Chapter Sixteen
Kartu Laminasi
POV: Juna
Bu Sum memasang spanduk baru.
Aku melihatnya Jumat sore, waktu motorku berbelok masuk ke gang rusun. Spanduk vinil warna kuning menyala, dua meter panjangnya, diikat dengan tali rafia di dua tiang bambu di samping gerobak. Tulisannya merah, huruf besar, dengan foto yang diambil Bu Sum dengan HP retaknya tiga minggu lalu: aku, memegang mangkuk, tersenyum terpaksa.
BUBUR KACANG IJO BU SUM LANGGANAN DICIUM CEO PALING ENAK SEDUNIA (KATANYA)
Aku mematikan mesin motor dan menatap spanduk itu lama.
“Bu Sum.”
“Bagus, kan?” Bu Sum muncul dari balik gerobak, tersenyum lebar. “Dicetak di percetakan Pak Haji. Laku keras, Jun. Kemarin ada yang datang dari Bekasi. Dari Bekasi!”
“Kenapa ada tulisan ‘katanya’?”
“Biar jujur. Ibu kan nggak tahu enak sedunia beneran apa nggak. Itu kata kamu.”
“Saya nggak pernah bilang paling enak sedunia di depan orang lain, Bu.”
“Bilang, Jun. Dari kecil kamu bilang gitu. Tiap makan.” Bu Sum mengibaskan lap di tangannya. “‘Bu Sum, ini paling enak sedunia.’ Ibu hafal. Makanya Ibu tulis.”
Aku tidak bisa membantah. Itu benar. Aku memang selalu bilang begitu. Sejak umur enam tahun, waktu Bapak pertama kali mengajakku ke gerobak ini dan aku menghabiskan dua mangkuk.
“Neng Valerie mau datang?” tanya Bu Sum.
“Mau, Bu. Jam tujuh.”
Bu Sum langsung membetulkan kerudungnya.
Valerie sampai jam tujuh lewat lima, turun dari mobil hitam dengan blazer krem yang sudah dilepas dan disampirkan di lengan, kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, dan rambut diikat ekor kuda. Wajahnya lelah, tapi senyumnya langsung muncul begitu melihatku.
Lalu ia melihat spanduk itu.
Ia berhenti berjalan. Menatap spanduk itu dari atas sampai bawah. Membaca tulisannya. Menatap fotoku yang tersenyum terpaksa.
“Ya Tuhan,” bisiknya.
“Aku udah protes,” kataku.
“Jangan protes.” Ia mengeluarkan HP dan memotret spanduk itu. Tiga kali. Dari tiga sudut. “Aku mau pesan satu. Buat dipasang di kantorku.”
“Val.”
“Di ruang rapat. Biar direksi lihat.”
“Val, jangan.”
Ia tertawa, lalu menggandeng lenganku dan menarikku ke bangku plastik di sebelah gerobak. Bangku yang sama. Selalu bangku yang sama.
Dan seluruh gang, seperti biasa, berhenti untuk menonton.
Bang Ucok dan Gilang sudah duduk di bangku sebelah, masing-masing dengan dua mangkuk. Mereka datang karena aku traktir, merayakan minggu pertamaku jadi supervisor. Tari duduk di tangga rusun, makan sambil membaca buku statistik, dan langsung menutup bukunya begitu Valerie datang.
“Kakak!”
“Tari!”
Mereka berpelukan seperti dua sahabat yang terpisah perang. Aku menatap Bang Ucok. Bang Ucok menggeleng pelan.
“Jun,” katanya. “Pepatah bilang: kalau dua perempuan sudah bersatu, laki-laki tinggal pasrah.”
“Itu pepatah dari mana, Bang?”
“Dari pengalaman. Istriku sama ibuku.”
Gilang mengangguk khidmat dengan mulut penuh bubur.
Hujan turun jam setengah delapan.
Pelan dulu, gerimis yang membuat orang-orang di gang mengangkat jemuran dan anak-anak berlari pulang. Lalu makin deras. Bu Sum membuka terpal biru di atas gerobaknya, dan kami semua merapat di bawahnya: aku, Valerie, Tari, Bang Ucok, Gilang, dan Pak Darto, yang berdiri di pinggir terpal dengan bahu kanan basah karena tidak kebagian tempat dan tidak mau mengeluh.
Valerie duduk di sebelahku di bangku plastik, bahunya menempel di bahuku. Ia makan bubur pelan, seperti biasa. Menyendok, meniup, memasukkan ke mulut, memejamkan mata.
Seperti orang berdoa.
Aku menatapnya. Rambutnya basah sedikit di ujung. Kemeja putihnya ada titik-titik air. Lampu bohlam kuning yang tergantung di tiang terpal menyinari wajahnya dari atas, dan bulu matanya membuat bayangan kecil di pipinya.
“Lihatin apa?” tanyanya tanpa membuka mata.
“Nggak.”
“Kamu lihatin aku dari tadi.”
“Kamu makan kayak orang berdoa.”
Ia membuka mata. Menatapku. Lalu menatap mangkuknya.
“Mungkin memang berdoa,” katanya pelan.
“Doa apa?”
Ia tersenyum. Senyum yang lembut dan sedikit sedih, senyum yang sama seperti hari Selasa lalu di jok belakang mobil, waktu aku menyuapinya bubur di pinggir taman.
“Doa terima kasih,” katanya.
Aku ingin bertanya terima kasih untuk apa. Tapi Tari tiba-tiba berteriak karena tetesan air dari ujung terpal jatuh tepat di dalam mangkuknya, dan Bang Ucok tertawa sampai tersedak, dan Gilang menepuk-nepuk punggungnya, dan pertanyaanku hilang di tengah keributan.
Jam delapan lewat sepuluh, Valerie berdiri untuk membayar.
Ia selalu membayar. Aku sudah berhenti protes setelah minggu kedua, setelah ia bilang aku nggak akan pernah nagih kamu, Jun di depan perapian, dan aku memutuskan untuk percaya. Tapi malam ini aku sudah bilang dari awal bahwa aku yang traktir. Gaji supervisor pertamaku.
“Val. Aku yang bayar.”
“Aku aja.”
“Aku udah bilang.”
“Kamu traktir Bang Ucok sama Gilang. Aku traktir kamu.”
“Itu sama aja.”
“Nggak sama.” Ia sudah membuka tasnya, mengeluarkan dompet kulit warna krem. Dompet yang tidak boleh disentuh siapa pun. “Gaji supervisor pertama itu disimpan. Buat...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Gilang, yang berdiri di belakangnya untuk mengembalikan mangkuk ke Bu Sum, tersandung kaki bangku plastik. Ia oleng ke depan. Sikunya menyenggol lengan Valerie.
Dompet itu terlepas dari tangan Valerie.
Jatuh ke jalanan gang. Ke genangan air hujan di bawah pinggir terpal. Terbuka saat menghantam aspal.
Kartu-kartu di dalamnya terlempar. Kartu kredit hitam. Kartu identitas. Kartu nama. Dan sesuatu yang lebih kecil, putih, dilaminasi, yang meluncur keluar dari slot paling depan dan berhenti tepat di ujung sepatu safety-ku.
Di belakangnya, sesuatu yang lebih kecil lagi. Bulat. Warna cokelat.
Aku membungkuk refleks untuk memungutnya.
“Jun, jangan...”
Suara Valerie. Panik. Lebih panik dari yang pernah kudengar, lebih panik dari di lift yang berhenti.
Tapi tanganku sudah memegang kartu itu.
Kartu putih kecil. Sedikit lebih kecil dari kartu nama. Dilaminasi plastik bening yang ujungnya sudah sedikit menguning dan mengelupas di satu sudut. Air hujan menetes di permukaannya, dan aku mengusapnya dengan ibu jariku supaya kering.
Lalu aku melihat tulisannya.
Tulisan tangan. Tinta biru. Huruf-huruf miring ke kanan, tidak rapi, huruf g-nya punya ekor panjang yang melengkung seperti kail, dan huruf k-nya selalu sedikit lebih tinggi dari huruf lain.
Aku tahu tulisan ini.
Aku melihat tulisan ini setiap hari di formulir work order. Di laporan harian. Di formulir lecek di saku seragamku, yang judulnya KENAPA DIA MENCIUMKU.
Ini tulisan tanganku.
Aku membaca.
Halo, orang yang aku nggak kenal.
Kata dokternya, sebagian dari aku sekarang ada di kamu. Aku nggak tahu kamu siapa. Kamu juga nggak usah tahu aku siapa. Nggak usah dicari, nggak usah bilang terima kasih. Cukup hidup yang lama. Itu udah bayaran paling mahal.
Tapi kalau nanti kamu tiba-tiba suka bubur kacang ijo, maaf, itu kayaknya salahku. Di depan rumahku ada warung bubur kacang ijo. Paling enak sedunia. Kalau kamu udah sembuh, cobain bubur kacang ijo di mana aja, terus bayangin itu yang paling enak sedunia. Pasti jadi enak.
Semoga sehat terus.
Dari: yang golongan darahnya sekarang sama kayak kamu.
Aku tidak bisa bernapas.
Hujan terus jatuh di terpal biru di atas kepala kami. Bunyinya seperti ribuan jari mengetuk-ngetuk. Aku tidak mendengarnya. Aku tidak mendengar apa-apa.
Aku ingat kartu ini.
Aku ingat ruangan kecil di kantor registri, lima tahun lalu, sore hari setelah prosedur pengambilan sel. Lenganku masih pegal. Tulangku masih nyeri karena lima hari disuntik obat perangsang. Seorang petugas perempuan menyodorkan kartu kosong dan pulpen biru dan berkata, kalau Mas mau, Mas bisa tulis pesan buat penerimanya. Anonim. Kami yang kirim.
Aku tidak tahu harus menulis apa. Aku duduk di sana dua puluh menit, menatap kartu kosong. Lalu aku menulis soal bubur kacang ijo, karena itu satu-satunya hal yang terpikir yang bukan hal sedih. Karena aku tidak mau orang di ujung sana, siapa pun dia, membaca sesuatu yang membuatnya merasa berutang.
Aku tidak pernah tahu siapa yang menerimanya.
Aku tidak pernah mau tahu.
Aku mengangkat kepala.
Valerie berdiri di depanku. Di bawah pinggir terpal, setengah badannya kena hujan, kemeja putihnya basah di bahu. Dompetnya masih tergeletak di genangan air di kakinya. Ia tidak memungutnya.
Ia menatapku. Wajahnya pucat. Pucat seperti di PMI sebelum jarum masuk. Matanya penuh, sangat penuh, dan bibirnya gemetar.
Di belakangnya, semua orang diam. Bu Sum memegang sendok sayur tanpa bergerak. Tari menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bang Ucok dan Gilang membeku di tempat. Pak Darto melangkah maju satu langkah, lalu berhenti, dan dengan sangat pelan memasukkan buku sakunya kembali ke saku jas, tanpa menulis apa-apa.
Aku menatap kartu di tanganku. Lalu menatap benda bulat warna cokelat di genangan air, di dekat sepatuku.
Plester. Plester bulat bekas donor. Dari PMI. Tiga minggu lalu. Plester yang ia rebut dari tanganku di parkiran rumah makan Padang dengan alasan biar aku yang buang.
Ia menyimpannya. Di belakang kartu ini.
“Val,” kataku. Suaraku keluar aneh. Tipis. Seperti bukan suaraku.
Ia tidak menjawab.
“Ini...” Aku mengangkat kartu itu sedikit. Tanganku gemetar. Tangan yang bisa menyetel sensor pintu dengan selisih nol koma sekian detik gemetar seperti daun. “Ini tulisanku.”
“Iya,” bisiknya.
“Aku nulis ini lima tahun lalu. Buat... buat orang yang...”
Aku tidak bisa menyelesaikannya.
Valerie melangkah maju. Keluar dari hujan, masuk ke bawah terpal, berhenti tepat di depanku. Ia mengangkat tangannya, pelan, dan meletakkannya di atas tanganku yang memegang kartu. Tangannya dingin. Basah. Gemetar.
“Golongan darahku,” katanya, suaranya pecah di tengah, “dulu A.”
Aku menatapnya.
“Sekarang O.” Air mata jatuh di pipinya, bercampur air hujan. “Sejak lima tahun lalu. Sejak tanggal 17 Maret.”
17 Maret.
Selasa lalu. Taman kecil di dekat kanal. Jok belakang mobil. Hari ini ulang tahun. Dari orang yang nyelamatin hidupku. Bubur kacang ijo dari Bu Sum. Gantengnya sama persis kayak kamu.
Selamat ulang tahun. Buat orang itu. Sampaiin, ya.
Aku sampaiin. Dia pasti senang.
Lututku lemas. Aku tidak tahu bagaimana aku masih berdiri.
“Golongan darahku sekarang kamu, Jun,” kata Valerie.
Hening.
Hujan. Terpal. Bohlam kuning yang bergoyang tertiup angin. Bau tanah basah dan jahe dan gula aren.
Aku menatap perempuan di depanku.
Perempuan yang menciumku di lobby di depan seratus kamera. Yang bilang akhirnya dengan suara pecah. Yang makan bubur kacang ijo seperti orang berdoa. Yang takut lift berhenti dan takut jarum dan tidak boleh donor darah. Yang punya bekas luka kecil di bawah tulang selangka. Yang tahu golongan darahku tanpa diberi tahu. Yang bilang aku golongan O, lho, cocok sama kamu, dan aku tertawa, dan ia bilang ada, Jun, percaya sama aku.
Yang menyimpan plester bekas donorku di balik kartu yang kutulis untuk orang asing.
Empat teori. Semua gugur. Aku mencari alasan kenapa ia menciumku selama berminggu-minggu, dan alasannya ada di saku seragamku sendiri. Di tanganku sendiri. Di darahku sendiri.
“Kamu...” Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering. “Kamu yang nerima.”
“Iya.”
“Lima tahun lalu.”
“Iya.”
“Kamu sakit.”
Ia mengangguk. Air mata jatuh lagi.
“Leukemia,” bisiknya. “Umur dua puluh tiga. Dokter bilang aku butuh donor. Keluargaku nggak ada yang cocok. Aku anak tunggal. Mama bikin drive pendaftaran donor di mana-mana. Berbulan-bulan nggak ada yang cocok.”
Ia menarik napas, gemetar.
“Terus ada satu orang yang cocok. Satu. Orang asing. Nggak ada namanya. Nggak ada wajahnya.” Ia menatap kartu di tanganku. “Cuma ini.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku baca kartu ini setiap hari selama satu tahun di rumah sakit,” lanjutnya. “Setiap kali takut. Setiap kali sakit. Setiap kali mau nyerah. Aku baca, terus aku bayangin bubur kacang ijo paling enak sedunia. Terus aku bilang ke diriku sendiri: aku harus sembuh. Aku harus hidup lama. Biar dia nggak rugi.”
“Val...”
“Kamu bilang cukup hidup yang lama. Itu udah bayaran paling mahal.” Ia tertawa, basah dan pecah. “Jadi aku hidup, Jun. Aku hidup lama. Aku lagi hidup lama sekarang.”
Aku menatap kartu di tanganku. Tulisan tanganku sendiri yang miring ke kanan, huruf g yang ekornya seperti kail. Cukup hidup yang lama.
Aku menulis itu untuk orang asing. Orang asing itu berdiri di depanku sekarang, basah kuyup, menangis, dan memegang tanganku.
“Sejak kapan,” kataku, “kamu tahu itu aku?”
“Enam bulan lalu.”
“Enam bulan.”
“Aku cari kamu satu tahun. Lewat warung bubur. Kamu nulis ‘warung depan rumah’. Aku sama Kiki keliling Jakarta Timur, nanya ke semua tukang bubur kacang ijo, ada nggak pelanggan yang selalu bilang buburnya paling enak sedunia.” Ia menatap Bu Sum. “Bu Sum yang jawab. Bu Sum bilang, ‘Ada. Juna. Dari kecil.’”
Aku menoleh ke Bu Sum.
Bu Sum menatapku dengan mata berkaca-kaca, sendok sayur gemetar di tangannya. “Ibu nggak tahu itu buat apa, Jun,” katanya pelan. “Ibu kira Neng Valerie wartawan kuliner.”
Valerie tertawa di sela tangisnya. Tari, di tangga rusun, sudah menangis tersedu-sedu ke lututnya sendiri. Bang Ucok memeluk Gilang. Gilang memeluk mangkuk bubur.
“Aku mau bilang besok,” kata Valerie. Ia mengambil HP dari saku kemejanya, membuka sesuatu, lalu menyodorkannya kepadaku dengan tangan gemetar.
Aplikasi catatan. Satu baris.
Sabtu ini. Aku bilang semuanya.
“Aku nulis itu Selasa malam,” katanya. “Setelah kamu nelepon jam dua dan bilang selamat ulang tahun buat orang itu.”
Aku menatap layar itu. Lalu menatapnya.
“Aku nggak mau kamu tahu dari dompet jatuh,” katanya. “Aku mau bilang sendiri. Pelan-pelan. Di tempat yang bener.”
“Kenapa nggak dari awal?”
Ia menatapku lama. Hujan menetes dari ujung rambutnya.
“Karena aku mau kamu milih aku dulu,” katanya. “Sebagai aku. Bukan sebagai orang yang kamu tolong. Kamu bilang di PMI, mending nggak tahu darahmu ke siapa, biar orangnya nggak ngerasa utang. Aku takut, Jun. Aku takut kalau kamu tahu dari awal, kamu bakal lihat aku sebagai utang. Atau kamu bakal baik ke aku karena kasihan. Atau kamu bakal pergi.”
Ia meremas tanganku yang memegang kartu.
“Aku nggak mau kamu pergi.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ada terlalu banyak yang terjadi di dadaku sekaligus. Seperti mesin lift yang semua relainya menyala bersamaan. Sesuatu yang hangat, besar, meluap. Sesuatu yang dingin dan kecil di sudut, yang belum bisa kuberi nama. Sesuatu yang sangat lelah. Sesuatu yang sangat ingin memeluknya.
Aku melihat kartu di tanganku untuk terakhir kalinya. Lalu aku melihat plester bulat di genangan air.
Aku membungkuk dan memungut plester itu. Lalu dompetnya. Lalu kartu-kartunya, satu per satu, kartu kredit hitam, kartu identitas, kartu nama. Aku mengelapnya dengan ujung seragamku. Aku memasukkan semuanya kembali ke dompet kulit warna krem itu, dengan hati-hati, seperti memasang kembali komponen yang mudah rusak.
Terakhir, kartu laminasi itu. Dan plester di belakangnya.
Aku menyelipkan keduanya kembali ke slot paling depan.
Lalu aku menutup dompet itu dan menyerahkannya kepada Valerie.
Ia menatap dompet itu. Lalu menatapku. Wajahnya bertanya. Wajahnya ketakutan.
“Jun?”
Aku tidak menjawab.
Aku menariknya ke pelukanku.
Erat. Sangat erat. Di bawah terpal biru, di tengah hujan, di depan Bu Sum dan Tari dan Bang Ucok dan Gilang dan Pak Darto dan seluruh gang yang menonton dari jendela-jendela rusun. Aku memeluknya seperti memeluk sesuatu yang hampir hilang. Seperti memeluk sesuatu yang ternyata sudah lama sekali kupegang tanpa tahu.
Ia membeku di pelukanku. Satu detik. Dua detik.
Lalu ia meledak. Menangis di dadaku, keras, seperti anak kecil, seperti orang yang menahan napas selama lima tahun dan akhirnya diizinkan bernapas. Tangannya mencengkeram punggung seragamku. Bahunya berguncang.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku tidak bisa. Aku hanya memeluknya dan menatap hujan dari balik bahunya, dan merasakan air mataku sendiri jatuh, dan tidak menyekanya.
Sebagian dari aku sekarang ada di kamu.
Aku yang menulis itu. Lima tahun lalu. Untuk orang yang tidak kukenal.
Ternyata aku menulisnya untuk dia.
Hujan reda jam sembilan.
Tidak ada yang pulang. Bu Sum tidak menutup gerobaknya. Bang Ucok dan Gilang tetap duduk di bangku plastik, diam, seperti dua orang yang baru menonton film yang terlalu bagus untuk dikomentari. Tari duduk di tangga rusun, matanya bengkak, memeluk lututnya.
Pak Darto berdiri di pinggir terpal, bahunya basah. Ia menatap kami. Ia tidak mengeluarkan buku sakunya.
Valerie masih di pelukanku. Tangisnya sudah reda. Sekarang ia hanya bersandar, wajahnya di dadaku, napasnya pelan dan sesekali tersendat.
“Jun,” gumamnya.
“Hm.”
“Kamu nggak marah?”
Aku diam. Aku mencari jawaban yang jujur. Aku mencari di semua relai yang menyala di dadaku.
“Aku nggak tahu,” kataku akhirnya. “Aku belum tahu aku ngerasa apa.”
Ia mengangkat kepala. Menatapku. Ketakutan di matanya kembali.
“Tapi aku nggak pergi,” kataku.
Ketakutan itu goyah.
“Aku nggak pergi, Val. Malam ini aku nggak ke mana-mana.”
Ia menatapku lama. Lalu mengangguk pelan, dan menjatuhkan dahinya lagi ke dadaku.
Bu Sum, di balik gerobak, menyendok bubur kacang ijo ke dalam mangkuk baru. Mangkuk yang masih mengepul. Ia meletakkannya di bangku plastik di sebelah kami, tanpa kata.
Lalu ia menatap spanduk kuning menyala di samping gerobaknya. PALING ENAK SEDUNIA (KATANYA).
Dan dengan spidol hitam besar dari laci gerobak, Bu Sum naik ke bangku plastik dan mencoret kata (KATANYA).
Satu garis tebal.
Ia turun dari bangku, menatap kami berdua, dan menyeka matanya dengan ujung kerudung.
“Sekarang Ibu tahu,” katanya pelan, “itu beneran.”
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi reading
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita