Chapter Thirteen

Kunci Pintunya

POV: Valerie

Aku menculik Juna hari Sabtu jam enam pagi.

Rencananya sudah kususun dua minggu. Kiki mengosongkan jadwalku. Pak Darto mengecek rute ke Puncak tiga kali dan menyiapkan dua jalur alternatif kalau ada sistem buka-tutup. Villa keluarga di Cisarua dibersihkan, kasurnya diganti seprai baru, kulkasnya diisi bahan makanan yang kupilih sendiri dari daftar yang diam-diam kuminta dari Tari: Mas suka teh tawar, nggak suka kopi kemanisan, suka tempe, nggak suka pete, kalau pagi suka makan roti bakar pakai meses.

Dan Tari, yang sekarang resmi menjadi kaki tanganku dengan bayaran satu set skincare per misi, memasukkan baju ganti, sikat gigi, dan charger HP kakaknya ke dalam ransel tanpa sepengetahuan kakaknya.

Jam enam pagi, mobil hitam berhenti di depan gerbang rusun. Gang masih sepi. Bu Sum baru menyalakan kompor di gerobaknya.

Aku turun, berjalan ke tangga, dan menaiki lima lantai. Kakiku sudah lebih kuat sekarang. Sudah tiga kali aku naik tangga ini dalam sebulan.

Tari membukakan pintu sebelum aku mengetuk. Ia memakai piyama beruang yang sama, memegang ransel kakaknya, dan berbisik:

“Mas masih tidur, Kak. Semalam teleponan sama Kakak sampai jam empat.”

“Aku tahu. Aku yang nelepon.”

Tari menyerahkan ransel itu kepadaku seperti menyerahkan sandera. “Bawa pulang hari Minggu, ya, Kak. Dalam keadaan utuh.”

“Utuh,” kataku. “Mungkin.”

Tari menatapku dengan mata lebar. Aku mengedipkan mata. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menahan teriakan.


Juna tidur di kasur busanya dengan kaus oblong dan celana pendek, satu tangan di bawah bantal, HP masih di dekat pipinya. Rambutnya berantakan. Mulutnya sedikit terbuka.

Aku berdiri di ambang pintu kamarnya dan menatapnya lama.

Aku pernah melihatnya berlutut di lobby, berdiri di ruang rapat, menembak balon di pasar malam, berbaring di kursi donor. Tapi aku belum pernah melihatnya seperti ini: tanpa pertahanan sama sekali. Wajahnya lebih muda kalau tidur. Kerutan kecil di antara alisnya, yang selalu ada saat ia memeriksa sesuatu, hilang.

Aku berlutut di sebelah kasurnya. Menyibak rambut dari dahinya. Ia bergumam sesuatu, tidak bangun.

“Jun,” bisikku.

“Hm.”

“Bangun.”

“Lima menit lagi, Tar.”

“Aku bukan Tari.”

Matanya terbuka. Satu detik ia menatapku, bingung, setengah tidur. Detik berikutnya ia sudah duduk tegak, menarik selimut tipis sampai ke dada seperti perawan di film lama, wajahnya merah padam.

“Val? Kok... kamu ngapain di kamarku?”

“Nyulik kamu.”

“Hah?”

Aku mengangkat ransel di tanganku. “Bajumu udah dipak. Sikat gigi. Charger. Tari yang ngepak.”

“TARI!”

Dari ruang tengah, aku mendengar pintu kamar Tari dibanting dan dikunci.

Juna menatapku. Selimut masih di dada. Rambut masih berantakan.

“Kita mau ke mana?”

“Puncak. Dua hari.” Aku berdiri, menatapnya dari atas. “Kamu nggak ada jadwal lembur. Aku udah cek ke Pak Hendrik. Dia bilang, ‘Bawa aja, Bu, asal dikembalikan.’”

“Pak Hendrik bilang gitu?”

“Dia juga kasih kamu bekal kacang telur.” Aku menunjuk kantong kecil di sisi ransel. “Dua bungkus.”

Juna menatapku lama. Lalu ia menunduk, menatap selimutnya, dan aku melihat sudut bibirnya bergerak, pelan, naik.

“Kamu nggak bisa nyulik orang gitu aja, Val.”

“Bisa. Aku CEO.”

“Itu nggak ada hubungannya.”

“Selalu ada hubungannya.” Aku membungkuk, mendekatkan wajahku ke wajahnya. “Mau dibangunin pakai cara lain?”

“Cara lain apa?”

Aku menatap bibirnya. Lama. Dengan sengaja.

Ia melempar selimutnya dan berdiri begitu cepat sampai kepalanya hampir terantuk lampu gantung.

“Aku mandi,” katanya. “Lima menit.”


Villa keluarga kami ada di lereng bukit, dikelilingi kebun teh dan pohon pinus. Rumahnya kayu, dua lantai, dengan teras panjang yang menghadap lembah dan perapian batu di ruang tengah. Udara pagi dingin dan basah, berbau tanah dan daun.

Pak Darto menurunkan barang-barang, lalu dengan penuh wibawa mengumumkan bahwa ia akan menginap di paviliun penjaga di ujung kebun, bersama Pak Ujang, penjaga villa, dan istrinya.

“Jaraknya dua ratus meter, Bu,” katanya. “Kalau ada keadaan darurat, Ibu telepon. Saya sampai dalam empat puluh detik.”

“Nggak akan ada keadaan darurat, Pak.”

Pak Darto menatapku. Lalu menatap Juna. Lalu menatapku lagi.

“Saya bawa buku saku cadangan, Bu,” katanya, dan berjalan pergi.


Hari itu adalah hari terbaik yang bisa kuingat.

Kami berjalan menyusuri kebun teh sampai kakiku lecet, dan Juna menggendongku di punggungnya sepanjang setengah kilometer terakhir sambil mengomel soal sepatu kets baru yang belum di-break in. Kami makan jagung bakar di warung pinggir jalan. Kami naik ke curug kecil di balik bukit, dan aku memasukkan kakiku ke air yang sangat dingin dan menjerit, dan Juna tertawa sampai terduduk di batu.

Sore hari, di dapur villa, ia memasak sayur asem lagi. Kali ini aku membantu. Aku memotong kacang panjang dengan kecepatan siput dan bentuk yang tidak beraturan. Ia tidak mengoreksiku. Ia hanya berdiri di belakangku, sangat dekat, dan sesekali mengarahkan tanganku dengan tangannya.

“Pegang pisaunya gini,” katanya, jemarinya di atas jemariku.

“Gini?”

“Lebih santai.”

“Aku nggak bisa santai kalau kamu napas di leherku.”

Tangannya berhenti. Napasnya juga.

“Maaf,” katanya, dan mundur selangkah.

“Aku nggak bilang berhenti,” kataku, tanpa menoleh. “Aku cuma bilang aku nggak bisa santai.”

Hening di belakangku. Lalu, perlahan, ia melangkah maju lagi. Lebih dekat dari tadi. Dadanya menyentuh punggungku. Tangannya kembali di atas tanganku.

“Kacang panjangnya,” bisiknya di telingaku, “dipotong segini.”

Aku tidak tahu kacang panjangnya dipotong berapa. Aku tidak mendengar apa-apa lagi selain napasnya.


Malam turun dingin.

Pak Ujang menyalakan perapian sebelum pulang ke paviliun. Begitu langkahnya hilang di jalan setapak, aku berdiri di tengah ruang tengah dengan dua cangkir teh jahe di tangan dan menatap pintu depan yang masih terbuka sedikit.

“Kunci pintunya, Jun.”

Juna, yang sedang menambahkan kayu ke perapian, berhenti. “Kenapa?”

“Kabutnya masuk.”

Ia menatap pintu. Menatapku. Lalu berdiri, berjalan ke pintu, dan memutar kuncinya. Bunyi klik itu terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi.

“Terus sini,” kataku, menepuk karpet di depan perapian. Ia duduk di sofa. “Jangan duduk di situ. Di sini.”

Ia pindah ke karpet, bersandar ke sofa. Aku menatapnya, menatap pangkuannya, lalu berpikir sebentar dengan sangat serius.

“Eh, kebalik,” kataku. “Harusnya aku yang ke situ.”

“Val.”

“Bercanda.” Aku duduk di sebelahnya dan menyerahkan satu cangkir. “Setengah bercanda.”

Api kayu pinus berderak, cahayanya oranye dan hangat, memantul di dinding kayu dan jendela kaca yang mulai berembun. Di luar, kabut turun dari bukit seperti selimut, menelan kebun teh, menelan pohon-pohon pinus, menelan cahaya lampu jalan di lembah.

Kami duduk di karpet tebal di depan perapian, bersandar ke sofa, minum teh jahe dari cangkir enamel. Aku memakai sweter rajut kebesaran milik Juna, yang Tari masukkan ke ranselnya, dan yang langsung kurebut begitu aku melihatnya. Sweternya bau sabun cuci dan sedikit oli. Lengannya terlalu panjang sampai menutupi jari-jariku.

“Itu sweterku,” kata Juna untuk ketiga kalinya.

“Sekarang punyaku.”

“Kamu punya lemari baju sebesar kamarku.”

“Isinya nggak ada yang wangi kamu.”

Ia diam. Menatap api. Telinganya merah, dan kali ini bukan karena perapian.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia mengangkat lengannya, ragu, lalu melingkarkannya di bahuku. Kami diam lama. Api berderak. Kabut menekan jendela.

“Jun.”

“Hm.”

“Kenapa kamu nggak pernah minta apa-apa?”

Ia tidak langsung menjawab. Jemarinya bergerak pelan di lenganku, di atas sweter rajutnya sendiri.

“Kebiasaan,” katanya akhirnya.

“Dari kapan?”

“Dari Bapak sama Ibu nggak ada.” Ia menatap api. “Waktu itu aku umur dua puluh. Tari dua belas. Banyak orang nawarin bantuan. Paman, tetangga, teman Bapak. Ada yang tulus. Ada yang nggak. Yang nggak tulus, nanti nagih. Bukan nagih uang. Nagih rasa. Kamu harus nurut, harus datang kalau dipanggil, harus ngerasa utang terus.”

Aku diam.

“Jadi aku berhenti nerima,” lanjutnya. “Lebih gampang ngasih daripada nerima. Kalau ngasih, nggak ada yang bisa nagih kamu.”

“Tapi kamu capek.”

“Iya.”

“Dan kamu kesepian.”

Ia tidak menjawab. Tapi lengannya di bahuku mengencang.

Aku mengangkat kepala dari bahunya dan menatap wajahnya. Api memantul di matanya yang cokelat tua. Rahangnya tegang, seperti menahan sesuatu.

“Jun,” kataku pelan. “Aku nggak akan pernah nagih kamu.”

Ia menatapku.

“Apa pun yang aku kasih ke kamu,” kataku, “nggak ada tagihannya. Nggak ada cicilannya. Nggak ada bunganya. Kamu boleh nerima dari aku tanpa takut.”

Ia menatapku lama sekali. Lalu, sangat pelan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku. Ibu jarinya mengusap tulang pipiku. Matanya turun ke bibirku.

“Kamu lihat bibirku,” bisikku.

“Iya.”

“Kamu mau minta sesuatu?”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata.


Ciuman itu berbeda dari di bawah pohon ketapang.

Di bawah pohon ketapang, ia mengetuk pintu dulu. Malam ini, di depan perapian, di dalam kabut, ia tidak mengetuk. Ia menciumku seperti orang yang sudah lama berdiri di depan pintu itu dan akhirnya tahu pintunya tidak terkunci.

Aku membalasnya dengan semua yang kupunya.

Cangkir enamel di tanganku jatuh ke karpet. Teh jahe tumpah. Tidak ada yang peduli. Tanganku naik ke rambutnya, jemariku menyusup di antara helai-helai yang masih sedikit lembap dari mandi sore. Tangannya turun dari pipiku ke leherku, ke tengkukku, lalu ke punggungku, menarikku lebih dekat, sampai tidak ada jarak lagi di antara dadaku dan dadanya.

Aku tidak tahu kapan aku pindah ke pangkuannya. Aku hanya tahu aku sudah di sana, lututku di kedua sisi pahanya, sweter rajutnya yang kebesaran tersingkap di pinggangku, dan tangannya yang hangat dan kasar di kulit punggungku, di bawah sweter, menyusuri tulang belakangku pelan-pelan seperti membaca huruf braille.

Aku menarik napas tajam di bibirnya.

Ia berhenti. “Dingin?”

“Nggak.”

“Tanganku kasar?”

“Jangan berhenti, Jun.”

Ia tidak berhenti.

Bibirnya turun dari bibirku ke rahangku. Ke bawah telingaku. Ke leherku. Pelan, hangat, dan setiap tempat yang ia sentuh terasa seperti baru dinyalakan. Aku memiringkan kepala, memberinya lebih banyak tempat, dan jemariku mencengkeram bahunya, dan dari tenggorokanku keluar suara yang tidak pernah kudengar dari diriku sendiri.

“Val,” bisiknya di leherku. Suaranya serak.

“Hm.”

“Jantungmu.”

“Iya.”

“Cepat banget.”

“Kamu yang bikin.”

Aku menarik wajahnya kembali ke wajahku. Menciumnya lagi. Dalam. Lama. Tanganku turun dari bahunya ke dadanya, ke kancing paling atas kemeja flanel yang ia pakai.

Aku membuka satu kancing.

Ia membeku.

“Val.”

“Detak jantungmu cepat banget,” bisikku, telapak tanganku di dadanya yang sekarang sedikit terbuka. Kulitnya panas. Jantungnya memukul tanganku seperti mau keluar. “Ini karena aku, atau karena kamu lagi nahan sesuatu?”

Ia menatapku. Matanya gelap. Napasnya berat.

“Dua-duanya,” katanya.

“Jawaban yang bikin aku pengen ngelanggar janji.”

“Janji apa?”

“Janji ke diriku sendiri. Buat pelan-pelan.” Aku membuka kancing kedua. “Aku udah lama banget pelan-pelan, Jun.”

Tangannya naik. Menangkap tanganku di kancing ketiga. Ia tidak menyingkirkan tanganku. Ia hanya menahannya di sana, di dadanya, di atas jantungnya yang berlari.

Lalu tangannya yang lain naik ke leherku. Ke kerah sweter rajut yang kebesaran itu. Jemarinya menyusup di bawah kerahnya, menyibaknya sedikit ke samping, ke bahuku, seperti akan menciumku di sana.

Dan ia berhenti.

Aku tahu apa yang ia lihat. Aku tahu tanpa perlu menunduk.

Bekas luka kecil di bawah tulang selangka kananku. Garis pendek yang sudah memudar, tidak lebih dari dua senti, sedikit lebih pucat dari kulit di sekitarnya. Biasanya tertutup kerah blus atau gaun. Aku sudah lupa bagaimana rasanya ada orang yang melihatnya.

Ibu jari Juna menyentuh bekas luka itu. Pelan sekali. Seperti menyentuh retakan kecil di kaca panel.

“Ini kenapa?” bisiknya.

Aku menatapnya. Api berderak di sebelah kami. Kabut menekan jendela.

Bukan sekarang.

Tapi sebentar lagi.

“Nanti aku cerita,” kataku. Suaraku keluar lebih tipis dari yang kumau.

Ia menatapku. Ia tidak bertanya lagi. Ia tidak pernah bertanya lagi. Tapi wajahnya berubah, dan aku melihat sesuatu lewat di matanya, sesuatu yang bukan nafsu dan bukan penasaran. Sesuatu yang lebih mirip ketakutan. Ketakutan orang yang baru menyadari bahwa perempuan di pangkuannya pernah terluka di suatu tempat, oleh sesuatu, dan ia tidak ada di sana.

Ia menunduk. Dan ia mencium bekas luka itu.

Bukan ciuman yang panas. Ciuman yang pelan, lama, hati-hati. Bibirnya menempel di garis kecil itu seperti bibirku menempel di plester bekas donornya. Seperti meminta maaf kepada sesuatu yang bukan salahnya.

Aku tidak bisa bernapas.


Ketika ia mengangkat kepala, matanya basah.

“Val,” katanya.

“Hm.”

Ia menarik napas panjang. Lalu ia mengangkat tanganku dari kancing kemejanya. Dengan hati-hati, ia mengancingkan kembali dua kancing yang kubuka. Lalu ia merapikan kerah sweter rajut di leherku, menutup bekas luka itu lagi.

Aku menatapnya. Dadaku masih naik turun. Seluruh kulitku masih menyala.

“Jun?”

“Aku mau berhenti di sini.”

Sesuatu di dalam dadaku jatuh. “Kenapa? Aku... aku salah?”

“Nggak.” Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. “Kamu nggak salah. Kamu nggak pernah salah.”

“Terus kenapa?”

Ia menatapku. Api di sebelah kami memantul di matanya yang basah.

“Karena aku mau kamu jadi istriku dulu,” katanya.

Dunia berhenti.

Bukan seperti di lobby. Bukan seperti di lift. Dunia berhenti seperti jam yang baterainya dicabut. Semua suara hilang: derak api, embusan angin di jendela, detak jantungku sendiri.

“Apa?” bisikku.

“Aku mau kamu jadi istriku dulu,” ulangnya. Pelan. Mantap. Seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu lama sekali dan baru sekarang berani mengucapkannya. “Sebelum ini. Sebelum semuanya. Aku mau ngelakuin ini pertama kali sama kamu sebagai suamimu. Bukan pacar yang kebawa suasana di depan perapian.”

“Jun...”

“Aku bukan orang kaya. Aku nggak bisa kasih kamu apa-apa yang mahal. Tapi aku bisa kasih kamu ini. Aku bisa nunggu. Aku bisa nunggu sampai aku pantas.”

“Kamu udah pantas.”

“Belum.” Ibu jarinya mengusap pipiku. Pipiku basah. Aku tidak sadar kapan aku mulai menangis. “Belum, Val. Tapi nanti. Aku janji.”

Aku menatapnya. Laki-laki ini, yang tidak pernah minta apa-apa, yang lebih gampang memberi daripada menerima, baru saja menolak sesuatu yang kuberikan dengan seluruh tubuhku. Dan cara ia menolaknya adalah dengan meminta sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku mau kamu jadi istriku dulu.

Aku menangis.

Bukan menangis sedih. Aku menangis seperti di mobil, setelah dokter melepas kacamatanya dan berkata langkah selanjutnya, kamu hidup. Aku menangis seperti orang yang dikasih sesuatu yang terlalu besar untuk dipegang dengan dua tangan.

Juna panik. “Val. Val, maaf. Aku... aku salah ngomong?”

“Nggak,” isakku.

“Terus kenapa nangis?”

“Karena terlalu bahagia, bodoh.”

Aku menjatuhkan dahiku ke bahunya dan menangis sampai sweter rajutnya, sweternya, basah di bagian bahu. Ia memelukku. Erat. Tangannya di punggungku, di atas sweter sekarang, mengusap pelan, bolak-balik, seperti mengusap sesuatu yang mudah tergores.

“Kamu tadi bilang istri,” gumamku di bahunya.

“Iya.”

“Itu lamaran?”

Ia diam sebentar. “Bukan. Belum. Lamaran yang bener nanti.”

“Kapan?”

“Nanti.”

“Kamu selalu bilang nanti.”

“Dan aku selalu dateng,” katanya.

Aku mengangkat kepala. Menatapnya. Ia benar. Ia selalu datang. Ke lantai 40 tanpa dipanggil. Ke mobilku waktu aku ngambek. Ke PMI, ke angkringan, ke rumah Papa dengan sepatu almarhum ayahnya.

Ia selalu datang.

“Oke,” bisikku. “Aku tunggu nanti.”

“Kamu jago nunggu.”

“Iya.” Aku menyeka air mataku dengan lengan sweter yang kebesaran. “Tapi jangan kelamaan. Aku nggak sesabar itu.”

Ia tertawa. Tertawa pelan, basah, dan lega. Lalu ia menciumku lagi, kali ini di dahi, lama, dan menarikku kembali ke dalam pelukannya, dan kami berbaring di karpet tebal di depan perapian, aku di dadanya, ia memelukku dari belakang, sweter rajutnya menutupi kami berdua seperti selimut.


Kami tidak tidur di kamar.

Kami tidur di karpet, di depan perapian yang perlahan padam, berpelukan, berpakaian lengkap. Kakinya membelit kakiku. Napasnya di rambutku. Tangannya di perutku, di atas sweter, diam dan hangat.

Sebelum aku tertidur, aku merasakan bibirnya di tengkukku. Pelan.

“Val,” bisiknya, setengah tertidur.

“Hm.”

“Bekas lukanya.”

Jantungku berhenti sebentar.

“Masih sakit?”

Aku memejamkan mata. Di luar, kabut menekan jendela. Api tinggal bara.

“Udah nggak,” kataku.

“Syukurlah.”

Itu saja. Ia tidak bertanya lagi. Napasnya melambat. Tangannya di perutku melemas. Ia tertidur.

Aku berbaring di pelukannya, mendengarkan napasnya, menatap bara api yang tinggal merah samar, dan berpikir tentang dompet kulit warna krem di dalam tasku di kamar atas. Tentang kartu putih kecil di slot paling depan. Tentang tulisan tangan biru di atasnya.

Nanti aku cerita.

Aku tidak bisa terus bilang nanti. Aku tahu itu. Malam ini ia mencium bekas lukaku tanpa tahu apa yang membuatnya. Malam ini ia bilang ingin menjadikanku istrinya tanpa tahu bahwa ia sudah pernah menyelamatkan istrinya itu.

Sebentar lagi. Aku harus cerita sebentar lagi.

Tapi tidak malam ini. Malam ini, biarkan aku jadi perempuan biasa yang tertidur di pelukan laki-laki yang ingin menikahinya.


Pagi harinya, jam enam, aku terbangun karena ketukan di jendela.

Pak Darto berdiri di teras, di balik kaca berembun, memegang dua gelas kopi panas dan buku saku. Ia menatap kami: aku dan Juna berpelukan di karpet, berpakaian lengkap, rambut berantakan, sweter rajut terbalit di pinggang kami berdua.

Juna terbangun, melihat Pak Darto di balik jendela, dan langsung duduk tegak dengan wajah orang tertangkap basah.

“Pak! Ini nggak kayak yang Bapak...”

Pak Darto mengangkat satu tangan. Wajahnya datar. Ia membuka buku sakunya, menulis sesuatu, lalu menempelkan halaman itu ke kaca jendela supaya kami bisa membacanya.

Tulisannya huruf kapital semua, rapi, seperti laporan dinas:

INSIDEN 22. VILLA CISARUA. PUKUL 06.00. SUBJEK DAN IBU TIDUR DI KARPET. BERPAKAIAN LENGKAP.

CATATAN PRIBADI: SAYA LEGA. SUBJEK LAKI-LAKI BAIK.

Juna menatap halaman itu. Aku menatap halaman itu.

Lalu Juna menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan aku tertawa sampai perutku sakit, dan Pak Darto, di balik kaca berembun, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun aku mengenalnya, tersenyum.

Lebar. Penuh. Dengan gigi.