Chapter Twenty Eight
Kalau Aku Nggak Keluar
POV: Juna
Bedeng proyek di Cikarang terbuat dari papan triplek dan atap seng.
Isinya enam ranjang susun dari besi, kasur tipis yang bau keringat dan debu, dan satu bohlam yang tergantung dari kabel di tengah ruangan. Lima tukang lain tidur di sana. Mereka mendengkur bersahut-sahutan, seperti paduan suara yang tidak pernah latihan. Di luar, hujan masih turun, lebih pelan dari pagi tadi, mengetuk-ngetuk atap seng seperti jari-jari yang sabar.
Aku tidak tidur.
Aku berbaring di ranjang bawah di pojok, menatap papan triplek ranjang atas yang penuh coretan nama-nama tukang dari proyek-proyek sebelumnya. HP di dadaku. Layar menyala redup.
Jam dua lewat tiga belas, HP itu bergetar.
Aku tahu dari siapa sebelum melihat. Aku sudah hafal getaran jam dua.
Aku membuka pesannya.
Sebuah file. Ikon gelombang suara kecil. Nama file: kalau aku nggak keluar.m4a. Durasi: 41:17.
Di bawahnya, pesan.
Jun.
Ini bukan bukti. Ini aku, lima tahun lalu. Sebelum aku tahu namamu. Sebelum transplantasi. Sebelum kartu itu.
Kamu boleh nggak dengerin. Kamu boleh hapus. Aku nggak ngatur apa-apa.
Tapi kalau kamu dengerin, dengerin sampai habis. 41 menit. Jangan berhenti di tengah.
Aku udah nggak takut lagi kamu tahu.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Lima tahun lalu. Sebelum transplantasi.
Lift tua di gedung B. Sentakan kecil di antara lantai tiga dan empat. Tawa tipis dari balik pintu baja. Tawa dari balik pintu kayu putih.
Itu nggak mungkin.
Jempolku mengetik sesuatu. Val, ini... Aku menghapusnya.
Aku mengambil earphone murah dari tas kerja, earphone yang kabelnya sudah diselotip di dua tempat. Aku memasangnya di telinga.
Aku menekan play.
Hening. Lalu napas.
Napas perempuan. Pendek-pendek. Gemetar. Seperti orang yang sudah lama sekali berlari dan tidak bisa berhenti. Di latar belakang, dengung samar, bunyi logam yang berderit pelan. Bunyi yang kukenal. Bunyi sangkar lift yang berhenti di antara dua lantai, kabel-kabelnya meregang di lubang yang gelap.
Lalu suara perempuan itu, berbisik ke HP-nya sendiri. Serak. Kecil.
“Ma. Kalau aku nggak keluar dari sini... aku cuma mau bilang aku nggak marah sama siapa-siapa. Sama dokter. Sama Tuhan. Aku cuma... capek. Aku capek, Ma.”
Aku membeku.
Suaranya lebih muda. Lebih tipis. Tapi suaranya. Ada nada di ujung kalimatnya, sedikit naik di kata terakhir, yang sudah kudengar ratusan kali di telepon jam dua pagi.
Lalu bunyi. Ketukan. Tiga kali. Dari luar. Di pintu baja.
Lalu suara laki-laki.
“Halo? Ada orang di dalam?”
Aku berhenti bernapas.
Itu suaraku.
Lebih muda lima tahun. Lebih cepat. Ada bunyi hujan di belakangnya dan napas yang sedikit terengah-engah, seperti orang yang baru berlari dari parkiran. Tapi itu suaraku. Aku tahu suaraku sendiri. Aku mendengarnya setiap hari, di kepalaku, di laporan suara ke kantor, di video yang direkam Gilang diam-diam.
“Ada,” kata perempuan itu.
“Mbak nggak apa-apa?”
“Nggak tahu.”
“Mbak terluka?”
“Nggak. Aku cuma... aku nggak bisa napas.”
Jeda. Bunyi gemerisik, seperti seseorang berlutut di lantai. Lalu suaraku lagi, lebih dekat sekarang, lebih pelan. Lebih tenang.
“Mbak. Dengerin saya, ya. Liftnya aman. Remnya kunci. Mbak nggak akan jatuh. Saya teknisinya. Saya tahu.”
“Aku nggak percaya.”
“Nggak apa-apa nggak percaya. Mbak cuma perlu napas. Ikut saya, ya. Tarik... buang. Tarik... buang.”
Bunyi napasnya. Bunyi napasku. Bersamaan.
Lalu aku mendengar diriku sendiri, lima tahun lalu, berlutut di koridor rumah sakit yang dingin, basah kuyup, menempelkan wajah ke celah pintu, dan mengucapkan kalimat Bapak.
“Tenang. Sebentar lagi aman.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Di ranjang atas, salah satu tukang membalikkan badan, ranjang besi berderit. Aku menahan napas. Ia tidak bangun. Dengkurannya kembali.
Di earphone, rekaman itu terus berjalan.
Aku mendengar perempuan itu bertanya namaku. Aku mendengar diriku tertawa dan bilang, “Panggil aja Mas Lift, Mbak. Biar gampang.” Aku mendengar perempuan itu mengulangnya, pelan, seperti mencicipi kata baru: “Mas Lift.”
Folder J. Sebelumnya: Mas Lift.
Aku tidak tahu itu. Aku tidak tahu ada folder. Tapi aku tiba-tiba tahu, dengan kepastian yang membuat dadaku sakit, bahwa ada nama itu di suatu tempat, disimpan selama lima tahun.
Aku mendengar perempuan itu bilang ia pasien. Bilang ia tidak bisa tidur. Bilang ia mau ke kantin karena ingin minum teh manis, karena teh di kamarnya selalu dingin. Bilang, setengah tertawa, setengah menangis: “Jangan lihat, Mas. Aku botak. Aku pakai masker. Aku jelek banget.”
Dan aku mendengar diriku menjawab:
“Saya nggak bisa lihat, Mbak. Gelap. Tapi suara Mbak nggak jelek.”
Aku tidak ingat mengatakan itu.
Aku mendengar diriku bercerita soal Tari. Adikku yang masih SMA, yang marah karena aku lupa jemput dia di les. Soal Bu Sum. Soal kambing kurban Pak RT. Aku mendengar perempuan itu tertawa di cerita kambing. Tawa yang tipis, serak, seperti orang yang sudah lama tidak tertawa.
Tawa yang sama dengan tawa di balik pintu kayu putih, seminggu lalu.
Tawa yang sama dengan tawa di bawah pohon ketapang, di depan perapian, di dalam lift Hadinata Tower yang ia hentikan dengan tombol merah.
Aku mendengar diriku bilang:
“Di depan rumah saya ada warung bubur kacang ijo, Mbak. Bu Sum. Paling enak sedunia. Kalau Mbak udah keluar dari sini, udah sembuh, Mbak harus coba. Pokoknya bubur kacang ijo di mana aja, terus bayangin itu yang paling enak sedunia. Pasti jadi enak.”
Hening di rekaman. Lama.
Lalu perempuan itu berkata, sangat pelan:
“Mas. Aku nunggu donor. Udah empat bulan. Nggak ada yang cocok. Dokter bilang kalau sebulan lagi nggak ada...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku mendengar diriku diam. Lama. Bunyi hujan. Bunyi napas.
Lalu suaraku, lebih pelan dari sebelumnya:
“Nanti pasti ada, Mbak. Orang baik banyak. Mbak cuma belum ketemu.”
Menit kedua puluh tiga. Aku menyanyi.
Lagu itu. Lagu jelek itu. Lift-nya macet, jangan cemberut... Fals. Cengkok yang dipaksakan. Suaraku pecah di nada tinggi, dan di rekaman itu, lima tahun lalu, aku mendengar diriku sendiri tertawa malu di tengah lagu.
Dan perempuan itu tertawa. Keras. Pertama kali dalam rekaman ini, tawanya bukan tipis. Tawanya penuh, terbahak, sampai terbatuk-batuk.
“Mas, itu lagu paling jelek yang pernah aku denger!”
“Saya tahu, Mbak. Makanya berhasil.”
“Berhasil apa?”
“Mbak udah napas biasa sekarang.”
Hening.
“...Iya,” katanya, kaget. “Iya, Mas. Aku napas.”
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.
Aku hanya tahu earphone di telingaku basah, dan papan triplek ranjang atas di depanku kabur, dan tanganku yang menutup mulut gemetar begitu keras sampai gigiku bergemeletuk.
Menit ketiga puluh delapan.
“Mas.”
“Ya, Mbak.”
“Aku nggak tahu nama Mas. Aku nggak tahu muka Mas.” Suaranya bergetar. “Tapi kalau aku sembuh... kalau ada donor, terus aku sembuh, terus aku keluar dari rumah sakit ini... aku mau cari Mas.”
“Buat apa, Mbak?”
“Buat bilang terima kasih.”
“Nggak usah, Mbak. Saya cuma kerja.”
Jeda.
“Bukan buat liftnya, Mas.” Suaranya sangat pelan sekarang. Hampir tidak terdengar di balik hujan. “Buat suaranya. Suara Mas bikin aku pengen hidup.”
Aku menekan tombol jeda.
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa melanjutkan.
Aku duduk tegak di ranjang besi, earphone masih di telinga, HP di tangan, dan aku menangis di bedeng proyek di Cikarang jam tiga pagi, di antara lima tukang yang mendengkur, di bawah atap seng yang diketuk-ketuk hujan.
Suara Mas bikin aku pengen hidup.
Sebelum transplantasi. Sebelum kartu. Sebelum ia tahu namaku. Sebelum aku memberinya apa pun selain empat puluh menit di koridor dan lagu jelek dan cerita soal kambing.
Ia memilihku. Waktu itu. Di dalam gelap. Tanpa tahu siapa aku.
Aku udah punya seseorang. Aku belum tahu namanya.
Aku lihat kamu sebelum... sebelum kamu lihat aku.
Aku nggak pura-pura. Dari awal. Dari sebelum awal.
Dari sebelum awal.
Aku menekan play lagi. Dia bilang jangan berhenti di tengah.
Menit-menit terakhir. Bunyi teknisi kedua datang. Suara Bang... bukan, bukan Bang Ucok, teknisi lain yang sudah pensiun, Pak Harjo. Bunyi kunci rem manual. Bunyi sangkar lift turun pelan, berderit, sampai lantai tiga.
Pintu baja terbuka. Bunyinya keras di rekaman, berderak.
Lalu suara-suara perawat. Cepat, panik, lega. Mbak Valerie! Ya Allah, Mbak! Kami cari ke mana-mana! Gemerisik selimut. Bunyi roda kursi roda di lantai keramik.
Mbak Valerie.
Lima tahun lalu, perawat menyebut namanya. Di depanku. Dan aku tidak mendengarnya, karena aku sedang berdiri dari lantai, lututku kesemutan, dan perawat-perawat itu terlalu cepat.
Bunyi roda kursi roda menjauh.
Lalu, sangat samar, hampir tertutup bunyi koridor, suara perempuan itu. Bukan ke perawat. Bukan ke HP-nya. Ke belakang. Ke arah lift. Ke arahku.
“Makasih, Mas Lift! Aku nggak takut lagi!”
Rekaman terus berjalan beberapa detik. Bunyi gemerisik. Bunyi napas, tenang sekarang, teratur. Napas perempuan dua puluh tiga tahun yang baru saja keluar dari lift yang berhenti.
Lalu rekaman berakhir.
41:17.
Aku duduk di ranjang itu sampai subuh.
Hujan reda jam empat. Langit di luar celah papan triplek berubah dari hitam ke biru tua ke abu-abu. Tukang-tukang lain mulai bangun satu per satu, menggeliat, batuk, menyalakan rokok kretek pertama. Salah satu dari mereka, Mas Darmin dari Brebes, menatapku yang duduk tegak dengan earphone di telinga dan wajah bengkak, dan tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menaruh segelas kopi sachet di lantai di samping ranjangku sebelum keluar.
Aku memutar rekaman itu dua kali lagi. Dari awal sampai akhir. Empat puluh satu menit tujuh belas detik.
Di putaran ketiga, di menit kedua puluh tiga, waktu aku menyanyi dan ia tertawa terbahak, sesuatu di kepalaku terbuka.
Kaca jendela yang berembun itu. Ingatan yang kabur.
Lobby. Malam itu. Setelah kursi roda menghilang di tikungan koridor. Aku turun ke lantai satu, basah kuyup, kotak perkakas di tangan, mau pulang. Lobby sepi, hanya satpam dan seorang ibu-ibu yang duduk di belakang meja panjang dengan taplak putih.
Meja itu. Ada banner kecil di depannya. Tulisan tangan dengan spidol. Aku ingat warnanya. Hijau.
Donor Sel Punca. Untuk Pasien V. Siapa Tahu Anda Cocok.
Pasien V.
Aku berhenti di depan meja itu malam itu. Aku ingat ibu-ibu di belakangnya menatapku, basah kuyup, dan tersenyum lelah. Aku ingat aku bertanya, Bu, ini buat siapa? Dan ibu itu bilang, Buat anak saya. Leukemia. Belum ada yang cocok.
Aku ingat aku berpikir tentang suara di balik pintu baja. Aku nunggu donor. Udah empat bulan. Nggak ada yang cocok.
Aku ingat aku duduk. Aku ingat swab pipi. Aku ingat formulir.
Aku ingat ibu itu. Wajahnya bulat. Lembut. Garis-garis tawa di sudut mata. Rambut sebahu.
Bu Ratih.
Jam tujuh lewat dua puluh, aku berdiri di depan gerbang proyek.
Aku tidak tahu apakah Valerie akan datang hari ini. Aku tidak tahu apakah aku ingin ia datang. Aku belum mandi, belum ganti baju, mataku bengkak, dan aku tidak tahu apa yang akan kukatakan kalau mobil kecil itu muncul di ujung jalan proyek.
Mobil yang muncul bukan mobil kecil.
Sedan hitam. Supir berseragam. Berhenti di depan pos jaga.
Pintu belakang terbuka. Bu Ratih turun.
Ia memakai kebaya hijau sage. Sanggulnya rapi. Ia membawa map plastik bening di dada, dipeluk dengan dua tangan, seperti memeluk sesuatu yang rapuh.
Ia berjalan ke arahku. Di atas tanah proyek yang becek sisa hujan semalam, dengan sandal selop yang langsung kotor lumpur. Ia tidak peduli.
Ia berhenti di depanku. Menatap wajahku. Mataku yang bengkak. Earphone yang kabelnya masih menjuntai dari saku seragam.
“Kamu udah dengerin,” katanya pelan.
Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.
“Sampai habis?”
“Tiga kali, Bu.”
Bu Ratih tersenyum. Matanya basah. “Valerie nggak dateng hari ini. Mama yang minta. Mama bilang, biar Mama dulu.”
Ia membuka map plastik itu. Mengeluarkan selembar kertas. Kertas HVS biasa yang sudah menguning di ujung, sedikit keriting karena lembap. Formulir. Cetakan fotokopi dengan kotak-kotak isian.
Di bagian atas, dengan huruf kapital yang dicetak: FORMULIR PENDAFTARAN CALON DONOR SEL PUNCA DARAH. DRIVE KHUSUS: PASIEN V. RS MEDIKA HARAPAN.
Bu Ratih menyerahkannya kepadaku.
Aku menerimanya dengan tangan gemetar.
Nama lengkap: Juna Mahesa.
Tulisan tanganku. Miring ke kanan. Huruf g tidak ada di namaku, tapi huruf J-nya, huruf J yang selalu kutulis dengan lengkungan terlalu besar di bawah, seperti kail.
Golongan darah: O+.
Pekerjaan: Teknisi lift.
Tanggal & jam pendaftaran: Tanggal itu. Jam 23.12.
Jam sebelas lewat dua belas malam. Dua puluh menit setelah pintu baja lift gedung B terbuka dan perawat membawa perempuan botak bertopi rajut abu-abu pergi dengan kursi roda.
Di bagian paling bawah formulir, ada kotak kecil dengan tulisan cetak: Pesan untuk pasien (opsional).
Dan di dalam kotak itu, tulisan tanganku. Tinta biru. Agak luntur karena kertasnya pernah kena air, mungkin air hujan dari bajuku yang basah malam itu.
Semoga cocok. Buat mbak yang tadi kejebak di lift lantai 3. Jangan takut lagi.
Aku jatuh.
Lututku menghantam tanah proyek yang becek. Formulir itu di tanganku, di dadaku. Aku tidak bisa berdiri. Aku tidak mau berdiri.
Bu Ratih berlutut di depanku. Di tanah becek. Dengan kebaya hijau sage. Ia meletakkan kedua tangannya di bahuku.
“Kamu daftar karena dia,” katanya pelan. “Malam itu. Sebelum kamu tahu dia siapa. Sebelum kamu tahu namanya. Kamu cuma tahu dia kejebak di lift, dia takut, dia nunggu donor.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Mama yang duduk di meja itu, Nak. Malam itu. Mama nggak ingat wajahmu. Ratusan orang daftar. Tapi enam bulan lalu, waktu Valerie bilang nama donornya Juna Mahesa, Mama buka semua kotak formulir di gudang yayasan. Lima ribu formulir. Mama baca satu per satu. Tiga minggu.” Bu Ratih tertawa, basah. “Terus Mama nemu ini.”
Ia menyentuh formulir di tanganku. Menyentuh kotak kecil di bagian bawah.
Buat mbak yang tadi kejebak di lift lantai 3.
“Valerie nggak tahu soal ini,” katanya. “Mama nggak pernah kasih tahu dia. Dia tahu kamu Mas Lift, dari bubur kacang ijo di kartu. Dia tahu kamu donornya. Tapi dia nggak tahu kamu daftar karena dia.”
Aku menatap Bu Ratih. Air mataku jatuh ke formulir, ke tinta biru yang sudah luntur.
“Kamu nanya ke dia,” kata Bu Ratih lembut, “apakah dia cinta kamu atau cinta orang yang nyelamatin dia. Kamu takut dia cuma bayar utang.”
Aku mengangguk.
“Nak. Dia jatuh cinta sama suaramu sebelum kamu nyelamatin dia. Dan kamu nyelamatin dia karena kamu udah peduli sama dia duluan. Malam itu. Di koridor. Di lobby. Tanpa tahu namanya.”
Bu Ratih menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Tangannya hangat, lembut, sedikit gemetar. Seperti tangan Ibu.
“Nggak ada yang bayar siapa-siapa, Juna,” bisiknya. “Kalian berdua cuma saling nolong. Di gelap. Tanpa tahu. Lima tahun.”
Aku menangis di tanah proyek di Cikarang.
Bukan menangis seperti di balik helm di lampu merah Cawang. Bukan menangis seperti di bedeng jam tiga pagi. Aku menangis seperti anak kecil yang baru keluar dari ruangan gelap dan menemukan lampunya menyala. Seperti anak kecil di kampung yang takut mati lampu, yang baru saja mendengar ayahnya berkata tenang, sebentar lagi aman, dan lampunya benar-benar menyala.
Bu Ratih memelukku. Di tanah becek. Kebaya hijau sage-nya kotor lumpur.
Di belakang kami, aku mendengar Pak Slamet di pos jaga menyuruh tukang-tukang lain kembali bekerja dengan suara yang aneh, serak. Aku mendengar Gilang, yang hari ini masih di proyek, terisak keras di balik tumpukan pasir. Aku mendengar Mas Darmin dari Brebes bilang, “Ya Allah, Mas Juna,” pelan, seperti doa.
Pertanyaan di dadaku. Yang duduk di kursi paling besar selama berminggu-minggu. Kalau aku bukan donormu, dia bakal cium aku nggak?
Pertanyaan itu berdiri.
Pertanyaan itu berjalan keluar dari dadaku, pelan, seperti tamu yang sudah terlalu lama menginap dan akhirnya sadar tidak ada lagi yang mau menampungnya.
Kursinya kosong.
Dan yang duduk di sana sekarang, pelan-pelan, hangat dan keras kepala, adalah suara seorang gadis dua puluh tiga tahun dari balik pintu baja, empat puluh satu menit sebelum aku mendaftar sebagai donornya:
Suara Mas bikin aku pengen hidup.
Aku berdiri.
Kakiku gemetar. Celanaku penuh lumpur. Formulir itu di tanganku, di dalam map plastik yang Bu Ratih berikan lagi.
“Dia di mana, Bu?” tanyaku. Suaraku pecah.
Bu Ratih menatapku, dan tersenyum. Senyum seorang ibu yang sudah menunggu terlalu lama untuk ini.
“Di apartemennya,” katanya. “Nunggu.”
“Dari kapan?”
“Dari jam dua pagi. Waktu kamu buka pesannya.” Bu Ratih menyeka matanya. “Dia jago nunggu, Nak. Tapi Mama rasa dia udah capek.”
Aku berlari ke motor.
Aku tidak minta izin Pak Slamet. Aku tidak mengambil helm. Aku memasukkan map plastik itu ke dalam jaket, menempel di dada, di atas jantung, dan menyalakan mesin.
“JUNA!” teriak Pak Slamet dari pos jaga. “HELM!”
Gilang berlari dari balik tumpukan pasir, membawa helm putih ukuran kecil. Helm yang kuberikan ke Valerie kemarin. Ia meninggalkannya di pos jaga.
Gilang menyodorkannya kepadaku. Wajahnya basah.
“Bang,” katanya. “Kebesaran buat Kakak. Kekecilan buat Abang. Tapi pakai aja.”
Aku memakainya. Helm itu kekecilan. Menekan pelipisku. Talinya tidak bisa dikencangkan.
Aku tidak peduli.
Aku menarik gas, dan motorku meluncur keluar dari gerbang proyek, menyemburkan lumpur, menuju jalan tol, menuju Jakarta, menuju apartemen di Kuningan tempat seorang perempuan sedang menunggu sejak jam dua pagi.
Dan di bawah helm yang kekecilan, di tengah deru angin dan klakson truk kontainer, aku mendengar diriku sendiri tertawa dan menangis sekaligus, dan menyanyikan lagu paling jelek yang pernah ditulis siapa pun, dengan suara paling fals yang pernah ada.
Lift-nya macet, jangan cemberut...
Abang di sini, nggak bakal kabur...
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar reading
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita