Chapter Nine

Angkringan, Bukan Rooftop

POV: Valerie

Aku menyewa seluruh rooftop.

Restoran di lantai 56 sebuah hotel di Sudirman, dengan dinding kaca yang menghadap ke lampu-lampu kota, meja kayu jati yang panjangnya cukup untuk dua puluh orang tapi malam ini hanya akan dipakai berdua, dan seorang pemain biola yang kubayar untuk memainkan lagu-lagu lama sepanjang malam. Aku memesan menu tujuh hidangan. Aku memilih anggurnya sendiri. Aku memastikan tidak ada tamu lain, tidak ada wartawan, tidak ada kamera.

Kencan resmi pertama kami. Aku ingin semuanya sempurna.

“Val,” kata Kiki di telepon, jam lima sore, “kamu yakin dia mau ke tempat kayak gitu?”

“Kenapa nggak mau?”

“Dia teknisi lift, Val. Dia naik motor. Dia makan bubur dua belas ribu.”

“Justru itu. Aku mau kasih dia sesuatu yang belum pernah dia rasain.”

Kiki diam sebentar. Lalu ia berkata, dengan nada yang biasanya ia pakai untuk memberi tahu bahwa proposal investasiku ada lubangnya: “Val. Laki-laki yang nggak pernah minta apa-apa itu bukan karena belum pernah ngerasain. Kadang karena dia nggak mau ngerasa berutang.”

Aku tidak mendengarkan. Waktu itu aku belum mau mendengarkan.

Jam tujuh kurang sepuluh, aku sudah duduk di meja jati itu dengan gaun hitam yang punggungnya terbuka sampai pinggang, rambut digerai bergelombang, anting-anting berlian kecil yang bergoyang setiap kali aku menoleh ke arah lift. Pemain biola mulai memainkan lagu pertama. Lampu kota berkelip di bawah seperti hamparan bintang yang jatuh.

Jam tujuh lewat lima, HP-ku bergetar.

Val, saya sudah di lobby hotel.

Tapi saya nggak dibolehin naik.

Satpamnya bilang saya harus pakai sepatu pantofel.

Aku menatap pesan itu. Lalu aku berdiri, mengangkat gaunku sedikit, dan berjalan ke lift dengan kecepatan orang yang akan memecat seseorang.


Ia berdiri di dekat pintu putar lobby hotel, di samping seorang satpam berbadan besar yang wajahnya sudah pucat karena baru menyadari siapa yang akan datang.

Ia memakai kemeja batik lengan panjang warna cokelat tua yang jelas disetrika dengan sangat hati-hati, celana kain hitam, dan sepatu kets putih yang sudah dicuci bersih tapi tetap kets. Rambutnya disisir rapi, sedikit basah. Ia memegang helm di satu tangan.

Dan ia tampan. Ia sangat tampan, dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan sepatu.

“Pak,” kataku kepada satpam itu.

“B-Bu Valerie. Maaf, Bu, saya tidak tahu ini tamu Ibu. Peraturan hotel...”

“Peraturan hotel bilang tamu harus pakai sepatu pantofel.”

“I-iya, Bu.”

“Hotel ini milik keluarga Danuarta, kan?”

Satpam itu mengangguk dengan wajah orang yang tahu ke mana arah percakapan ini.

“Bilang ke Pak Reza,” kataku, “mulai besok peraturannya diganti. Tamu boleh pakai sepatu apa saja, asal hatinya bersih.”

“Val,” kata Juna pelan.

Aku menoleh. Ia menatapku. Bukan menatap gaunku, atau anting-antingku, atau punggungku yang terbuka. Ia menatap wajahku, dengan ekspresi yang membuatku lupa sedang marah pada siapa.

“Kamu cantik banget,” katanya.

Satpam itu, dan dua resepsionis di meja depan, dan seorang tamu bule yang sedang check-in, semuanya diam.

Aku juga diam. Aku, yang bisa membalas apa saja, yang selalu punya kalimat berikutnya, berdiri di tengah lobby hotel dengan wajah panas dan tidak bisa menemukan satu kata pun.

Ia menggaruk tengkuknya, telinganya merah. “Maaf. Itu kelepasan.”

“Jangan minta maaf,” bisikku. “Bilang lagi.”

“Nanti.”

“Kenapa nanti terus?”

Ia tersenyum, sedikit malu, sedikit nakal. Senyum yang baru. Senyum yang belum pernah kulihat sebelum hari ini. “Kamu yang ngajarin, Val. Nunggu itu bagian dari serunya.”

Lalu ia menatap lift hotel, menatap gaunku sekali lagi, menatap sepatu ketsnya sendiri, dan berkata dengan suara yang sangat hati-hati:

“Val. Boleh saya minta sesuatu?”

Jantungku melonjak. “Apa?”

“Bukan itu.” Ia buru-buru menambahkan, wajahnya merah. “Yang lain. Boleh nggak, malam ini kita nggak ke atas? Saya mau ajak kamu ke tempat saya. Saya yang bayar.”

Aku menatapnya.

Kalimat Kiki tiba-tiba kembali di kepalaku. Kadang karena dia nggak mau ngerasa berutang.

Di atas, di lantai 56, pemain biola sedang memainkan lagu kedua untuk meja kosong. Anggur yang kupilih sendiri sedang bernapas di dalam dekanter kristal. Tujuh hidangan sedang disiapkan oleh koki yang pernah memasak untuk dua presiden.

Dan laki-laki di depanku, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sedang meminta sesuatu.

“Boleh,” kataku.


Aku naik motor.

Dengan gaun hitam yang punggungnya terbuka. Dengan anting-anting berlian. Dengan helm cadangan Tari yang warnanya merah jambu dan ada stiker kucing di belakangnya.

Juna menatapku dengan cemas waktu aku naik ke jok belakang. “Gaunnya nggak apa-apa?”

“Nggak.”

“Nanti kena angin.”

“Biarin.”

“Nanti kotor.”

“Jun.” Aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya. Erat. Seerat mungkin. Dadaku menempel di punggungnya, dan aku bisa merasakan otot-ototnya menegang di balik kemeja batik itu. “Jalan.”

Ia diam lama. Lalu, dengan suara yang tidak terlalu stabil: “Val, pegangannya ada di belakang jok.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa pegang saya?”

“Karena pegangan jok nggak wangi sabun.”

Ia menyalakan mesin motor tanpa menjawab. Tapi dari jarak sedekat ini, dengan pipiku menempel di bahunya, aku bisa melihat telinganya merah padam di bawah helm.

Kami meninggalkan hotel lantai 56 dan pemain biolanya. Aku mengirim satu pesan ke Kiki sebelum motor melaju: Rooftop kosong. Kamu makan di sana. Bawa siapa aja.

Lalu aku menyimpan HP-ku, memejamkan mata, dan membiarkan Jakarta malam lewat di sekelilingku. Angin menampar wajahku, menerbangkan rambutku keluar dari helm, membuat gaunku berkibar di sekitar lutut. Lampu-lampu jalan berkelebat. Klakson. Asap knalpot. Bau sate dari pinggir jalan.

Aku sudah naik mobil mewah ke mana-mana. Aku sudah naik jet pribadi Papa ke Bali. Aku sudah naik kapal pesiar di Mediterania.

Aku belum pernah merasa sehidup ini.

Di lampu merah, Juna menoleh sedikit. “Kamu nggak apa-apa?”

“Lebih erat boleh?” tanyaku.

“Apanya?”

Aku tidak menjawab. Aku mengencangkan pelukanku di pinggangnya, sampai tidak ada udara sama sekali di antara punggungnya dan dadaku.

Ia menghadap ke depan lagi dengan sangat cepat, dan aku mendengarnya bergumam sesuatu di balik helm yang terdengar seperti doa.


Angkringan itu ada di pinggir rel kereta, dekat stasiun kecil yang namanya tidak kukenal.

Gerobak kayu dengan terpal oranye. Tiga bangku panjang. Lampu petromaks yang mendesis. Di atas gerobak, berjejer bungkusan nasi kucing seukuran kepalan tangan, sate usus, sate telur puyuh, tempe mendoan, dan ceret besar berisi wedang jahe yang mengepulkan uap.

Penjualnya laki-laki tua berkulit gelap dengan kaus kutang dan sarung, rambutnya putih semua. Ia mengangkat kepala waktu motor kami berhenti, lalu tersenyum lebar memperlihatkan gigi yang tinggal separuh.

“Juna! Le!”

“Mbah Karto.”

“Tumben bawa...” Mbah Karto berhenti. Ia menatapku. Ia menatap gaunku, anting-antingku, helm merah jambu berstiker kucing di kepalaku. Lalu ia menatap Juna lagi. “Le. Iki sopo?”

“Pacar saya, Mbah.”

Kata itu.

Juna mengatakannya dengan begitu biasa, seperti menyebut namanya sendiri. Tanpa ragu, tanpa gugup. Pacar saya. Lalu ia membantuku melepas helm, dengan hati-hati supaya rambutku tidak tersangkut, dan aku berdiri di sana, di pinggir rel kereta, dengan rambut berantakan dan jantung yang tidak bisa tenang.

Mbah Karto menatapku lama sekali. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba pelan dan lembut, ia berkata dalam bahasa Jawa yang tidak kumengerti, dan Juna tersenyum.

“Mbah bilang apa?” bisikku.

“Mbah bilang kamu kayak bidadari salah turun.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Saya nggak jawab.” Ia menatapku. “Mbah benar.”


Aku makan lima bungkus nasi kucing.

Lima. Aku, yang biasanya hanya makan setengah porsi salad di siang hari dan melupakan makan malam. Aku makan lima bungkus nasi kucing dengan sambal teri, tiga tusuk sate usus, dua tempe mendoan, dan dua gelas wedang jahe, duduk di bangku kayu panjang di sebelah Juna, dengan gaun hitamku yang mahal kena tetesan kecap.

Juna menatapku makan dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

“Kenapa?” tanyaku dengan mulut penuh.

“Kamu makan.”

“Iya.”

“Banyak.”

“Iya. Kenapa?”

Ia diam. Lalu ia tersenyum, pelan, dan menunduk menatap gelas wedang jahenya.

“Senang aja,” katanya. “Lihat kamu makan.”

Kalimat sederhana. Empat kata. Dan dadaku tiba-tiba terlalu sempit untuk semua yang ada di dalamnya.

Lima tahun lalu, aku tidak bisa makan. Lima tahun lalu, setiap suapan terasa seperti menelan logam, dan perawat harus memaksaku, dan Mama menangis di luar kamar setiap kali piringku kembali utuh. Aku tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun yang bukan keluarga. Aku tidak akan menceritakannya malam ini.

Tapi laki-laki ini, tanpa tahu apa-apa, senang melihatku makan.

“Jun,” kataku.

“Hm.”

“Ceritain sesuatu.”

“Soal apa?”

“Soal kamu. Apa aja.” Aku menyandarkan bahuku ke bahunya. “Kenapa kamu selalu bilang ‘tenang, sebentar lagi aman’?”

Ia diam lama. Kereta lewat di belakang kami, bergemuruh, lampunya menyapu wajah kami sesaat lalu hilang. Mbah Karto menuang wedang jahe ke gelas pelanggan lain.

“Dari Bapak,” kata Juna akhirnya.

Aku menahan napas.

“Waktu saya kecil, rumah kami di kampung sering mati lampu. Saya takut gelap. Takut banget. Saya nangis sampai muntah.” Ia memutar gelas wedang jahenya di antara jari. “Bapak itu teknisi listrik. Setiap mati lampu, dia nggak langsung benerin. Dia duduk dulu di sebelah saya, pegang tangan saya, terus bilang, ‘Tenang, Le. Sebentar lagi aman.’ Terus dia hitung sampai sepuluh. Terus dia nyanyi lagu dangdut yang jelek banget.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Terus dia baru berdiri, benerin sekringnya. Lampunya nyala.” Juna tersenyum ke gelasnya. “Saya nggak pernah tahu dia sengaja nunggu atau memang benerin sekringnya lama. Tapi setiap kali lampunya nyala, saya udah nggak takut. Karena dia udah bilang aman, dan dia nggak pernah bohong.”

“Dan lagunya?” bisikku.

“Lagunya saya bikin ulang. Lagu Bapak lebih jelek.” Ia tertawa kecil. “Waktu dia meninggal, saya udah kerja di lift. Saya sadar kerjaan saya sama kayak kerjaan Bapak dulu. Bukan benerin mesin. Benerin takutnya orang dulu. Mesinnya belakangan.”

Aku menatapnya. Lampu petromaks mendesis di atas kami, cahayanya kuning hangat di wajahnya. Ada sedikit sisa sambal di sudut bibirnya.

Lima tahun aku membawa kalimat itu ke mana-mana. Tenang. Sebentar lagi aman. Lima tahun aku mengulangnya di kepala setiap kali takut. Di ruang pemeriksaan. Di ruang rapat. Di lift yang bergetar terlalu lama.

Dan ternyata kalimat itu bukan miliknya. Kalimat itu milik seorang ayah di kampung, yang duduk di samping anaknya yang ketakutan di dalam gelap, dan tidak pernah bohong.

Kalimat itu sampai kepadaku dari tangan ke tangan. Dari seorang ayah, ke anaknya, ke orang-orang asing yang ketakutan.

“Val?” Juna menoleh. Wajahnya berubah. “Kamu nangis lagi?”

“Sambalnya pedas.”

“Kamu nggak pakai sambal dari tadi.”

Aku tertawa, dan menyeka pipiku dengan punggung tangan, dan menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Bapakmu pasti orang baik,” kataku.

“Iya.”

“Kamu kayak dia.”

Juna tidak menjawab. Tapi aku merasakan bahunya menegang, lalu perlahan, sangat perlahan, melunak di bawah pipiku.


Jam sepuluh malam, di bawah pohon ketapang di samping parkiran motor, jauh dari lampu petromaks dan suara Mbah Karto yang sedang bercerita soal zaman Belanda kepada pelanggan lain, Juna berhenti berjalan.

Aku berhenti juga. Aku masih memeluk lengannya, seperti di pasar malam, seperti sepanjang malam ini.

“Val,” katanya.

Suaranya berbeda. Pelan. Berat.

“Hm?”

Ia berbalik menghadapku. Di bawah pohon ketapang, cahaya lampu jalan jatuh dari sela-sela daun, berbintik-bintik di wajahnya. Ia menatapku lama. Lalu, perlahan, ia mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajahku.

Tangannya hangat. Kasar. Gemetar sedikit.

“Boleh saya minta sesuatu?” katanya.

Jantungku berhenti.

“Minta,” bisikku. “Minta yang bener.”

Ia menarik napas. Ibu jarinya mengusap pipiku, pelan, seperti mengusap sesuatu yang mudah tergores.

“Boleh aku cium kamu?”

Aku.

Bukan saya. Untuk pertama kalinya, ia bilang aku.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku tidak bisa. Aku hanya mengangguk, sekali, dan memejamkan mata.

Dan ia menciumku.

Tidak seperti di lobby. Di lobby, aku yang mencium, dan ia membeku. Di lobby, aku mencuri. Ini bukan curian. Ini pemberian.

Ia menciumku pelan dulu, hati-hati, seperti orang yang mengetuk pintu. Bibirnya hangat dan sedikit manis karena wedang jahe. Lalu, ketika aku menjawab, ketika tanganku naik ke kerah kemeja batiknya dan menariknya lebih dekat, ia berhenti mengetuk.

Ia menciumku dalam. Dalam dan lama, seperti orang yang sudah menahan napas terlalu lama dan akhirnya diizinkan bernapas. Tangannya turun dari wajahku ke tengkukku, jemarinya masuk ke rambutku, dan tangan satunya menemukan punggungku. Punggungku yang terbuka. Kulit ke kulit. Telapak tangannya yang kasar dan hangat menekan pelan di tulang belakangku, dan seluruh tubuhku bergetar seperti lift yang baru dinyalakan.

Aku tidak tahu berapa lama.

Aku hanya tahu bahwa pohon ketapang di atas kami menjatuhkan selembar daun di bahuku, dan kereta lewat lagi di belakang kami, bergemuruh, lampunya menyapu kami sesaat, dan aku tidak peduli.

Ketika akhirnya ia menjauhkan wajahnya, hanya sedikit, hanya cukup untuk bernapas, dahinya tetap menempel di dahiku. Napas kami berdua pendek dan berat.

“Val,” bisiknya.

“Hm.”

“Maaf. Aku kelamaan.”

Aku tertawa, gemetar, dan meremas kerah kemejanya. “Kelamaan mintanya, atau kelamaan ciumnya?”

“Dua-duanya.”

“Yang pertama iya,” kataku. “Yang kedua kurang.”

Ia menarik napas tajam. Matanya terbuka, gelap dan basah, dan ia menatap bibirku.

“Kamu lihat bibirku lagi,” bisikku.

“Iya.”

“Mau minta lagi?”

Ia tidak menjawab. Ia menciumku lagi. Kali ini tanpa bertanya.


Waktu kami akhirnya kembali ke motor, rambutku berantakan, lipstikku sudah hilang seluruhnya, dan gaun hitamku punya noda kecap dan selembar daun ketapang tersangkut di talinya.

Juna memasangkan helm merah jambu di kepalaku. Pelan. Hati-hati. Lalu, sebelum mengunci talinya, ia menunduk dan mencium dahiku.

“Val,” katanya.

“Hm.”

“Aku masih nggak tahu kenapa kamu pilih aku.”

Aku menatapnya dari balik kaca helm yang setengah terbuka. Lampu jalan di belakangnya, dedaunan ketapang di atasnya, dan wajahnya yang serius, terlalu serius, seperti orang yang takut terbangun dari mimpi.

“Aku nggak pura-pura, Jun,” kataku. “Dari awal.”

“Aku tahu.”

“Nggak, kamu belum tahu.” Aku memegang kedua tangannya, yang masih di tali helmku. “Tapi nanti kamu tahu. Dan waktu kamu tahu, aku mau kamu ingat malam ini. Ingat kamu yang minta. Ingat aku yang jawab.”

Ia menatapku lama. Aku tahu ia tidak mengerti. Aku tahu ia ingin bertanya.

Ia tidak bertanya.

“Aku ingat,” katanya.

Ia mengunci tali helmku. Kami naik motor. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya, dan kali ini ia tidak bilang soal pegangan di belakang jok.


Jam sebelas malam, di apartemenku, aku membuka HP.

Empat belas pesan dari Kiki.

VAL.

VAL KAMU DI MANA.

AKU DI ROOFTOP.

AKU NGGAK SENDIRI.

REZA DI SINI.

AKU NGGAK NGAJAK DIA. DIA DATANG KARENA INI HOTELNYA.

DIA DUDUK DI DEPANKU.

DIA MAKAN TUJUH HIDANGANMU.

VAL, DIA MINTA PEMAIN BIOLANYA MAININ LAGU DANGDUT.

VAL, AKU KETAWA.

VAL, AKU NGGAK BOLEH KETAWA SAMA REZA.

VAL, DIA NGAJAK AKU MAKAN LAGI MINGGU DEPAN.

VAL, AKU BILANG IYA.

VAL, AKU BENCI KAMU.

Aku tertawa sampai perutku sakit. Lalu aku membalas satu kata:

Sama-sama.

Lalu aku membuka satu pesan lagi. Dari Pak Darto, yang hanya mengirim pesan setahun sekali saat Lebaran.

Bu. Insiden 19. Pukul 22.04. Pohon ketapang. Laporan lengkap menyusul.

Bu. Saya ikut senang.

Aku menaruh HP di nakas, di atas laci tempat HP lama itu tersimpan, dan memeluk boneka kelinci, dan menyentuh bibirku sendiri dengan ujung jari.

Seperti dia, di malam pertama, di kasur busa tipisnya.

Ia yang minta. Aku yang jawab.

Malam ini, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak menghitung sampai sepuluh sebelum tidur.