ia diam sebentar. “Nggak.”
Aku berjalan masuk dan bersandar di meja dapur, di tempat yang sama seperti hari arisan, waktu ia berbisik di telingaku. Aku memperhatikan tangannya menuang susu ke gelas. Satu sendok teh madu. Diaduk pelan, searah jarum jam.
“Mau, Pak?”
“Boleh.”
Ia mengambil gelas kedua, menuang setengah susu dari gelasnya sendiri ke gelas itu, menambahkan madu, dan menyodorkannya padaku. Kami berdiri bersebelahan di depan kompor, bersandar di meja, memegang gelas susu hangat masing-masing. Kulkas mendengung. Jam dinding di lorong menghitung.
“Kamu habis nangis,” kataku.
Dewi tidak menjawab.
“Matamu sembap dari pagi. Kamu tutupi pakai bedak, tapi kelihatan waktu kamu ketawa.”
“Bapak merhatiin mata saya?”
“Saya sudah tiga minggu latihan merhatiin mata kamu,” kataku. “Saya sudah bisa sampai delapan detik. Teddy belum tahu.”
Dewi menoleh padaku. Matanya, yang masih sedikit sembap, menatapku dari jarak setengah meter. Lalu ia menunduk ke gelas susunya, dan aku melihat ujung bibirnya bergerak.
“Delapan detik,” ulangnya pelan.
“Waktu kamu ketiduran di sofa sebelah Mama, Sabtu waktu Mama demam. Saya lewat. Saya hitung.”
“Itu nggak dihitung, Pak. Saya merem.”
“Itu dihitung.”
Ia tertawa kecil. Tawa kecil yang lebih nyata dari yang tadi malam. Lalu tawa itu memudar, dan ia menatap gelas susunya lagi, dan wajahnya kembali sedih.
“Pakde sakit, Pak,” katanya pelan.
Aku menunggu.
“Ginjalnya,” lanjutnya. “Gagal ginjal. Sudah setahun cuci darah. Dua kali seminggu. Mulai minggu ini tiga kali.”
Aku teringat suara Dewi di teras belakang dua minggu lalu, di malam ketika Mama demam. Pakde jangan minum kopi. Seperempat. Janji.
“Kamu cerita dia yang bayar kuliahmu,” kataku. “Sopir truk.”
“Iya.”
“Dokter bilang apa?”
Dewi diam lama sekali. Susu di gelasnya mulai dingin.
“Dokter nggak tahu,” katanya akhirnya. “Mungkin setahun. Mungkin kurang.”
Aku menaruh gelas susuku di meja.
Aku tahu rasanya. Bukan persis sama. Mama tidak sedang sekarat. Tapi aku tahu rasanya mendengar dokter bicara dengan suara tenang tentang sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Aku tahu rasanya ingin membuat spreadsheet untuk sesuatu yang tidak bisa dihitung.
Dan aku tahu satu hal lagi: aku punya uang. Banyak uang. Uang yang selama sebelas tahun kukumpulkan supaya tidak ada orang yang kucintai perlu menunggu empat jam di lorong rumah sakit.
“Dewi,” kataku. “Saya bisa bantu.”
Ia menoleh.
“Saya kenal direktur di tiga rumah sakit besar. Termasuk yang di BSD, yang sedang saya bangun. Saya bisa minta nefrolog terbaik. Saya bisa bantu cari donor, kalau memungkinkan. Transplantasi. Biayanya saya yang tanggung. Semuanya. Pakde kamu nggak perlu—”
“Jangan.”
Kata itu keluar terlalu cepat. Terlalu keras. Dewi sendiri tampak terkejut mendengarnya.
Aku berhenti.
“Jangan, Pak,” katanya lagi, lebih pelan. Tangannya menggenggam gelas susu dengan dua tangan, erat. “Terima kasih. Sungguh. Tapi jangan.”
“Kenapa?”
“Beliau nggak akan mau.”
“Kamu belum tanya.”
“Saya nggak perlu tanya.” Ia menggeleng. “Saya sudah dua puluh tahun kenal beliau, Pak. Beliau nggak pernah mau dibantu. Beliau nggak pernah minta apa-apa dari siapa pun. Seumur hidupnya, beliau cuma kasih. Nggak pernah nerima.”
Ada sesuatu di cara ia mengatakannya. Sesuatu yang membuatku teringat kartu-kartu krem di kotak sepatu biru. Orang asing yang memberi dan tidak pernah mau dikenal.
“Kalau gitu,” kataku pelan, “kita mirip.”
Dewi menatapku dengan ekspresi yang aneh.
“Dia mirip orang yang menulis kartu-kartu saya,” jelasku. “Mau kasih, nggak mau terima. Mungkin semua orang baik memang begitu. Mungkin saya harus belajar dari mereka.”
Dewi menatapku lama sekali. Bibirnya terbuka sedikit, lalu menutup. Tangannya yang menggenggam gelas mulai gemetar.
“Pak,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba sangat kecil. “Ada yang harus saya—”
Ia berhenti.
Ia menaruh gelas susunya di meja. Menarik napas panjang. Menatapku, lalu menatap lantai, lalu menatapku lagi. Seperti seseorang yang berdiri di tepi kolam yang sangat dalam, mengumpulkan keberanian untuk melompat.
“Pak,” katanya lagi. “Saya—”
Dan aku tidak membiarkannya selesai.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya.
Kalau aku jujur, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk jujur setidaknya di dalam kepalaku sendiri, aku sudah memikirkannya selama tiga minggu. Sejak dapur jam dua pagi yang pertama, waktu tanganku di dagunya dan jarak kami hanya dua jengkal. Sejak stetoskop di dadaku. Sejak kecupan di pipi yang membuatku menabrak kusen pintu. Sejak pelukan dari belakang yang membuatku makan dalam empat menit.
Aku sudah memikirkannya. Aku tidak berani.
Tapi malam ini, ia berdiri di depanku dengan mata sembap dan suara yang gemetar, mau mengatakan sesuatu yang jelas-jelas sangat berat. Dan aku, yang selama tiga puluh satu tahun hanya tahu cara menyelesaikan masalah dengan bekerja lebih keras, tiba-tiba ingin menyelesaikan satu masalah dengan cara lain.
Aku tidak ingin ia mengatakan sesuatu yang membuatnya sesedih itu.
Aku tidak ingin ia menangis lagi dengan wajah ditekan ke bantal.
Jadi aku mencondongkan tubuh dan menciumnya.
Cepat. Kaku. Sama sekali tidak seperti di film.
Bibirku menyentuh bibirnya dengan sedikit terlalu keras, sedikit miring, karena aku lupa memperhitungkan sudut. Hidung kami bertabrakan. Aku merasakan bibirnya yang hangat dan sedikit manis, rasa susu dan madu. Aku merasakan napasnya berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu aku menarik diri.
Dewi berdiri di tempatnya dengan mata terbuka lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Tangannya terangkat setengah, seperti mau memegang sesuatu dan lupa apa. Wajahnya, kulit kuning langsat yang bersih itu, merah. Merah sekali. Merah sampai ke leher.
Aku menatapnya.
Ia menatapku.
Kulkas mendengung. Jam dinding menghitung.
Dan aku, laki-laki tiga puluh satu tahun, CEO dengan seratus empat puluh karyawan, pemenang tender satu koma dua triliun, melakukan hal paling bodoh yang pernah kulakukan seumur hidup.
Aku lari.
Aku lari dari dapur.
Bukan berjalan cepat. Lari. Melewati ruang makan, melewati ruang tengah, ke tangga. Aku naik dua anak tangga sekaligus. Anak tangga ketujuh berderit sangat keras. Aku tersandung di anak tangga kesembilan karena kakiku tidak sinkron dengan otakku, jatuh dengan lutut menghantam kayu, bangun lagi, terus naik.
Aku masuk ke kamar dan menutup pintu.
Aku berdiri di balik pintu dengan punggung menempel di kayu, napas terengah-engah seperti habis lari maraton, lutut berdenyut, dan bibir yang masih terasa seperti susu dan madu.
Apa yang barusan kulakukan?
Aku mencium perawat ibuku. Jam dua pagi. Di dapur. Tanpa bertanya. Waktu ia sedang mau mengatakan sesuatu yang penting.
Lalu aku lari.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan meluncur turun sampai terduduk di lantai, bersandar di pintu.
Dari lantai bawah, aku tidak mendengar apa-apa. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara gelas. Tidak ada senandung.
Hanya hening.
Lalu, setelah lama sekali, sangat pelan, nyaris tidak terdengar, sesuatu yang terdengar seperti tawa. Tawa kecil yang tertahan. Tawa seseorang yang menutup mulutnya dengan punggung tangan supaya tidak terlalu keras.
Lalu suara langkah kaki telanjang yang pelan, menuju kamar tamu. Pintu yang terbuka dan tertutup.
Aku duduk di lantai kamar dalam gelap dan menyadari bahwa aku sedang tersenyum seperti orang bodoh.
Pukul enam lewat sepuluh pagi, aku turun ke ruang makan dengan lutut yang memar dan tekad untuk bersikap profesional.
Tekad itu bertahan tiga detik.
Di meja makan, di tempat dudukku, ada sepiring nasi goreng.
Nasi gorengnya dibentuk seperti hati. Hati besar, rapi, dengan pinggiran yang dibentuk pakai cetakan. Di atasnya ada telur ceplok, juga berbentuk hati, dengan kuning telur tepat di tengah. Di pinggir piring, irisan tomat dan timun yang disusun membentuk hati-hati kecil. Bahkan kerupuk di piring kecil sebelahnya sudah dipatahkan sedemikian rupa sehingga, kalau dilihat dari sudut tertentu, membentuk hati juga.
Di sebelah piring itu, segelas teh. Dan di gelas teh itu, sedotan plastik merah muda berbentuk hati.
Aku menatap piring itu.
Lalu aku menatap kepala meja, tempat Mama duduk dengan secangkir teh dan senyum yang sangat, sangat lebar.
Lalu aku menatap ambang pintu dapur, tempat Mbok Darmi berdiri dengan celemek dan wajah yang sama sekali tidak berdosa, memegang cetakan nasi berbentuk hati.
“Mbok,” kataku pelan.
“Pagi, Mas.”
“Mbok lihat?”
“Mbok nggak lihat apa-apa, Mas.” Mbok Darmi menggeleng dengan sangat serius. “Mbok cuma dengar. Ada yang lari di tangga jam dua pagi. Terus jatuh. Terus naik lagi.”
“Mbok.”
“Terus Mbok intip ke dapur.” Ia menatap langit-langit. “Mbak Dewi berdiri di situ. Pegang bibir. Senyum-senyum sendiri sambil lihatin tangga.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ga,” kata Mama dengan suara yang sangat manis. “Nasi gorengnya dimakan. Darmi bikin dari jam empat. Cetakannya dia beli kemarin sore, khusus.”
“Kemarin sore?” Aku menurunkan tangan. “Mbok beli kemarin sore? Sebelum—”
“Mbok sudah firasat, Mas,” kata Mbok Darmi dengan bangga. “Mbok sudah enam puluh tahun. Firasat Mbok nggak pernah salah.”
Di ambang pintu kamar tamu, Dewi muncul.
Ia memakai seragam putih, rambut dicepol rapi, wajah dengan bedak tipis. Ia melihat piring nasi goreng berbentuk hati di depanku. Ia melihat sedotan merah muda. Ia melihat Mama yang tersenyum lebar dan Mbok Darmi yang memegang cetakan.
Ia berhenti berjalan.
Wajahnya berubah merah dalam satu detik, dari dahi sampai leher, seperti termometer yang dicelupkan ke air panas.
Lalu ia menatapku.
Aku menatapnya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Aku tidak membuang muka. Ia juga tidak. Kami saling menatap di seberang ruang makan, di atas nasi goreng berbentuk hati, di depan Mama dan Mbok Darmi, dengan wajah yang sama-sama terbakar.
Empat detik. Lima.
Lalu Dewi menggigit bibir bawahnya. Bibir yang tadi malam terasa seperti susu dan madu. Dan lesung di pipi kirinya muncul, perlahan, dalam sekali.
“Pagi, Pak,” katanya pelan.
“Pagi,” kataku.
“Lututnya sakit?”
“Sedikit.”
“Nanti saya obatin.” Ia berjalan ke tempat duduknya, di seberangku, dan duduk dengan sangat tenang. Ia menuangkan teh untuk Mama. Lalu ia menatap piring nasi goreng hatiku, dan berkata dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar: “Larinya cepat, Pak. Kayak dikejar anjingnya Bu Sri.”
Aku tersedak teh.
Mama tertawa sampai cangkirnya bergetar. Mbok Darmi tertawa sampai cetakan nasi di tangannya jatuh ke lantai. Dan Dewi, di seberangku, menunduk ke cangkirnya dengan bahu yang bergetar hebat.
Ponselku bergetar di saku. Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu dari grup mana.
Aku memakan nasi goreng berbentuk hati itu sampai habis, termasuk telur ceplok hati dan kerupuk yang dipatahkan jadi hati.
Rasanya enak sekali.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi reading
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala