Chapter Thirty Nine

Termos

POV: Arga

Kami memakamkannya hari Jumat pagi, di pemakaman umum di Cikokol.

Lima ratus meter dari gang sempit tempat kontrakan dua petak dulu berdiri. Delapan ratus meter dari lahan kosong bekas pabrik kerupuk, tempat empat tower rumah susun akan dibangun tahun depan. Satu kilometer dari rumah tua dengan pagar besi yang catnya mengelupas dan papan nama kecil bertuliskan Yayasan Pelita.

Bukan aku yang memilih tempat itu. Ia sendiri.

Di buku tulis cokelatnya, di halaman paling belakang, di bawah baris Ketemu Arga. Sekali. Sebelum— yang sudah ia coret dengan satu garis lurus yang rapi, ada tulisan baru. Tulisan yang ia buat di tepi kolam ikan hias, dua minggu lalu, sambil menatapku tertawa dengan joran bambu di tangan.

Dewi menunjukkannya padaku tadi malam, setelah semua orang tidur.

Sudah. Dia ketawa.
Kalau Pakde pulang, kuburnya di Cikokol. Dekat gang. Biar dekat sama rumah pertama.
Jangan mahal-mahal. Nanti Arga boros.

Aku membaca baris terakhir itu dan tertawa sampai menangis di lantai kamar tamu, dengan kepala di pangkuan Dewi.


Lebih banyak orang yang datang daripada yang kubayangkan.

Mama, tentu saja, dengan kerudung hitam dan kacamata gelap, digandeng Mbok Darmi di satu sisi dan Bu Sumi di sisi lain. Dewi. Dimas, dengan kemeja baru yang kancingnya lengkap dan kunci Lexus yang masih ia genggam sejak semalam, karena ia tidak mau melepaskannya.

Teddy datang pukul tujuh pagi, dengan jas hitam yang terlalu mengilap. Ia berdiri di sebelahku sepanjang pemakaman, tegak, profesional, dengan wajah yang sangat serius.

Lalu jenazah diturunkan ke liang lahat, dan Teddy menangis.

Bukan menangis biasa. Teddy menangis lebih keras daripada siapa pun di pemakaman itu. Lebih keras dari Mbok Darmi. Lebih keras dari Dimas. Lebih keras dari Bu Nining, yang menangis ke tisu sejak tiba di gerbang pemakaman. Ia menangis dengan suara yang keluar dari perut, dengan bahu yang berguncang hebat, dengan ingus yang ia usap dengan lengan jas mahalnya.

Orang-orang menoleh padanya.

Aku menoleh padanya.

“Ted,” kataku pelan.

“Maaf, Pak,” isaknya. “Saya profesional.”

“Kamu nggak kenal dia.”

“Saya kenal Bapak.” Teddy mengusap wajahnya dengan lengan jas. “Lima tahun, Pak. Saya kenal Bapak. Dan dia bapaknya Bapak. Itu cukup.”

Lalu ia menangis lagi, lebih keras, dan Dimas, di sebelahnya, ikut menangis lebih keras, dan mereka berdua berpelukan di tepi liang lahat seperti dua orang yang sudah berteman seumur hidup, padahal mereka baru bertemu dua kali.

Bu Sumi menatap mereka berdua dengan wajah yang tidak tahu harus marah atau tertawa. Akhirnya ia melakukan keduanya.


Geng arisan datang lengkap.

Tante Merry dengan kerudung hitam berhiaskan payet yang terlalu banyak untuk pemakaman. Bu Nining dengan tiga kotak kue, karena katanya orang yang melayat juga butuh makan. Bu Lies dengan kacamata berbingkai merah dan tangan terlipat, berdiri di belakang dan tidak bicara pada siapa pun.

Pak Jono datang dengan seragam satpam yang disetrika licin dan sepeda ontel. Ia berdiri di tepi makam, tegak, dan memberi hormat pada liang lahat. Lama sekali. Sampai tanah pertama dijatuhkan.

Pak Darman datang dengan dua bapak ojek dari pangkalan di depan toko kelontong. Mereka berdiri di belakang dengan helm di tangan.

Suster Ningsih datang. Perawat galak dari unit hemodialisis. Ia berdiri di pinggir, jauh dari kerumunan, dengan seragam putih yang belum sempat ia ganti setelah jaga malam. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap liang lahat dengan wajah yang sangat keras, sampai tanah pertama dijatuhkan. Lalu ia berbalik dan pergi tanpa bicara pada siapa pun.

Dewi bilang padaku nanti malam: Suster Ningsih nangis di parkiran. Aku lihat dari jauh.

Pak Sobari datang dengan kursi roda, didorong istrinya. Delapan puluh tiga tahun, dengan selimut di pangkuan dan kacamata tebal, di bawah matahari Jumat pagi. Ia tidak bisa mendekat karena jalan di pemakaman tidak rata. Jadi ia menunggu di jalan setapak, di bawah pohon kamboja, dan ketika aku berjalan ke arahnya setelah pemakaman, ia menggenggam tanganku dengan tangan yang gemetar.

“Dia kalah sama kamu, Nak,” katanya pelan. “Dan dia senang sekali kalah.”


Dan ada yang lain.

Di jalan di luar pemakaman, di bahu jalan yang sempit, terparkir enam truk.

Truk-truk besar dengan bak terbuka. Cat yang sudah kusam. Nama perusahaan ekspedisi di pintu. Plat nomor dari Semarang, Surabaya, Cirebon, Tegal.

Enam sopir truk berdiri di tepi pemakaman. Laki-laki tua dan setengah tua, dengan kulit gelap terbakar matahari Pantura, kaus oblong dan sandal jepit, rokok di tangan yang tidak dinyalakan karena mereka di pemakaman. Mereka berdiri di belakang, tidak bicara, tidak mendekat.

Setelah liang lahat ditutup, salah satu dari mereka mendekatiku. Laki-laki enam puluhan dengan rambut beruban dan gigi yang tinggal setengah.

“Mas Arga?” tanyanya.

“Iya.”

Ia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu ia tersenyum.

“Mirip,” katanya. “Persis.”

“Bapak kenal dia?”

“Dua puluh lima tahun, Mas. Satu jalur. Pantura.” Ia menunjuk truk-truk di bahu jalan. “Kami semua. Har itu… Har itu yang paling cerewet di warung kopi pinggir jalan. Tiap kali berhenti, dia cerita anaknya. Anakku juara jembatan. Anakku masuk majalah. Anakku punya kantor sendiri.”

Aku tidak bisa bicara.

“Kami capek dengar, Mas,” kata sopir itu, tertawa kecil dengan mata yang basah. “Dua puluh lima tahun dengar soal anaknya. Kami tahu semua. Kami tahu Mas punya Lexus. Kami tahu Mas menang tender rumah sakit. Kami tahu Mas belum nikah.”

Ia menepuk bahuku.

“Sekarang kami lihat sendiri,” katanya. “Dia nggak bohong. Anaknya memang ganteng.”


Mama tidak bicara sepanjang pemakaman.

Ia berdiri di antara Mbok Darmi dan Bu Sumi dengan kerudung hitam dan kacamata gelap, menatap liang lahat yang perlahan ditutup tanah. Ia tidak menangis. Ia tidak bergerak. Kadang matanya terlihat jauh, sangat jauh, seperti ia tidak tahu sedang di mana dan untuk apa.

Kadang ia menoleh pada Mbok Darmi dan bertanya pelan, Ini makam siapa, Darmi?

Dan Mbok Darmi menjawab dengan suara bergetar, Makam Mas Har, Bu.

Dan Mama mengangguk, dan menatap liang lahat lagi, dan dua menit kemudian bertanya lagi.

Setelah semua orang pergi, setelah tanah diratakan dan batu nisan sementara dari kayu ditancapkan dengan nama yang ditulis tangan, setelah bunga-bunga ditabur dan air mawar disiramkan, Mama melepaskan tangan Mbok Darmi.

Ia berjalan ke makam itu sendiri. Pelan. Ia berjongkok di sisi gundukan tanah yang masih basah. Ia melepas kacamata gelapnya.

Matanya jernih.

Sangat jernih. Sejernih malam di kamar tamu, waktu ia memegang tangan Pakde dan bertanya apakah ia capek.

Mama mengulurkan tangan dengan bekas luka minyak panas, dan menyentuh tanah di atas makam itu. Mengusapnya pelan. Seperti mengusap punggung tangan seseorang. Bolak-balik.

“Sudah pulang ya, Mas,” bisiknya.

Angin bertiup di antara pohon-pohon kamboja. Bunga-bunga putih berjatuhan di atas gundukan tanah.

Mama tersenyum.

“Arga sudah besar,” katanya pada makam itu. “Kamu lihat, kan? Dia sudah besar. Dia sudah nggak lari lagi.”

Lalu ia berdiri, memakai kacamata gelapnya lagi, dan berjalan kembali ke Mbok Darmi tanpa menoleh.

Di jalan setapak, ia bertanya pada Mbok Darmi, pelan: Darmi, tadi kita ke makam siapa?


Malam itu, setelah semua orang pulang, Dewi memberiku amplop.

Amplop cokelat. Ukuran folio. Sudut-sudutnya sudah sedikit lecek karena terlalu lama disimpan di saku koper. Tidak ada tulisan di bagian depan. Hanya diselotip rapat.

“Dia titip,” kata Dewi pelan. Kami duduk di teras belakang, di kursi rotan, menatap kolam ikan dalam gelap. “Dari sebelum aku ke rumah ini. Dia bilang, kalau Pakde sudah nggak ada, kasih ke dia. Bilang dari orang yang menulis kartu.”

Aku menatap amplop itu di tanganku.

“Kamu sudah baca?”

“Belum. Dia bilang jangan dibuka.” Dewi menatap kolam. “Aku nggak pernah buka. Bahkan waktu kamu suruh aku pergi.”

Aku membuka selotipnya. Pelan. Dengan tangan yang gemetar.

Di dalamnya ada dua hal.

Yang pertama, kartu krem. Logo lilin di sudut kiri. Yayasan Pelita. Kartu yang sama dengan lima puluh dua kartu di kotak sepatu biru di ruang kerjaku. Kartu kelima puluh tiga.

Yang kedua, selembar kertas bergaris, dilipat tiga.

Aku membuka kartu itu duluan. Di bawah cahaya lampu teras yang kekuningan.

Tulisan tangan miring ke kanan. Agak kaku. Tinta biru. Huruf g berekor panjang.

Untuk Arga.
Kamu nggak pernah sendirian.
Terus menyala.


Aku menatap kartu itu lama sekali.

Lalu aku membuka kertas bergaris.

Tulisannya lebih banyak. Lebih gemetar. Ditulis, dari tanggal di sudut kanan atas, dua minggu sebelum Dewi datang ke rumah ini untuk pertama kali.


Ga.

Kalau kamu baca ini, Pakde sudah pulang.

Pakde nggak mau minta maaf. Bukan karena Pakde nggak salah. Pakde salah banyak. Tapi kalau Pakde minta maaf, kamu harus jawab. Dan Pakde nggak mau kamu repot harus jawab.

Pakde cuma mau bilang satu hal.

Kamu nggak pernah lari sendirian.

Pakde di truk, di Pantura, tiap malam lihat bintang dan mikir kamu sudah tidur belum. Ibumu di dapur, goreng kerupuk sambil nyanyi lagu Pakde, biar kamu nggak kangen. Darmi di sebelah rumah, lapor ke Pakde tiap kamu juara. Pak Sobari kirim uang. Mak Ijah kasih permen.

Dan sekarang Wi.

Pakde kirim Wi bukan buat jaga kamu, Ga. Kamu sudah besar. Kamu nggak butuh dijaga. Pakde kirim Wi supaya ada orang di rumahmu yang bilang “jangan lupa makan” pakai suara. Bukan pakai kartu.

Kalau nanti kamu marah sama Wi karena Pakde, marahnya ke Pakde aja. Pakde sudah biasa. Wi jangan.

Satu lagi.

Buku cokelat kamu. Darmi bilang ada satu baris yang belum dicoret. Yang paling awal.

Nggak apa-apa, Ga. Itu baris yang bagus. Kamu memang nggak boleh jadi kayak Pakde. Jangan pergi. Jangan diam. Jangan sembunyi dua puluh enam tahun.

Tapi kalau suatu hari kamu punya anak, dan anakmu nggak bisa tidur, nyanyiin dia lagu itu. Tanya dia matanya masih kebuka atau nggak. Itu satu-satunya yang Pakde lakuin dengan benar.

Tidur, Ga. Jangan begadang. Lampunya matikan jam sepuluh tiga puluh.

Pakde.


Aku melipat kertas itu dan menekannya ke dadaku.

Aku tidak menangis. Aku sudah menangis semalam, di dadanya yang tidak lagi naik turun. Aku sudah menangis tadi pagi, di tepi liang lahat, ketika Teddy dan Dimas berpelukan. Aku pikir air mataku sudah habis.

Tapi Dewi, di kursi rotan di sebelahku, menangis untukku.

Ia tidak membaca surat itu. Ia tidak perlu. Ia hanya melihat wajahku membacanya.

Aku meletakkan surat dan kartu itu di meja rotan. Lalu aku berdiri, menarik Dewi dari kursinya, dan memeluknya.

Erat. Sangat erat. Di teras belakang, dalam gelap, dengan pohon mangga yang bergoyang pelan ditiup angin malam.

Ia memelukku balik, dengan wajah di dadaku, menangis.

“Kamu nggak dikirim buat jaga aku,” bisikku di rambutnya. “Dia bilang begitu.”

“Terus buat apa?”

“Supaya ada yang bilang jangan lupa makan pakai suara.”

Dewi menangis lebih keras di dadaku.

Aku menunduk dan mengecup keningnya. Lama. Bibirku menempel di kulit keningnya yang hangat, di bawah garis rambut. Aku memejamkan mata. Aku tidak menghitung detiknya.

“Terima kasih,” bisikku di keningnya. “Sudah mau dikirim.”


Senin pagi, aku membawa termos ke kantor.

Termos hijau tentara yang sudah pudar. Cat yang mengelupas seperti peta pulau-pulau. Penyok besar di sisi kiri. Tutup merah yang bukan tutup aslinya.

Isinya kopi tubruk. Pahit. Gula aren. Sejumput garam. Dewi yang membuatnya pukul lima pagi, sebelum aku bangun.

Aku masuk ke lantai delapan belas dengan jas abu-abu, kemeja putih, dan termos penyok di tangan kiri.

Lantai delapan belas berhenti bekerja.

Bukan karena Dewi. Dewi tidak ada di sini. Seratus empat puluh karyawan berhenti mengetik dan menatap bos mereka, CEO dengan tiga rumah dan Lexus hitam dan tender satu koma dua triliun, berjalan melewati lorong dengan termos tua yang terlihat seperti diambil dari tempat sampah di pinggir jalan Pantura.

Aku tidak menjelaskan apa-apa.

Aku masuk ke ruanganku. Aku menaruh termos itu di sudut meja kerja. Di meja jati dari Jepara.

Teddy masuk lima menit kemudian, dengan tablet dan laporan pagi. Ia melihat termos itu.

Ia berhenti.

Matanya langsung merah.

“Pak,” katanya pelan.

“Ted.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya meletakkan tablet di meja, mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, dan menaruhnya di sebelah termos.

Gelas belimbing. Kecil. Bening. Gelas murah yang biasa dipakai di warung kopi pinggir jalan.

“Saya beli di pasar kemarin sore, Pak,” katanya. “Kata Mas Dimas, Bapaknya Bapak minum kopi pakai gelas begini.”

Aku menatap gelas itu.

Lalu aku menatap Teddy.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku memeluk asisten pribadiku.

Teddy membeku. Seluruh tubuhnya. Tablet di meja bergetar karena ia menyenggolnya.

“Pak,” bisiknya di bahuku, dengan suara yang pecah. “Saya nggak siap secara mental.”

“Saya tahu, Ted.”

“Saya profesional, Pak.”

“Saya tahu.”

Teddy menangis di bahuku. Lagi. Lebih keras dari di pemakaman.

Di luar dinding kaca, seratus empat puluh karyawan menatap kami. Sinta dari HRD mengangkat ponsel. Lalu menurunkannya lagi, tanpa memotret, dan kembali bekerja.


Malam itu, aku mengambil buku cokelat dari laci konsol tengah Lexus.

Aku membawanya ke ruang kerja. Aku menyalakan lampu meja. Aku menaruh buku itu di sebelah termos penyok dan gelas belimbing dan kartu krem kelima puluh tiga yang sekarang kubingkai di sebelah kartu wisuda.

Aku membukanya di halaman paling belakang.

Jangan pernah jadi seperti Ayah.

Tulisan tangan anak sembilan tahun. Huruf besar-besar. Ditekan terlalu keras sampai kertasnya hampir sobek.

Aku mengambil pulpen.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, aku mencoret baris itu.

Satu garis lurus. Rapi. Dari ujung kiri sampai ujung kanan.

Lalu di bawahnya, dengan tulisan tangan orang dewasa yang tegak dan rapi, aku menulis:

Jadi ayah seperti Ayah.

Aku tidak mencoretnya. Aku tidak akan pernah mencoretnya. Itu bukan target.

Itu janji. Yang harus ditepati setiap hari.

Pukul sepuluh lewat dua puluh sembilan, aku mematikan lampu ruang kerja.

Dari lantai bawah, dari dapur, terdengar suara pelan seseorang bersenandung. Lagu keroncong itu. Sumbang di nada tinggi.

Dan dari kamar Mama, suara lain yang ikut bersenandung. Lebih tinggi. Lebih bergetar.

Aku berbaring dalam gelap dan mendengarkan mereka, dua perempuan yang menyanyikan lagu dari teras kontrakan dua puluh enam tahun lalu, dan aku tertidur sebelum lagunya selesai.