Chapter Twenty Three
Pacaran Diam-Diam (Gagal)
POV: Dewi
Kamis pagi pukul enam, aku membuat aturan.
Aku menuliskannya di secarik kertas kuning dan menyelipkannya di bawah gelas kopi Ga, sebelum ia turun:
ATURAN (MULAI HARI INI):
1. Di depan Ibu, Mbok Darmi, Mas Teddy, dan siapa pun: aku tetap perawat. Kamu tetap Pak.
2. Nggak boleh pegang tangan di depan orang.
3. Nggak boleh lihat-lihat kelamaan di meja makan.
4. Nggak boleh senyum-senyum sendiri.
Ini serius, Ga. Aku kerja di sini. Agensi bisa pecat aku.
— D.
Aku tidak sepenuhnya jujur soal alasan nomor empat. Agensi memang punya aturan soal hubungan dengan keluarga klien. Tapi itu bukan alasan utamaku.
Alasan utamaku adalah amplop cokelat di saku koper, dan laki-laki di kamar belakang di Bekasi yang menempel foto anaknya tertawa di dinding paling bawah, dan janji yang kubuat di balkon tadi malam. Janji kamu dengerin aku dulu. Sampai habis.
Aku butuh waktu. Satu minggu. Mungkin dua. Untuk mencari kata yang tepat. Untuk mencari cara membicarakannya dengan Pakde, supaya Pakde mengizinkan. Untuk mengumpulkan keberanian.
Dan selama waktu itu, aku tidak mau semua orang tahu. Karena semakin banyak yang tahu, semakin dalam aku jatuh. Semakin dalam aku jatuh, semakin sakit nanti ketika aku harus bilang semuanya.
Pukul enam lewat lima, Ga turun ke dapur.
Ia mengambil gelas kopi, membaca kertas kuning di bawahnya, dan berdiri diam lama sekali. Lalu ia mengambil pulpen dari saku kemeja dan menulis sesuatu di bawah tulisanku. Ia melipat kertas itu dan menaruhnya kembali di meja, lalu berjalan ke ruang makan tanpa menatapku.
Aku mengambil kertas itu.
Di bawah tulisanku, dengan huruf-huruf yang tegak dan rapi seperti tiang bangunan:
Siap. Saya buatkan SOP-nya.
Catatan: poin 4 mungkin sulit. Mohon dispensasi.
— A.
Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak tertawa keras.
Aturan itu bertahan empat puluh tujuh menit.
Pukul 06.52.
Mama turun dari kamarnya, digandeng Mbok Darmi. Ga sudah duduk di meja makan, memegang cangkir kopi, membaca berita di ponsel dengan wajah yang sangat profesional.
Aku datang dari dapur membawa teh untuk Mama.
Ga mengangkat kepala. Ia menatapku. Ia membuka mulut.
“Pagi, Sayang—”
Ia berhenti. Wajahnya berubah putih dalam satu detik, lalu merah dalam detik berikutnya.
“—Pagi, Dewi,” koreksinya dengan sangat cepat, menunduk ke ponsel.
Ruang makan hening.
Mbok Darmi berhenti di tengah langkah, masih menggandeng lengan Mama. Mama menatap Ga. Lalu menatapku. Lalu menatap Ga lagi.
Lalu senyum Mama melebar perlahan, sangat perlahan, seperti matahari terbit di atas pohon mangga.
“Darmi,” katanya pelan.
“Iya, Bu.”
“Kamu dengar?”
“Mbok dengar, Bu.”
“Anak Ibu bilang apa?”
“Mas Arga bilang sayang, Bu.”
Mama duduk di kursinya dengan gerakan yang sangat pelan dan sangat puas. Ia menerima teh dari tanganku, menyesapnya, lalu menatap Ga dengan mata berkilat.
“Ga,” katanya. “Kopimu dingin. Dari tadi kamu nggak minum.”
“Saya minum, Ma.”
“Kamu pegang doang. Kamu lihatin pintu dapur.”
Ga meletakkan cangkir kopinya dan menatap pepes di piringnya.
Aku berdiri di samping Mama, menatap dinding, dan merasakan wajahku terbakar sampai ke telinga.
Aturan nomor satu: gagal.
Pukul 07.40.
Ga berangkat ke kantor. Aku mengantar Mama jalan pagi di trotoar depan rumah, seperti biasa.
Pak Jono sedang patroli dengan sepeda ontelnya. Ia melihat kami dari ujung jalan. Ia mengayuh lebih cepat. Ia berhenti tepat di depan kami, turun dari sepeda dengan gerakan yang sangat formal, berdiri tegak, dan memberi hormat dengan tangan di pelipis.
“Selamat pagi, Bu Ratih!”
“Pagi, Jono.”
Lalu ia berbalik padaku dan memberi hormat lagi, lebih tegak, lebih keras.
“Selamat pagi, Bu Bos!”
Aku berhenti berjalan.
“Pak Jono,” kataku pelan. “Saya perawat.”
“Siap, Bu Bos! Perawat!” Pak Jono masih memberi hormat. “Saya tidak lihat apa-apa tadi malam, Bu Bos! Saya tidak lihat balkon! Saya patroli di depan, tidak di belakang!”
Mama tertawa sampai topi pandannya miring.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Balkon. Pak Jono melihat balkon. Pos satpam ada di ujung jalan, menghadap ke depan. Tidak mungkin ia melihat balkon belakang.
Kecuali seseorang memberitahunya.
Aku menurunkan tangan dan menatap ke arah rumah. Di ambang pintu samping, Mbok Darmi sedang menyapu teras. Ia melihatku menatapnya. Ia langsung berbalik dan menyapu ke arah lain dengan sangat bersemangat.
Pukul sepuluh, aku mendapatkan jawabannya.
Mbok Darmi sedang di dapur, menggoreng tempe. Aku berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat.
“Mbok.”
“Iya, Mbak Dewi?”
“Mbok lihat balkon tadi malam?”
Tangan Mbok Darmi berhenti di atas wajan. Tempe di dalamnya terus mendesis.
“Mbok kasih makan ikan, Mbak,” katanya tanpa menoleh. “Jam sembilan. Ikannya lapar.”
“Ikannya dikasih makan jam empat sore, Mbok. Di jadwal.”
“Ikannya lapar lagi.”
“Mbok.”
Mbok Darmi berbalik. Matanya basah. Ia memegang sutil di satu tangan dan ujung celemek di tangan lain.
“Mbak,” katanya pelan. “Mbok lihat dari bawah pohon mangga. Mbok nggak sengaja. Mbok mau masuk, tapi Mbok lihat Mas Arga berdiri di balkon. Ngomong panjang. Terus Mbak Dewi nangis. Terus…”
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya menatapku dengan mata basah dan senyum yang gemetar.
“Mbok udah dua puluh tahun sama Mas Arga,” katanya. “Mbok belum pernah lihat dia ngomong panjang kayak gitu ke siapa pun. Bahkan ke Ibu.”
“Mbok cerita ke siapa?”
Mbok Darmi menatap lantai.
“Ke grup,” bisiknya.
Aku memejamkan mata.
“Dan,” Mbok Darmi menambahkan dengan suara yang lebih kecil lagi, “ke Mas Har.”
Aku membuka mata.
Mbok Darmi menatapku. Tidak ada senyum lagi di wajahnya. Hanya sesuatu yang sangat tua, dan sangat lelah, dan sangat tahu.
“Mas Har nangis, Mbak,” katanya pelan. “Di telepon. Jam sepuluh malam. Mbok belum pernah dengar Mas Har nangis.”
Di wajan, tempe mulai gosong. Bau gosongnya memenuhi dapur.
Kami berdua tidak bergerak untuk mengangkatnya.
Pukul 12.15.
Ga lupa membawa bekal makan siang.
Mbok Darmi menyiapkannya setiap pagi sejak minggu lalu, atas perintahku: kotak makan bertingkat tiga dengan nasi, lauk, dan sayur. Ga selalu membawanya. Hari ini, karena ia keluar rumah dengan wajah yang masih merah setelah Pagi, Sayang, ia lupa.
“Mbak Dewi antar aja,” kata Mbok Darmi, menyodorkan kotak makan itu padaku dengan senyum yang terlalu lebar. “Ibu sudah tidur siang. Mbok yang jaga.”
“Mbok, saya kerja di sini.”
“Mbak antar makanan buat anak pasien. Itu kerja.” Mbok Darmi mendorong kotak makan itu ke tanganku. “Ini bagian dari satu paket. Kata Mbak Dewi sendiri.”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik, tanpa berkedip.
Aku naik taksi ke Kuningan.
Pukul dua belas lewat lima puluh, aku keluar dari lift di lantai delapan belas dengan kotak makan bertingkat tiga di tangan.
Lantai delapan belas berhenti bekerja.
Persis seperti hari Jumat pertama itu. Suara keyboard mereda. Kepala-kepala terangkat. Kursi-kursi berputar. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Kali ini, orang-orang tidak hanya menatap. Mereka berbisik.
Aku mendengar potongan-potongan bisikan itu saat berjalan di lorong.
“…itu dia…”
“…yang di grafik…”
“…kata Sinta, Pak Teddy latihan jadi dia di ruang rapat…”
“…pakai falsetto…”
“…Pak Arga bawa ke kondangan Pak Benny…”
“…tiga detik…”
Aku berjalan lurus dengan wajah terbakar dan kotak makan yang kupeluk di dada seperti tameng.
Teddy berdiri dari mejanya begitu melihatku. Wajahnya bersinar seperti lampu kristal ballroom hotel. Ia membuka mulut.
“Mas Teddy,” kataku pelan, “jangan.”
Ia menutup mulutnya. Lalu, tanpa bicara, ia berjalan di depanku seperti pengawal presiden, membuka jalan, dan mengetuk pintu kaca ruangan Ga.
Ga mengangkat kepala dari laptop.
Ia melihatku. Ia melihat kotak makan di tanganku. Ia melihat seratus empat puluh karyawan di belakangku, yang semuanya pura-pura bekerja sambil menatap dinding kaca ruangannya.
Ia berdiri.
“Wi,” katanya.
Aku membeku di ambang pintu.
Wi.
Hanya dua huruf. Pendek. Seperti orang memanggil seseorang yang sudah lama ia kenal.
Pakde memanggilku begitu. Dua puluh tahun. Sejak aku umur tujuh dan menangis karena diejek anak tetangga tidak punya bapak. Wi, sini. Wi, sudah makan? Wi, ceritain.
Ga belum pernah memanggilku begitu. Selama ini ia memanggilku Dewi. Lengkap. Tiga suku kata, diucapkan hati-hati seperti nama proyek yang penting.
Dan sekarang, di ruang kerjanya, di depan seratus empat puluh karyawannya, ia memanggilku dengan cara yang sama persis seperti ayahnya.
Tanpa tahu.
“Kamu kenapa?” tanya Ga, mendekat. “Mukamu pucat.”
Aku menggeleng. Aku menyodorkan kotak makan. “Bapak lupa bekal.”
“Oh.” Ia menerima kotak itu. Tangannya menyentuh tanganku sebentar. Lalu ia menatap wajahku lebih dekat, dengan dahi berkerut. “Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Pak?”
Aku menatap dinding kaca. Di baliknya, seratus empat puluh kepala langsung kembali menatap layar komputer masing-masing.
“Aturan nomor satu,” bisikku.
Ga mengikuti arah pandanganku. Ia melihat dinding kaca. Ia melihat karyawannya yang pura-pura bekerja. Ia melihat Teddy berdiri di luar pintu dengan dua jempol terangkat.
Lalu ia menatapku lagi, dan tersenyum. Senyum kecil yang miring, senyum yang ia pelajari dariku.
“Aturan nomor satu sudah gagal tadi pagi,” katanya pelan. “Waktu aku bilang sayang di depan Mama.”
“Itu bukan alasan buat—”
“Sudah gagal, Wi.” Ia mengangkat bahu. “Mending sekalian.”
Lalu, di depan dinding kaca, di depan seratus empat puluh karyawannya, di depan Teddy yang sekarang menempelkan wajah ke kaca, Ga mengambil tanganku dan menggenggamnya.
Dari luar ruangan, terdengar suara sesuatu jatuh. Mungkin map. Mungkin seseorang.
Aturan nomor dua: gagal.
Pukul 15.30.
Geng arisan datang ke rumah.
Tante Merry membawa karangan bunga yang terlalu besar untuk ruang tamu, dengan pita emas dan tulisan SELAMAT ATAS JADIANNYA yang dicetak dengan huruf yang terlalu tebal. Bu Nining membawa tiga kotak kue, salah satunya kue tart berbentuk hati dengan tulisan A ♥ D dari krim merah muda. Bu Lies tidak membawa apa-apa. Ia hanya duduk di sofa dengan tangan terlipat dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Antingnya sudah dikembalikan?” tanyanya.
“Sudah, Bu. Hari Sabtu. Lewat Mas Teddy.”
Bu Lies mengangguk. “Bagus.” Lalu ia menatapku lebih lama. “Kapan lamaran?”
“Bu!”
“Saya sudah tua, Nak. Saya nggak punya waktu buat basa-basi.”
Mama, yang duduk di kursi tunggalnya dengan potongan kue tart hati di piring, tertawa sampai krimnya menempel di hidung. Aku membersihkannya dengan tisu. Mama menatapku dengan mata jernih, sangat jernih, seperti hari ini adalah salah satu hari baiknya.
“Wi,” bisik Mama pelan, hanya untukku, ketika ketiga tante sedang berdebat soal warna dekorasi pelaminan yang belum direncanakan siapa pun. “Ibu senang.”
Aku menatapnya.
“Ibu senang,” ulang Mama. “Arga sudah lama sendirian. Dari kecil. Dari umur lima.” Ia menggenggam tanganku dengan tangan yang punya bekas luka minyak panas. “Sekarang dia nggak sendirian lagi.”
Aku tidak bisa menjawab.
Mama tersenyum. Lalu senyumnya berubah sedikit, menjadi sesuatu yang lebih jauh, lebih kabur.
“Dulu Ibu juga nggak sendirian,” katanya pelan. “Dulu ada yang suka bikinin Ibu susu hangat.”
Lalu ia kembali ke kue tartnya, dan matanya kembali ke ruang tamu, ke tiga tante yang sedang berdebat. Seperti pintu yang terbuka sebentar, lalu tertutup lagi.
Aku duduk di sebelahnya dengan tangan yang masih ia genggam, dan merasakan sesuatu yang sangat berat di dadaku.
Aturan nomor tiga dan empat bahkan tidak sempat diuji. Seluruh dunia sudah tahu.
Pukul 22.40.
Ga ada di dapur.
Aku turun dari kamar karena mendengar suara aneh. Bunyi sesuatu yang jatuh, lalu umpatan pelan, lalu bau. Bau gosong.
Ia berdiri di depan pemanggang roti dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, memegang selembar roti yang hitam legam di satu sisi. Di meja di sebelahnya, dua lembar roti lain yang sama hitamnya. Toples selai srikaya terbuka. Pisau mentega tergeletak di lantai.
“Ga.”
Ia menoleh, kaget, dengan wajah orang yang tertangkap basah.
“Kamu ngapain?”
“Latihan.” Ia mengangkat roti gosong itu. “Buat besok pagi. Mbok Darmi bilang aku bakar roti tiga kali, dua gosong. Aku mau buktiin aku bisa.”
“Sekarang sudah tiga yang gosong.”
“Mesinnya rusak.”
“Mesinnya baru, Ga. Kamu yang beli bulan lalu.”
Ia menatap roti gosong di tangannya. Lalu menatap pemanggang roti. Lalu menatapku dengan wajah yang sangat serius.
“Mesinnya rusak,” ulangnya.
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Laki-laki ini, yang memenangkan tender satu koma dua triliun, yang punya seratus empat puluh karyawan, yang membangun rumah sakit dua puluh dua lantai, berdiri di dapurnya sendiri jam sebelas malam dengan tiga roti gosong dan menyalahkan mesin.
Ga memasukkan selembar roti baru ke pemanggang. Ia menekan tuasnya. Ia berdiri di depannya dengan tangan di pinggang, menatap pemanggang itu seperti menatap kontraktor yang mencurigakan.
Aku berjalan ke belakangnya.
Pelan.
Lalu aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya dan menyandarkan pipiku di punggungnya.
Ga membeku.
Punggungnya hangat lewat kemeja. Aku bisa mendengar jantungnya, lewat punggung, lewat tulang rusuk. Cepat. Selalu cepat.
“Wi,” katanya pelan.
“Hm.”
“Aturan nomor dua.”
“Nggak ada orang.”
“Mbok Darmi.”
“Mbok Darmi sudah tidur. Aku cek tadi.”
“Pak Jono?”
“Pak Jono di pos.”
“Teddy?”
“Mas Teddy di rumahnya, Ga.”
Ga diam sebentar. Lalu tangannya naik, pelan, dan menutupi tanganku yang melingkar di pinggangnya. Jarinya menyelip di antara jariku.
“Kamu tahu,” katanya, “kalau aku dipeluk begini, rotinya bakal gosong lagi.”
“Biarin.”
“Itu roti terakhir.”
“Biarin, Ga.”
Ia tertawa pelan. Tawanya bergetar di punggungnya, di pipiku.
Kami berdiri seperti itu di depan pemanggang roti. Lima detik. Sepuluh. Dua puluh. Bau roti mulai berubah. Dari wangi, ke sedikit gosong, ke gosong.
Pemanggang roti berbunyi ting. Roti meloncat keluar. Hitam di satu sisi.
Kami berdua menatapnya dari balik bahu Ga.
“Empat,” kata Ga.
“Empat,” kataku.
Ia berbalik dalam pelukanku, menghadapku. Tangannya melingkari punggungku. Ia menunduk dan menempelkan dahinya di dahiku.
“Besok pagi,” katanya pelan, “kamu yang bikin roti, ya?”
“Iya.”
“Aku yang makan.”
“Iya, Ga.”
Ia menatapku dari jarak lima senti. Matanya menyala, berbinar, seperti mata di kliping-kliping koran di kamar belakang, seperti mata di foto yang sekarang menempel di dinding paling bawah, sebelah koran tender.
Aku memejamkan mata.
Minggu depan, kataku pada diriku sendiri. Minggu depan aku bilang. Aku cari cara. Aku bilang ke Pakde dulu, terus aku bilang ke Ga. Pelan-pelan. Sampai habis. Dia sudah janji dengerin.
Minggu depan.
Ga menempelkan dahinya di dahiku sedikit lebih lama, dan aku membiarkan diriku percaya bahwa minggu depan masih cukup jauh untuk tidak ditakuti.
Di meja dapur, empat lembar roti gosong berjajar rapi seperti barisan bukti.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal) reading
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala