Chapter Three
Perawat yang Salah Alamat
POV: Arga
Teddy berhasil dalam empat hari.
Aku tidak tahu persis apa yang ia lakukan. Ia hanya bilang ia “menelepon dengan sepenuh hati” dan “menyebut kata demensia onset dini dengan intonasi yang tepat.” Lalu ia menambahkan, dengan nada yang terlalu santai, bahwa pihak agensi sebenarnya sudah menerima rekomendasi atas nama keluarga kami dari “seseorang”, sehingga prosesnya jauh lebih cepat dari dugaannya.
“Seseorang siapa?” tanyaku.
“Saya tanya, Pak. Katanya dari kenalan perawatnya sendiri. Saya kira itu dari teman Mbok Darmi.”
Masuk akal. Aku tidak bertanya lagi.
Perawat itu dijadwalkan datang hari Senin pukul sembilan pagi. Ia akan tinggal di kamar tamu lantai bawah dari Senin sampai Jumat, lalu pulang ke rumahnya setiap akhir pekan. Selama Sabtu dan Minggu, agensi akan mengirim perawat pengganti. Itu kesepakatan standar untuk paket VIP, dan harganya membuat Teddy perlu membaca ulang angka di invoice tiga kali.
“Pak,” katanya waktu itu. “Ini gaji perawat atau cicilan rumah?”
“Bayar.”
“Sudah, Pak. Saya cuma kaget.”
Aku mengosongkan jadwal Senin pagi. Pertama kalinya dalam dua tahun aku tidak ke kantor di hari kerja. Teddy menangani rapat-rapat dari kantor dan mengirimiku laporan setiap jam, lengkap dengan emoji yang tidak perlu.
Senin pagi, pukul delapan lima puluh, aku sedang di halaman depan memeriksa detektor asap baru yang dipasang di teras, karena entah kenapa aku merasa teras juga perlu detektor asap, ketika bel pagar berbunyi.
Aku membuka pintu kecil di samping gerbang.
Dan di situlah semuanya mulai kacau.
Perempuan yang berdiri di depan pagarku tidak terlihat seperti perawat.
Ia terlihat seperti seseorang yang tersesat dari lokasi syuting iklan sampo.
Rambutnya hitam, panjang, jatuh lurus sampai ke tengah punggung dan bergerak sedikit setiap kali angin lewat. Kulitnya kuning langsat, bersih, dengan rona merah samar di pipi yang mungkin karena matahari pagi, mungkin memang begitu dari sananya. Ia memakai blus putih sederhana dan celana kain krem, dengan tas selempang kecil di bahu dan koper abu-abu di sebelah kakinya. Tidak ada riasan yang mencolok. Tidak ada perhiasan selain jam tangan kecil berwarna perak.
Tapi wajahnya.
Aku sudah bertemu banyak orang dalam hidupku. Klien, pejabat, artis yang membeli rumah dari proyekku, istri-istri konglomerat di acara amal. Aku tidak mudah terkesan. Aku terlatih untuk menilai orang dalam tiga detik pertama: apa yang mereka mau, berapa nilai mereka, apakah mereka berbohong.
Tiga detik pertama bersama perempuan ini, aku tidak menilai apa-apa.
Aku hanya melihat. Matanya bulat dan teduh, dengan bulu mata panjang yang membuat setiap kedipan terasa lambat. Hidungnya kecil. Bibirnya tipis dan tersenyum sopan. Ketika senyum itu sedikit melebar, sebuah lesung tipis muncul di pipi kirinya, hanya di kiri, seperti seseorang memutuskan bahwa satu saja sudah cukup untuk membuat orang lupa diri.
Detik keempat, aku sadar aku sedang menatap.
Detik kelima, aku membuang muka ke arah tiang pagar.
“Selamat pagi,” katanya. Suaranya rendah dan hangat. “Benar ini rumah—”
“Rumah sebelah,” potongku.
Ia berkedip. “Maaf?”
“Syutingnya di rumah sebelah.” Aku menunjuk rumah bercat hijau di samping kami tanpa menoleh padanya, masih menatap tiang pagar seolah tiang itu sangat menarik. “Mereka sering sewa rumah itu buat sinetron. Kru biasanya masuk lewat pintu belakang. Mbak bilang saja ke satpam di sana.”
Hening.
Lalu terdengar suara kecil. Tawa yang ditahan.
Aku memberanikan diri menoleh. Ia sedang menutup mulut dengan punggung tangan, bahunya bergetar pelan. Matanya menyipit karena tertawa, dan lesung itu muncul lagi, lebih dalam.
“Maaf, Pak,” katanya, menurunkan tangan. “Saya bukan pemain sinetron.”
“Oh.”
“Saya Dewi. Dewi Widyaningsih, dari Kasih Paripurna Home Care.” Ia mengeluarkan kartu identitas dari tas dan menunjukkannya padaku. Fotonya di kartu itu memakai seragam putih dan rambut dicepol. Bahkan di foto ID yang dicetak murah, ia tetap terlihat seperti foto sampul majalah. “Saya perawat Ibu Ratih. Mulai hari ini.”
Aku menatap kartu itu. Lalu wajahnya. Lalu kartu itu lagi, karena wajahnya terlalu sulit ditatap lebih dari dua detik.
“Oh,” kataku lagi. Kosakata seorang lulusan cum laude.
“Bapak pasti Pak Arga.”
“Iya.”
“Yang kemarin teleponnya dari Mas Teddy?”
“Iya. Itu asisten saya.”
“Beliau menelepon kantor kami sambil menangis, Pak.” Suaranya serius, tapi ujung bibirnya bergerak. “Atasan saya sampai ikut sedih.”
Aku memejamkan mata sebentar. “Saya akan bicara dengannya.”
“Jangan dimarahi. Beliau sangat peduli pada Bapak.”
Aku membuka pintu pagar lebih lebar dan mengambil koper abu-abunya sebelum ia sempat menolak. Koper itu ringan sekali. Untuk lima hari, isinya pasti hanya beberapa setel baju dan sesuatu yang lain. Aku tidak bertanya.
“Silakan masuk,” kataku pada udara di sebelah kanan kepalanya.
“Terima kasih, Pak,” katanya pada wajahku.
Aku berjalan duluan supaya tidak perlu melihat wajah itu lagi.
Teddy tiba lima menit kemudian dengan mobil kantor, membawa map berisi kontrak yang harus kutandatangani. Begitu turun dari mobil dan melihat Dewi di teras, ia berhenti di tengah halaman seperti tersambar.
Lalu ia menatapku. Lalu Dewi. Lalu aku lagi. Matanya membesar perlahan dengan cara yang sangat tidak profesional.
“Ted,” kataku memperingatkan.
“Pak.” Ia mendekat, menyerahkan map, dan berbisik tanpa menggerakkan bibir. “Pak, itu perawatnya?”
“Iya.”
“Pak, saya mohon kemarin itu ke agensi perawat, kan? Bukan ke agensi model?”
“Ted.”
“Siap, Pak. Profesional.”
Ia berbalik, menjabat tangan Dewi dengan senyum terlebar yang pernah kulihat, dan memperkenalkan diri dengan suara satu oktaf lebih rendah dari biasanya. Dewi menyambutnya dengan ramah, menyebut “Mas Teddy yang kemarin menelepon, ya?”, dan Teddy langsung batuk.
“Saya tidak menangis,” katanya. “Saya pilek.”
“Oh, iya. Cepat sembuh, Mas.”
Di belakang mereka, mobil Teddy terparkir tepat di belakang Lexus-ku dan menghalangi jalan masuk ke garasi. Teddy menyadarinya dan menoleh padaku.
“Pak, biar saya geser mobil Bapak ke garasi sekalian. Biar mobil kantor bisa masuk.”
“Tidak.”
“Cuma lima meter, Pak.”
“Tidak ada yang nyetir mobil ini selain saya.” Kalimat itu keluar lebih keras dari yang kumaksud, dengan nada yang biasanya kupakai untuk menolak kontraktor yang menawar terlalu rendah.
Teddy mengangkat kedua tangannya, menyerah. Ia sudah hafal. Dalam lima tahun bekerja denganku, ia sudah menawarkan kalimat itu mungkin dua ratus kali, dan dua ratus kali jawabannya sama.
Dewi memperhatikan kami. Lalu ia melirik Lexus hitam itu dengan alis sedikit terangkat.
“Berarti mobilnya setia ya, Pak,” katanya ringan. “Cuma mau dipegang satu orang.”
Aku menoleh padanya, satu detik, dan langsung menyesal. Ia sedang tersenyum. Bukan senyum sopan seperti tadi di pagar, tapi senyum kecil yang miring, seperti orang yang tahu ia baru saja mengucapkan sesuatu yang sedikit nakal dan sengaja membiarkannya menggantung.
Telingaku panas. Aku masuk ke mobil dan memindahkannya ke garasi sendiri, lima meter, dengan kecepatan dua kilometer per jam.
Ketika aku keluar dari garasi, Teddy menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ekspresi orang yang baru menemukan sesuatu yang sangat menarik dan berniat menggalinya sampai habis.
“Tidak ada komentar,” kataku sebelum ia membuka mulut.
“Saya belum ngomong apa-apa, Pak.”
“Bagus. Pertahankan.”
Mama sedang duduk di ruang tengah dengan secangkir teh dan acara masak di televisi ketika kami masuk. Ia menoleh, melihat Dewi, dan wajahnya langsung berubah seperti anak kecil yang melihat kembang api.
“Ya Allah,” katanya. “Cantiknya.”
Dewi tersenyum dan langsung menghampiri Mama. Ia tidak berdiri di depan Mama seperti tamu. Ia berjongkok di sebelah kursi supaya matanya sejajar dengan mata Mama, lalu mengulurkan tangan dengan pelan.
“Selamat pagi, Bu Ratih. Saya Dewi.”
“Dewi.” Mama menyambut tangannya dengan dua tangan, menggenggamnya erat. “Kamu artis ya, Nak?”
“Bukan, Bu. Saya perawat. Mulai hari ini saya yang menemani Ibu, ya.”
“Menemani Ibu?”
“Iya. Bantu Ibu minum obat, temani jalan pagi, temani masak juga kalau Ibu mau.”
Mama menatapnya lama, masih menggenggam tangannya. Lalu ia menoleh padaku dengan ekspresi yang sangat curiga.
“Ga. Kamu bayar dia mahal ya?”
“Ma.”
“Pasti mahal. Orang secantik ini nggak mungkin murah.” Mama kembali menatap Dewi. “Kamu sudah makan, Nak?”
“Sudah, Bu. Tadi sarapan di jalan.”
“Sarapan apa?”
“Roti, Bu.”
“Roti itu bukan sarapan.” Mama berdiri dengan semangat yang sudah beberapa minggu tidak kulihat. “Darmi! Darmi! Ada opor nggak? Ini anak cuma makan roti!”
Dari dapur, Mbok Darmi menjawab dengan suara yang terlalu cepat, terlalu riang. “Ada, Bu! Banyak!”
Tentu saja ada. Masih ada setengah panci opor dari empat hari lalu yang terus dipanaskan ulang.
Mbok Darmi muncul di ambang pintu dapur. Ia melihat Dewi, dan untuk sepersekian detik wajahnya berubah. Bukan kaget, bukan heran. Lebih seperti lega. Seperti seseorang yang sudah lama menunggu kabar dan akhirnya mendengarnya.
Lalu ekspresi itu hilang dan Mbok Darmi tersenyum lebar. “Ini Mbak Dewi ya? Mari, Mbak, makan dulu. Mbok panasin opornya.”
“Terima kasih, Mbok,” kata Dewi.
Mereka bertukar pandang sebentar. Hanya sebentar, terlalu singkat untuk disebut apa-apa.
Aku tidak memperhatikan. Aku sedang sibuk tidak menatap Dewi.
Aku menunjukkan kamar tamu, lalu rumah. Dapur, ruang makan, kamar Mama, ruang salat, taman belakang dengan kolam ikan yang baru kupasangi pagar kecil kemarin sore. Dewi memperhatikan semuanya dengan cermat. Ia menanyakan hal-hal yang tidak terpikir olehku: apakah karpet di tangga bisa diganti yang tidak licin, apakah ada lampu malam di lorong ke kamar mandi, apakah kunci pintu depan bisa diganti yang lebih tinggi supaya Mama tidak keluar sendiri tengah malam.
Aku mencatat semuanya. Aku senang mencatat. Mencatat memberiku alasan untuk menatap ponsel, bukan wajahnya.
Di lorong lantai atas, kami melewati ruang kerjaku yang pintunya terbuka. Dewi berhenti.
“Ini ruang kerja Bapak?”
“Iya.”
“Boleh saya lihat? Biar saya tahu Bapak biasanya di mana kalau saya perlu.”
“Silakan.”
Ia masuk dua langkah. Matanya menyapu ruangan: meja kerja, rak buku, jendela besar yang menghadap taman. Lalu dinding dengan bingkai-bingkai. Ijazah. Foto ruko pertama. Penghargaan majalah.
Dan bingkai kecil di ujung. Kartu krem dari Yayasan Pelita.
Ia berhenti di depan kartu itu.
Lama. Lebih lama dari bingkai-bingkai lain. Aku berdiri di ambang pintu dan, karena ia memunggungiku, aku bisa menatapnya tanpa jantungku berdetak terlalu keras. Bahunya kaku. Tangannya, yang tadi santai di sisi tubuh, sekarang menggenggam tali tas selempangnya erat-erat.
“Itu dari yayasan yang membiayai sekolah saya,” kataku, tanpa tahu kenapa aku menjelaskan. Aku tidak pernah menjelaskan bingkai itu pada siapa pun. “Dari SMP sampai kuliah.”
Dewi tidak langsung menjawab.
“Tulisannya bagus,” katanya akhirnya. Suaranya sedikit lebih pelan dari tadi. “Huruf g-nya panjang.”
“Iya. Selalu begitu. Lima puluh dua kartu, semuanya begitu.”
“Lima puluh dua,” ulangnya.
“Saya tidak pernah tahu siapa yang menulisnya.”
Dewi berbalik. Matanya sedikit berkaca, atau mungkin itu cuma pantulan cahaya dari jendela. Ia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke lesung di pipi kirinya.
“Pasti orang yang sangat sayang sama Bapak,” katanya.
“Orang asing,” koreksiku. “Donatur anonim.”
“Orang asing yang menulis lima puluh dua kartu,” katanya pelan, “bukan orang asing, Pak.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ia berjalan melewatiku keluar dari ruang kerja, cukup dekat sampai aku mencium wanginya. Bukan parfum mahal. Wangi sabun bayi dan sesuatu seperti melati.
Jantungku berdetak sekali, keras, seperti pintu dibanting.
Aku menatap lantai sampai ia sampai di ujung tangga.
Siang itu, aku menandatangani kontrak dengan agensi di meja makan. Teddy duduk di sebelahku, sementara Dewi di seberang menjelaskan rencana perawatan minggu pertama dengan bahasa yang jelas dan tertata. Ia profesional, cekatan, dan sama sekali tidak terlihat gugup berada di rumah sebesar ini.
Masalahnya, aku tidak bisa menatapnya.
Setiap kali ia bicara, aku mencoba menatap matanya, karena itu sopan, karena aku selalu menatap mata orang yang bicara denganku, karena itu kebiasaan yang kulatih bertahun-tahun di ruang rapat. Tapi setiap kali mataku bertemu matanya, sesuatu di dadaku langsung berlari, dan dua detik kemudian aku sudah menatap kontrak, gelas air, atau telinga Teddy.
Teddy menyadarinya di menit ketujuh.
Di menit kesepuluh, ia mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di bawah meja. Ponselku bergetar.
Teddy: Pak.
Teddy: Bapak dari tadi ngomong sama telinga saya.
Teddy: Telinga saya tersanjung tapi bingung Pak.
Aku membalik ponsel dan meletakkannya menghadap meja.
“Pak Arga?” kata Dewi.
“Ya.”
“Ada pertanyaan soal jadwal terapi?”
Aku menatap matanya. Satu detik. Dua detik.
Lalu jendela di belakangnya tiba-tiba jadi sangat menarik.
“Tidak ada,” kataku pada jendela. “Jadwalnya bagus.”
Dewi diam sebentar. Lalu ia tersenyum, kali ini dengan lesung di pipi kirinya, dan kembali membaca catatannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi aku melihat bahunya bergetar sedikit. Dan aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu harga semen per sak, bahwa perempuan ini sedang menahan tawa.
Karena aku.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat reading
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala