Chapter Forty
Seumur Hidup
POV: Arga
Empat puluh hari setelah pemakaman, rumah di Pondok Indah penuh orang.
Tahlilan. Mbok Darmi yang mengurus semuanya, dengan tekad seorang jenderal yang memimpin perang terakhirnya. Opor dua belas panci. Sambal goreng kentang dalam baskom-baskom besar. Perkedel bertumpuk seperti bukit. Bu Nining membawa tujuh kotak kue. Tante Merry membawa karangan bunga yang terlalu besar dengan pita hitam. Bu Lies membawa dirinya sendiri dan duduk di sofa dengan tangan terlipat.
Enam sopir truk dari Pantura datang lagi. Mereka parkir di jalan kompleks, dan Pak Jono menghabiskan dua jam mengatur posisi truk-truk itu supaya tidak menghalangi jalan, dengan peluit dan salam hormat yang terlalu bersemangat.
Pak Sobari datang dengan kursi rotan, karena kursi rodanya rusak. Dua sopir truk menggotongnya dari mobil ke ruang tengah.
Bu Sumi dan Dimas datang dari Bekasi pukul empat sore, dengan rantang soto dan motor bebek merah. Bu Sumi langsung masuk ke dapur dan mulai bertengkar dengan Mbok Darmi soal kuah opor. Mbok Darmi bilang kuahnya kurang. Bu Sumi bilang kuahnya kebanyakan. Mereka bertengkar selama tiga jam dengan sutil dan sendok sayur, dan di akhirnya mereka berdua menangis di depan kompor sambil berpelukan, dan tidak ada yang tahu kenapa.
Mama duduk di kursi tunggalnya di ruang tengah dengan kerudung putih dan senyum yang tenang. Ia tidak ingat ini tahlilan untuk siapa. Setiap setengah jam ia bertanya pada Dewi, dan setiap setengah jam Dewi menjawab dengan sabar, dan setiap setengah jam Mama mengangguk dan bilang, Oh, Mas Har. Sudah empat puluh hari ya.
Lalu ia tersenyum. Tidak sedih. Hanya tersenyum, seperti seseorang yang mendengar kabar bahwa orang yang ia tunggu sudah sampai di tujuan dengan selamat.
Tahlilan selesai pukul sembilan malam.
Tamu-tamu pulang satu per satu. Enam truk keluar dari kompleks dengan klakson yang dibunyikan pelan, sekali, sebagai salam. Pak Sobari digotong kembali ke mobilnya. Geng arisan pulang terakhir, dengan Tante Merry yang memelukku terlalu lama di pintu dan berbisik di telingaku dengan suara yang sangat bermakna:
“Arga. Tante dukung. Malam ini, kan?”
Aku menatapnya.
“Teddy sudah cerita,” bisiknya. Lalu ia mengedipkan mata dan pergi.
Aku menatap Teddy, yang sedang membantu Mbok Darmi membereskan piring di ruang makan.
Teddy menatap langit-langit dengan sangat tekun.
Bu Sumi dan Dimas menginap. Itu bagian dari rencana.
Rencana yang kubuat dua minggu lalu, di ruang kerja, dengan Teddy dan papan tulis putih yang masih memuat tulisan spidol permanen REKOR TATAPAN PAK ARGA.
Bukan rencana dengan struktur tiga poin. Teddy sudah menghapusnya. Lagi.
Rencana yang hanya punya satu baris.
Dapur. Jam dua.
Pukul sebelas, semua orang sudah tidur.
Atau pura-pura tidur.
Mama di kamarnya, dengan kotak jahit di bawah ranjang dan satu tangan menjuntai menyentuhnya. Bu Sumi di kamar tamu, kamar yang enam minggu ditempati laki-laki dengan sandal jepit hitam, dan sekarang kosong kecuali termos hijau penyok yang kubawa pulang dari kantor setiap Jumat. Dimas di sofa ruang tengah, dengan kunci Lexus di genggamannya. Ia belum melepaskannya sejak malam itu.
Teddy di kamar tamu kedua, karena rumahnya di Bekasi Barat dan sudah terlalu malam untuk pulang. Itu alasannya. Aku tidak percaya.
Mbok Darmi di kamarnya di belakang, dengan cetakan nasi berbentuk hati yang ia sembunyikan di bawah bantal.
Dewi di kamar atas. Kamar kecil di ujung lorong lantai dua, yang ia tempati sejak ia kembali, karena kamar tamu di bawah sudah jadi kamar Bapak.
Pukul satu lewat lima puluh, aku turun ke dapur.
Anak tangga ketujuh berderit.
Aku tidak berusaha menghindarinya.
Aku menyalakan lampu dapur.
Aku mengambil panci kecil dari rak. Aku mengisinya dengan air. Aku menyalakan kompor dengan api sedang.
Lalu aku membuka lemari dapur paling atas. Di belakang deretan toples bumbu, ada stok mi instan yang Mama perintahkan untuk ditambah, enam minggu lalu, setelah Mbok Darmi menemukan kami dengan senter. Taruh di tempat yang gampang dijangkau. Kasihan Dewi harus jinjit.
Mbok Darmi tidak pernah memindahkannya. Masih di lemari paling atas. Masih harus jinjit.
Aku mengambil dua bungkus.
Air mendidih. Mi masuk. Telur dipecahkan langsung ke dalam panci tanpa diaduk supaya kuningnya tetap utuh. Dua buah cabai rawit, dipotong dengan pisau kecil. Sejumput daun bawang dari kulkas.
Aku sudah berlatih. Tiga minggu. Setiap malam setelah lampu ruang kerja dimatikan pukul sepuluh tiga puluh, aku turun ke dapur dan memasak mi instan. Dua minggu pertama gagal. Mi terlalu lembek. Telur pecah. Cabai terlalu banyak. Mbok Darmi memakan semua kegagalanku dengan wajah yang sangat sabar.
Minggu ketiga, aku berhasil.
Malam ini, aku tidak boleh gagal.
Aku menuang mi ke dua mangkuk. Aku menaruhnya di meja dapur, di depan dua kursi tinggi yang berhadapan. Aku duduk di salah satunya.
Dan aku menunggu.
Pukul dua lewat tiga menit, anak tangga ketujuh berderit.
Aku mendengar langkah kaki telanjang di lantai kayu tangga. Pelan. Satu-satu. Lalu di lantai keramik ruang makan. Lalu berhenti di ambang pintu dapur.
Aku tidak menoleh.
“Ga?”
Suaranya serak. Seperti orang yang baru bangun.
“Kok kamu di dapur? Jam dua.”
Aku menoleh.
Dewi berdiri di ambang pintu dengan kaus putih longgar dan celana tidur kotak-kotak biru. Rambutnya terurai, sedikit kusut, seperti baru bangun dari bantal. Kakinya telanjang di atas lantai keramik dingin.
Persis seperti malam itu. Malam mi instan dan senter Mbok Darmi. Malam pertama aku menceritakan dua belas warung dan kerupuk dua ratus perak.
Ia menatap dua mangkuk mi di meja.
“Kamu masak?” tanyanya, dengan mata yang membesar.
“Iya.”
“Kamu masak mi instan?”
“Iya.”
“Nggak gosong?”
“Mi instan nggak bisa gosong, Wi.”
“Kamu bisa bikin roti bakar gosong empat kali.” Ia berjalan masuk, pelan, menatap mangkuk-mangkuk itu dengan curiga. “Kamu bisa bikin apa pun gosong.”
“Aku latihan. Tiga minggu.”
Ia berhenti di depan meja. Ia menatap mi itu lebih dekat. Telur setengah matang dengan kuning yang utuh. Cabai rawit. Daun bawang. Kuah yang berwarna oranye kemerahan.
“Ini…” Ia menoleh padaku. “Ini cara aku masak.”
“Iya.”
“Kamu lihat?”
“Aku hafal.”
Dewi menatapku lama. Lalu ia duduk di kursi tinggi di seberangku. Ia menarik kakinya ke atas kursi, melipat lututnya ke dada. Persis seperti malam itu.
Ia mengambil sendok. Ia meniup kuah mi itu. Ia mencicipinya.
Ia diam.
“Gimana?” tanyaku.
Ia menatapku dari atas mangkuk. Matanya mulai basah.
“Cabainya kebanyakan,” katanya pelan.
“Aku suka pedas.”
“Aku tahu.” Ia menunduk ke mangkuk. “Sambal terasi selalu habis di sisi kamu.”
Kami makan dalam diam.
Kulkas mendengung. Jam dinding di lorong berdetak. Di luar jendela, pohon mangga yang Mama tanam dari biji bergoyang pelan.
Aku menghabiskan mi-ku dalam empat menit. Tidak sengaja. Atau mungkin sengaja.
Dewi menatapku menaruh sendok di mangkuk kosong. Ia tersenyum.
“Empat menit,” katanya.
“Kamu hitung?”
“Aku selalu hitung.”
Aku menatapnya.
Di seberang meja dapur yang sempit, dengan rambut terurai dan kaus yang terlalu besar dan kaki telanjang yang dilipat ke atas kursi, dengan dagu bertumpu di lutut dan mata teduh yang setengah mengantuk. Perempuan yang datang ke rumahku dengan koper abu-abu dan janji yang bukan miliknya. Perempuan yang kusuruh pergi. Perempuan yang kembali.
Aku menatapnya, dan aku tidak membuang muka.
Satu. Dua. Tiga.
Aku tidak menghitung. Aku tahu angkanya, karena aku selalu tahu angkanya. Tapi aku tidak menghitung.
Dewi menatapku balik. Ia tidak membuang muka juga.
Lima. Sepuluh.
“Ga,” katanya pelan. “Kamu natap aku kayak mau makan orang lagi.”
“Aku sudah makan. Mi instan. Empat menit.”
Ia tertawa kecil. Lalu tawanya berhenti, karena aku masih menatapnya. Karena aku tidak berhenti.
Dua puluh detik. Tiga puluh.
Pipinya mulai memerah.
“Ga.”
“Hm.”
“Kenapa?”
Aku mengeluarkan buku cokelat dari saku celana.
Aku menaruhnya di meja dapur, di antara dua mangkuk kosong. Sampulnya sudah lunak dan menggulung. Di sampulnya, tulisan tangan anak sembilan tahun yang miring ke kiri: TARGET HIDUP. jangan dibaca orang lain!!!
Dewi menatap buku itu. Lalu menatapku.
Aku membukanya di halaman tengah. Dua baris yang kutulis malam Senin, setelah kopi termos dan mobil derek dan dr. Hendra.
Bangun rumah susun di Cikokol. Dinding tebal. Lorong terang. Sewa 300 ribu.
Baris itu sekarang ada tanda di sampingnya. Bukan coretan. Sebuah tanda centang kecil, dan tanggal: hari peletakan batu pertama, dua minggu lalu, dengan Mama yang memegang sekop emas dan memanggil kontraktor utamanya Pak Udin.
Dan di bawahnya:
Menikah dengan Dewi.
Belum dicoret.
Dewi menatap baris itu lama sekali. Bahunya tidak bergerak. Napasnya tertahan.
“Kamu bilang ini bukan lamaran,” bisiknya. “Waktu itu. Di ruang kerja.”
“Waktu itu bukan.”
“Sekarang?”
Aku merogoh saku celanaku yang lain.
Kotak beludru biru tua. Ujung-ujungnya sudah sedikit lecek, karena kotak itu sudah dua bulan berpindah-pindah. Dari laci meja kerja ke saku celana. Dari saku celana ke Bekasi, hari Sabtu itu, hari buku dongeng. Dari Bekasi ke laci konsol Lexus, di sebelah buku cokelat, selama dua minggu aku tidak berani menyentuhnya.
Aku menaruhnya di meja. Di atas buku cokelat. Di atas baris Menikah dengan Dewi.
Lalu aku membukanya.
Cincin emas putih. Satu berlian kecil di tengah, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Dikelilingi ukiran halus berbentuk sulur, seperti tanaman yang merambat.
Seperti melati.
Dewi menatap cincin itu dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Teddy yang pilih,” kataku. “Dia coba di jari kelingkingnya. Sebelas cincin. Empat puluh lima menit. Dia bilang kamu nggak suka yang mencolok, karena kamu pakai jam tangan perak kecil. Dia bilang yang ini kayak melati.”
Dewi tertawa dan menangis bersamaan, di balik tangannya.
“Aku nggak tahu ukuran jarimu,” lanjutku. “Aku tahu tensimu. Aku tahu kamu minum teh tanpa gula. Aku tahu kamu garuk ujung hidung kalau mikir dan gigit bibir kalau nahan tawa. Aku tahu kamu nyanyi lagu keroncong yang sumbang di nada tinggi. Tapi aku nggak tahu ukuran jarimu.”
“Ga…”
“Jadi kalau nggak muat,” kataku, “salahkan Teddy.”
Dewi tertawa lebih keras. Air matanya jatuh di meja dapur, di sebelah mangkuk mi yang kosong.
Aku tidak berdiri. Aku tidak berlutut. Aku tidak membuat struktur tiga poin. Teddy sudah menghapusnya.
Aku hanya menatapnya. Dari seberang meja dapur yang sempit. Jam dua pagi. Di tempat semuanya dimulai.
Lama.
Tanpa berpaling.
“Aku lihat kamu,” kataku. “Seumur hidup.”
Dewi berhenti tertawa.
Ia menurunkan tangannya dari mulut. Pelan. Ia menatapku. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara, berkilau di bawah lampu dapur yang kekuningan.
Ia tidak membuang muka.
Aku juga tidak.
Satu menit. Mungkin lebih. Aku tidak tahu. Kami hanya duduk di sana, di dua kursi tinggi yang berhadapan, dengan dua mangkuk kosong dan buku cokelat dan cincin emas putih di antara kami, dan saling menatap seperti dua orang yang akhirnya punya waktu untuk melakukan hal paling sederhana di dunia.
Lalu Dewi mengulurkan tangan kirinya ke seberang meja.
Telapak tangannya menghadap ke bawah. Jari-jarinya sedikit gemetar.
“Ga,” bisiknya. “Pasangin.”
Aku mengambil cincin itu dari kotak beludru. Tanganku gemetar lebih keras dari tangannya. Aku memegang jari manisnya, jari yang ramping dengan kuku pendek dan bersih, kuku seorang perawat.
Aku menyelipkan cincin itu.
Pas.
Persis. Seperti termos hijau di atas lingkaran di meja kayu kamar belakang. Seperti kunci yang menemukan lubangnya.
Dewi menatap cincin di jarinya. Ia menggerakkan jarinya sedikit, dan berlian kecil itu berkilau di bawah lampu dapur. Ukiran sulur melati berkilau bersamanya.
“Muat,” bisiknya.
“Teddy,” kataku. “Kelingkingnya.”
Dewi tertawa, dan tangis, dan tertawa lagi.
“Jadi?” tanyaku. Suaraku bergetar. “Kamu belum jawab.”
Ia menatapku. Matanya basah. Bulu matanya menggumpal. Lesung di pipi kirinya muncul, perlahan, dalam sekali, seperti matahari terbit di atas pohon mangga.
“Kamu sudah tahu jawabannya,” katanya.
“Aku mau dengar.”
Ia turun dari kursi tingginya. Ia berjalan memutari meja dapur. Satu langkah. Dua. Ia berhenti di depanku, di antara kedua lututku, karena aku masih duduk di kursi tinggi, sehingga wajah kami hampir sejajar.
Ia mengangkat kedua tangannya dan memegang wajahku. Cincin di jarinya terasa dingin di pipiku.
“Iya, Ga,” bisiknya. “Iya. Seumur hidup.”
Aku menciumnya.
Atau ia menciumku. Aku tidak tahu. Aku tidak peduli.
Bukan seperti di dapur dulu, kaku dan miring dengan hidung yang bertabrakan dan kaki yang langsung lari ke tangga.
Bukan seperti di balkon, di bawah bulan, dengan stetoskop yang terjepit di antara kami dan janji yang ia minta karena ia tahu persis kenapa ia memintanya.
Bukan seperti di bawah hujan, di depan toko kelontong, dengan maaf yang belum selesai dan air mata yang bercampur air hujan.
Ini ciuman di tempat semuanya dimulai. Di dapur. Jam dua pagi. Dengan lampu kekuningan dan kulkas yang mendengung dan jam dinding yang menghitung. Dengan dua mangkuk mi instan kosong dan buku cokelat bertuliskan jangan dibaca orang lain dengan tiga tanda seru.
Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada nanti. Tidak ada minggu depan. Tidak ada janji yang bukan milik kami sendiri.
Hanya dua orang yang tidak lagi takut menatap satu sama lain.
Tanganku di pinggangnya, menariknya lebih dekat. Tangannya di wajahku, lalu turun ke leherku, ke tengkukku, jarinya menyusup ke rambutku. Bibirnya lembut dan hangat dan sedikit pedas, sisa cabai rawit yang terlalu banyak. Ciuman itu dalam dan pelan dan tidak terburu-buru, seperti seseorang yang tahu ia punya waktu. Seumur hidup.
Ketika akhirnya kami berhenti, kami tidak benar-benar berhenti. Dahi kami bersandar. Napas kami bercampur. Hidungnya menyentuh hidungku, kali ini tanpa bertabrakan.
“Ga,” bisiknya.
“Hm.”
“Detakmu.”
“Berapa?”
Ia tersenyum di bibirku.
“Nggak bisa dihitung,” katanya. “Seumur hidup juga nggak akan bisa.”
Lalu pintu dapur meledak.
Bukan secara harfiah. Tapi rasanya seperti meledak.
Mama yang pertama. Dengan daster batik, rambut terurai, dan senyum yang begitu lebar sampai ia terlihat dua puluh tahun lebih muda. Ia bertepuk tangan dengan semangat yang luar biasa.
Mbok Darmi di belakangnya, dengan celemek dan cetakan nasi berbentuk hati di tangan, menangis begitu keras sampai suaranya memenuhi dapur.
Teddy di belakang Mbok Darmi, dengan piyama bermotif garis-garis dan ponsel di tangan yang jelas-jelas sedang merekam. Wajahnya basah. Ia menangis lebih keras dari Mbok Darmi.
Bu Sumi muncul dari arah lorong dengan sendok sayur di tangan, entah kenapa, dan wajah yang memerah karena menangis.
Dan Dimas.
Dimas berlari masuk dari ruang tengah, dengan rambut berantakan dan kaus Jaya Motor dan kunci Lexus yang masih ia genggam. Ia berhenti di tengah dapur. Ia menatap cincin di jari kakaknya. Ia menatapku.
Lalu ia berteriak. Benar-benar berteriak, dengan kedua tangan terangkat ke udara, persis seperti Teddy di lobi gedung setelah tender rumah sakit.
“KAKAK DILAMAR! KAKAK DILAMAR! BANG LEXUS LAMAR KAKAK!”
“Dimas! Ini jam dua pagi!” Bu Sumi memukul punggungnya dengan sendok sayur.
“Bu! Kakak dilamar!”
“Ibu tahu! Ibu lihat! Ibu dari tadi ngintip di balik pintu!”
Dewi menutup wajahnya dengan kedua tangan, dengan cincin di jarinya yang berkilau, dan tertawa di dadaku.
“Kalian semua ngintip?” tanyaku.
Teddy mengangkat tangan, masih merekam. “Untuk dokumentasi, Pak.”
“Mbok sudah firasat dari jam sebelas,” kata Mbok Darmi dengan bangga di sela tangisnya, mengangkat cetakan nasi berbentuk hati. “Mbok bikin nasi goreng buat sarapan, ya? Bentuk hati?”
Mama berjalan ke arah kami. Pelan. Ia menatap Dewi, menatap cincin di jarinya, menatapku.
Lalu ia memeluk kami berdua sekaligus.
“Suster Cantik,” bisiknya di bahu Dewi. “Kamu jadi menantu Ibu, ya?”
Dewi menangis di bahu Mama. “Iya, Bu.”
“Bagus.” Mama melepaskan pelukan dan menatap kami berdua dengan mata yang jernih, sangat jernih. “Bapakmu pasti senang, Ga. Dia selalu bilang, Arga itu harus nikah sama perempuan yang bisa nyuruh dia tidur.”
Aku membeku.
“Dia bilang begitu, Ma?”
“Di surat,” kata Mama. “Surat tahun kemarin. Yang dari Tegal.” Ia tersenyum. “Dia bilang, Tih, kalau Arga ketemu perempuan yang bisa bikin dia matiin lampu jam sepuluh, suruh dia nikahin.”
Lalu, seperti tirai, matanya berubah lagi. Kabur. Jauh.
Ia menoleh ke Mbok Darmi. “Darmi, ini jam berapa? Kok semua orang bangun?”
Dimas berdiri di depanku dengan kunci Lexus di tangan yang terulur.
“Bang,” katanya. Suaranya bergetar. “Pakde kasih ini ke aku. Malam itu. Buat hari ini.”
Aku menatap kunci itu di telapak tangannya.
“Hari ini udah datang, Bang,” kata Dimas. “Aku balikin.”
Aku menatapnya. Lalu aku menggeleng.
“Pegang,” kataku. “Sampai hari pernikahan. Kamu yang nyetir. Lima kilo per jam.”
Dimas menatapku. Matanya merah. Bibirnya gemetar.
“Bang,” bisiknya. “Boleh sekarang? Lima detik aja. Duduk. Nggak nyalain mesin.”
Aku menatap Dewi. Ia mengangguk sambil tertawa.
Jadi pukul dua lewat empat puluh pagi, kami semua keluar ke carport. Mama dalam daster batik. Bu Sumi dengan sendok sayur. Mbok Darmi dengan cetakan nasi. Teddy dengan piyama garis-garis dan ponsel yang masih merekam. Dewi dengan cincin melati di jarinya, menggenggam tanganku.
Dimas membuka pintu pengemudi Lexus hitam.
Ia duduk di kursi itu. Kursi yang tidak pernah disetir siapa pun selain aku, dan satu kali, empat kilometer per jam, oleh laki-laki dengan sandal jepit hitam di kakinya yang bengkak.
Dimas memegang setir dengan dua tangan.
Lima detik.
Ia menangis.
Dari gerbang, terdengar bunyi peluit. Pak Jono, yang entah bagaimana sudah terbangun di posnya, berdiri tegak di depan gerbang dengan seragam satpam yang belum dikancingkan dan memberi hormat ke arah mobil.
“Selamat, Bu Bos!” teriaknya. “Selamat, Pak Bos!”
Dewi tertawa sampai harus bersandar di bahuku.
Aku memeluknya dari samping, di carport rumahku sendiri, jam tiga kurang dua puluh pagi, dikelilingi orang-orang yang menangis dan tertawa dan memegang sendok sayur dan cetakan nasi berbentuk hati.
Lalu aku mengeluarkan buku cokelat dan pulpen dari saku.
Aku membuka halaman tengah. Di sebelah baris Menikah dengan Dewi, aku menulis dengan huruf kecil:
Dilamar. Diterima. Dapur, jam dua.
Aku tidak mencoretnya. Belum.
Aku akan mencoretnya di hari pernikahan. Dengan Dimas yang menyetir lima kilometer per jam, dengan pita satin putih dua puluh ribu rupiah di kap mobil, dan dengan anting mutiara almarhumah ibu Bu Lies di telinga perempuan yang kucintai.
Dewi menatap tulisan itu dari balik bahuku.
“Kenapa nggak dicoret?” tanyanya pelan.
“Belum selesai,” kataku. “Satu garis lurus. Nanti. Waktu kamu sudah resmi nyuruh aku tidur jam sepuluh tiga puluh. Seumur hidup.”
Dewi menatapku lama. Lalu ia berjinjit dan menempelkan dahinya ke daguku.
“Sepuluh tiga puluh,” bisiknya. “Nggak boleh nawar.”
“Sepuluh empat puluh lima.”
“Ga.”
“Sepuluh tiga puluh,” kataku.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menawar.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup reading
- 41 Epilog — Nyala