Chapter Five
Lihat Aku Kalau Bicara
POV: Arga
Hari Jumat, Dewi meminta rapat.
Permintaannya dikirim lewat WhatsApp pukul enam pagi, pesan pertama yang pernah ia kirim ke nomor pribadiku. Isinya sangat formal, lengkap dengan salam pembuka dan tanda tangan, seperti surat dinas.
Dewi: Selamat pagi, Pak Arga. Mohon izin, saya ingin mengajukan rapat evaluasi minggu pertama perawatan Bu Ratih, kurang lebih 30 menit, sebelum saya pulang akhir pekan. Agendanya: perkembangan Ibu, penyesuaian jadwal terapi, dan beberapa catatan untuk keluarga. Mohon informasi waktu yang Bapak luangkan. Terima kasih. — Dewi W.
Aku membaca pesan itu sambil berdiri di dapur dengan segelas kopi. Lalu aku membacanya lagi. Tidak ada yang aneh dari pesan itu. Isinya profesional, jelas, dan masuk akal.
Yang aneh adalah aku membacanya tiga kali.
Aku: Jam 3 sore di kantor saya. Teddy akan kirim alamat.
Dewi: Baik, Pak. Bu Ratih nanti ditemani Mbok Darmi sampai perawat pengganti datang jam 4.
Dewi: Pak, kopinya jangan yang ketiga ya. Saya lihat gelasnya dari jendela.
Aku menoleh ke jendela dapur. Di taman belakang, Dewi sedang berjalan pagi bersama Mama, menggandeng lengannya pelan-pelan mengelilingi kolam ikan. Ia tidak menoleh ke arahku. Tapi tangannya yang bebas terangkat, melambai kecil tanpa melihat, seperti tahu persis aku sedang berdiri di situ.
Aku menaruh gelas kopi ketiga di bak cuci.
Kantor Pradana Bangun Persada ada di lantai delapan belas sebuah gedung di Kuningan. Lantai itu kubeli dua tahun lalu, satu lantai penuh, dengan dinding kaca yang menghadap ke arah Semanggi. Seratus empat puluh karyawan bekerja di sini. Sebagian besar dari mereka masih muda, lapar, dan bekerja terlalu keras, mungkin karena mereka meniru bosnya.
Pukul dua lima puluh delapan, lantai delapan belas berhenti bekerja.
Aku tahu karena aku melihatnya dari ruanganku yang berdinding kaca. Suara keyboard yang biasanya seperti hujan deras tiba-tiba mereda. Kepala-kepala terangkat dari layar. Kursi-kursi berputar. Seseorang di tim legal menjatuhkan map. Di dekat pantry, dua orang dari tim desain berhenti bicara di tengah kalimat.
Dewi berjalan melewati deretan meja dengan langkah tenang.
Ia memakai kemeja putih dan rok kain abu-abu selutut, dengan rambut yang hari ini tidak dicepol, tapi diikat setengah ke belakang sehingga sisanya jatuh bebas di punggung. Di bahunya ada tas kerja kulit yang sederhana, dan di tangannya map biru. Ia berjalan seperti orang yang tidak sadar sedang dilihat. Atau mungkin ia sadar, tapi sudah terlalu terbiasa untuk peduli.
Cahaya sore dari dinding kaca jatuh tepat di wajahnya ketika ia melewati jendela besar di ujung lorong. Untuk sesaat, hanya sesaat, ia terlihat seperti seseorang yang keluar dari lukisan.
Aku berhenti mengetik di tengah kata.
Teddy menjemputnya di depan lift dan mengantarnya ke ruanganku dengan langkah seperti pengawal presiden. Di belakang mereka, aku melihat Raka dari tim estimasi berbisik ke sebelahnya, dan Sinta dari HRD diam-diam mengangkat ponsel. Teddy menoleh tajam ke arah mereka. Ponsel Sinta langsung turun.
Pintu kaca ruanganku terbuka.
“Selamat sore, Pak Arga,” kata Dewi.
“Sore.” Aku berdiri, karena itu sopan. Aku menatap map biru di tangannya, karena itu aman. “Silakan duduk.”
Dewi duduk di kursi di seberang mejaku. Teddy duduk di sofa di sudut ruangan dengan tablet, siap mencatat. Aku tidak memintanya ikut rapat ini. Tapi aku juga tidak menyuruhnya keluar, dan Teddy, yang sudah lima tahun membaca pikiranku, tahu bahwa diam berarti ia boleh tinggal.
Kalau aku jujur, aku membiarkannya tinggal karena aku tidak yakin bisa berada di ruangan tertutup berdua dengan perempuan ini dan tetap terlihat seperti CEO yang kompeten.
“Kantor Bapak bagus,” kata Dewi, menoleh ke dinding kaca. “Pemandangannya luas sekali.”
“Terima kasih.”
“Tapi tadi waktu saya lewat, semua orang berhenti kerja.” Ia menoleh lagi padaku, mata berkilat. “Apa di sini memang ada jam istirahat jam tiga, Pak?”
Teddy batuk keras di sudut ruangan.
“Tidak,” kataku. “Mereka biasanya kerja.”
“Oh.” Dewi tersenyum. “Berarti saya mengganggu produktivitas perusahaan Bapak, ya. Maaf.”
Aku tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang aman untuk kalimat itu.
Rapatnya berjalan baik. Setidaknya, bagian yang tidak melibatkan mataku berjalan baik.
Dewi membuka map dan menjelaskan perkembangan minggu pertama dengan sangat rapi. Mama tidur lebih nyenyak sejak lampu ruang kerja mati pukul setengah sebelas. Nafsu makannya naik. Ia lebih sedikit bingung di pagi hari karena rutinitas jalan pagi. Ia sempat dua kali menanyakan hari, satu kali lupa sudah minum obat atau belum, dan satu kali, Rabu sore, berdiri di depan pintu depan dengan tas tangan, bilang mau “jemput Arga pulang sekolah.”
“Saya ajak Ibu duduk di teras,” kata Dewi. “Saya bilang Arga sudah pulang, sedang di kamar. Ibu tenang lagi setelah dua puluh menit. Lalu beliau lupa sudah mau ke mana.”
Aku menatap meja. “Kenapa saya tidak diberi tahu?”
“Saya tulis di laporan harian, Pak. Saya kirim ke email Bapak setiap jam sembilan malam.”
Aku membuka email. Ada lima laporan harian dari Dewi, semuanya belum kubaca, terkubur di antara puluhan email tender dan ucapan selamat.
Teddy, di sofa, menatap langit-langit dengan sangat tekun.
“Maaf,” kataku. Kata itu keluar lebih mudah daripada yang kuduga. “Saya akan baca setiap malam.”
“Terima kasih, Pak.”
Lalu kami membahas jadwal terapi. Dewi menyarankan terapi okupasi dua kali seminggu dan terapi musik sekali seminggu. Aku setuju. Ia menyarankan aku ikut menemani setidaknya satu sesi setiap minggu. Aku ragu.
“Saya punya jadwal proyek rumah sakit,” kataku, membuka kalender di laptop. “Tiga bulan ke depan padat. Kick-off proyek, koordinasi struktur, tender sub-kontraktor. Rabu pagi saya bisa, tapi hanya sampai jam sembilan. Kamis tidak bisa. Jumat siang mungkin, kalau rapat dengan konsultan MEP selesai cepat, tapi biasanya tidak. Sabtu…”
Aku bicara pada layar laptop. Lalu pada kalender di dinding. Lalu pada pulpen di tanganku. Lalu pada sudut map biru di atas meja. Aku bicara dengan lancar, dengan suara yang biasa kupakai di depan dewan direksi: tenang, terstruktur, meyakinkan.
Aku tidak sadar bahwa selama hampir dua menit penuh, aku tidak sekali pun menatap orang yang sedang kuajak bicara.
“Pak Arga.”
“…jadi menurut saya Sabtu pagi paling realistis, karena—”
“Pak Arga.”
Aku berhenti.
“Lihat aku kalau bicara, Pak Arga.”
Kalimat itu diucapkan dengan pelan, tanpa nada marah, tanpa nada menggoda. Hanya pernyataan, seperti perawat yang meminta pasien membuka mulut untuk diperiksa. Tapi di ruangan yang tiba-tiba sangat sunyi, kalimat itu terdengar seperti gong.
Di sofa, Teddy berhenti mengetik.
Aku mengangkat kepala.
Dewi sedang menatapku. Ia duduk tegak dengan tangan terlipat di atas map biru, dan matanya, mata teduh dengan bulu mata panjang yang membuat setiap kedipan terasa lambat, menatap lurus ke mataku tanpa ragu sedikit pun. Wajahnya tenang. Hanya ujung bibirnya yang sedikit, sangat sedikit, terangkat.
Aku menatap balik.
Satu.
Jantungku melonjak seperti seseorang menginjak pedal gas sampai dasar.
Satu setengah.
Aku menatap pulpen.
Hening.
Lalu terdengar suara spidol di papan tulis.
Aku menoleh. Teddy sudah berdiri di depan papan tulis putih di dinding ruanganku, papan tempat kami biasa menggambar jadwal proyek, dan sedang menulis dengan spidol merah, dengan huruf besar-besar:
REKOR TATAPAN PAK ARGA
Jumat, 15.17 — 1,5 detik
“Teddy,” kataku.
“Untuk keperluan dokumentasi, Pak.” Ia menutup spidol dengan sangat profesional. “Bapak sendiri yang bilang, semua yang bisa diukur bisa diperbaiki.”
“Hapus.”
“Ini spidol permanen, Pak.”
“Kenapa kamu pakai spidol permanen di papan tulis?”
“Karena saya tahu Bapak akan menyuruh saya menghapusnya, Pak.”
Aku membuka mulut untuk memecatnya. Lalu aku mendengar suara itu lagi. Tawa yang ditahan.
Dewi menunduk dengan tangan menutup mulut, bahunya bergetar hebat, matanya berair. Ia mencoba berhenti, mengambil napas, lalu melihat papan tulis lagi dan tawanya pecah. Bukan tawa sopan. Tawa lepas, renyah, sampai ia harus memegang pinggiran meja supaya tidak jatuh dari kursi.
Aku belum pernah mendengar ia tertawa seperti itu. Selama lima hari di rumahku, ia selalu tersenyum sopan, tertawa kecil, menahan geli. Tapi ini lain. Ini tawa seseorang yang lupa sedang bekerja.
Dan aku, yang seharusnya merasa malu, yang seharusnya marah pada asisten pribadiku yang baru saja mempermalukanku di depan perawat ibuku dengan spidol permanen, hanya bisa duduk dan mendengarkan.
Tawanya bagus sekali.
“Maaf, Pak,” kata Dewi akhirnya, menyeka sudut matanya. “Maaf. Saya tidak profesional.”
“Tidak apa-apa.”
“Satu setengah detik, Pak.” Ia menggigit bibir, menahan tawa yang hampir pecah lagi. “Saya pernah merawat pasien stroke yang bisa menatap lebih lama.”
Teddy tertawa terbahak di depan papan tulis, lalu langsung pura-pura batuk.
Aku menatap mejaku. Mejaku yang terbuat dari kayu jati, dibeli di Jepara, dengan serat kayu yang tiba-tiba sangat menarik.
“Sabtu pagi,” kataku pada serat kayu. “Saya ikut terapi musik Sabtu pagi.”
“Baik, Pak,” kata Dewi, suaranya masih bergetar. “Saya catat.”
Rapat selesai pukul tiga lewat empat puluh. Di luar, langit sudah gelap, dan hujan turun deras, jenis hujan Jakarta yang datang tiba-tiba dan langsung membuat jalanan jadi sungai.
Dewi berdiri di lobi gedung, menatap layar ponsel dengan dahi berkerut. Aku melihatnya dari lift.
“Ojeknya batal?” tanyaku.
“Tiga kali, Pak.” Ia mengangkat ponsel. “Hujannya terlalu deras. Saya mau ke Stasiun Cawang, naik KRL ke Bekasi.”
Teddy, di sebelahku, membuka mulut. “Pak, biar saya antar Mbak Dewi pakai mobil kantor—”
“Saya saja,” kataku.
Teddy menutup mulutnya. Lalu, sangat pelan, ia mundur satu langkah, lalu dua langkah, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah lift tanpa berkata apa-apa. Aku tahu ia sedang tersenyum. Aku bisa merasakannya dari punggungnya.
Dewi menatapku. “Bapak tidak usah repot.”
“Stasiun Cawang searah dengan rumah.”
“Itu tidak searah, Pak. Itu berlawanan.”
“Sedikit berlawanan.”
Ia menatapku lama. Aku menatap pintu kaca lobi, tempat hujan menghantam seperti peluru.
“Baik,” katanya akhirnya. “Terima kasih, Pak.”
Kabin Lexus sunyi. Hanya suara hujan di atap dan wiper yang bergerak bolak-balik dengan ritme pelan. Dewi duduk di kursi penumpang dengan tas di pangkuan, dan untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku menyadari ada keuntungan besar dari duduk berdampingan di dalam mobil.
Aku tidak perlu menatapnya. Aku harus menatap jalan.
Itu membuatku bisa bicara.
“Kenapa jadi perawat?” tanyaku setelah lampu merah pertama.
Dewi tidak langsung menjawab. Ia menatap jendela, tempat butiran hujan berlomba turun di kaca.
“Waktu saya kecil, ayah saya meninggal,” katanya. “Saya umur delapan. Kena demam berdarah. Rumah sakitnya penuh, beliau dirawat di lorong. Perawatnya cuma dua orang untuk satu bangsal. Saya ingat ayah saya minta minum, dan tidak ada yang datang selama satu jam.”
Aku tidak bicara.
“Saya pikir, kalau saya besar nanti, saya mau jadi orang yang datang,” katanya pelan. “Orang yang datang waktu dipanggil.”
Wiper bergerak bolak-balik. Aku memikirkan lorong puskesmas di Tangerang dan bangku kayu yang catnya mengelupas.
“Tapi kuliah keperawatan mahal,” lanjutnya, nadanya lebih ringan sekarang. “Ibu saya cuma punya warung nasi. Untung ada yang bantu.”
“Siapa?”
Dewi diam sebentar. Terlalu lama, untuk pertanyaan yang sederhana.
“Orang yang tinggal di rumah kami,” katanya akhirnya. “Penyewa kamar. Sudah seperti keluarga. Beliau bilang, Sekolah yang benar, Wi. Jadi orang yang berguna. Lalu beliau bayar uang kuliah saya dua tahun terakhir. Dari gaji sopir truk.”
“Sopir truk,” ulangku.
“Iya. Antarkota.” Ia tersenyum ke arah jendela. “Beliau orang paling keras kepala yang pernah saya kenal. Tapi paling baik juga.”
“Kedengarannya beliau mirip yayasan yang membiayai saya,” kataku. “Orang baik yang tidak minta apa-apa.”
Dewi tidak menjawab. Aku meliriknya sekilas, cepat, karena aku sedang menyetir dan itu alasan yang bagus untuk hanya melirik. Ia menatap jendela, dan tangannya menggenggam tali tas di pangkuannya erat-erat, sama seperti di depan bingkai kartu di ruang kerjaku hari Senin.
“Iya, Pak,” katanya pelan. “Mirip.”
Lampu merah. Aku berhenti. Hujan masih deras.
“Pak Arga,” kata Dewi tiba-tiba, dengan suara yang sudah kembali ringan, kembali menggoda. “Boleh saya tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Sekarang Bapak bisa ngomong lancar, ya. Panjang. Dari tadi.”
“Iya.”
“Karena Bapak tidak perlu lihat saya?”
Aku menggenggam setir lebih erat. “Karena saya sedang menyetir.”
“Oh.” Aku bisa mendengar senyumnya. “Jadi kalau mau ngobrol panjang sama Bapak, saya harus duduk di samping, ya. Jangan di depan.”
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu,” katanya pelan, “coba tengok saya sekarang, Pak. Mumpung lampunya merah.”
Aku tidak menoleh.
Aku tidak berani menoleh. Karena aku tahu, dengan kepastian yang membuat dadaku sesak, bahwa kalau aku menoleh sekarang, di dalam kabin sunyi yang dipenuhi suara hujan, dengan wangi sabun bayi dan melati yang samar-samar memenuhi mobil, dengan wajahnya yang hanya berjarak setengah meter dariku, aku tidak akan bisa berpaling dalam satu setengah detik.
Dan aku belum siap untuk itu.
Lampu berubah hijau. Aku melaju.
Dewi tertawa kecil. Bukan tawa mengejek. Tawa yang lembut, nyaris sayang.
“Nggak apa-apa, Pak,” katanya. “Pelan-pelan.”
Di Stasiun Cawang, ia turun dengan payung lipat yang ternyata selalu ada di tasnya. Ia membungkuk sedikit di pintu mobil yang terbuka, rambutnya terkena tetesan hujan.
“Terima kasih, Pak Arga. Sampai Senin.”
“Sampai Senin.”
Ia menutup pintu dan berjalan cepat menembus hujan menuju pintu stasiun, payungnya bergoyang tertiup angin. Aku melihatnya sampai ia menghilang di balik kerumunan orang. Lalu aku melihat tempat ia menghilang, beberapa saat lebih lama.
Di dalam mobil, wanginya masih tertinggal.
Senin masih tiga hari lagi.
Aku tidak pernah merasa tiga hari bisa terasa sepanjang itu.
Aku sampai di rumah pukul enam lewat lima belas. Perawat pengganti dari agensi sudah datang. Ibu Yati, lima puluhan, bertubuh besar dan berwajah tegas, dengan seragam yang disetrika sangat licin. Ia menyalamiku dengan genggaman sekuat kuli bangunan.
“Selamat sore, Pak. Saya sudah baca catatan Suster Dewi. Saya akan ikuti semua jadwalnya.” Ia menatapku dengan mata menyipit. “Termasuk lampu kamar Bapak jam sepuluh tiga puluh. Suster Dewi menulisnya dengan huruf tebal. Dan digarisbawahi tiga kali.”
Aku menghela napas.
Mama, yang sedang duduk di ruang tengah dengan secangkir teh, menoleh padaku dengan wajah kecewa.
“Ga, Suster Cantik ke mana? Kok yang datang yang ini?”
“Dewi pulang, Ma. Senin kembali.”
“Senin?” Mama menatap Ibu Yati, lalu menatapku, lalu kembali ke cangkir tehnya dengan helaan napas panjang yang sangat dramatis. “Lama ya, Ga.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Iya, Ma,” kataku. “Lama.”
Mama menoleh padaku dengan mata yang tiba-tiba sangat jernih, sangat tajam, seperti ibuku yang dulu, sebelum dokter dan MRI dan kata-kata yang tidak bisa dicoret.
“Kamu kangen ya?”
Aku tidak menjawab.
Mama tersenyum, menepuk tanganku dua kali, dan kembali menonton acara masak di televisi.
Ibu Yati, berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat, mengangkat satu alis dan mencatat sesuatu di buku kecilnya.
Aku tidak mau tahu apa yang ia tulis.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara reading
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala