Chapter Nineteen
Kamu Pernah Menolakku
POV: Valerie
Yang lain juga kamu?
Lima kata. Diucapkan pelan, di tengah kantorku, oleh laki-laki yang berdiri di atas karpet abu-abu dengan map kontrak di tangan dan wajah yang tidak bisa kubaca.
Aku pernah melihat Juna takut. Di lift yang berhenti, waktu aku menempel di dinding, ia takut untukku. Aku pernah melihatnya marah. Sedikit. Waktu Reza merangkulnya di lobby, rahangnya mengencang. Aku pernah melihatnya cemburu, malu, bingung, menangis.
Aku belum pernah melihat wajah ini.
Wajah ini kosong. Bukan kosong karena tidak merasakan apa-apa. Kosong seperti ruangan yang baru saja dikosongkan, semua perabotnya diangkut, dan yang tersisa hanya bekas-bekas di lantai tempat sesuatu pernah berdiri.
“Jun,” kataku.
“Iya atau nggak, Val.”
Aku mencengkeram ujung meja. Kukuku menekan kayu sampai sakit.
“Iya.”
Ia tidak bergerak. Tidak berkedip. Map kontrak di tangannya tidak bergetar sedikit pun.
“Semuanya,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Kontraknya, iya. Promosimu, aku yang kirim rekomendasi, iya.” Suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri. Seperti suara orang lain. Seperti suara CEO yang sedang membacakan laporan kerugian di depan dewan komisaris. “Beasiswa Tari...”
“Jangan.”
“Jun, Tari itu...”
“Jangan, Val.” Suaranya tidak naik. Itu yang paling menakutkan. Suaranya tetap pelan, tetap datar. “Jangan bilang Tari lolos sendiri. Aku nggak bisa percaya apa-apa lagi sekarang.”
Kalimat itu menghantamku seperti pintu lift yang menutup terlalu cepat.
Aku nggak bisa percaya apa-apa lagi sekarang.
Aku membuka mulut untuk menjelaskan. Bahwa Tari memang mendaftar sendiri. Bahwa nilainya memang tinggi. Bahwa aku hanya menelepon Mama dan meminta pencairannya dipercepat, karena aku tahu cicilan motor Juna tinggal enam bulan dan ia makan nasi kucing tiga kali sehari di minggu terakhir sebelum gajian. Bahwa aku tidak membeli beasiswa itu. Bahwa aku hanya mempercepat sesuatu yang memang sudah datang.
Tapi aku menatap wajahnya yang kosong, dan aku tahu, aku tahu dengan pasti seperti tahu angka di halaman tujuh tidak cocok dengan halaman dua belas, bahwa apa pun yang kukatakan sekarang akan terdengar seperti alasan.
Aku menutup mulutku.
“Kenapa?” tanyanya.
Satu kata. Ia tidak bertanya kenapa kamu bohong atau kenapa kamu nggak bilang. Hanya kenapa.
Aku berjalan memutari meja. Pelan. Kakiku terasa berat, seperti naik tangga rusun di lantai empat. Aku berhenti di depannya. Satu meter. Jarak yang sama dengan malam itu di kamarnya, waktu ia duduk di lantai dan aku di kasur busa.
Malam itu jarak satu meter terasa dekat. Sekarang terasa seperti lubang lift.
“Karena aku tahu kamu,” kataku.
Ia diam.
“Aku tahu kamu kerja tiga sif waktu Bapak sama Ibumu meninggal. Aku tahu kamu berhenti kuliah. Aku tahu motormu remnya bunyi dari tiga bulan lalu dan kamu nggak servis karena uangnya buat uang semester Tari. Aku tahu kamu makan nasi kucing tiga kali sehari di minggu terakhir sebelum gajian. Tari yang bilang.”
Rahangnya mengencang.
“Aku tahu kamu nggak pernah minta apa-apa,” lanjutku, suaraku mulai goyah. “Aku tahu kalau aku nawarin langsung, kamu bakal nolak. Kayak jas itu. Kayak sepatu itu. Kayak kerjaan dari Papa. Kamu selalu nolak, Jun.”
“Jadi kamu kasih diam-diam.”
“Aku cuma mau hidupmu sedikit lebih ringan.”
Ia menatapku. Lama.
“Sedikit lebih ringan,” ulangnya pelan.
“Cuma itu. Aku sumpah, Jun. Aku nggak minta apa-apa balik. Aku nggak nagih. Aku udah bilang di villa...”
“Kamu bilang nggak ada tagihannya.” Ia mengangguk pelan. “Kamu bilang aku boleh nerima tanpa takut.”
“Iya.”
“Kamu bilang itu waktu aku udah nerima, Val.” Suaranya akhirnya retak di tengah. Sedikit. Seperti retakan rambut di kaca panel. “Kontraknya udah jalan empat bulan. Promosiku udah di meja HRD. Kamu bilang aku boleh nerima, padahal aku udah nerima dari awal. Aku cuma nggak tahu.”
Aku tidak bisa menjawab.
Karena ia benar.
Ia meletakkan map kontrak di meja kopi. Pelan. Dengan hati-hati, seperti meletakkan komponen yang mudah rusak. Lalu ia berdiri lagi, tangannya kosong sekarang, dan tidak tahu harus ditaruh di mana. Tangannya menggantung di sisi tubuhnya, seperti di lobby hari pertama, setelah aku menciumnya.
Aku melangkah maju. Setengah langkah.
“Jun.”
Ia tidak mundur. Tapi ia juga tidak maju.
“Kalau kamu mau marah,” kataku pelan, dan aku tahu ini bodoh, aku tahu ini bukan waktunya, tapi itu satu-satunya bahasa yang aku punya sekarang, “marah sambil peluk aku.”
Ia menatapku. Sesuatu lewat di matanya. Sesuatu yang hangat, yang sangat cepat, lalu padam lagi.
“Jangan, Val,” katanya.
“Jangan apa?”
“Jangan bikin aku pengen peluk kamu sekarang.”
Dadaku sakit. Sakit yang tajam, persis di bawah bekas luka di tulang selangka.
“Kenapa nggak boleh?” bisikku.
“Karena kalau aku peluk kamu sekarang, aku bakal lupa semua ini. Aku bakal bilang nggak apa-apa. Aku bakal pulang, terus besok pagi bangun, terus bersyukur lagi. Ke foto Bapak. Buat sesuatu yang kamu beli.” Suaranya bergetar. “Aku nggak mau itu, Val. Aku nggak mau lupa.”
Aku harus mengatakannya sekarang. Aku tahu. Kalau tidak sekarang, ia akan menemukannya sendiri nanti, seperti ia menemukan kontrak itu, dan itu akan lebih buruk.
“Ada satu lagi,” kataku.
Ia menegang.
“Bukan soal uang,” kataku cepat. “Bukan kontrak. Bukan promosi. Ini... ini soal kamu.”
“Soal aku?”
Aku menarik napas. Napasku pendek, seperti di lift yang berhenti.
“Dua tahun lalu,” kataku. “Registri telepon kamu. Mereka tanya, apakah kamu bersedia ketemu sama penerima selmu.”
Juna diam. Wajahnya, yang tadi kosong, sekarang berubah. Seperti orang yang mendengar nama yang sudah lama dilupakan dan tiba-tiba ingat.
“Kamu ingat?” bisikku.
“Ingat.”
“Kamu jawab apa?”
Ia tidak menjawab. Aku tahu ia tidak perlu menjawab. Aku tahu jawabannya. Aku sudah tahu selama dua tahun.
“Itu aku, Jun,” kataku, dan suaraku pecah. “Aku yang minta ketemu. Aku yang nulis surat ke registri. Tiga halaman. Aku tulis ulang tujuh kali. Aku bilang aku mau bilang terima kasih langsung. Aku mau lihat wajahmu. Aku mau tahu kamu siapa.”
Air mataku jatuh. Aku tidak menyekanya.
“Registri telepon aku dua minggu kemudian. Mereka bilang, maaf, Bu. Donor tidak bersedia dipertemukan.”
Hening.
“Kamu nolak aku,” kataku.
Juna menatapku. Wajahnya sudah tidak kosong lagi. Wajahnya sekarang penuh. Terlalu penuh. Seperti lift yang kelebihan beban dan alarmnya berbunyi tapi tidak ada yang mendengar.
“Val...”
“Dua tahun aku mikir kenapa.” Aku melangkah maju lagi. Sekarang hanya setengah meter. “Aku pikir kamu benci aku. Aku pikir kamu nyesel donor. Aku pikir kamu mungkin udah meninggal, atau sakit, atau pindah ke luar negeri. Aku pikir aku nggak cukup penting buat kamu temui.”
“Bukan gitu.”
“Terus kenapa?”
Juna memejamkan mata. Lama. Ketika ia membukanya lagi, matanya basah.
“Karena aku nggak mau kamu ngerasa utang,” katanya.
Aku membeku.
“Waktu registri telepon,” lanjutnya pelan, “petugasnya bilang penerimanya perempuan. Muda. Sehat sekarang. Mau ketemu buat bilang terima kasih.” Ia menatap lantai. “Terus aku bayangin. Perempuan muda itu ketemu aku. Lihat aku. Tukang lift. Rusun lima lantai tanpa lift. Motor bebek remnya bunyi. Terus dia bakal ngerasa harus ngelakuin sesuatu. Harus bales. Harus kasih sesuatu. Terus setiap ulang tahun dia bakal inget, ada orang di Jakarta Timur yang dia utangin nyawa.”
Ia mengangkat kepala.
“Aku nggak mau ada orang yang hidup sambil ngerasa utang sama aku, Val. Aku tahu rasanya. Aku nggak mau kamu ngerasain itu.”
“Jadi kamu nolak.”
“Aku nolak bikin kamu ngerasa utang.” Suaranya bergetar. “Bukan nolak kamu.”
“Itu sama aja, Jun.”
“Nggak sama.”
“Sama!” Suaraku naik untuk pertama kalinya. Aku tidak bisa menahannya. “Dua tahun aku nunggu jawaban yang nggak pernah dateng! Dua tahun aku mikir aku nggak penting! Kamu nggak tahu rasanya ditolak sama orang yang...”
Aku berhenti. Napasku tersendat.
“Sama orang yang apa?” tanyanya pelan.
Sama orang yang suaranya bikin aku mau hidup.
Aku tidak bisa mengatakannya. Bukan sekarang. Bukan dengan cara ini. Kalau aku mengatakannya sekarang, di tengah semua ini, kalimat itu akan terdengar seperti alasan lagi. Seperti satu lagi hal yang kusembunyikan. Seperti satu lagi bukti bahwa aku menyimpan rahasia dan mengeluarkannya hanya kalau terpojok.
“Sama orang yang nyelamatin aku,” kataku akhirnya.
Ia menatapku. Ia tahu ada kalimat lain di balik kalimat itu. Aku melihatnya di matanya. Tapi ia tidak bertanya. Ia tidak pernah bertanya.
Dan untuk pertama kalinya, aku membenci bahwa ia tidak pernah bertanya.
“Jadi kamu cari aku,” katanya pelan. “Setelah aku nolak.”
“Iya.”
“Lewat bubur.”
“Iya.”
“Terus kamu nemu aku. Terus kamu atur supaya vendorku dapat kontrak di gedungmu. Supaya aku ada di sana. Di hari pertama.”
Aku tidak menjawab.
“Terus kamu cium aku,” lanjutnya, “dan kamu bilang kamu serius.”
“Aku memang...”
“Aku tahu kamu serius, Val.” Ia menatapku. Matanya merah. “Itu masalahnya. Kamu nggak main-main. Kamu beneran ngerasa itu semua. Tapi aku nggak tahu kamu ngerasain apa. Cinta? Atau terima kasih yang kegedean?”
Kalimat itu jatuh di antara kami seperti beban penyeimbang yang lepas dari tali.
“Jun.” Suaraku nyaris tidak ada. “Kamu nggak boleh ngomong gitu.”
“Aku harus ngomong gitu. Karena aku nggak bisa bedain lagi.” Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah map kontrak di meja kopi. “Kontraknya. Promosinya. Beasiswanya. Dua ratus mangkuk bubur. Skincare Tari. Kamu nggak pernah berhenti ngasih, Val. Dari hari pertama. Dan aku nggak tahu, aku beneran nggak tahu, apakah kamu ngasih karena sayang, atau karena kamu lagi bayar sesuatu yang aku kasih lima tahun lalu.”
“Aku nggak bayar apa-apa!”
“Kamu mungkin nggak sadar.”
“Aku sadar!” Aku menangis sekarang. Keras. Di kantorku sendiri, di lantai 40, dengan dinding kaca yang menghadap seluruh Jakarta. “Aku sadar semua yang aku lakuin! Aku sadar waktu aku cium kamu! Aku sadar waktu aku duduk di kasurmu! Aku sadar waktu aku bilang aku sayang kamu!”
Juna menatapku. Ia tidak bergerak. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya, seperti menahan diri dari sesuatu.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Aku tahu kamu sadar.”
“Terus?”
“Terus aku yang nggak bisa percaya.” Ia menelan ludah. “Itu bukan salahmu, Val. Itu salahku. Ada sesuatu yang rusak di aku. Udah lama. Sebelum kamu.”
Ia berbalik.
Aku melihat punggungnya, seragam abu-abu dengan tanda pengenal SUPERVISOR yang dipasang sedikit miring, dan aku tahu ia akan pergi. Aku tahu dari cara bahunya turun. Seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu dan baru akan memberitahu dirinya sendiri.
“Jun.”
Ia berhenti di ambang pintu kaca. Tidak menoleh.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke ruang mesin. Lift nomor tiga bantalan rolnya aus. Harus diganti minggu ini.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku butuh waktu, Val.”
“Berapa lama?”
Ia tidak menjawab.
Aku berjalan ke arahnya. Cepat. Aku tidak peduli Kiki di koridor, atau Pak Darto, atau siapa pun yang mungkin melihat. Aku sampai di belakangnya dan memeluknya dari belakang. Lenganku melingkar di pinggangnya, wajahku di punggungnya, di seragam abu-abu yang bau oli dan sabun cuci.
Ia membeku.
“Jangan pergi,” bisikku di punggungnya. “Kamu janji. Di bawah terpal. Kamu bilang kamu nggak pergi.”
“Malam itu,” katanya pelan. “Aku bilang malam itu aku nggak ke mana-mana.”
“Jun...”
Tangannya terangkat. Pelan. Menyentuh tanganku yang melingkar di pinggangnya. Jemarinya hangat, kasar, gemetar.
Untuk satu detik, aku pikir ia akan berbalik. Memelukku. Bilang nggak apa-apa.
Lalu, dengan sangat hati-hati, seperti melepas kabel yang masih teraliri listrik, ia membuka lingkaran lenganku dari pinggangnya. Satu tangan dulu. Lalu tangan yang lain.
Ia tidak mendorongku. Ia hanya melepaskanku.
“Makan siang dulu, Val,” katanya, tanpa menoleh. Suaranya serak. “Kamu belum makan.”
Lalu ia pergi.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di ambang pintu kaca itu.
Aku mendengar langkahnya di koridor, teredam karpet. Aku mendengar Kiki memanggil namanya, pelan, sekali. Aku mendengar pintu tangga darurat terbuka dan tertutup. Ia tidak naik lift. Ia naik tangga ke ruang mesin.
Lalu sunyi.
Kiki muncul di ambang pintu. Wajahnya pucat. Tabletnya tergantung lemas di tangan.
“Val.”
Aku tidak menjawab.
“Val, aku denger semuanya. Maaf. Dindingnya kaca.”
Aku berjalan kembali ke kursiku. Duduk. Menatap layar laptop yang masih menunjukkan laporan kuartal yang tadi kubaca. Angka-angka. Grafik. Proyeksi. Semuanya masuk akal. Semuanya bisa dijelaskan.
“Dia nanya,” kataku pelan, “apakah aku cinta dia, atau cuma terima kasih yang kegedean.”
Kiki duduk di sofa tamu. Di ujung. Seperti Juna hari pertama.
“Terus kamu jawab apa?”
“Aku nggak bisa jawab, Ki.” Aku menatap tanganku. “Karena aku punya jawabannya. Aku punya buktinya. Di laci. Di apartemen. Aku bisa kasih dia bukti bahwa aku jatuh cinta sama dia sebelum aku tahu dia yang donor. Sebelum transplantasi. Sebelum semuanya.”
Kiki menatapku. Ia tahu apa yang kumaksud. Ia satu-satunya orang selain Mama yang pernah mendengar isi HP lama itu.
“Terus kenapa nggak kamu kasih?”
“Karena aku mau dia percaya tanpa bukti.” Air mataku jatuh ke keyboard laptop. “Aku mau dia percaya karena dia kenal aku. Bukan karena rekaman.”
“Val...”
“Kalau aku kasih bukti sekarang, dia bakal percaya. Tapi dia bakal percaya ke rekamannya. Bukan ke aku.” Aku menyeka mataku dengan punggung tangan. “Aku capek, Ki. Aku capek ngatur semuanya. Kontrak, promosi, beasiswa. Aku ngatur semua supaya hidupnya ringan, dan sekarang dia nggak bisa percaya satu pun. Kalau aku ngatur ini juga, kalau aku kasih bukti yang pas di waktu yang pas, itu sama aja kayak kontrak. Itu sama aja kayak ngatur dia lagi.”
Kiki diam lama.
“Kamu nggak salah, Val,” katanya akhirnya. “Kamu cuma terlalu sayang dengan cara yang salah.”
“Itu salah, Ki.”
“Itu manusia.”
Aku menutup laptop. Menatap dinding kaca. Di luar, Jakarta terang benderang. Di suatu tempat di atas kepalaku, di ruang mesin, seorang laki-laki sedang mengganti bantalan rol lift nomor tiga, sendirian, dengan tangan yang mungkin masih gemetar.
Kiki benar. Aku terlalu sayang dengan cara yang salah. Aku menyimpan plester bekas darahnya di balik kartunya seperti orang mengoleksi bukti. Aku mengatur kontrak supaya ia ada di lobby di hari pertama. Aku mengatur hidupnya seperti mengatur portofolio.
Dan ia, yang tidak pernah minta apa-apa, menolakku dua tahun lalu karena tidak ingin aku merasa berutang.
Siapa di antara kami yang lebih tahu caranya mencintai?
Malam itu, jam dua lewat nol menit, aku menatap HP-ku.
Aku tidak meneleponnya. Aku menunggu ia menelepon. Seperti malam setelah PMI, waktu aku tidak menelepon dan ia khawatir.
Jam dua lewat lima belas. Tidak ada.
Jam dua lewat tiga puluh. Tidak ada.
Jam tiga. Tidak ada.
Jam tiga lewat dua puluh, aku mengetik:
Kamu udah makan?
Aku menghapusnya.
Aku mengetik:
Aku nggak pernah bayar kamu, Jun. Aku cuma nggak tahu cara lain buat sayang.
Aku menghapusnya.
Aku mengetik:
Sebagian dari kamu masih ada di aku.
Aku menatap kalimat itu lama. Kalimat yang kupinjam dari kartunya. Kalimat yang lima tahun lalu terdengar seperti hadiah. Kalimat yang sekarang, di jam tiga pagi, di apartemen yang terlalu luas, terdengar seperti tagihan.
Aku menghapusnya juga.
Lalu aku memeluk boneka kelinci dari pasar malam, yang bulunya masih sedikit bau kerak telor, dan menatap HP-ku yang gelap sampai matahari terbit.
Ia tidak menelepon.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku reading
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita