Chapter Nineteen

Jangan Sentuh Kotaknya

POV: Arga

Kami belum membicarakannya.

Selasa, setelah nasi goreng berbentuk hati, aku berangkat ke kantor dan menghabiskan seluruh hari dengan memikirkan dapur jam dua pagi. Di rapat dengan bank, aku memikirkannya. Di survei lokasi rumah sakit, di antara tiang-tiang beton basement yang baru dicor, aku memikirkannya. Teddy menanyakan sesuatu tentang jadwal pengiriman besi tiga kali, dan tiga kali aku menjawab “iya” tanpa tahu apa yang kusetujui.

Rabu pagi, Teddy menyerahkan laporan dengan catatan tempel di sampulnya: Pak, kemarin Bapak setuju naikin gaji saya 30%. Saya punya rekamannya. 🙏

Aku tidak membalas. Aku bahkan tidak yakin itu bohong.

Selasa malam, pukul delapan, Dewi mengukur tensiku seperti biasa. Ia tidak menyinggung apa-apa. Aku juga tidak. Ia memasang manset, kami menunggu angka muncul, ia menyebut angkanya. Lalu ia memasang stetoskop, dan aku membuka dua kancing kemeja, dan logam dingin itu menyentuh dadaku.

Nadiku seratus tiga puluh dua.

Dewi menatap angka itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia melepas stetoskop dan menulis angkanya di buku catatannya, dan aku melihat tangannya sedikit gemetar.

Kami belum membicarakannya. Tapi kami berdua tahu angka itu.


Kamis pagi, rayap ditemukan di lemari tua ruang tengah.

Mbok Darmi yang menemukannya, waktu membersihkan debu. Serbuk kayu halus di rak paling bawah, di sudut belakang, seperti tepung yang tumpah. Ia menjerit begitu keras sampai Mama yang sedang jalan pagi di taman belakang bertanya apakah ada ular.

“Bukan ular, Bu! Rayap! Lemari Ibu dimakan rayap!”

Pukul sepuluh, tukang rayap datang. Namanya Pak Bonar, lelaki Batak berperut buncit dengan suara yang bisa terdengar sampai pos satpam, dan semprotan anti-rayap yang ia bawa seperti senapan. Ia memeriksa lemari itu dengan senter, mengetuk-ngetuk kayunya, mendekatkan telinga ke papan, lalu berdiri dan mengumumkan diagnosisnya dengan nada dokter bedah.

“Parah ini, Pak. Koloninya sudah di dalam. Kalau tidak dibasmi sekarang, minggu depan lemari ini tinggal nama.”

“Jadi?”

“Jadi semua isinya harus dikeluarkan, Pak. Semuanya. Saya semprot dari dalam. Dua jam. Habis itu dijemur. Besok baru bisa diisi lagi.”

Aku menoleh pada Mbok Darmi. Mbok Darmi menoleh pada lemari itu. Lalu, pelan, ia menoleh pada rak paling bawah, tempat kotak jahit Mama tersimpan di bagian paling belakang, di balik tumpukan album foto.

Wajah Mbok Darmi berubah.

“Mbok yang keluarkan isinya, Mas,” katanya cepat. “Mas Arga ke kantor saja.”

“Saya libur setengah hari. Saya bantu.”

“Nggak usah, Mas. Mbok bisa sendiri.”

Ada sesuatu di suaranya. Sesuatu yang membuatku teringat pagi itu di dapur, ketika ia menyebut nama Dewi terlalu cepat lalu bilang lupa nama belakangnya.

Tapi Pak Bonar sudah menyalakan semprotannya dan mulai berteriak bahwa semua orang harus keluar dari ruang tengah dalam sepuluh menit karena cairannya “bisa bikin pusing tujuh keliling”. Jadi aku membantu Mbok Darmi mengeluarkan isi lemari. Album foto. Taplak meja renda. Kotak-kotak kecil berisi pernak-pernik yang Mama kumpulkan dari kontrakan ke rumah pertama ke rumah ini. Toples kancing. Setumpuk majalah resep dari tahun 2008.

Mbok Darmi sendiri yang mengeluarkan kotak jahit itu. Ia memegangnya dengan dua tangan, hati-hati, seperti memegang telur, dan membawanya ke meja makan di ruang sebelah. Ia meletakkannya di ujung meja, jauh dari tumpukan barang lain, dan menutupinya dengan taplak renda.

“Itu punya Ibu, Mas,” katanya ketika melihatku memperhatikan. “Jangan disentuh.”

“Saya tahu, Mbok. Dewi sudah tulis di catatan.”

Mbok Darmi mengangguk dan kembali ke lemari.

Mama sedang tidur siang. Dewi menemaninya di kamar. Pak Bonar menyemprot lemari tua itu dengan bau kimia yang menyengat, sambil bernyanyi lagu Batak keras-keras dan sesekali berteriak ke arah lemari: “Mati kau! Mati kau semua!”

Mbok Darmi berdiri di dekat meja makan, menjaga kotak jahit di bawah taplak renda seperti satpam menjaga brankas.


Pukul satu lewat dua puluh, Mama bangun.

Aku sedang di dapur mengambil air ketika aku mendengar pintu kamarnya terbuka. Langkah-langkahnya di lantai keramik. Lalu langkah itu berhenti.

Lalu Mama menjerit.

Aku berlari ke ruang tengah.

Mama berdiri di depan lemari tua yang kosong, pintunya terbuka lebar, raknya basah oleh cairan semprotan. Pak Bonar berdiri di sebelahnya dengan semprotan di tangan dan wajah bingung. Mama menatap rak paling bawah, rak yang kosong, dengan wajah pucat pasi.

“Di mana?” Suaranya bergetar. “Di mana kotaknya?”

“Ma—”

“DI MANA KOTAKNYA?”

Mama berbalik dan menatap kami semua. Aku. Pak Bonar. Mbok Darmi yang berlari dari ruang makan. Dewi yang muncul di ambang pintu kamar, rambut setengah lepas dari cepolan.

Mata Mama liar. Mata yang sama seperti malam ia tidak mengenaliku. Tapi kali ini ia mengenali kami semua. Ia hanya tidak peduli.

“Siapa yang ambil kotak Ibu?”

“Bu, kotaknya aman,” kata Mbok Darmi cepat, berlari ke ruang makan. “Di sini, Bu! Di meja! Mbok yang pindahin, Bu! Lemarinya kena rayap!”

Mama berjalan cepat ke ruang makan. Hampir berlari. Ia melihat taplak renda di ujung meja dan menariknya dengan satu sentakan.

Kotak jahit itu ada di sana. Kotak kayu cokelat tua dengan pegangan kuningan dan ukiran bunga.

Mama menyambarnya dengan dua tangan.

Terlalu cepat. Terlalu keras.

Kotak itu terlepas dari tangannya yang gemetar, jatuh dari meja, menghantam lantai keramik dengan bunyi kayu yang keras. Tutupnya terbuka. Engselnya berderit.

Isinya tumpah.


Bagian atas kotak itu, sebuah baki kayu tipis yang bisa diangkat, berisi persis apa yang selalu kuingat. Gulungan benang warna-warni. Meteran kain. Kaleng permen bekas berisi kancing-kancing. Bantalan jarum yang sudah diambil Dewi, menyisakan lubang kosong di sudut.

Baki itu terlempar ke samping. Kancing-kancing berhamburan di lantai seperti butiran hujan.

Dan di bawah baki itu, di dasar kotak, ada sesuatu yang tidak pernah kulihat.

Amplop.

Banyak amplop. Puluhan. Diikat menjadi beberapa ikatan dengan benang merah. Amplop kertas yang sudah menguning, beberapa sudah cokelat di bagian pinggir, dengan prangko-prangko lama yang warnanya sudah pudar. Di sudut setiap amplop ada cap pos dengan tinta hitam yang sudah luntur. Aku hanya sempat membaca beberapa, sekilas, dari jarak dua meter:

Semarang. Cirebon. Surabaya. Tegal. Kudus.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat balasan. Hanya alamat tujuan, di bagian tengah, dengan tulisan tangan yang terlalu kecil untuk kubaca dari tempatku berdiri.

Dan di samping ikatan-ikatan amplop kuning itu, setumpuk lagi kertas lain. Kertas putih bergaris, dilipat tiga, tanpa amplop, tanpa prangko. Seperti surat yang ditulis tapi tidak pernah dikirim.

Semua itu hanya terlihat selama dua detik.

Lalu Mama menjatuhkan diri ke lantai, berlutut di depan kotak itu, dan menutupinya dengan tubuhnya sendiri. Ia memeluk kotak dan amplop-amplop itu ke dadanya, membungkuk di atasnya, seperti melindungi anak kecil dari hujan.

“Jangan dilihat,” isaknya. “Jangan dilihat. Jangan dilihat.”

Ruangan sunyi.

Pak Bonar menurunkan semprotannya perlahan. Wajahnya yang tadi garang sekarang bingung dan canggung. Mbok Darmi berdiri membeku di dekat meja dengan tangan menutup mulut. Wajahnya putih. Matanya menatap amplop-amplop itu dengan ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Aku berdiri di tempatku dan tidak bisa bergerak.

Semarang. Cirebon. Surabaya.

Surat dari siapa?


Dewi yang bergerak duluan.

Ia berjalan pelan melewatiku, melewati Mbok Darmi, dan berlutut di lantai di sebelah Mama. Tidak terlalu dekat. Satu jengkal di sampingnya. Ia tidak menyentuh kotak itu. Ia tidak menatap amplop-amplop itu. Ia hanya menatap Mama.

“Bu,” katanya pelan. “Nggak ada yang lihat, Bu. Semua sudah tutup mata.”

Mama terus terisak, membungkuk di atas kotaknya.

“Pak,” kata Dewi tanpa menoleh. Suaranya tenang. “Tolong ajak Pak Bonar sama Mbok Darmi ke dapur. Bapak juga.”

Aku tidak bergerak.

“Pak Arga.” Ia akhirnya menoleh, menatapku. Matanya tegas, tapi ada sesuatu di baliknya yang terlihat seperti permohonan. “Tolong. Semua orang perlu satu tempat yang nggak boleh dibuka orang lain.”

Kalimat itu lagi. Kalimat yang ia ucapkan di hari ketiganya di rumah ini.

Aku menatap amplop-amplop kuning di pelukan Mama. Aku menatap Dewi yang berlutut di sebelahnya. Aku menatap Mbok Darmi yang wajahnya masih putih.

Lalu aku berbalik.

“Pak Bonar. Mbok. Ke dapur.”


Di dapur, Pak Bonar duduk di kursi tinggi dengan segelas es teh dari Mbok Darmi, dan untuk pertama kalinya sejak datang, tidak bernyanyi.

“Ibu Bapak,” katanya pelan dengan logat Batak yang kental, “sakit, Pak?”

“Demensia.”

“Oh.” Pak Bonar mengangguk pelan. Ia meneguk es tehnya. “Mamak saya juga begitu, Pak. Dulu. Sebelum meninggal. Tiap malam cari kotak cerutu bapak saya. Padahal bapak saya sudah meninggal dua puluh tahun. Mamak simpan kotak cerutu itu di bawah bantal. Kami anak-anaknya tidak boleh sentuh.”

Ia menatap gelas esnya.

“Waktu Mamak meninggal, kami buka kotak cerutu itu. Isinya surat-surat bapak saya waktu muda. Waktu mereka pacaran. Puluhan surat.” Pak Bonar tersenyum kecil. “Kami anak-anaknya tidak pernah tahu bapak kami bisa nulis puisi. Kami kira bapak kami cuma bisa marah-marah.”

Aku menatapnya.

“Kotak itu, Pak,” kata Pak Bonar pelan, menunjuk ke arah ruang makan dengan dagunya. “Biarkan saja. Nanti waktunya, Ibu Bapak sendiri yang buka. Atau nanti waktunya, Bapak yang buka. Tapi bukan sekarang.”

Lalu ia menghabiskan es tehnya, berdiri, menepuk bahuku sekali dengan tangan yang sebesar sekop, dan kembali ke ruang tengah untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kali ini tanpa bernyanyi.

Aku menoleh pada Mbok Darmi.

Ia sedang mencuci gelas yang sudah bersih, punggungnya menghadapku.

“Mbok.”

“Iya, Mas.”

“Itu surat dari siapa?”

Tangannya berhenti.

“Mbok nggak tahu, Mas,” katanya. Suaranya pelan sekali. Bergetar.

“Mbok sudah sama Mama dua puluh tahun lebih. Dari kontrakan.”

“Mbok nggak tahu, Mas.”

“Mbok—”

“Mas.” Mbok Darmi berbalik. Matanya basah. Tangannya yang masih memegang gelas basah itu gemetar. “Mbok mohon. Jangan tanya Mbok. Mbok nggak bisa jawab. Mbok sudah janji.”

“Janji sama siapa?”

Mbok Darmi tidak menjawab. Ia menaruh gelas di rak, melepas celemeknya, dan berjalan keluar dari dapur lewat pintu belakang. Aku melihatnya duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga, membungkuk, menutup wajah dengan celemek.

Aku berdiri sendirian di dapur dengan pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Janji sama siapa?


Mama baru tenang satu jam kemudian.

Dewi tidak pernah meninggalkannya. Ia duduk di lantai ruang makan di sebelah Mama selama satu jam penuh, bersenandung pelan, lagu keroncong yang sama. Ia tidak menyentuh kotak itu. Ia tidak menatap amplop-amplop itu. Ketika Mama akhirnya berhenti menangis, Dewi membantunya memasukkan semuanya kembali ke kotak dengan sangat hati-hati. Ikatan-ikatan amplop. Kertas-kertas bergaris. Baki kayu dengan benang dan kancing. Tutupnya ditutup. Engselnya berderit.

Mama membawa kotak itu ke kamarnya sendiri. Ia menaruhnya di bawah ranjang. Lalu ia tidur lagi, dengan satu tangan menjuntai ke bawah, menyentuh kotak itu, seperti memastikan ia masih di sana.

Pukul tiga sore, aku menemukan Dewi di teras belakang, duduk di kursi rotan dengan mata terpejam.

Aku duduk di kursi rotan di sebelahnya.

“Mama sudah tidur?”

“Sudah.” Ia tidak membuka mata. “Kotaknya di bawah ranjang. Tolong bilang Mbok Darmi jangan bersihin kolong ranjang Ibu sampai saya bilang boleh.”

“Iya.”

Hening.

“Dewi.”

“Hm.”

“Kamu lihat amplopnya?”

Ia membuka mata. Ia tidak menatapku. Ia menatap kolam ikan.

“Saya nggak lihat, Pak,” katanya. “Saya tutup mata.”

“Dari Semarang. Cirebon. Surabaya. Nggak ada nama pengirim.”

Dewi tidak menjawab. Jarinya menggenggam pegangan kursi rotan.

“Mbok Darmi tahu,” kataku. “Dia bilang dia sudah janji. Sama seseorang.”

“Pak.”

“Saya mau buka kotak itu.”

Dewi menoleh. Cepat. Matanya membesar.

“Saya nggak akan,” lanjutku sebelum ia sempat bicara. “Kamu sudah bilang. Itu punya Mama. Semua orang perlu satu tempat yang nggak boleh dibuka orang lain. Saya ngerti.” Aku menatap tanganku sendiri. “Tapi saya mau. Itu yang saya rasakan sekarang. Saya cuma mau jujur sama kamu soal itu.”

Dewi menatapku lama sekali. Matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih,” katanya pelan.

“Buat apa?”

“Buat nggak buka.” Suaranya bergetar. “Dan buat jujur.”

Lalu, tanpa peringatan, ia mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku di atas meja rotan. Seperti malam itu, malam sandal jepit hitam. Jarinya menyelip di antara jariku dan menggenggam erat.

Kami duduk seperti itu sampai matahari mulai condong ke barat.


Malam itu, setelah tensi pukul delapan, setelah Dewi menyebut nadi seratus dua puluh sembilan tanpa berkedip, aku mengantarnya sampai ke pintu ruang kerja.

“Dewi.”

Ia berhenti di ambang pintu. Tas hitam kecil di tangannya.

“Soal Senin malam,” kataku. “Di dapur.”

Pipinya langsung memerah. Ia tidak menoleh.

“Saya minta maaf.”

Ia akhirnya menoleh, perlahan. Wajahnya tidak bisa kubaca. “Bapak minta maaf karena cium saya? Atau karena lari?”

Aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius. Seperti memikirkan perhitungan struktur.

“Karena lari,” kataku.

Dewi menatapku. Lalu, pelan, lesung di pipi kirinya muncul.

“Bagus,” katanya.

“Bagus?”

“Kalau Bapak minta maaf karena cium saya,” katanya pelan, “saya bakal tersinggung.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan, seperti semua hal yang kulakukan sejak perempuan ini datang ke rumahku.

Aku mengulurkan tangan dan menyelipkan helai rambut yang lepas dari cepolannya ke belakang telinganya. Pelan. Ujung jariku menyentuh kulit di belakang telinganya, dan aku merasakan ia menahan napas.

Lalu aku membungkuk dan mengecup keningnya.

Bukan cepat. Bukan kaku seperti di dapur. Pelan. Bibirku menyentuh keningnya, tepat di tengah, di bawah garis rambut, dan aku tidak menarik diri. Satu detik. Dua. Tiga. Empat. Aku memejamkan mata. Aku merasakan kulitnya yang hangat dan wangi melati dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat dadaku sesak dan lapang sekaligus.

“Terima kasih,” bisikku di keningnya. “Buat hari ini. Buat Mama. Buat semuanya.”

Lima detik. Enam.

Aku menarik diri.

Dewi berdiri di ambang pintu dengan mata terpejam. Tas hitam kecil di tangannya bergoyang pelan, karena tangannya gemetar. Ia membuka mata perlahan dan menatapku.

“Pak,” katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Hm.”

“Itu terima kasih paling lama yang pernah saya terima.”

“Enam detik.”

“Bapak hitung?”

“Saya selalu hitung.”

Ia tertawa kecil, tawa yang bergetar dan basah, lalu berbalik dan berjalan cepat menuruni tangga. Anak tangga ketujuh berderit.

Aku berdiri di ambang pintu ruang kerja sampai pintu kamar tamu di lantai bawah tertutup.

Lalu aku masuk, duduk di kursi, dan menatap jendela yang menghadap ke taman.

Di bawah sana, di kamar Mama, di bawah ranjang, ada kotak kayu cokelat tua berisi puluhan amplop kuning dari kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa. Tanpa nama pengirim. Diikat benang merah.

Dan aku tidak tahu, untuk pertama kalinya, apakah aku benar-benar ingin tahu siapa yang mengirimnya.