Chapter Six
Bawa Aku ke Duniamu
POV: Juna
Hari Senin, aku membaca komentar-komentar itu.
Aku tidak seharusnya membacanya. Tari sudah melarangku sejak hari pertama video itu viral. “Mas, jangan buka kolom komentar,” katanya. “Kolom komentar itu tempat orang-orang yang nggak dipeluk ibunya.” Tapi Senin pagi, di ruang mesin Hadinata Tower, sambil menunggu oli rem mengendap, aku membuka HP dan jempolku turun terlalu jauh.
CEO kok seleranya teknisi. Turun kasta.
Pasti settingan. Saham naik dua persen, bro. Mikir.
Kasihan cowoknya, cuma dipake buat konten.
Valerie Hadinata udah gila. Dewan komisaris harus turun tangan.
Kalau gue jadi bapaknya, udah gue coret dari warisan.
Komentar tentang aku tidak terlalu menggangguku. Aku sudah sembilan tahun dimaki penumpang lift yang terjebak. Aku sudah dipanggil “tukang” dengan nada yang membuat kata itu terdengar seperti makian. Kulitku tebal.
Tapi komentar tentang dia.
Aku menatap satu komentar lama sekali. Komentar itu tidak kasar. Malah sopan, ditulis oleh akun yang foto profilnya pakai jas dan dasi: Sangat disayangkan. Seorang pemimpin seharusnya menjaga martabat perusahaan. Investor akan mempertanyakan penilaiannya.
Penilaiannya.
Karena aku.
Aku mematikan layar HP dan duduk di lantai ruang mesin yang dingin, di antara motor-motor lift yang berdengung, dan untuk pertama kalinya sejak hari Senin minggu lalu, aku tahu apa yang harus kulakukan.
Jam tujuh, laporan “lift lantai 40 rusak” masuk seperti biasa. Keterangannya: lift merasa diabaikan sejak Sabtu.
Aku naik.
Valerie menunggu di depan lift dengan blazer warna krem dan senyum yang sudah siap. Senyum itu sedikit goyah waktu melihat wajahku.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Mbak, boleh bicara sebentar? Di kantor Mbak?”
Senyumnya hilang seluruhnya.
Di kantornya, aku tidak duduk di sofa. Aku berdiri di tengah ruangan, kotak perkakas di tangan, seperti orang yang mau melapor kerusakan besar. Valerie berdiri di depanku, di balik mejanya, dan aku melihat tangannya mencengkeram ujung meja.
“Saya baca komentar-komentar orang,” kataku.
“Jun...”
“Mereka bilang Mbak turun kasta. Mereka bilang investor akan mempertanyakan penilaian Mbak. Mereka bilang bapak Mbak harus coret Mbak dari warisan.”
“Itu nggak penting.”
“Penting, Mbak.” Aku menatap lantai karpet abu-abu yang tebal itu, karena lebih mudah daripada menatap matanya. “Mbak sudah kerja keras sampai di sini. Saya lihat rapat direksi Mbak. Saya lihat cara mereka takut sama Mbak. Itu bukan karena Mbak anak orang kaya. Itu karena Mbak baca semua halaman.”
Valerie diam.
“Saya nggak mau Mbak kehilangan itu karena saya.”
“Kamu nggak...”
“Mbak, saya bukan dunia Mbak.” Aku akhirnya mengangkat kepala. “Dunia Mbak itu ruangan ini. Rapat direksi. Forum ekonomi. Orang-orang yang bicara tiga bahasa. Dunia saya itu ruang mesin. Rusun lima lantai tanpa lift. Bubur dua belas ribu. Saya nggak malu sama dunia saya. Tapi saya nggak bisa bawa dunia saya ke sini tanpa bikin dunia Mbak berantakan.”
Hening.
Di luar dinding kaca, Jakarta tertutup kabut tipis. Sebuah pesawat melintas jauh di atas, kecil seperti mainan.
Valerie melepaskan pegangannya dari ujung meja. Ia berjalan memutari meja, pelan, dan berhenti di depanku. Ia tidak menyentuhku. Ia hanya berdiri di sana, cukup dekat sehingga aku bisa melihat bahwa matanya tidak marah.
Matanya sedih. Dan di balik sedih itu, keras kepala.
“Jun,” katanya. “Kamu baru aja bilang hal paling baik yang pernah orang bilang soal aku.”
“Saya...”
“Kamu bilang aku baca semua halaman.” Suaranya tipis. “Bertahun-tahun aku kerja, semua orang bilang aku pintar karena keturunan, atau galak karena manja, atau sukses karena Papa. Kamu orang pertama yang bilang aku baca semua halaman.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Dan sekarang kamu mau pergi,” lanjutnya, “karena takut aku kehilangan sesuatu.”
“Saya cuma...”
“Kamu cuma mau melindungi aku. Dengan cara pergi.” Ia tersenyum, dan senyumnya pahit. “Kamu tahu nggak, itu cara paling menyakitkan buat melindungi orang?”
Aku diam.
Valerie menarik napas panjang. Lalu ia mengangkat dagunya, dan aku melihat CEO di wajahnya, CEO yang menghentikan presentasi dengan satu jari.
“Oke,” katanya. “Kalau kamu bukan duniaku, bawa aku ke duniamu.”
“Mbak...”
“Malam ini. Jam tujuh. Ajak aku ke tempat yang kamu suka. Yang orang di dunia ini nggak pernah ke sana.” Ia melipat tangannya. “Kalau setelah malam ini kamu masih yakin aku nggak cocok di duniamu, aku nggak akan panggil lift lantai 40 lagi.”
“Janji?”
Ia menatapku lama. “Janji.”
Aku tahu, bahkan saat aku mengangguk, bahwa aku baru saja kalah.
Pasar malam di lapangan dekat kanal buka setiap Senin sampai Kamis selama musim kemarau. Isinya sama setiap tahun: bianglala yang derit besinya terdengar sampai tiga RT, komidi putar dengan kuda-kudaan yang catnya mengelupas, tenda-tenda permainan lempar gelang dan tembak balon, penjual kerak telor, penjual arum manis, penjual mainan plastik yang lampunya berkedip.
Aku memilih tempat ini karena aku yakin ia akan membencinya.
Jam tujuh kurang lima, mobil hitam itu berhenti di pinggir lapangan. Pak Darto turun. Lalu pintu belakang terbuka, dan Valerie keluar.
Ia memakai gaun santai warna hijau muda yang jatuh sampai lutut, rambutnya digerai, dan di kakinya...
Aku mengerjap.
Di kakinya, sandal jepit. Sandal jepit karet warna merah jambu dengan gambar beruang di talinya.
“Itu sandal Tari,” kataku.
“Dia pinjamin.” Valerie menatap kakinya dengan bangga. “Katanya ke pasar malam nggak boleh pakai heels, nanti nyangkut di tanah becek. Dia juga bilang aku harus bawa uang receh, jangan kartu.”
“Mbak bawa uang receh?”
Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan segenggam uang kertas dua ribuan yang masih baru, berderet rapi, ujungnya tajam seperti baru keluar dari bank.
“Pak Darto ambil dari bank tadi siang,” katanya. “Lima ratus lembar.”
“Lima ratus...”
“Cukup?”
Aku menatapnya. Perempuan paling cantik yang pernah kulihat, CEO perusahaan properti terbesar di Jakarta, berdiri di pinggir lapangan becek dengan gaun hijau dan sandal jepit beruang, memegang satu juta rupiah dalam pecahan dua ribu, dan bertanya apakah itu cukup untuk pasar malam.
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya.
Valerie menatapku dengan wajah terkejut. Lalu, perlahan, wajahnya melunak.
“Kamu ketawa,” katanya.
“Maaf, Mbak.”
“Jangan minta maaf.” Ia melangkah mendekat. “Ketawa lagi. Aku belum pernah lihat kamu ketawa.”
Ia tidak membenci pasar malam.
Ia mencintai pasar malam dengan cara yang membuatku merasa bersalah karena pernah meremehkan tempat ini.
Ia mencoba lempar gelang dan gagal dua belas kali berturut-turut, menghabiskan dua puluh empat ribu rupiah, dan setiap kali gagal ia mengerutkan kening dengan ekspresi yang sama seperti waktu ia membaca halaman tujuh presentasi direktur keuangan. Ia makan kerak telor dengan tangan, meniupnya, terbakar lidahnya, dan tetap makan. Ia membeli arum manis warna merah jambu yang lebih besar dari kepalanya dan memaksa Pak Darto memegangnya.
Pak Darto memegang arum manis itu sepanjang malam dengan wajah orang yang sedang menjaga senjata nuklir.
Dan sepanjang malam, tangannya tidak lepas dari lenganku.
Ia memeluk lenganku waktu kami berjalan di antara tenda. Ia memeluk lenganku waktu antre kerak telor. Ia memeluk lenganku waktu menonton anak-anak naik komidi putar, dan ketika aku mencoba menarik lenganku dengan sopan untuk menggaruk hidung, ia mengencangkan pelukannya.
“Jangan,” katanya.
“Hidung saya gatal, Mbak.”
“Garuk pakai tangan satunya.”
“Itu tangan kiri.”
“Terus kenapa?”
Aku menggaruk hidungku pakai tangan kiri.
Di depan tenda tembak balon, ia berhenti dan menunjuk boneka kelinci putih besar yang digantung paling atas. Hadiah utama. Butuh sepuluh balon pecah berturut-turut tanpa meleset.
“Aku mau itu,” katanya.
“Mbak, itu susah. Senapannya pasti dibengkokin.”
“Kamu bisa?”
Aku menatap senapan angin di meja. Aku menatap balon-balon di papan. Lalu aku menatap Valerie, yang menatapku dengan mata berbinar seperti anak kecil yang yakin ayahnya bisa memperbaiki apa saja.
Aku mengambil senapan itu. Mengecek larasnya. Memang bengkok, sedikit ke kanan. Aku menyesuaikan bidikanku dua senti ke kiri, menarik napas, dan menembak.
Sepuluh balon. Sepuluh tembakan.
Penjaga tenda menatapku dengan wajah orang yang baru dirampok.
Valerie menerima boneka kelinci itu dengan kedua tangan, memeluknya, dan menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bukan menggoda. Bukan nakal. Ekspresi orang yang baru saja melihat sesuatu yang sangat ia kagumi.
“Kok bisa?” bisiknya.
“Larasnya bengkok ke kanan. Saya bidik ke kiri.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Mesin itu kayak orang, Mbak. Kalau ada yang nggak beres, dia kasih tanda dulu.”
Valerie memeluk boneka kelinci itu lebih erat. Lalu ia melangkah maju, berjinjit, dan menyandarkan dahinya sebentar di bahuku. Hanya sebentar. Satu detik.
“Kamu tahu nggak,” gumamnya di bahuku, “aku sudah ke Paris, ke Tokyo, ke New York. Aku pernah makan di restoran yang antreannya enam bulan.”
“Iya, Mbak.”
“Ini malam terbaik dalam hidupku.”
Aku tidak bisa bernapas.
Teori #3 lahir di antrean bianglala.
Aku sedang berdiri di belakangnya, menunggu giliran, ketika aku melihat seorang laki-laki di dekat tenda arum manis memegang HP dalam posisi merekam, mengarah ke kami. Lalu aku melihat perempuan di dekat komidi putar melakukan hal yang sama. Lalu dua anak SMA di belakang kami.
Semua orang merekam.
Dan pikiran itu datang begitu saja, dingin dan masuk akal: bagaimana kalau ini semua konten? Bagaimana kalau ada kamera tersembunyi, tim produksi, acara televisi tentang CEO yang menyamar dan mempermainkan orang biasa? Bagaimana kalau minggu depan aku melihat wajahku sendiri di layar dengan musik latar yang lucu?
Aku melirik ke sekeliling. Ke atas tenda. Ke tiang lampu. Ke balik gerobak kerak telor.
“Kamu nyari apa?” tanya Valerie.
“Kamera.”
“Kamera apa?”
“Kamera tersembunyi, Mbak. Siapa tahu ini acara prank.”
Valerie menatapku. Lalu ia tertawa, keras sekali, sampai orang-orang di antrean menoleh. Ia tertawa sampai harus memegang tiang antrean, sampai boneka kelinci di pelukannya hampir jatuh, sampai Pak Darto di belakang kami, yang masih memegang arum manis, ikut mengangkat sudut bibirnya satu milimeter.
“Jun,” katanya, terengah. “Kalau ini prank, aku sudah keluar jutaan buat skincare adikmu, dua ratus mangkuk bubur, lima ratus lembar uang dua ribuan, dan harga diri di depan seluruh direksi.”
“Mungkin budgetnya besar.”
“Budgetnya memang besar.” Ia menyeka air mata di sudut matanya, sisa tawa. “Tapi bukan buat prank.”
Giliran kami tiba. Bianglala itu berderit seperti biasa ketika keranjang kami mulai naik. Keranjangnya kecil, terbuat dari besi yang dicat biru, dengan bangku panjang di dua sisi. Valerie tidak duduk di seberangku. Ia duduk di sebelahku, rapat, boneka kelinci di pangkuannya.
Keranjang naik pelan. Pasar malam di bawah mengecil, lampu-lampunya berkedip seperti kunang-kunang. Kanal di kejauhan memantulkan cahaya kota. Di atas, langit Jakarta oranye kusam seperti biasa, tanpa bintang.
Keranjang berhenti di puncak, seperti biasa, supaya penumpang di bawah bisa naik.
“Kalau macet di atas sini,” kata Valerie, “kamu bisa benerin?”
“Bianglala bukan lift, Mbak.”
“Tapi kamu bisa?”
Aku menatap mesin bianglala di bawah, motornya yang berasap sedikit, rantainya yang kendor. “Bisa. Tapi saya nggak mau.”
“Kenapa?”
“Kalau macet, kita di sini lebih lama.”
Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Kalimat itu keluar begitu saja, seperti rem yang blong.
Valerie menoleh perlahan. Wajahnya dekat. Lampu-lampu pasar malam di bawah memantul di matanya.
“Ulangin,” katanya.
“Nggak ada apa-apa, Mbak.”
“Ulangin, Jun.”
“Saya bilang...” Aku menelan ludah. “Kalau macet, kita di sini lebih lama.”
Ia diam. Lalu, sangat pelan, ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Tidak sebentar seperti di tenda tembak balon. Lama. Rambutnya menyentuh leherku, wanginya memenuhi keranjang kecil itu.
“Kamu tadi nelan ludah,” bisiknya.
“Haus, Mbak.”
“Haus apa haus?”
Aku tidak menjawab. Keranjang mulai bergerak turun.
“Jun.”
“Ya, Mbak.”
“Sekali aja. Panggil namaku. Tanpa Mbak.”
Keranjang turun melewati tiang lampu. Lalu tenda arum manis. Lalu komidi putar.
“Valerie,” kataku.
Ia memejamkan mata. Di bahuku, aku merasakan napasnya berhenti sebentar, lalu keluar panjang dan bergetar.
“Lagi,” bisiknya.
“Valerie.”
“Sekali lagi.”
“Valerie.”
Keranjang berhenti di bawah. Petugas bianglala membuka palang besinya. Valerie tidak bergerak. Kepalanya masih di bahuku, matanya masih terpejam, dan petugas bianglala, seorang bapak tua berkaus partai yang sudah pudar, menatap kami sebentar lalu menutup palangnya lagi.
“Satu putaran lagi gratis,” katanya. “Kasihan, Mas. Kelihatannya baru jadian.”
Dan keranjang kami naik lagi.
Jam sepuluh malam, di parkiran motor di pinggir lapangan, aku mengantar Valerie ke mobilnya. Pak Darto sudah masuk ke kursi sopir, arum manis yang setengah meleleh di kursi penumpang depan.
Valerie berhenti di samping pintu belakang, memeluk boneka kelinci, menatapku.
“Jadi?” katanya.
“Jadi apa, Mbak?”
“Aku cocok di duniamu atau nggak?”
Aku menatapnya. Gaun hijaunya kena noda kecap kerak telor di bagian pinggang. Ujung rambutnya kusut kena angin di puncak bianglala. Sandal jepit beruang di kakinya belepotan tanah lapangan. Dan ia masih yang paling cantik di seluruh pasar malam, di seluruh Jakarta, di seluruh dunia yang pernah kulihat.
“Mbak nggak bisa lempar gelang,” kataku.
“Iya.”
“Mbak kebakar lidah makan kerak telor.”
“Iya.”
“Mbak bawa uang dua ribuan lima ratus lembar.”
“Iya.”
“Mbak paling cocok,” kataku, “dari semua orang yang pernah saya ajak ke sini.”
Ia menatapku. “Berapa orang yang pernah kamu ajak?”
“Tari. Waktu umur dua belas.”
“Cuma Tari?”
“Cuma Tari.”
Valerie diam lama. Lalu ia melangkah maju, berjinjit, dan menempelkan bibirnya ke pipiku. Ringan. Cepat. Hangat. Bukan ciuman di bibir seperti di lobby. Ciuman di pipi, seperti anak kecil mengucapkan terima kasih.
Tapi pipiku terbakar.
“Itu nggak dihitung,” katanya, mundur. “Aku janji nggak cium kamu lagi sampai kamu yang minta. Itu cuma pipi. Pipi nggak dihitung.”
“Siapa yang bikin aturannya?”
“Aku. Aku CEO.” Ia membuka pintu mobil. Lalu berhenti dan menoleh. “Jun.”
“Ya.”
“Aku nggak minta kamu percaya sekarang. Aku tahu semua ini nggak masuk akal buat kamu.” Ia memeluk boneka kelincinya. “Aku cuma minta satu hal. Jangan lari.”
Aku tidak menjawab.
Ia tidak menunggu jawaban. Ia masuk mobil, menutup pintu, dan menurunkan kaca jendela setengah.
“Besok lift lantai 40 rusak lagi,” katanya. “Kali ini beneran. Aku mau kamu cek tombol darurat.”
“Tombol darurat kenapa?”
“Kayaknya terlalu gampang dipencet.”
Kaca jendela naik. Mobil itu pergi.
Aku berdiri di parkiran motor dengan pipi yang masih panas, menatap lampu belakang mobil itu sampai hilang di tikungan.
Di HP-ku, satu pesan masuk.
Teori #3: prank. Coret, ya.
Aku menatap pesan itu. Bagaimana ia tahu soal teori-teoriku?
Pesan kedua masuk.
Tari yang bilang. Itu syarat skincare yang buat malam.
Aku memejamkan mata dan berdiri di parkiran itu lama sekali, di antara motor-motor dan bau kerak telor, dan untuk pertama kalinya aku tidak punya teori, tidak punya rencana, dan tidak punya keinginan untuk lari.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu reading
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita